
Bertemu Karena Jodoh
Bab 3
Setelah melakukan banyak perdebatan, akhirnya perusahaan jatuh ketangan Revo. Hendra merasa sangat sakit hati melihat kelakuan kakaknya sendiri, dia sudah menduga kalau sebenarnya Revo sudah merencanakan hal ini semua.
"Papa yang sabar, ya. Ayo kita bertahan untuk menghadapi semua ini," ucap Melly menenangkan suaminya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di rumah dan Hendra juga masih diam saja sejak kedatangannya. Melly yang melihat sikap suaminya itu menjadi sangat khawatir, dia bisa tahu bagaimana sekarang perasaanya.
Hendra sendiri tidak mempermasalahkan kalau kakaknya juga ingin menjadi bagian dari perusahaan, tapi cara yang dilalakukannya ini salah.
"Aku tidak menyangka kalau kak Revo melakukan hal ini kepadaku," ujar Hendra sambil memegangi dadanya yag sedikit nyerii.
"Kita harus mencaru cara untuk bisa mngembil alih perusahaan hal itu lagi. Revo tidak boleh memipinnya seperti wasiat dari orang tua kamu, surat wasiat itu hanyalah kebohongan Revo saja." Melly berusaha untuk terus menyemangati suaminya.
Setelah itu, Melly menyarankan Hendra menenangkan dirinya dulu ke kamar. Tapi tiba-tiba saja langkah kaki pria itu memelan, dan tak lama tubuhnya ambruk ke lantai sambil tangannya memegangi dada.
"Papa!"
"Papa!"
Dua teriakan khawatir itu beradal dari Melly dan Nasyira yang baru saja pulang dari kampus. Gadis itu sampai menkatuhkan buku yag sedang ia pegang dan berlari menolong sang papa.
"Papa kenapa?" Melly sangat khawatir, dia membawa kepala suaminya ke pangkuannya.
"Papa kenapa, Ma? Apa yang terjadi?" tanya Nasyira khawatir. Air mata gadis itu tidak bisa tertahankan lagi.
"Tolong telfonkan dokter sekarang juga, dan setelah itu kita bawa papamu masuk ke dalam kamar," perintah Melly.
Nasyira sendiri langsung menurut, gadis itu langsung menelfon dokter keluarga untuk menyuruhnya segera datang. Gadis itu terus berpikir negatif kalau papanya tidak baik-baik saja, tapi Melly selalu meyakinkannya kalau Hendra tidak kenapa-kenapa.
Kedua wanita itu dengan susah payah membawa tubuh lemas Hendra masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di kasur. Nasyira langsung telapak tangan papanya terus untuk menciptakan rasa hangat ditubuhnya.
"Papa sadar, sebentar lagi dokter ke sini untuk memeriksa papa. Jadi tolong sedikit bersabar," ucap Nasyira dengan suara yang bergetar akibat menangis.
Melly yang melihat itu merasa tidak tega, dia takut menceritakan semua permasalahan yang sedang menimpa keluarga mereka kepada Nasyira. Melly takut karena hal ini membuat Nasyira menjadi sedih dan semakin mengkhawatirkan kondisi papanya, karena gadis itu selalu menempel papanya.
Tak lama setelah itu dokter datang, pria itu langsung memeriksa Hendra. Melly dan Nasyira menunggu hasil diaknosis dari dokter itymu, dia sangat berharap kalau Hendra baik-baik.
"Ini adalah tumpukan beberapa stress yang selama ini dia pendam. Dan sepertinya hari ini adalah titip puncak dari semua masalah yang pak Hendra hadapi," jelas dokter itu setelah memeriksa Hendra. "Saya sudah menyuntikkan obat openenang agar paka Hendra bisa beristirahat. Tapi ... sepertinya saya menyampaikan hal ini."
"Hal apa, Dok?" tanya Melly dengan raut wajah yang sangat terkejut.
"Karena serangan jantung, sehingga ada beberapa syaraf yang masih tegang. Hal ini membuat tangan kanannya tidak akan bisa digerakkan, saya tidak tahu sampai kapan hal ini bisa terjadi," jawab dokter itu.
Tangisan Nasyira tidak bisa lagi ditahan olehnya. Gadis itu memeluk sanga mama untuk menumpahkan semuanya. Dia tidak menyangka kalau akan melihat papanya terbaring lemas begini, rasanya dia ingin menggantikam posisi papanya saja.
"Terima kasih, Dok. Sudah mau datang ke sini," ucap Melly, wanita itu terus berusaha untuk tetap tegar saat ini.
"Sama-sama. Ini sudah tugas saya debagai dokter, semoga pak Hendra bisa sembuh. Saya permisi dulu," pamit dokter itu.
Melly hanya menanggapinya dengan anggukan. Setelah itu, kedua wanita itu langsung duduk memdekat ke Herndra.
Melly yang sejak tadi menahan tangisaanya sangat besar, akhirnya runtuh juga. Wanita itu menangis sejadi-jadinya sambil memegang tangan milik Hendra, suaminya.
"Ma, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa papa jadi seperti ini?" tanya Nasyira sambil menatap mata mamanya dalam.
Gadis itu menyesal karena tidak mengetahuinya hal apa pun yang dialami oleh papanya, selama ini dirinya hanya sering pulang sedikit malem. Melly yang mendengar pertanyaan itu langsung merasa bingung harus memjawab seperti apa.
Dan pada akhirnya, Melly pun menceritakan semuanya kepada Nasyira, dia berpikir anaknya itu juga perlu tahu. Saat ini Nasyira bukanlah anak kecil lagi yang tidak bisa mencerna semua permasalah.
Air mata Melly terus keluar saat menceritakan kronologi yang sampai membuat Hendra tidak sadarkan seperto sekarang. Nasyira tentu saja sangat kaget degan semu cerita itu, dia tidak menyangka kalau selama ini papanya mengalami hal yang sangat berat seperti ini.
"Selama ini papa menyimpan masalah itu dari kita. Aku jadi merasa seperti anak yang tidak ada gunanya karena sama kali tidak bisa menjadi tempat curhat papa," ucap Nasyira. Gadis itu lagi-lagi menangis.
Melly yang melihal hal itu langsung memeluk tubuh sang putri. "kita harus lebih kuat, Nak. Karena hanya kita harus bertahan menghadapi ini semua, papamh juga memerlukan bantuan kita," ucap ibu satu anak itu.
Nasyira mengangguk, dia merasa harus menurut kepada mamanya. Karena dia adalah putri satu-satunya yang ada, dia tidak boleh mengecewakan orang tuanya.
* * *
Dua bulan berlalu, kondisi Hendra sama saja. Pria itu belum ada perubahan sama sekali, bahakan kondisinya setiap hari semakin memburuk saja. Mellu dan Nasyira bingung harus bagaimana, mereka bahkan tidak bisa membawa Herndra untuk pergi ke ruma sakit karena tidak ada uang sama sekali.
Bahkan beberapa perhiasan Melly juga sudah dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupam keluarga Hendta berubah total, mereka yang dulu hidup dengan bergelimang harta kini harus hidup secara sederhana dan menghemat.
Nasyira baru saja mendapat notifikasi kalau ada beberapa peunasan yang harus ia bayar. Tapi dia tahu kalau mamanya pasti tidak mempunyai uanh sebanyak itu, diam-diam Nasyira memutuskan untukk mengambil cuti panjang karena tidak ada lagi biaya untuk kuliah.
Gadis itu ingin membantu mamanya untuk bisa mendapatkan uang, untuk membantu biaya pengobatan papanya. Selama ini Nasyira memperhatikan mamanya yang selalu trerlihat seperti bersedih, padahal saat ditanya dia selalu menjawab baik-baik saja.
"Ma, Nasyira mau mencari pekerjaan. Siapa tahu ada pekerjaan, kan lumayan untuk membantu menambah uang berobat papa," ucap Nasyira.
"Itu tidak perlu, Nak. Biar mama aja yang kerja. Kamu kan harus kuliah."
"Saat ini Nasyira ambil cuti panjanh, Ma. Mau biaya dari mana kalau aku masih tetap lanjut, jadi sebaiknya aku ambil cuti aja," jawab Nasyira dengan sendu.
Melly yang mendengar itu hanya bisa diam, dia merasa sangat bersalah karena putrinya harus berhenti kuliah karena permasalah ekonomi ini. Karena ulah Revo, kehidupannya menjadi berubah drastis.
Anda Mungkin Juga Suka





