
CEO Mesum
Bab 3
Alice dan Diana sampai di depan pintu yang terdapat tulisan ruangan
presdir.
"Tuan, Nona Alice sudah datang."
"Suruh dia masuk!" Datar dan dingin yang masuk ke dalam gendang telinga
Alice.
Pintu dibuka oleh Diana, kesan pertama yang Alice lihat adalah ruangan
yang rapi dan banyaknya dokumen tertumpuk di meja, seseorang berada di
kursi dan membelakangi mereka.
Orang itu memutar kursi kebanggaannya dan menatap Alice dari atas
hingga bawah.
"Berapa usiamu?"
"Dua puluh tiga tahun, Tuan." Alice menjawab dengan sopan dan lembut.
"Silakan duduk. Diana silakan keluar, ada hal yang ingin saya bicarakan
secara pribadi dengan Nona Alice."
"Baik, Tuan." Diana berpamitan dan mengundurkan diri dengan perlahan.
Di dalam ruangan yang besar dan sunyi itu hanya tinggal mereka berdua.
Alex masih meneliti penampilan orang yang duduk di depannya.
"Saya adalah Alex Garham. Pemilik dari Royal Garden, selamat bergabung
dengan kami dan bekerjalah dengan giat."
Mendengar sambutan ramah dari Alex, Alice tersenyum dengan penuh
semangat.
"Terima kasih, Tuan Garham. Saya adalah Alice Handerson, mohon
bimbingannya." Alice berucap dengan ramah dan senyum hangat.
"Alice Handerson, ya. Baiklah ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan
dan ingin tahu."
"Baik."
Alice begitu tegang dia takut jika orang di depannya akan bertanya-tanya
tentang alasan dia dikeluarkan dari perusahaan sebelumnya.
"Apa kau seorang perawan?"
Alice melongo tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh
presdir kali ini.
"Maaf?"
Melihat ekspresi dari Alice, Alex bisa memastikan bahwa wanita di
depannya mungkin seorang yang polos.
"Tidak ada. Melihat dari ekspresimu, sepertinya kau seorang perawan."
Alex tersenyum miring saat mengatakan itu.
"Tuan, apa semua itu penting?" Alice mulai tidak nyaman dengan
pembahasan kali ini.
Bagaimana mungkin ada perusahaan yang menanyakan hal yang sevulgar
itu kepada bawahannya seperti kali ini.
"Tidak juga. Mau kamu seorang perawan atau bukan aku sangat
menyukaimu, jadi, ada beberapa hal yang kuinginkan darimu." Alex mulai
berbicara dengan santai dan tidak seformal tadi.
"Maaf, Tuan. Apa yang ingin Anda inginkan?"
"Tidak berat hanya pekerjaan ringan sebelum besok mulai bekerja.
Sebenarnya hari ini juga termasuk hari kerjamu, karena kamu baru saja
diterima, jadi, mulai besok kamu bisa bekerja dengan normal. Kali ini
hanya pekerjaan kecil saja."
Mendengar itu Alice kembali tenang walau hanya sesaat. "Baik. Terima
kasih, Tuan."
"Coba buka bajumu. Aku ingin melihat ukuran dada dan celana dalammu."
Wajah Alice memerah saat itu juga. Dia malu juga marah di saat bersamaan,
bagaimana bisa ada presdir gila dan mesum tidak terkira seperti itu?
"Tuan, Anda jangan membuat saya kehilangan kesabaran." Alice berucap
dengan dingin saat mendengar perkataan vulgar itu.
Alex berdiri dan meninggalkan kursi kebanggaannya dan menghampiri
Alice. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Alice.
Wajah Alice memerah seketika saat jarak di antara mereka begitu dekat.
Menghindar pun tidak akan bisa karena posisinya saat ini tengah duduk di
kursi sedangkan Alex dia berdiri di samping kursi.
Tangan Alex bergerak menuju dada Alice dan meremasnya pelan. Hampir
saja Alice berteriak jika saja Alex tidak buru-buru menutup mulut Alice
dengan tangannya.
Hanya meremas sebentar dan melepas bungkamnya kepada Alice.
"Berengsek! Apa yang kau lakukan?! Aku akan melaporkanmu kepada
polisi atas tuduhan pelecehan seksual!" Alice berdiri dengan wajah merah
dan penuh amarah.
"34C cukup besar untuk ukuran wanita sepertimu. Setidaknya cukup untuk
aku remas selama kontrakmu dengan perusahaan." Alex berucap dengan
santai dan menulis sesuatu di kertas.
"Kau! Bajingan sialan! Tangan kotormu itu sudah hafal dengan ukuran dada
seorang wanita hanya dengan menyentuhnya saja! Kau benar-benar seorang
bajingan, sangat menyesal aku bekerja di tempat seperti ini. Aku akan
mengundurkan diri dan menyebarkan bahwa CEO dari Royal Garden
adalah orang yang tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab, selain itu
Anda juga seorang yang mesum! Pasti sudah ratusan wanita yang sudah
Anda pegang dengan tangan menjijikkanmu itu!" Alice berucap dengan
berapi-api dan penuh dengan emosi ia.
Setelah mengatakan itu Alice segera meninggalkan tempat tadi berniat
untuk pergi. Bagaimana bisa dia mendapat pelecehan di hari dia
menandatangi kontrak. Sangat menyesal bagi dirinya bisa mengenal orang
mesum akut seperti Alex Garham.
"Silakan jika ingin mengundurkan diri di luar sana masih banyak orang
yang mengantri untuk bekerja di sini. Jangan lupakan untuk membayar
uang ganti rugi sebanyak dua kali lipat jika kamu ingin melaporkan
tindakanku tadi ke polisi." Datar dan dingin yang keluar dari mulut alex.
Nada bicara pertama kali yang didengar oleh Alice tadi. Alice
menghentikan langkahnya saat itu juga. Dua kali lipat katanya?
Bagaikan tersambar petir mendengar uang ganti rugi sebanyak itu, ia
berbalik dan melotot tak percaya. "Dua kali lipat? Apa Anda sudah gila? Di
kontrak hanya terdapat uang ganti rugi seharga satu miliar kenapa menjadi
dua kali lipat?!" Alice berbalik dan menggembrakk meja milik Alex.
"Yang membuat peraturan adalah aku, yang berkuasa di sini adalah aku.
Jika kamu keberatan silakan membayar uang ganti rugi seperti yang aku
sebutkan. Dilarang melawan perkataan presdir, jika melawan maka akan
mendapat hukuman sendiri. Bukannya di kontrak bekerja sudah ada
perjanjian itu?"
Alice mengangkat tangannya yang mengebrak meja tadi. Dia menggigit
bibirnya untuk melampiaskan perasaan marah yang melingkupi dirinya.
"Baik. Saya akan mulai bekerja besok. Saya harap Anda bisa berbuat sopan
kepada saya dan tidak membuat saya marah lagi. Sampai bertemu besok,
Tuan Garham." Alice membungkukkan badan dan berpamitan pergi.
Emosi terpendam masih bergelora di dalam dada Alice bagaimana tidak
emosi jika diperlakukan dengan tidak sopan seperti itu. Dia datang ke sana
untuk bekerja bukan untuk menjadi jalang.
Sedangkan di dalam ruangan ruangannya Alex menatap tangan kirinya yang
meremas dada Alice. Senyum puas terpasang di wajahnya saat itu juga.
"Wanita yang menarik. Menjaga diri dan suci, sangat cocok untuk masuk
sebagai kandidat orang yang kuat berada di sisiku. Alice Handerson, jangan
salahkan aku jika aku tertarik kepadamu, Kucing Liar!"
Alex segera memeriksa dokumen yang belum sempat dia periksa selama
perbincangannya dengan Alice tadi.
Menjadi seorang CEO bukan berarti dirinya bisa bermalas-malasan seperti
tadi. Dia hanya ingin bermain barang sejenak untuk meringankan beban
pikiran yang mengganggunya.
Sedangkan Alice dia menggerutu sepanjang perjalanan menuju lantai
bawah, meratapi nasibnya yang tidak beruntung bertemu dengan bos kurang
ajar seperti Alex.
Aku akan mengingatnya seumur hidup apa yang telah dilakukan oleh si
Anjing Liar itu. Setelah kontrak ini berakhir aku akan segera
mengundurkan diri dan mencari pekerjaan yang lain! batin Alice dengan
penuh amarah
Anda Mungkin Juga Suka





