
CEO lumpuh itu, suamiku
Bab 3
Rachel bergegas keluar kamar, ia harus segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Selamat pagi nona muda." Sapa Alex
"Pagi juga sekretaris tralala trilili." Tukas Rachel dengan wajah khas baru bangun tidur
"Jangan memanggil saya dengan sebutan aneh nona, cukup panggil nama saja." Ungkap Alex merasa tak nyaman dipanggil begitu.
Baru kali ini ada orang yang berani memanggil nya dengan tidak menggunakan nama aslinya.
"Semalam kan aku sudah bilang, terserah ku ingin memanggil mu apa. Memangnya ada masalah?" Sanggah Rachel.
Jika diperhatikan semenjak kemarin mereka memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Mulai dari masalah jemputan atau mobil dan panggilan nama, setelah ini hal gila apalagi yang akan mereka perdebatkan.
"Nona, ada tujuan apa anda kemari?"
Alex tidak menghiraukan perkataan nona mudanya, ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal lain.
"Aku bukan mau kesini, tapi ke dapur."
Rachel tahu bahwa Alex sudah mati kamus, oleh sebab itu ia malah balik bertanya. Lagipula siapa yang bisa menang berdebat jika lawannya saja seorang Rachel, yang tak kenal kata diam ataupun kalah.
"Dimana dapur nya? Tunjukkan padaku. Aku mau memasak untuk Tuan singa mu."
"Maaf nona muda, sebaiknya anda tidak usah menyiapkan sarapan untuk Tuan, karena Tuan muda pasti tak akan memakannya, meskipun hanya sesuap."
Alex merasa tak nyaman mengucapkan hal itu, bagaimana jika nanti nona mudanya tersinggung? Pasti akan lebih rumit, pihak satu tidak ingin kata-kata nya dibantah yang satu lagi tak mau kalah.
"Aku akan tetap memasak, kau tinggal tunjukkan saja padaku letak dapur nya. Aku tidak menyuruh mu untuk memasak, apa susah nya?"
Rachel merasa aneh dengan Alex, memang nya salah jika ia memasak? Namun Rachel malah dibuat penasaran perihal Alfian yang tidak mau sarapan. Makhluk macam apa yang tidak mau makan, apakah otaknya masih berfungsi?
"Hei manusia, cepat beritahu aku dimana dapurnya. Kakiku bisa lumutan karena berdiri terlalu lama. Lagipula kenapa dia tidak mau sarapan, dia harus makan supaya dapat asupan energi. Gimana mau sembuh, jika makan saja tidak mau?" Ucap Rachel kesal.
Bukan karena peduli atau ada niat terselebung, tapi jika suaminya ada usaha untuk sembuh maka ia bisa lari dari pernikahan ini.
Alex menghela nafas pelan, nona mudanya bersikukuh untuk terus memasak. Jujur saja, Alex tidak yakin bisa menang adu mulut dari nona mudanya. Karena dari yang Alex perhatikan, menghadapi nona mudanya lebih-lebih seperti orang yang sedang beradu argumen di persidangan. Seakan-akan perkataan Rachel adalah mutlak dan tidak bisa dibantah oleh siapapun.
"Baiklah nona, silahkan ikuti saya."
"Nah gitu dong, coba dari tadi kau memberitahu letak dapurnya, pasti aku sudah selesai memasak sekarang."
Alex mencoba bersabar, ia mengelus dadanya pelan. Baru kali ini ada orang yang berani menguji kesabaran nya, jika Rachel bukan nona mudanya sudah dapat dipastikan kepala Rachel lepas dari tubuhnya. Begitulah Alex, dikenal sebagai orang berdarah dingin dan tak pernah main-main dengan ucapannya. Ia selalu berdiri tegap di belakang Tuan mudanya, bahkan saat Alfian lumpuh pun Alex tetap berada di sisi Alfian dan membantu ia disaat-saat sulit.
Sesampainya di dapur, Rachel melihat para pelayan sudah melakukan tugas merekamasing-masing, bahkan dari antara mereka ada yang terlihat sibuk memotong sayur dan bahan makanan lainnya. Rachel sedikit bingung, sebab mereka memasak makanan dengan jumlah yang terbilang banyak. Entah untuk siapa mereka memasak, tetapi yang jelas penghuni mansion itu hanya suami beserta sekretarisnya. Rachel yakin, kedua makhluk itupun takkan sanggup menghabiskan semua makanan lezat itu.
"Selamat pagi nona muda." Sapa mereka bersamaan menyambut kedatangan istri dari Tuan mereka.
"Pagi juga semuanya."
Senyuman terukir di bibir ranum Rachel. Ia memang mudah akrab dengan semua orang dan tipikal friendly.
"Bu Lin, nona muda ingin memasak. Cepat siapkan peralatan dan bahan-bahan nya. Jangan sampai ada ketinggalan dan pastinya tetap awasi nona muda. Jika terjadi sesuatu pada nona, aku pastikan kau menanggung akibatnya dan menyesal karena telah lalai."
"Baik sekretaris Alex."
"Sudahlah, tidak perlu mengawasi ku. Lagipula aku takkan meledakkan bom di tempat ini. Jangan khawatir, aku masih waras. Aku juga bukan anak kecil yang harus diawasi untuk melakukan setiap hal. Aku akan memasak sendiri, dan biarkan mereka melanjutkan dan menyelesaikan tugas mereka. Jangan membebani mereka, dasar sekretaris aneh. Sebaiknya kamu urus pekerjaan mu saja."
"Mendisiplinkan mereka juga salah satu pekerjaan saya nona. Saya harap anda mengerti."
"Meskipun tampilan ku kampungan, aku masih bisa memahami maksud perkataan mu." Timpal Rachel
"Bagus jika anda mengerti, jadi saya tidak harus mengatakannya dua kali."
"Hei manusia gila binti aneh, mereka ini sedang melakukan tugasnya masing-masing, dan aku rasa mereka sudah cukup disiplin. Tidakkah matamu melihat bahwa mereka telah menyiapkan sarapan? Kurang disiplin apalagi? Aku rasa kehadiran mu disini hanya membuat mereka tertekan batin. Maka dari itu pergilah, jangan menambah beban pikiran mereka. Kalau kau hidup untuk menyusahkan orang lain, lebih baik mati tidak usah hidup."
Rachel berbicara dengan telak membuat alex dan semua bodyguard, beserta para maid terdiam membeku. Ini adalah kali pertama ada orang yang membuat Alex mati kamus dan tidak sanggup menjawab meski hanya sepatah dua kata. Haruskah mereka memberikan nona mudanya piala Oscar, sebagai tanda perempuan paling berani sedunia. Para maid yang berada disana menatap kagum ke arah Rachel, ingin rasanya mereka berteriak seraya mengucapkan selamat kepada Rachel.
Akhirnya Alex menyerah dan membiarkan nona muda nya melakukan apapun di dapur.
Berbeda lagi halnya dengan seorang pria yang baru saja bangun dan sedang duduk untuk mengumpulkan nyawa nya. Bangun dari mimpi dan maju menghadapi kenyataan.
Alfian melirik ke arah ujung kasur, disana sudah tersedia baju gantinya.
"Perempuan bodoh itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik."
Alfian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Ia mengambil tongkat nya agar dapat menggapai kursi roda miliknya yang jaraknya tak jauh dari kasur.
"Arghh kenapa sulit sekali?" Pekik Alfian kesakitan saat kakinya digerakkan.
Sementara tangannya ingin meraih kursi roda itu, namun karena tak sanggup menahan ia terjatuh.
Rachel yang mendengar suara keras, segera lari ke kamar. Dan benar saja, disana ia sudah melihat Alfian yang tergeletak di lantai. Rachel meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja, lalu ia meraih tubuh sang suami.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rachel khawatir
"Lepas, jangan sentuh aku." Alfian mendorong tubuh Rachel dengan kasar. Ia menatap benci perempuan itu. Bukannya sedih atau sakit hati, Rachel malah menggeleng tak percaya melihat kesombongan suaminya. Sudah lumpuh juga tapi merasa sok kuat. Tidakkah harusnya dia bersyukur karena masih ada orang yang peduli padanya?
Rachel berdiri menatap sang suami yang masih berada di lantai. Ia ingin lihat seberapa mampu suaminya ini mencapai kursi roda tanpa ada yang membantu. Sementara itu Alfian masih berusaha meraih kursi rodanya, tapi tidak kesampaian juga.
"Tuan, saya tanya sekali lagi. Apa anda yakin bisa menggapai kursi rodanya atau perlukah saya bantu?"
Rachel menawarkan diri sambil bersiap-siap untuk menolong suaminya.
Anda Mungkin Juga Suka





