
Bertemu Karena Jodoh
Bab 2
Tawa dari pria paruh baya itu mengisi ruangan itu, aroma minuman beralkohol menyeruak di indra penciuman. Tapi, lima pria yang ada di sana tampak sangat menikmati menuman itu, beberapa dari mereka sudah terlihat sudah sedikit teler karena enam botol sudah habis mereka teguk.
Revo, kakak dari Hendra itu sedang merayakan keberhasilannya yang telah membuat investor berhasil mundur dari proyek perusahaan adiknya. Dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaan dari Hendra, dia bisa berhasil melaksanakan tugasnya.
"Besok kita harus berpesta lebih besar daripada ini. Karena besok akan menjadi hari kehancuran Hendra," ucap Revo dengan suara yang sedikit serak. Tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol.
"Tentu saja, Bos. Besok adalah hari di mana kau akan mengambil seluruhnya dari Hendra," balas pria berkemeja biru, dia adalah pengelolah keuangan di perusahaan Hendra.
Pria itu memang sudah cukup lama berada dipihak Revo, menurutnya Revo lebih bisa diajak kerja sama ketimbang Hendra yang kaku. Dengan Revo dia bisa menggelapkan beberapa uang perusahaan demi kesenangannya, sedangakan Hendra selalu saja bersikap jujur.
"Besok akan aku traktir kalian semua. Tenang saja, cukup berakting lagi sebentar saja dan kita aka mendapatkan semuanya." Revo mengatakan hal itu dengan percaya diri.
"Aku sudah siap dengan semua berkas-berkas di atas meja itu." Suara itu berasal dari salah satu pengacara yang dulu mebacakan warisan peninggalan dari orang tua Revo. Entah bagaimana caranya, Revo akhirnya bisa membuat pengacara itu berpihak kepadanya dan menuruti setiap keingannya.
"Kau sangat bisa diandalkan," ucap Revo sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah itu mereka semua menikamati momen itu, tak lupa mereka juga membahas rencana besok agar berjalan dengan sangat lancar. Yang paling tampak sangat antusias adalah Revo, dia sudah tidak sabar melihat wajah adiknya terkejut dengan semua perbuatanya.
* * *
Pagi ini, Hendra sudah bersiap berangkat ke perusahaan. Namun, pria itu terlihat sangat lemas karena teruas memikirkan masalah yang ada di perusahaannya.
"Pa ... kenapa makanannya nggak dimakan," tegur Melly saat melihat suaminya sejak tadi diam saja.
"Eh? Papa sedang malas untuk makan sebenarnya," jawab Hendran.
Melly menatap mata suaminya dalam, dia bisa melihat kalau ada yang disembunyikan oleh suaminya. Akhirnya Melly berdiri dari duduknya dan menyentuh bahu Hendra dengan lembut. "Papa sedang ada masalah apa? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu," tanya Melly.
Hendra menunjukkan senyum palsunya, pria itu menyentuh balik tangan istrinya yang ada di bahunya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah karena pekerjaan yang sangat menumpuk di perusahaan," jawab Hendra beralibi.
"Benarkah?" tanya Melly lagi memastikan. "Kalo ada sesuatu coba ceritakan ke aku, mungkin dengan seperti itu bisa sedikit mengurangi beban pikiran papa."
"Mama tidak perlu khawatir, ini bukan masalah besar," jawab Hendra, "sepertinya papa harus berangkat sekarang juga karena masih banyak yang harus dikerjakan di kantor." Pria itu berdiri dari kursinya.
"Makanannya tidak di makan?"
"Tidak. Nanti papa bisa makan di kantor saja."
"Baiklah. Tapi jangan sampai lupa makan ya," pesan Melly.
Hendra mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia berpamitan untuk pergi. Melly sebenarnya sedikit kahwatir dengan suaminya, meskipun Hendra tadi menjawab kalau hanya masalah kantor biasa. Tapi Melly menangkap hal lainnya, ada banyak hal lainnya yang sedang disembunyikan oleh suaminya.
Sepeninggal Hendra, Melly menyesal karena tadi kenapa dia tidak membekali suaminya makanan. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi mengantarkan makana untuk Hendra.
*
Hendra baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran. Dahinya sedikit berkerut saat melihat beberapa pemegang saham sedang berkumpul di depan kantornya.
"Lihat! Hendra sudah datang." Suara itu berasal dari salah satu kerumunan orang itu. Detik berikutnya semua atensi semuanya tertuju kepada Hendra, setelah itu semua kangkah mendekat ke arahnya.
Hendra bisa melihat wajah marah dari semua orang itu, dia langsung menghentikan langkahnya. "Ada apa ini?" tanya Hendra bingung.
"Dasar pria brengsek! Ke mana kau bawa uang kami?"
"Kami sangat berharap penuh pada perusahaanmu, tapi uangnya malah kau korupsi dan sekarang perusahaanmu akan mengalami kebangkrutan!"
"Kembalikan uang kami!"
Teriakan-teriakan itu terus terdengar di pendengaran Hendra, tapi tubuh pria itu sedang diselamatkan oleh security untuk dibawa masuk ke dalam gedung. Hendra bingung dengan tuduhan yang dilontarkan oleh para pemegang saham itu.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Hendra.
Pengelolah keuangan langsung maju ke depan, dia membawa sebuah bukti laporan yang menyatakan kalau selama ini Hendra sudah melakukan penggelapan uang perusahaan, dan imbasnya kepada pemegang saham tidak mendapatkan keuntungan.
"Apa-apaan ini! Aku tidak pernah melakukan hal ini, laporan ini pasti salah! Ada yang menfitnahku!" teriak Herdra histeris.
Bersamaan dengan itu, suara benda jatuh terdengar menggema. Melly sangat kaget mendengar hal itu, sampai-samapi rantang yang sedang ia bawa langsung jatuh. Semua atensi orang yang ada di sana langsung tertuju pada Melly, tak terkecuali Hendra. Dia snagat terkejut dengan kedatangan istrinya.
"Hendra tidak mungkin melakukan ini semua. Kalian semua salah jika harus menuduhnya seperti ini, karena selama ini dia menjalankan perusahaan ini dengan sebaik mungkin," ucap Melly membela. Wanita itu kini sudah berdiri di samping sang suami dengan menahan gejolak amarah.
"Ini semua ti--"
"Tapi semua bukti sudah mengarah kepada suamimu." Ucapan Melly harus terhenti saat Revo datang untuk menyela. Wajah pria itu terlihat memandang remeh Hendra dan Melly.
Revo juga tidak datang sendiri, dia sudah bersama dengan pengacara keluarga. Ini semua adalah bagian dari rencananya.
"Aku sengaja mengajak pengacara kita untuk membacakan suarat wasiat lagi. Karena ada hal yang belum dijelaskan secara jelas," ucap Revo. kemudian pria itu memerintahkan pengacara itu untuk membacakan surat wasiatnya.
Pengacara itu langsung patuh, lalu melangkahkan kakinya tiga langkah lebih dekat ke arah Hendra. Membuak lembaran tipis dokumen wasiat itu, Hendra sedikit curiga karena sebelumnya surat wasiat itu sudah pernah dibacakan. Jika masih ada kekurangan, kenapa pengacara itu tidak membacakannya sejak dulu?
"Kalau ada beberapa kejanggalan yang telah dilakukan oleh Hendra pada suatu hari nanti saat memimpin perusahaan, maka cabut semua fasilitas yang dia punya kecuali rumah. Biarkan Revo yang melanjutkan kalau ada masalah apa pun," jelas pengacara itu sambil melihat dokumen di tangannya.
Hendra yang mendengar hal itu langsung terkejut. Dia membantah kalau tidak pernah melakukan tindakan seperti itu. Karena tidak percaya, Hendra langsung mencabut paksa oleh pengacara. Matanya berbinar saat membaca dokumen itu, Melly yang ada di sana langsung ikut membaca dokumen itu. Dia juga sampai membulatkan mata membacanya.
"Ini tidak mungkin!" teriak Hendra sambil membanting dokumen itu ke lantai.
"Terima saja semua ini. Kau memag sudah tidam pantas lagi di sini, aku yang akan menggangangikanmu," balas Revo dengan memperlihatkan senyumnya.
Hendra dan Melly yang mendengar hal itu merasa sangat kesal. Dia tidak menyangka kalau Revo akan malakukan hal ini dengan sangat bagus seperti ini.
Anda Mungkin Juga Suka





