Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta di Daun Semanggi

Cinta di Daun Semanggi

Logika Sindi seolah lumpuh demi cinta butanya pada Ronald, pria yang sebenarnya telah berkeluarga. Selama tiga tahun mereka terjerat dalam asmara terlarang hingga akhirnya Sindi mengandung. Penyesalan kini tak lagi berguna bagi keduanya. Di tengah nestapa dan beban masa lalu akibat kehilangan orang-orang tercinta, mampukah Sindi bertahan menghadapi cobaan terberat ini sendirian? Sebuah kisah penuh dilema tentang konsekuensi hati yang salah memilih jalan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Situasi toilet sedang sepi saat itu. Hanya ada Sindi disana. Setelah rapi mengenakan seragamnya, Sindi mematutkan diri di depan cermin melihat penampilannya yang baru. Dia bergegas kembali ke kantor menemui Bu Rina.

Bu Rina mengajak Sindi untuk berkeliling ke dalam area kantor, untuk memperkenalkan dirinya kepada seluruh karyawan. Serta memberitahu dimana letak pantry yang akan menjadi tempat stand by bagi office girl apabila belum mendapat tugas dari para karyawan.

Pertama, Sindi diarahkan oleh Bu Rina ke ruang pantry agar dia bisa meletakkan dahulu tas yang sejak tadi masih ditentengnya di tangan. Bu Rina juga bercerita sekilas tentang office girl yang bekerja disana sebelumnya. Office girl tersebut telah mengundurkan diri karena ingin kembali ke kampung halamannya untuk merawat ibunya yang sakit-sakitan.

Kantor ini tidak begitu luas dan jumlah karyawannya juga hanya sekitar tiga puluh orang termasuk yang sering bertugas diluar kantor. Maka office girl yang dibutuhkan cukup satu orang saja. Dan perusahaan ini bergerak di bidang distribusi makanan beku. Pemimpin utamanya adalah suami Bu Rina sendiri yang bernama Pak Alex. Sedangkan Bu Rina sendiri selaku wakil dari Pak Alex yang juga menjabat sebagai personalia.

Ruangan pantry berada di pojok sebelah kiri bagian dalam ruangan. Di dalamnya terdapat kitchen set, lemari es yang berukuran cukup besar, dispenser air panas, meja makan yang cukup untuk enam orang, sebuah sofa panjang serta peralatan dapur lainnya. Pantry ini tampak sangat bersih dan harum, karena pada dua sisi dindingnya dipasangi dua buah pewangi ruangan otomatis yang akan menyemprotkan wanginya ke seluruh ruangan pantry beberapa menit sekali.

Dari pantry, Bu Rina membawa Sindi menemui satu persatu karyawan disana. Agar mereka dapat lebih akrab berkenalan, karena nantinya tenaga Sindi akan sangat dibutuhkan untuk turut mendukung pekerjaan mereka. Tentu semuanya tampak antusias, mereka senang menyambut kehadiran office girl baru di kantor mereka. Mereka juga terlihat begitu ramah memperkenalkan diri serta menyapa Sindi. Namun setelah Sindi berlalu dari salah satu meja kerja, tampak dua orang gadis yang saling mendekatkan dirinya satu sama lain. Sambil mengamati penampilan Sindi dari belakang, mereka lantas berbisik mengomentari Sindi.

“Ngga salah Mi? Lumayan lho, cakep orangnya.”

“Iya ya. Kelihatannya juga masih muda.”

Mereka berdua adalah Dita dan Mimi, yang keduanya memang sering mengomentari gerak gerik maupun penampilan orang lain di kantor itu. Namun sebenarnya mereka berdua adalah gadis-gadis yang sangat baik dan juga perhatian pada kesulitan orang lain. Mereka juga dapat bergaul dengan supel tanpa memandang posisi atau jabatan orang lain. Mereka sangat mampu berteman dengan siapa saja.

Setelah yakin bahwa Sindi telah memahami semua yang dijelaskan olehnya, Bu Rina pun beranjak meninggalkan Sindi di ruang pantry.

“Saya tinggal ya Sin. Kamu bisa sambil bersih-bersih, kalau belum ada kerjaan ya ngga apa-apa disini dulu. Nanti juga ada kok yang butuh bantuan kamu, kamu pasti dipanggil.”, Bu Rina sangat baik dan apa adanya dalam berbicara kepada Sindi, sehingga Sindi tidak terlalu tegang di hari pertamanya ini.

Setelah Bu Rina pergi meninggalkan ruang pantry, Sindi berdiri di depan kitchen set. Membuka satu persatu ruang pada kitchen set di hadapannya, mempelajari apa saja isi di dalamnya. Kemudian dia mulai memegang sebuah kain lap berwarna biru dongker. Sindi hendak mengelapi meja makan yang jaraknya hanya dua langkah dari kitchen set. Belum sempat melangkah mendekati meja, suara tuas pintu pantry terdengar ada yang membukanya dari luar.

“Sindi, sini yuk tolong bantu Saya.”, Dita menghampiri Sindi diiringi senyuman dan mengajaknya bersama-sama ke area kerja para karyawan. Sindi urungkan niatnya mengelapi meja makan, dia bergegas membuntuti di belakang Dita. Sambil melangkah menuju area kerja, Dita mengajak Sindi mengobrol.

“Sebelumnya kerja office girl juga, Sin?”

“Bukan Mba, tadinya kerja di toko. Ngelayanin pembeli.”

“Oh, toko apa?”

“Toko keramik, tapi sekarang sudah ditutup sama yang punya.”

Tampak area kerja yang luas dengan sekat partisi yang berbahan aluminium, membatasi ruang gerak masing-masing karyawan. Di pojok sana terdapat sebuah mesin foto kopi serta sebuah meja yang di atasnya terdapat mesin faximile. Masih sejajar dengan letak meja faximile, tampak dua buah pintu yang jaraknya tidak terlalu jauh. Satu ruangan adalah ruang kerja Pak Alex dan berada di sampingnya adalah ruang kerja Pak Ronald, yaitu kakak kandung Bu Rina yang menjabat sebagai manager operasional di perusahaan itu.

Saat ini Pak Alex dan Pak Ronald sedang berada diluar kota, maka mereka belum mengetahui keberadaan office girl baru di kantor mereka.

Dita membuka penutup pada mesin foto kopi seraya mulutnya terus berbicara pada Sindi. Sindi pun berdiri cukup dekat dengan tempat Dita berdiri.

“Sini Sin, dekat Saya! Nih caranya kalau mau foto kopi. Kalau kertasnya sudah ditaruh situ, ini tombolnya tinggal kamu tekan mau berapa lembar jadinya. Terus tekan start yang ini. Tungguin deh, nanti dia keluar disitu. Jangan tekan apa-apa lagi ya! Ini sudah disetting tinggal pakai.”

Sindi mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Dita sambil memperhatikan gerak gerik yang dilakukan Dita saat mencontohkannya melakukan kegiatan foto kopi. Sindi pun mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya telah mengerti.

“Iya Mba, oke.”

Dita dan Sindi berdiri di samping mesin foto kopi menunggu hingga mesin itu selesai mengopi selembar kertas milik Dita.

“Nih hasilnya, sudah sesuai jumlah yang Saya tekan tadi.”, ucap Dita sambil kedua tangannya mengambil hasil foto kopi di bakinya dan kemudian menunjukkannya kepada Sindi. Sindi pun kembali mengiyakan apa yang ditunjukkan oleh Dita.

“Nah, sekarang Sindi ikut Saya ke meja. Nih duduk sini!”, pinta Dita kepada Sindi seraya menyeret pelan kursi plastik berwarna merah dari bawah kolong meja kerjanya. Dan meletakkan kursi itu di sisi samping kanan meja. Kini Sindi telah duduk di bangku plastik itu sedangkan Dita juga telah duduk di kursi kerjanya sendiri.

Dita meletakkan kertas hasil foto kopi tadi yang berjumlah tiga puluh lembar di ujung meja, tepat di hadapan Sindi. Dita mengeluarkan sekotak amplop putih panjang dari lemari di bawah meja kerjanya.

“Ini Sin, tolong kamu lipat surat pemberitahuan ini. Semua sampai habis. Saya kasih contoh dulu ya, biar seragam posisi kertasnya, jadi rapi.”

“Iya Mba.”, kedua mata Sindi memperhatikan dengan teliti bagaimana cara Dita melipat kertas surat itu hingga memasukkannya ke dalam amplop putih yang tadi sudah disediakan oleh Dita di samping tumpukan kertas itu.

“Nah, ini kepalanya di atas semua jangan dilipat ke dalam. Jadi pas amplopnya dibuka langsung kebaca kepala suratnya. Gampang kan? Saya kerjain yang lain dulu ya.”, ucap Dita seraya tersenyum ramah kepada Sindi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Tamara Levinka, model ternama sekaligus tunangan CEO produsen senjata Roger Jenandra, mendadak hilang tanpa jejak. Meski pencarian besar-besaran telah dilakukan, keberadaannya tetap misterius. Namun, setelah empat puluh sembilan hari, Tamara muncul kembali dengan kabar yang mengguncang semua pihak. Di balik kepulangannya, ada Jeff yang terobsesi memilikinya dan Tamara yang rela mengorbankan segalanya demi pria itu. Cinta mereka tumbuh di tengah konflik yang berbahaya.
Sampul Novel Affair With Santa
8.4
Di tengah dinginnya New York yang menusuk tulang, seorang gadis nekat menunggu di bawah pohon besar meski suhu berada di bawah nol derajat. Sepatu boots tipisnya tak mampu menahan es, membuatnya nyaris beku saat menanti seseorang yang tak kunjung datang. Ketika tubuhnya mulai oleng akibat hipotermia di sudut taman yang sepi, sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendekapnya. Suara berat seorang pria misterius menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya menghilang.
Sampul Novel Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
7.9
Adit, mahasiswa yang kerap dirundung, memilih mengakhiri hidupnya. Namun, jiwa Hito Aswatama justru merasuk ke raga Adit setelah sebuah kecelakaan maut menimpanya. Menggunakan identitas baru, Hito menyelidiki dalang pembunuhannya sambil memperebutkan takhta ahli waris Aswatama melawan paman dan sepupunya. Konflik ini perlahan mengungkap rahasia gelap keluarga besar terkait kematian orang tua Hito. Mampukah ia bertahan di tengah intrik perebutan kekuasaan tersebut?
Sampul Novel Brondong Bucin
8.3
Dunia Aira runtuh total setelah kepergian sang suami. Sebagai ibu tunggal, ia sempat terpuruk dalam duka hingga melalaikan ketiga buah hatinya. Sadar kesedihan tak akan memberi makan, Aira mencoba bangkit demi masa depan mereka. Di tengah perjuangan berat itu, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, mampukah cinta mereka bertahan saat rintangan baru mulai menguji keteguhan hati Aira kembali?
Sampul Novel DARK LOVE
8.2
Aluna tumbuh besar di keluarga Dewantara bersama Albert setelah ditinggal orang tuanya. Ikatan persaudaraan mereka berubah menjadi cinta terlarang yang membuat Albert pergi menghilang. Saat Aluna mulai menata hidup dan berencana menikah dengan Mark yang penuh kelembutan, Albert tiba-tiba kembali. Ia membawa penjelasan masa lalu sekaligus rahasia mengejutkan mengenai sosok Mark. Kini, Aluna terjebak dalam dilema antara masa lalu dan masa depannya.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.