Sampul Novel Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam

Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam

8.0 / 10.0
Dalam Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam, Aurora terjebak rencana jahat Brama yang menukarnya dengan aktor demi kornea matanya. Setelah difitnah dan dibuang, ia bangkit sebagai pewaris bisnis raksasa. Baca romance novel penuh mystery story ini di platform web novel terbaik.
Ringkasan Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam
Setahun lamanya Farah ditipu oleh kembaran tunangannya sendiri. Brama, sang kekasih, ternyata sudah menikahi Kirana dan berencana mencuri kornea mata Farah melalui kecelakaan palsu. Penderitaan Farah memuncak saat ia difitnah membunuh kakek Brama hingga dijebloskan ke RSJ. Namun, mereka tidak tahu bahwa Farah adalah Aurora Suryakancana, pewaris takhta bisnis raksasa. Setelah memalsukan kematian, ia bangkit dari kehancuran untuk membalas dendam dan mengambil kembali hidupnya.
Baca Selengkapnya

Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam Bab 1

Tunanganku punya saudara kembar. Selama setahun terakhir, pria yang tidur seranjang denganku sama sekali bukan tunanganku.

Aku baru tahu kalau pria yang kucintai hanyalah seorang aktor, seorang pengganti. Tunanganku yang asli, Brama, diam-diam sudah menikah dengan adik angkatnya, Kirana.

Tapi rencana mereka jauh lebih jahat daripada sekadar bertukar tempat. Mereka akan membiarkanku menikahi si kembaran, lalu merekayasa sebuah "kecelakaan" untuk mengambil kornea mataku untuk Kirana.

Saat aku mengetahui rencana busuk mereka, Kirana malah memfitnahku telah menyerangnya. Brama, pria yang pernah bersumpah akan melindungiku, tega menyuruh orang mencambukku sampai aku terkapar berlumuran darah di lantai.

Lalu Kirana membunuh kakek Brama dan lagi-lagi menyalahkanku. Tanpa ragu, Brama menjebloskanku ke rumah sakit jiwa agar aku membusuk di sana.

Dia tidak pernah sekalipun meragukan kebohongan Kirana. Dia begitu saja membuangku, wanita yang selama lima tahun diakuinya sebagai kekasih hatinya.

Tapi mereka lupa satu hal. Aku bukan hanya Farah Maheswari, seorang yatim piatu tak berdaya. Aku adalah Aurora Suryakancana, pewaris sebuah kerajaan bisnis raksasa. Setelah diselamatkan dari neraka itu, aku memalsukan kematianku dan menghilang. Sekarang, aku kembali untuk memulai hidup baru, dan kali ini, aku hidup untuk diriku sendiri.

Bab 1

Sudut Pandang Farah Maheswari:

Tunanganku punya saudara kembar. Selama setahun terakhir, pria yang tidur seranjang denganku sama sekali bukan tunanganku.

Aku mengetahui hal ini dari sebuah pesan singkat tanpa nama.

"Datang ke Villa Bintang. Kamar 302. Ada kejutan untukmu."

Hampir saja pesan itu kuhapus. Aku dan Brama sudah bersama selama lima tahun. Bulan depan kami akan menikah. Ini pasti ulah murahan dari wanita putus asa yang tidak terima Brama akan menjadi milikku seutuhnya.

Jariku sudah melayang di atas tombol blokir.

Tapi kemudian, pesan kedua masuk. Sebuah video.

Jantungku mulai berdebar kencang dan berat di dalam dada. Aku menekan tombol putar.

Videonya goyang, direkam dari seberang sebuah bar yang remang-remang. Aku melihat seorang pria yang wajahnya sama persis dengan Brama—rahang yang tegas, rambut gelap yang selalu ia sisir ke belakang. Tapi pria ini berbeda. Dia membungkuk di atas meja bar, sebatang rokok murah terselip di bibirnya, matanya memancarkan kilatan sinis dan nekat yang belum pernah kulihat pada Brama.

Dia tertawa bersama orang yang merekamnya.

"Jadi, kau benar-benar akan melakukannya?" tanya orang di balik kamera. "Kau akan berpura-pura menjadi dia? Dan menikahi pacarnya?"

Pria yang mirip Brama itu mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asap berbentuk cincin. "Kenapa tidak? Dia membayarku mahal. Lagipula," seringainya, suaranya serak, berbeda jauh dari suara Brama yang halus dan merdu, "kedengarannya seru juga. Menjadi CEO sempurna untuk sementara."

Video itu berakhir.

Ponsel terlepas dari jemariku yang kaku, jatuh berdebam di lantai kayu. Aku tidak bisa bernapas. Rasanya seperti ada tali yang mengikat dadaku, meremas udara dari paru-paruku.

Sebuah permainan. Hidupku, cinta kami, hanyalah sebuah permainan.

Aku tidak ragu lagi. Kuraih kunci mobilku, pikiranku dipenuhi badai penyangkalan dan teror yang membara. Aku melaju ke Villa Bintang, alamat dari pesan itu terpatri di benakku.

Villa itu adalah sebuah resor pribadi terpencil milik Brama, tempat yang hanya diperuntukkan bagi klien-klien terpentingnya. Aku belum pernah ke sini. Dia selalu bilang ingin memisahkan kehidupan kerjanya dari kehidupan kami.

Aku menemukan Kamar 302. Pintunya sedikit terbuka. Tanganku gemetar saat mendorongnya, cukup untuk bisa mengintip ke dalam.

Dan kemudian aku mendengar suaranya. Suara Brama yang asli. Bukan suara serak tiruan dari video, tapi suara yang selama lima tahun telah membisikkan janji-janji manis di telingaku.

"Jadilah anak baik, Kirana. Makan supnya sedikit lagi."

Itu adalah nada suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar. Lembut. Sabar. Penuh kasih sayang yang tak lagi ia tunjukkan padaku.

Aku mengintip dari celah pintu. Brama sedang duduk di tepi tempat tidur, dengan hati-hati menyuapi seorang wanita yang matanya diperban. Kirana. Adik angkatnya.

Dengan lembut ia menyeka setetes sup dari dagu Kirana dengan ibu jarinya. Sebuah tindakan yang begitu intim hingga membuatku mual.

Wanita itu memakai jam tangan Brama. Patek Philippe yang uangnya kutabung selama dua tahun untuk hadiah ulang tahun ketiga kami. Jam itu terlihat longgar di pergelangan tangannya yang mungil, pengingat berkilauan akan cinta yang seharusnya menjadi milikku.

"Aku tidak mau, Brama," gumam Kirana, suaranya lemah dan rapuh. "Rasanya pahit."

"Aku tahu," bujuk Brama. "Tapi ini baik untukmu. Dokter bilang kau butuh nutrisi untuk membantumu pulih." Dia berbicara tentang kecelakaan mobil yang dialami Kirana setahun lalu, yang katanya menyebabkan cedera otak parah, amnesia, dan kebutaan parsial. Dia bilang itu salahnya, seharusnya dia yang menyetir.

Hatiku, yang kupikir tak bisa lebih hancur lagi, remuk berkeping-keping.

Lalu suara rapuh Kirana kembali memecah keheningan. "Kak... apa kita benar-benar sudah menikah?"

Sendok di tangan Brama berhenti di tengah jalan menuju bibir Kirana. Keheningan di ruangan itu memekakkan telinga.

"Ya," katanya, suaranya rendah dan tegas. "Kita sudah menikah."

Dunia seakan jungkir balik. Telingaku berdenging. Menikah. Dia sudah menikah dengan adiknya. Sementara dia bertunangan denganku.

"Lalu... lalu bagaimana dengan Farah?" tanya Kirana, wajahnya yang diperban menoleh ke arahku seolah bisa merasakanku di sana. "Kau masih akan menikahinya bulan depan."

Brama meletakkan mangkuk itu. "Jangan khawatirkan dia. Itu hanya formalitas."

Formalitas. Lima tahun hidupku, sebuah formalitas.

"Aku akan biarkan Danu yang menjalani upacaranya," lanjutnya, suaranya begitu tenang dan mengerikan. "Dia sangat mencintaiku, dia penurut sekali. Dia tidak akan sadar perbedaannya. Setelah pernikahan, kita akan atur sebuah... kecelakaan kecil. Kornea matanya sangat cocok untukmu, Kirana. Begitu kau mendapatkan matanya, kau akan bisa melihat lagi."

Aku membekap mulutku untuk menahan jeritan. Darahku seakan membeku. Dia bukan hanya berencana menggantikan dirinya dalam hidupku. Dia berencana membuangku, memotong-motong tubuhku seolah aku tak lebih dari sekumpulan aset.

Aku teringat semua saat dia membelai wajahku dan berkata dia mencintai mataku. "Matamu jernih sekali, Farah," katanya dulu. "Seperti menatap langit yang cerah." Dia bukan sedang mengagumiku. Dia sedang berbelanja.

Semua pengorbanan yang telah kulakukan untuknya melintas di benakku. Aku melepaskan mimpiku menjadi pelukis karena dia bilang bau terpentin membuatnya pusing. Aku mengubah seluruh gaya berpakaianku karena dia lebih suka gaya klasik yang kalem. Aku menjauhi teman-teman yang dianggapnya terlalu berisik atau tidak berkelas. Aku telah membentuk diriku menjadi wanita sempurna untuknya, menghapus bagian-bagian dari diriku sampai aku hanyalah cerminan dari keinginannya.

Dan untuk apa? Untuk menjadi donor organ bagi istri rahasianya.

Tiba-tiba, kepala Brama menoleh ke arah pintu. "Siapa di sana?"

Jantungku berhenti berdetak. Aku menahan napas, menempelkan diriku rata ke dinding.

Dia bangkit dan berjalan menuju pintu. Aku bisa melihat bayangannya semakin besar, membentang di lantai. Selama sedetik yang menakutkan, kupikir dia akan menemukanku. Tapi dia hanya melirik keluar, tatapannya melewati tempat persembunyianku di lorong yang remang-remang, lalu dia menutup pintu dengan rapat.

Aku mendengar suara kunci berputar.

Dari balik pintu kayu, aku bisa mendengar suara Danu, sekarang jelas dan berada di dalam ruangan bersama mereka. "Semua berjalan sesuai rencana?"

"Sempurna," jawab Brama. "Dia tidak curiga sama sekali."

Dia mengangkat Kirana ke dalam pelukannya, menggendongnya seolah wanita itu adalah hal paling berharga di dunia, dan membawanya lebih jauh ke dalam suite, menjauh dari pintu.

Kakiku akhirnya lemas. Aku merosot ke dinding, tubuhku gemetar tak terkendali.

Saat itu juga, ponselku bergetar di tanganku. ID penelepon menunjukkan "Brama."

Jariku gemetar saat menjawab.

"Hai, sayang," suara ceria dan serak kembarannya, Danu, memenuhi telingaku. "Cuma telepon mau bilang selamat malam. Aku kangen."

Perutku mual karena jijik.

"Brama," bisikku, suaraku pecah dan parau karena air mata yang tertahan. "Kita putus."

"Apa katamu, manis?" tanyanya. Embusan angin menderu di luar villa, dan dia pasti tidak mendengarku karena suara bising itu. "Aku tidak bisa mendengarmu. Sampai jumpa besok, ya? Aku cinta kamu."

Dia menutup telepon.

Keputusan final itu menghantamku seperti pukulan fisik. Dia bahkan tidak mendengarku. Deklarasi kebebasanku, usaha terakhirku yang putus asa untuk merebut kembali sebagian dari diriku, hilang ditelan angin.

Aku duduk di sana, di lantai dingin sebuah hotel yang seharusnya tidak kudatangi, dan akhirnya aku membiarkan air mata jatuh. Aku telah memberikan pria ini hatiku, jiwaku, seluruh duniaku. Dan dia telah mengambil semuanya, berencana meninggalkanku tanpa apa-apa selain kuburan kosong.

Yah, dia salah.

Kuseka air mataku dengan punggung tangan. Cintaku bukanlah hadiah untuk dibuang. Itu adalah bagian dari diriku. Dan aku akan mengambilnya kembali.

Ponselku bergetar lagi. Pesan lain dari nomor tak dikenal.

Kali ini bukan peringatan. Melainkan sebuah penawaran.

"Bukan hanya dia yang punya pilihan. Kau juga. Tertarik dengan perjanjian baru?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Buta Gadis Mafia
7.9
Apa jadinya jika takdir memaksa Anda tinggal satu atap dengan wanita yang menghancurkan hari pernikahan Anda sendiri? Kehidupan seorang pria berubah total saat sosok gadis dari dunia mafia hadir dan mengacaukan rencana masa depannya secara brutal. Di tengah dendam dan kebingungan, hubungan rumit mulai terjalin di antara mereka. Akankah benci berubah menjadi cinta, atau justru menjadi awal kehancuran yang lebih dalam bagi keduanya dalam drama romansa mafia ini?
Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Kisah Devano Lauder mengungkap beban masa lalu yang memicu dendam membara dari musuh lama. Selama dua dekade, sang tokoh utama berjuang menyelesaikan konflik yang tak kunjung usai. Di tengah perselisihan dan pembantaian, ia pun terjebak cinta segitiga saat remaja. Memasuki usia dewasa, ia mengambil tanggung jawab penuh dan nyaris tewas demi mengakhiri segalanya. Meski musuh terus mengintai, takdir akan membawa semua pada titik penyelesaian yang semestinya.
Sampul Novel Dilema Sang Sekretaris
9.2
Grace adalah sekretaris berdedikasi yang dunianya jungkir balik saat kakak sang bos mulai mendekatinya secara intens. Meski semula bersikap acuh, satu malam tak terduga mengubah segalanya hingga ia sulit menampik pesona pria itu. Kini, Grace terjebak dalam dilema besar antara menjaga profesionalisme atau mengikuti kata hati yang membara. Di balik kemewahan hidup penuh rahasia, ia harus memilih arah masa depannya dalam pusaran cinta yang rumit.
Sampul Novel Istri Yang Dicampakkan Menjadi Sultan
8.9
Lima tahun membina rumah tangga, Alia justru dikhianati Farhan yang meminta cerai demi wanita lain setelah pulang merantau. Meski hancur, Alia bertekad bangkit dan menyembuhkan luka hatinya sendirian. Saat hidupnya mulai membaik dan kesuksesan datang menghampiri, Farhan tiba-tiba muncul kembali. Mantan suaminya itu berusaha merayu dan menawarkan kenyamanan agar mereka bisa rujuk. Kini, Alia harus memilih antara ketenangan hidupnya atau kembali pada masa lalu.
Sampul Novel Jangan rebut suamiku!
9.4
Sena Anindhita terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arga Bhanu akibat sebuah insiden tidak terduga. Hidupnya penuh penderitaan karena harus berbagi suami dengan wanita lain. Arga bahkan enggan berbagi ranjang dengannya dan tetap setia mencintai kekasihnya, Gisca. Meski Sena terus berharap pintu hati suaminya terbuka, kenyataan pahit menunjukkan bahwa perasaan Arga dan Gisca terlalu kuat untuk ditembus, meninggalkan Sena dalam kehampaan.
Sampul Novel TERJEBAK GAIRAH DUDA
7.8
Sena Aurellia, mahasiswi dua puluh tahun, geram saat Tristan, duda tiga puluh tujuh tahun di sebelah rumahnya, tiba-tiba mengajak menikah. Meski berwajah awet muda, Sena menganggap tetangganya itu pria mesum yang tidak sadar umur. Sena yang tinggal sendiri di rumah bibinya selalu menghindari godaan Tristan yang menyebalkan. Hubungan mereka bak kucing dan tikus yang terus berseteru. Namun, sebuah malam tak terduga mengubah segalanya di antara mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan