
CEO lumpuh itu, suamiku
Bab 2
Rachel Martinique atau biasa dipanggil dengan sebutan El. Baru dua bulan yang lalu ia menyelesaikan strata satu nya di fakultas kedokteran spesialis bedah. Di usianya yang terbilang cukup muda yaitu 22 tahun, ia mampu menjadi lulusan terbaik di kampus ternama berkat kegigihan dan otak cerdasnya.
Beberapa teman kampusnya ada yang menyarankan supaya Rachel menjadi pengacara atau jaksa penuntut umum saja. Itu dikarenakan rachel pandai bersilat lidah dan mampu membungkam mulut lawannya. Namun Rachel menolak karena masuk dunia hukum bukanlah impiannya, bahkan ia selalu berusaha menjauhi yang namanya hukum ataupun politik.
Rachel tetap pada pendiriannya, menjadi seorang dokter adalah cita-citanya. Saat selesai kuliah, Rachel langsung ditawarkan untuk bekerja di salah satu rumah sakit negeri. Pada waktu itu ia sangat senang, namun semuanya harus sirna lantaran ia dipaksa menikahi pria lumpuh demi melunasi hutang keluarganya.
Rachel diancam, jika dia sampai menolak maka orang-orang yang dia sayangi akan terluka bahkan bisa pergi dari dunia ini. Kejam memang, sampai Rachel pernah berpikir jika dia bukanlah anak kandung kedua orangtuanya.
Rachel selalu diperlakukan tidak adil, dicaci-maki, dan selalu disalahkan atas kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Selama 22 tahun dia hidup tidak sekalipun ia mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Untuk menyelesaikan pendidikannya saja ia harus bekerja paruh waktu, karena orang tuanya angkat tangan atas segala sesuatu yang ia jalani. Padahal keluarga mereka termasuk dalam kategori kalangan atas. Tetapi Rahel harus menanggung penderitaan akibat keserakahan kedua orangtuanya.
Rachel adalah perempuan yang sangat cantik, ia memiliki mata berwarna biru yang dapat memikat kaum adam saat melihatnya. Pipinya yang chubby sungguh menggemaskan, terlebih lagi ukuran tubuhnya yang terbilang mungil menambah kesan imut.
Di kampus ia menjadi salah satu primadona yang dikagumi oleh banyak orang termasuk para dosen muda. Namun hebatnya dia tidak pernah mau menjalin hubungan dengan siapapun, dan parahnya ia tidak pernah dirumorkan dekat dengan pria manapun.
Rahel hanya fokus untuk menyelesaikan pendidikan lalu menggapai mimpi yang ia dambakan selama ini agar ia bisa lolos dari siksaan orang tuanya.
Namun takdir harus berkata lain, Rachel yang notabenenya tidak pernah pacaran sama sekali harus menikah di usia muda.
Karena terlalu lama melamun, Rachel sampai tidak sadar saat mobil yang membawanya berhenti di sebuah bangunan besar nan megah. Mansion itu didesain dengan gaya kebarat-baratan, layaknya kerajaan Eropa. Mansion tersebut berdiri kokoh, suasana disana sangatlah sejuk seperti di pegunungan.
Rachel melihat sudah banyak pelayan berdiri rapi dan berjejeran di sepanjang halaman mansion. "Selamat datang nona muda." Sapa para pelayan serentak. Rachel tersenyum lalu sedikit membungkukkan badannya hormat kepada mereka yang lebih tua.
"Mari nona saya antar ke kamar anda. Tuan muda sudah menunggu." Ajak seorang pria, ia adalah orang yang cekcok dengan Rachel tadi hanya karena perihal mobil
"Iya." Rachel mengikuti langkah kaki pria di depannya. Rachel tak henti-hentinya kagum melihat interior mewah kediaman suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut mansion itu, luas mansion ini empat kali lebih besar dari istana negara.
Rachel membuka mulutnya sendiri, ia masih terkejut dengan apa yang ia lihat. Sebenarnya sekaya apa suaminya itu? Rachel jadi merinding sekaligus penasaran.
Akhirnya mereka sampai di depan kamar suaminya. "Silahkan masuk nona muda."
"Iya, terimakasih sekretaris tralala trilili." Kata Rachel.
"Panggil saja Alex nona." Ujar sekretaris yang bernama Alex itu.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Rachel sudah menaruh kedua tangannya di pinggang, lalu mengangkat dagunya seperti orang mengajak tanding.
"Lebih baik anda memanggil saya dengan apa yang saya ucapkan barusan."
"Memangnya kau mengucapkan apa?" Rachel mendadak amnesia.
"Nona." Alex mundur dua langkah dan mengangkat tangannya ke udara.
"Apa? Kau mau apa?"
"Sebaiknya anda segera masuk, jika tidak ingin melihat Tuan muda mengamuk."
"Dasar sekretaris aneh yang ditanya apa yang dijawab apa." Rachel melangkahkan kakinya memasuki kamar sang suami. Namun sebelum membuka pintu kamar ia berucap, "Terserah ku ingin memanggil mu apa, mulut ini punya ku bukan punyamu jadi kau tidak berhak untuk mengaturku, sekian." Kata terakhir yang dilontarkan Rachel seakan-akan menjadi penegasan bahwa ia takkan merubah panggilan nya pada Alex.
Rachel masuk ke dalam kamar suaminya.
Lagi-lagi dia dibuat terpesona saat melihat kemewahan dan keeleganan kamar itu. Benar-benar menakjubkan, ia sampai tak berkedip.
"Bisa-bisa kau jadi patung karena berdiri disitu. Apa kau mau aku jadikan pajangan di museum, supaya semua orang dapat melihat betapa jeleknya wajahmu itu." Baru saja mereka berbicara tapi Alfian sudah melontarkan kata-kata yang membuat hati Rachel sakit.
Rachel tetap diam dan tak menjawab sepatah katapun. "Cepat baca." Alfian melempar sebuah map tepat di wajah Rahel
Selesai membaca seluruh isi map itu, mata Rachel membulat sempurna. Di kertas itu tertulis jelas surat perjanjian pernikahan antara keduanya.
"Apa maksud dari ini semua Tuan?"
"Kau tidak bisa membaca atau pura-pura tidak tahu. Pakailah otakmu itu agar kau dapat memahami dan mengambil kesimpulan saat kau selesai membaca berkasnya." Sindir Alfian, ia tidak tahu setajam apa mulut perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Namun Rachel memilih diam karena malas berdebat, ia ingin cepat tidur dan rebahan di kasur. Badannya sudah pegal, tak ada tenaga untuk meladeni ucapan suaminya.
"Oh saya tau sekarang, anda mau saya jadi pembantu berkedok istri kan?"
"Aku tidak peduli kau mau menganggap dirimu itu apa. Yang jelas itu bukan urusan ku. Tugas mu adalah merawat dan mengikuti semua kemauan ku."
"Iya iblis." Gumam Rachel
"Apa? Kau berani mengatai ku, dasar perempuan tak tahu untung!"
"Memangnya saya bilang apa Tuan?" Bukannya menjawab, Rachel malah balik bertanya.
"Jangan Berpura-pura bodoh, barusan kau mengatai ku iblis kan!" Pekik Alfian sembari menatap tajam ke arah Rachel. Namun Rachel tak peduli, ia bahkan menjawab perkataan Alfian dengan santai seakan tak ada beban. "Kalau anda merasa ya sudah. Itu masalah anda bukan masalah saya."
Rachel pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket, sekaligus menghapus make up yang menghiasi wajahnya. Rachel tak peduli reaksi Alfian setelah ia berkata demikian.
Matahari bersinar terang membangunkan seorang perempuan yang tertidur lelap. Rachel tidur di sofa yang ada di kamar itu, sedangkan suami lumpuhnya berbaring nyaman di kasur king size.
Rachel menatap suaminya lekat. Pria itu memiliki garis wajah yang bagus, begitu pula postur tubuhnya indah bagaikan pemanah handal dalam sebuah dongeng, tepatnya Robin hood. Alfian hampir mendekati kata sempurna, roti sobek yang jumlahnya delapan membuat wanita manapun tergiur. Meskipun dia jahat dan lumpuh, hal itu tak mengurangi kadar ketampanan nya. Tuhan benar-benar luar biasa, menciptakan orang lumpuh dengan paras yang amat menawan.
Dan jujur saja, Alfian adalah pria tertampan yang pernah Rachel temui dalam hidupnya.
Namun rasa kagum itu berubah menjadi rasa kesal. Rachel tersenyum kecut saat mengingat perlakuan suaminya semalam.
Seharusnya malam penganti mereka menjadi malam yang penuh kenangan dan takkan terlupakan, namun semua itu hanyalah angan-angan yang tidak akan pernah terjadi, jangankan malam pertama sekedar kecupan saja tidak ada, hanya bentakan dan tuduhan tidak benarlah yang diberikan Alfian pada Rachel.
Rachel tidak berharap lebih karena pada dasarnya pernikahan mereka terjadi akibat keterpaksaan dan tuntutan dari keluarga.
Rachel melipat selimut dan merapikan semuanya. Tak lupa ia juga menyiapkan baju ganti untuk suaminya, serta air hangat saat mandi. Rachel melakukan itu semua sesuai surat perjanjian yang ia tandatangani.
Sama seperti keluarganya, Rachel juga tidak diterima kehadirannya oleh sang suami.
Anda Mungkin Juga Suka





