Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta di Daun Semanggi

Cinta di Daun Semanggi

Logika Sindi seolah lumpuh demi cinta butanya pada Ronald, pria yang sebenarnya telah berkeluarga. Selama tiga tahun mereka terjerat dalam asmara terlarang hingga akhirnya Sindi mengandung. Penyesalan kini tak lagi berguna bagi keduanya. Di tengah nestapa dan beban masa lalu akibat kehilangan orang-orang tercinta, mampukah Sindi bertahan menghadapi cobaan terberat ini sendirian? Sebuah kisah penuh dilema tentang konsekuensi hati yang salah memilih jalan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sindi mengambil keputusan untuk langsung menerima tawaran mereka saat itu juga. Sindi diminta keluar lebih dulu dari ruang seleksi karyawan dan diminta agar menunggu di ruang tunggu, karena pihak penyeleksi akan menghubungi terlebih dulu tim rekrut karyawan di perusahaan rekanan mereka. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, Sindi diminta masuk kembali ke ruang sebelumnya dan juga diminta mengisikan form biodata serta mengisikan jawaban pada sebuah tes tertulis. Sindi juga diberitahu informasi soal gaji seorang office girl jika nanti dirinya diterima bekerja.

Lalu Sindi dipersilahkan pulang dan akan segera dikabari secepatnya oleh mereka. Keluar dari ruangan itu, Sindi tidak bertemu lagi dengan Winda. Dia memutuskan untuk pamit duluan dengan mengirim pesan singkat. Sindi lantas beranjak pergi dari kantor Winda. Setibanya di rumah, Sindi menceritakan kepada ayahnya tentang hasil wawancara kerjanya pagi tadi. Tentu ayahnya sedikit kecewa mendengar posisi yang ditawarkan mereka kepada anak gadisnya tersebut, namun untuk memberi semangat kepada Sindi, sang ayah berusaha tetap tersenyum dan juga mendukung segala keputusan yang akan Sindi ambil. Ayahnya sangat mengenal sifat Sindi, jika menurut Sindi sesuatu hal itu baik bagi dirinya, maka ayahnya yakin memang itulah yang terbaik.

Tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Sindi dihubungi oleh pihak penyalur, yaitu seorang wanita setengah baya yang mewawancarainya kemarin. Beliau memberi kabar bahwa mulai besok Sindi bisa langsung datang untuk bekerja sebagai office girl di perusahaan rekanan mereka yang bernama PT. Tri Intan Selaras. Beliau pun meminta Sindi untuk mencatat alamat lengkap yang didiktekannya lewat telepon, serta Sindi diminta untuk menemui bagian perekrutan yang bernama Ibu Rina di perusahaan tersebut.

Sindi tentu sangat bersyukur dan membagikan kabar gembira itu kepada ayahnya.

“Besok pagi Sindi mulai kerja Yah, di daerah Thamrin. Tapi maaf ya Yah, kalau saat ini Sindi cuma bisa kerja sebagai office girl.”, nada suara yang awalnya ceria perlahan melemah ketika kalimat kedua diucapkan oleh Sindi.

“Iya Sin, ngga apa-apa. Ayah tetap bangga sama Sindi. Sindi mau kerja apapun untuk menyambung hidup kita, itu saja sudah cukup Sin. Maafin ayah ya.. Karena kondisi ayah yang masih seperti ini, ayah belum bisa bantu kamu mencari nafkah.”

“Ngga apa-apa Yah. Ini kan tanggung jawab Sindi sebagai anak Ayah.”

Dan tibalah hari yang dinanti oleh Sindi. Pagi itu dia telah mempersiapkan hari pertamanya bekerja di tempat yang baru. Sindi memiliki bentuk tubuh yang mungil, namun dia memang sangat gesit. Tingginya sekitar seratus lima puluh lima sentimeter, berambut hitam lurus panjang sebahu dan kulitnya sawo matang. Jika amati lebih dekat, Sindi memiliki susunan gigi yang rapi, serta putih bersih. Dia memiliki senyum yang sangat manis. Hidungnya sedang, tidak mancung tapi juga tidak pesek.

Hari ini Sindi mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru langit lengkap dengan celana panjang bahan berwarna hitam. Kemejanya sangat rapi dimasukkan ke bagian dalam celana panjangnya dengan tambahan gesper tipis berwarna cokelat tua. Rambutnya diikat rapi, kuncir kuda. Sejak dulu Sindi tidak suka memiliki poni di rambutnya. Dia selalu menampakkan dengan jelas bentuk dahinya yang cukup lebar.

Tepat pukul setengah sembilan pagi, Sindi telah tiba di lokasi sesuai alamat yang diberikan oleh pihak penyalur. Di hadapannya kini terlihat sebuah gedung pencakar langit yang kaca-kacanya cukup menyilaukan mata, memantulkan sinar matahari pagi. Dengan langkah yang pasti Sindi bergegas masuk ke dalam gedung itu dan melangkah mendekati seorang lelaki tinggi besar berpakaian seragam sekuriti.

“Pagi Pak, PT. Tri Intan Selaras ada di lantai berapa ya Pak?”

“Oh, Tri Intan di lantai lima Mba. Mohon maaf keperluannya apa Mba?”

“Ini Pak, Saya baru mulai bekerja hari ini di PT. Tri Intan.”

“Oh silahkan Mba, ke resepsionis dulu. Nanti tanda pengenalnya ditahan dulu ya supaya diizinkan naik ke atas.”, seraya menunjukkan meja resepsionis yang berada di pojok kanan gedung.

Setelah mengucapkan terima kasih pada bapak sekuriti, Sindi pun melangkah menuju meja resepsionis.

“Permisi, Saya mau ke lantai lima Mba. PT. Tri Intan Selaras.”

“Keperluannya Mba?”

“Saya baru mulai bekerja hari ini.”

“Boleh Saya lihat tanda pengenalnya ?”

Sindi mengangguk dan mengeluarkan tanda pengenal kependudukannya dari dalam dompetnya. Lalu memberikannya ke tangan resepsionis itu.

“Saya tahan dulu ya Mba tanda pengenalnya. Nanti sore silahkan diambil kesini. Sekarang Mba bawa kartu ini untuk tap di pintu itu”, seraya menyerahkan sebuah kartu berwarna putih sebagai akses untuk membuka palang pintu menuju lift.

“Oh.. Oke Mba.”, Sindi menerima kartu itu dan membolak balik memperhatikannya.

“Nanti Mba akan dapat kartu pengenal khusus dari perusahaan, untuk dapat akses keluar masuk gedung ini.”

“Oh gitu Mba. Makasih infonya ya.”, seraya tersenyum Sindi meninggalkan meja resepsionis.

Sindi berjalan menuju lift, dia pun melesat naik ke lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, di depan mata Sindi terhampar luas sebuah ruangan dengan pencahayaan yang sangat terang, berpintu kaca tembus pandang. Dari luar tampak jelas tertulis PT. Tri Intan Selaras menempel pada dinding atas meja resepsionisnya. Sindi pun langsung melangkah, memasuki kantor tersebut.

“Pagi Mba.”

“Iya Pagi. Ada yang bisa Saya bantu?”, resepsionis perusahaan itu tersenyum ramah.

“Saya Sindi, mau bertemu Ibu Rina. Saya yang mau kerja buat office girl disini.”

“Oh, sebentar Saya hubungi Bu Rina dulu ya Mba. Silahkan duduk dulu.”, resepsionis itu tampak melirik wajah dan penampilan Sindi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski mulutnya sedang bicara dengan Bu Rina melalui telepon. Tampaknya dia kurang yakin bahwa Sindi akan bekerja sebagai office girl.

“Mba, silahkan masuk. Mari Saya antar.”

Sindi bangkit dari tempat duduknya dan melangkah membuntuti resepsionis itu ke dalam, lalu mereka memasuki salah satu ruangannya.

“Permisi, Bu ini yang mau kerja.”

“Oh iya, silahkan masuk.”, Bu Rina mempersilahkan Sindi masuk ke ruangannya. Sementara resepsionis tadi telah pergi meninggalkan mereka setelah menutup kembali pintu ruangan itu.

“Ini Sindi ya?”, tanya Bu Rina dengan senyum yang juga ramah kepada Sindi.

“Iya Bu.”

“Sudah siap kerja hari ini?”

“Ya Bu, Saya siap.”

“Jadi, kemarin soal gaji kamu sudah tahu ya.. Kalau jam kerja disini jam setengah sembilan pagi sampai jam setengah enam sore. Hari Sabtu ngga libur, pulangnya jam dua belas siang. Nah, karena kamu di office girl jadi kalau datang jam delapan pagi sudah sampai disini ya. Pulangnya disesuaikan saja.”

“Oh, iya baik Bu.”

“Soalnya terkadang kita malah perlu bantuan kamu di jam-jam terakhir.”

“Iya Bu, Saya paham.”

“Ini Saya masih ada seragam”, seraya menunduk mengambil seragam baru untuk office girl dari laci besar di bawah meja kerjanya. “Boleh langsung dipakai saja di toilet, mudah-mudahan ngga kebesaran ya Sin.”, seraya tersenyum menyerahkan sebuah plastik bening berisi seragam baru berwarna dasar biru langit dengan aksen kotak-kotak biru tua.

Sindi menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

“Oh iya Bu, kalau kartu yang untuk bisa keluar masuk gedung ini gimana Bu?”

“Itu nanti ya, seminggu setelah kamu bekerja, nanti baru Saya kasih. Jadi selama belum dapat kartu itu, setiap pagi kamu lapor dulu ke resepsionis yang di bawah tadi.”

“Oh, baik Bu kalau gitu.”

Sindi keluar dari ruangan Bu Rina dengan membawa serta plastik berisi seragam tadi. Dia cukup bingung mencari dimana toiletnya. Dia pun memutuskan untuk bertanya saja kepada resepsionis yang mengantarnya tadi. Dan ternyata toiletnya berada di luar area kantor, tepatnya toilet tersebut dipergunakan bersama oleh seluruh penghuni gedung. Sindi pun bergegas menuju toilet dan mengganti kemeja yang dikenakannya tadi dengan seragam office girl yang baru didapatnya dari Bu Rina.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Foto Istriku di Aplikasi Michat
8.3
Pasca terkena PHK, Panji yang frustrasi tergiur ajakan Bowo untuk mencari hiburan di aplikasi kencan daring. Ia merasa bosan dengan istrinya, Shira, yang selalu tampil kusam dan tak lagi menarik di matanya. Berniat mencari kepuasan instan, Panji mulai mencari wanita untuk disewa. Namun, pencariannya terhenti pada sosok bernama Dira yang sangat seksi. Saat mengamati foto Dira lebih dekat, Panji terkejut menyadari kemiripan luar biasa wanita itu dengan Shira.
Sampul Novel Hasratku Padamu
9.7
Tinggal bersama sahabat berubah menjadi rumit sejak aku bertemu kakaknya, Octavio. Pria yang dua belas tahun lebih tua itu adalah mantan atlet sepak bola sekaligus pelatihku di kampus. Octavio sangat arogan dan suka meremehkanku, namun ketegangan di antara kami justru memicu gairah yang membara. Meski hubungan ini terlarang dan penuh risiko, aku tak bisa berpaling darinya. Dia adalah sosok yang seharusnya tidak kumiliki, namun dialah satu-satunya yang sangat kuinginkan.
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memulai lembaran baru dengan menikahi seorang ibu tunggal. Komitmennya diuji saat ia dituntut memberikan kasih sayang tulus bagi istri dan putri tirinya. Namun, biduk rumah tangga mereka justru menghadapi badai tak terduga yang mengubah segalanya. Di tengah kemelut pernikahan yang mulai retak, Steiner malah terjerat perasaan terlarang. Ia jatuh cinta pada anak tirinya sendiri, menciptakan konflik batin yang menghancurkan batasan moral keluarga.
Sampul Novel Komodo Hijrah
9.6
Mahesa adalah pengusaha waralaba sukses yang selalu gagal dalam urusan asmara. Ia merasa dikutuk oleh rival bisnisnya karena tak pernah berhasil membawa hubungan ke jenjang pernikahan. Berbagai metode, dari yang logis hingga di luar nalar, ia coba demi menemukan pendamping hidup. Dalam pencarian itu, Gayatri, sahabat masa kecil yang kerap bertindak bak pengawal pribadinya, selalu setia mendampingi. Namun, mampukah persahabatan mereka bertahan saat perasaan baru mulai tumbuh?
Sampul Novel Mati Rasa
8.9
Bara Ahava memperkenalkan Lona pada konsep pencinta cahaya dan kegelapan, sekaligus memberinya kebahagiaan tanpa luka. Namun, tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa Hava seketika menghancurkan dunia Lona hingga ia tertimbun dalam kepedihan yang mendalam. Di tengah penderitaan tersebut, Aanand hadir mencoba menyelamatkannya dari keterpurukan. Kini, Lona harus memilih antara bangkit menuju cahaya atau selamanya terjebak dalam kegelapan malam yang hampa.
Sampul Novel Pembalasan Dendam Istri TKI
8.6
Mutia terpaksa memendam amarah saat bekerja di negeri orang, mengetahui suaminya berkhianat dengan menikah lagi. Penderitaannya kian memuncak ketika putri tercintanya menjadi korban penganiayaan di rumah. Sekembalinya ke tanah air, Mutia tidak lagi tinggal diam. Dengan tekad yang membara, ia merancang strategi untuk menuntut keadilan. Kini, saatnya bagi Mutia membalaskan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang telah menghancurkan hidup keluarganya.