Sampul Novel Persalinan yang Terpaksa Ditunda

Persalinan yang Terpaksa Ditunda

8.9 / 10.0
Menjelang persalinan, sang istri justru dikurung oleh suaminya, Arga Baskara, di gudang bawah tanah. Arga memaksa bayi mereka ditahan demi mendahulukan kelahiran anak Indri, janda kakaknya, agar bisa menjadi ahli waris utama. Meski sang istri memohon dalam kesakitan dan bersumpah mencintainya tanpa memedulikan harta, Arga tetap tidak peduli dan menuduhnya serakah. Tragisnya, setelah anak Indri lahir, Arga baru mendapati istri dan bayinya sendiri telah tiada, menyisakan penyesalan mendalam.

Persalinan yang Terpaksa Ditunda Bab 1

Ketika kandunganku menginjak sembilan bulan dan hampir siap melahirkan, suamiku, Arga Baskara, justru memerintahkan orang mengunciku di gudang bawah tanah dan menyuruhku menahan agar bayi itu tidak lahir.

Karena istri almarhum kakaknya, Indri Magani, juga diperkirakan akan melahirkan hari ini.

Arga pernah berjanji pada kakaknya bahwa anak pertama yang lahir dalam Keluarga Baskara akan dididik sebagai penerus dan menerima warisan keluarga.

"Anak Indri harus lahir lebih dulu," kata Arga dengan tenang. "Dia kehilangan suaminya dan nggak punya apa-apa. Sementara kamu sudah memiliki semua cintaku, memberikan harta kepada anaknya adalah hal yang seharusnya."

Kontraksi membuatku kesakitan sampai berguling-guling, aku menangis memohon padanya untuk membawaku ke rumah sakit.

Arga mengusap air mataku dengan lembut, suaranya rendah dan mengandung bahaya.

"Jangan berpura-pura! Aku sudah lama tahu kamu sama sekali nggak mencintaiku. Satu-satunya yang kamu pedulikan adalah kekayaan dan kedudukan."

"Kamu sengaja mau melahirkan prematur hanya untuk merebut hak keponakanku... Bagaimana bisa kamu begitu kejam?"

Wajahku pucat dan seluruh tubuhku gemetar. Aku berkata dengan suara pelan, "Aku nggak bisa mengendalikan kapan anak ini akan lahir, kelahiran prematur hanyalah kebetulan! Aku bersumpah, aku nggak peduli sama harta, aku hanya mencintaimu!"

Arga tertawa sinis. "Kalau kamu mencintaiku, kamu nggak akan memaksa Indri menandatangani kontrak untuk melepaskan hak waris untuk anaknya. Oke, setelah dia melahirkan, aku akan kembali menemuimu. Bagaimanapun juga, yang ada di perutmu adalah darah dagingku sendiri."

Arga menunggu di luar ruang bersalin Indri. Setelah melihat bayi yang baru lahir itu, barulah dia teringat padaku.

Dia menyuruh sekretaris menjemputku ke rumah sakit, tetapi sekretaris itu dengan suara gemetar berkata, "Nyonya... dan bayinya... sudah meninggal..."

Pada saat itu, Arga menjadi gila.

Ketika aku pingsan dan tersadar kembali karena rasa sakit kontraksi, aku sudah berada di gudang bawah tanah yang gelap dan dingin.

Pintu besar tertutup dengan suara keras. Andai saja aku tidak sempat menarik kakiku, pergelangan kakiku pasti sudah remuk.

Mungkin karena gerakanku yang terlalu kasar, aku merasakan cairan hangat mengalir di antara kedua kakiku.

Aku segera menyadari apa yang terjadi, air ketubanku telah pecah!

Rasa panik langsung menyeruak.

Aku mencoba menenangkan diri dan meraba seluruh tubuhku untuk mencari ponsel. Namun, aku tidak menemukannya.

Ternyata, Arga sudah lebih dulu merampasnya, agar memastikan aku benar-benar terputus dari dunia luar.

Bayi dalam kandunganku terus menendang. Tubuhku menggigil kedinginan, sementara keringat deras mengucur karena rasa sakit.

Aku berteriak sekuat tenaga meminta tolong. Aku tidak menyerah, meskipun hanya ada secercah harapan.

Akhirnya, aku mendengar langkah kaki dari luar.

"Aku mohon, tolong aku!" teriakku. "Aku dikunci di dalam gudang bawah tanah! Aku akan segera melahirkan!"

Aku mengulanginya berkali-kali, berharap ada yang datang menyelamatkanku.

Namun, yang terdengar justru suara penuh kepuasan.

"Dian, bagaimana rasanya berbaring di gudang bawah tanah di tengah musim hujan? Menurutku, kakak sudah seharusnya sejak lama membuatmu jadi penurut."

Itu suara adik perempuan Arga, Erina Baskara!

Aku menahan sesak napas dan berusaha agar suaraku tetap jelas. "Erina, kumohon bawa aku keluar. Bayinya sebentar lagi lahir, sudah nggak ada waktu lagi!"

Erina menendang pintu gudang bawah tanah dengan keras, lalu menatapku dengan penuh amarah.

"Melepaskanmu? Jangan bermimpi! Kamu pasti sangat panik karena nggak bisa menghentikan kakak ipar melahirkan, 'kan? Aku memang ditugaskan kakakku untuk mengawasimu, aku nggak akan membiarkanmu melakukan hal semacam itu lagi!"

"Kakakku setiap hari sudah sibuk bekerja, tapi dia masih harus mengurus semua masalahmu. Apa kamu nggak bisa berhenti membuat repot orang lain?"

"Penerus Keluarga Baskara hanya akan lahir dari rahim Indri! Apa pun yang kamu lakukan nggak akan mengubah kenyataan itu!"

Kontraksi yang makin hebat membuatku merintih kesakitan. Aku berkata sambil terisak, "Aku benar-benar nggak menginginkan warisan, aku juga nggak berharap anakku menjadi penerus. Aku hanya ingin bayiku selamat! Asal Arga bersedia membiarkanku melahirkan di rumah sakit, apa pun yang dimintanya akan kulakukan!"

Rintihanku rupanya membuat Erina kesal. Dia mengernyit jijik dan berkata, "Perempuan jalang, suara seperti itu kamu buat untuk merayu siapa? Menjijikkan sekali. Kalau terus merintih akan kusuruh orang menutup mulutmu!"

Setelah itu, dia menelepon Arga.

Sakit di perut terus berlanjut tanpa henti. Kali ini, aku hanya bisa menggigit bibir bawah erat-erat. Aku bahkan tidak berani mengeluarkan suara napas.

Erina berbicara pada Arga di seberang sana. "Ya, Kak, tenang saja. Aku akan menjaganya. Dia nggak akan bisa berbuat macam-macam lagi!"

Begitu mendengar suara Arga di telepon, seberkas harapan kembali menyala dalam diriku.

Aku menjerit sekuat tenaga dengan suara parau dan putus asa, "Arga! Anak ini mau lahir! Cepat suruh Erina membawaku ke rumah sakit, aku nggak kuat lagi!"

Kini, aku bahkan tidak sanggup duduk. Aku hanya bisa terkulai lemah di lantai.

Erina sempat ragu. Dia menunduk dan berkata pelan ke arah telepon, "Kak, kurasa dia benar-benar mau melahirkan. Dia nggak terlihat seperti berpura-pura."

"Bagaimana kalau kubawa dia ke rumah sakit dulu? Bagaimanapun juga, dia sedang mengandung satu-satunya anakmu. Kalau sampai terjadi sesuatu..."

Arga terdiam beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang.

Kemudian, suara Arga melunak. "Baiklah, kalau begitu bawa saja dia..."

Tiba-tiba sebuah suara yang manja menyela, "Arga, aku lapar dan mau makan kue. Kata dokter, kalau kenyang aku akan punya tenaga untuk melahirkan."

"Dian, kamu mau melahirkan? Jangan khawatir, melahirkan itu nggak sakit sama sekali. Aku bahkan masih bisa berdiri dan menari salsa, kamu pasti juga bisa."

Tentu saja Indri tidak merasakan sakit.

Arga memberinya kamar bersalin kelas VIP seharga 600 juta sehari. Begitu Indri mengeluh kesakitan, para perawat segera mengerubunginya untuk memberi pijatan.

Namun, Arga justru langsung memercayai kata-katanya dan mendengus dingin.

"Apa yang bisa terjadi? Dian begitu licik, dia nggak mungkin membiarkan dirinya dirugikan."

"Dia berpura-pura begitu hanya untuk menipumu agar melepasnya. Apa kamu sebodoh itu? Lain kali, lebih teliti."

Arga menutup telepon.

Wajah Erina memerah karena dimarahi kakaknya. Dia pun melampiaskannya dengan melepaskan ikatan anjing di dekat pintu, lalu membiarkannya masuk!

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Persalinan yang Terpaksa Ditunda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Keharmonisan rumah tangga Dewi mendadak hancur saat ia menemukan barang milik wanita lain tersimpan di dalam koper suaminya. Penemuan mengejutkan ini membawa Dewi pada serangkaian rahasia gelap dan tabiat buruk sang suami yang selama ini tersembunyi rapat. Di tengah rasa sakit hati yang mendalam, Dewi kini berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan dalam penderitaan, atau justru bangkit untuk membalas pengkhianatan tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan