
CEO Mesum
Bab 2
Alice sedang selonjoran dan memainkan ponselnya sebelum panggilan yang
mendadak datang membuatnya hampir melempar ponsel karena kaget.
"Nomor tidak dikenal?" Alice dengan ragu mengangkat panggilan yang
masuk.
"Halo."
"Saya perwakilan dari Royal Garden. Anda bisa datang ke perusahaan
untuk bertanda tangan kontrak." Suara seorang wanita mengalun merdu di
telinga Alice.
Sejenak Alice tertegun mencoba untuk mencerna apa yang dimaksud oleh
orang di balik sambungan telepon itu.
"Jadi? Maksudmu aku diterima secepat itu?!" Alice meninggikan suaranya
saat mengatakan di akhir kalimat dan melupakan kesopanan dalam
berbicara formal.
"Benar, Anda harus datang untuk menandatangani kontrak dan
persyaratannya."
Alice terlihat antusias dan mengangguk dengan cepat meski ia tahu bahwa
orang di sana tidak akan melihat. Seperti orang bodoh, tetapi Alice tidak
peduli lagi dengan pendapat orang mengenai tindakannya seperti kali ini.
Alice segera mengambil baju formal miliknya dan bergegas untuk pergi
menuju Royal Garden. Memang membutuhkan perjuangan ekstra di saat
seperti ini, mengingat ini sudah hampir siang hari.
"Menyebalkan sekali. Tahu begini aku menggunakan mobil saja tadi.
Busnya juga belum sampai juga," gumam Alice kesal.
Ini sudah kesekian kalinya Alice mengembuskan napas berat karena bus
yang dia tunggu tidak kunjung datang.
"Kenapa memilih menggunakan bus jika kamu memiliki mobil pribadi?"
tanya seseorang yang sedari tadi terlihat sibuk dengan koran di tangannya.
Alice menoleh. Lelaki yang duduk di sampingnya melipat koran yang
sedari tadi dia baca. Melihat itu Alice menatap kakinya yang mengenakan
sepatu hak tinggi.
"Karena Mama bilang menggunakan mobil pribadi setiap saat dapat
menyebabkan kemacetan terus menerus. Itu sebabnya aku menggunakan
bus, lagian juga aku keluar tidak buru-buru jika tidak buru-buru
menggunakan bus lebih baik untuk mengurangi kemacetan."
Senyum kecil terbit di wajah lelaki itu. "Andai semua orang berpikir
sepertimu pasti kemacetan mengular akan berkurang. Namaku adalah
Alden, namamu?" Lelaki itu mengulurkan tangan saat mengatakan itu.
"Alice." Alice menerima uluran tangan itu.
Tangan yang kekar juga mulus tidak ada goresan sama sekali di tangannya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti," ujar Alden saat melihat
bus yang sudah mendekat.
"Uhm, pasti. Terima kasih sudah menemaniku berbicara." Alice melepas
tangannya lebih dulu dan berdiri untuk naik bus yang sudah mulai berhenti.
Dengan segera Alice naik bus saat pintu sudah dibuka. Alden merapikan
barang-barangnya dan ikut masuk ke dalam bus. Tidak ada pembicaraan di
antara mereka sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya Alice berhenti di
pemberhentian bus di dekat tempat kerjanya.
"Aku duluan, ya." Alice berpamitan kepada Alden saat dia hendak turun.
"Baiklah, hati-hati."
Alice mengangguk dan keluar lalu berjalan ke menjauh dari sana. Alden
memperhatikan Alice yang terus berjalan. Melihat pakaian formal yang
digunakan oleh Alice dia dapat memastikan bahwa wanita itu akan pergi
untuk bekerja.
Bus yang dikendarai Alden terus melewati Alice yang hendak berbelok
menuju Royal Garden. Alden tersenyum samar saat mengetahui di mana
tempat Alice bekerja.
Alice memasuki pintu masuk perusahaan dan menghubungi seseorang yang
telah memberitahunya tentang terpilihnya dia saat ini.
"Saya sudah berada di perusahaan, jadi, saya harus ke mana?"
"Baiklah, tunggu sebentar, saya akan ke bawah dan menjemput Anda."
Panggilan pun terputus. Alice segera menunggu di sofa yang ada di sana.
Memperhatikan setiap detail lobi yang ada di sana, tidak lama seorang
wanita cantik datang menghampiri Alice.
"Nona Alice?" Merasa namanya dipanggil Alice mendongak dan
menemukan wanita itu.
Seketika Alice terkesiap karena wanita itu begitu cantik. Melihat reaksi dari
Alice dia tersenyum dan mendekatinya.
"Mari, Nona. Kita akan menandatangani surat perjanjian dan kontrak yang
ada." Wanita berucap dengan sopan dan berjalan duluan.
Mendengar perkataan dari wanita tadi Alice mengikuti ke mana wanita itu
akan membawanya. Mereka sampai di sebuah ruangan yang tidak ada
penghuninya.
Wanita itu mengambil sebuah dokumen dari dalam laci dan memberikan
kepada Alice.
"Ini dokumen kontrak dan persyaratan. Mohon dibaca dan ditandatangani.
Ah, sangat tidak sopan bila saya tidak mengenalkan diri lebih dulu. Nama
saya Diana, saya sekretaris GM di sini, Tuan Garham yang meminta saya
untuk mengurus Anda. Untuk minggu pertama Anda akan saya bimbing,
lalu minggu kedua dan seterusnya Anda bisa bekerja sendiri." Wanita
bernama Diana itu menjelaskan dan memperkenalkan diri.
Alice mengangguk dan membaca surat kontrak yang diajukan oleh
perusahaan, ada banyak poin di poin terakhir Alice mengerutkan kening.
"Tidak boleh melawan perkataan presdir? Jika keluar sebelum masa kontrak
berakhir maka akan dikenakan denda senilai satu miliar, lalu jika
perusahaan mengeluarkan secara sepihak tanpa ada kesalahan yang
dilakukan akan menerima uang ganti rugi senilai satu miliar?" Alice
bergumam kebingungan dengan poin terakhir yang berada di sana.
"Ini, maksudnya bagaimana?" Alice benar-benar kebingungan dengan
kontrak nomor terakhir.
"Perusahaan Royal Garden adalah perusahaan yang akan memberikan uang
ganti rugi jika perusahaan membuat kesalahan, lalu jika pegawai
mengundurkan diri sebelum kontrak berakhir maka dia juga harus
memberikan uang ganti rugi. Sangat menarik, bukan?" Diana menjelaskan
maksud dari poin yang tidak dimengerti oleh Alice.
"Aku tahu. Aku tahu semua itu, apa ini tidak termasuk berlebihan?
Membayar satu miliar untuk ganti rugi jika mengundurkan diri, apa ini
tidak terlalu berat?"
"Tentu saja tidak. Kontrak kerja selama lima tahun, lalu gaji perbulan juga
begitu mahal setiap beberapa bulan sekali jika performa kerja bagus maka
akan mendapat kenaikan gaji. Tuan Garham adalah orang yang sangat
menyukai pekerjaan yang sempurna, itu sebabnya semua akan berlomba
untuk mendapat kenaikan gaji."
Alice terlihat berpikir sejenak. Memang benar gaji yang ditawarkan oleh
perusahaan Royal Garden sangat tinggi dibanding perusahaan yang lain.
Setelah memikirkan apa yang terjadi Alice pun segera menandatangani
surat kontrak yang telah dia baca dengan seksama.
"Sudah." Alice selesai membubuhkan tanda tangan miliknya.
Setelah bertanda tangan maka dia tidak bisa lagi mundur dari perusahaan ini
untuk lima tahun ke depan. Lima tahun mungkin akan terasa cepat jika
pekerjaan yang dia kerjakan tidaklah menyulitkan dirinya.
"Nona Alice, selamat Anda diterima sebagai sekretaris Tuan Garham.
Beliau ingin bertemu dengan Anda untuk menanyakan banyak hal."
Orang yang dipanggil Alice itu mengerutkan kening saat mendengar bahwa
presdir ingin bertemu dengannya. Apa dia melakukan kesalahan jika
memang dia melakukan kesalahan maka kesalahan apa? Apa sesuatu yang
tidak bisa diperbaiki lagi?
"Bertemu dengan saya? Apa saya sudah mulai bekerja hari ini? Atau saya
melakukan sebuah kesalahan?" Alice kebingungan.
"Tidak, beliau hanya ingin bertemu dengan Anda untuk menanyakan
sesuatu." Diana berbicara kepada Alice dengan tersenyum hangat saat
mengatakan itu.
Anda Mungkin Juga Suka





