
Beautiful Secret
Bab 2
Selama di perjalanan, mereka hanya berbicara sesekali dan itu pun Liam yang selalu memulainya terlebih dahulu. Emily yang hanya menjawab semuanya seadanya sambil memainkan ponselnya dan terlihat fokus di sana. Tentu saja karena ia tengah membaca sebuah pesan dari Sandra mengenai pekerjaan malamnya yang begitu rahasia itu.
Emily telah sampai di tempat tujuan, tapi kali ini ia masih bersama dengan Liam di dalam mobil sport merah itu. Rasanya masih mengantuk sekali karena Rose membangunkan dirinya dari tidur yang harusnya memiliki waktu panjangnya itu.
Keduanya terlihat terdiam sesaat setelah sampai di tempat tujuan tersebut. Terlihat Liam yang seketika menatapnya. Pandangan yang diberikan pun juga terlihat penuh dengan sesuatu yang cukup sulit untuk ditebak.
"Apakah kau ingin ku antar ke dalam sana?" tanya Liam seraya menatapnya.
Emily masih mencoba untuk mengumpulkan semua nyawanya. Apalagi ia belum menyentuh sarapannya itu sejak tadi.
"Ehm, mungkin aku tak akan menyusulnya. Aku cukup lapar sekali dan mengantuk juga," gumam Emily kemudian.
Liam lalu meraih ponselnya dan setelah itu menghubungi Rose.
Tak selang beberapa menit, wanita itu pun menerima panggilannya.
"Ya, ada apa? Kau cukup menggangguku."
"Aku juga tak akan menghubungimu jika tak ada sesuatu yang penting."
"Baiklah, maaf. Ada apa, sayang?"
"Emily harus sarapan, mungkin kami akan menyusulnya setelah itu. Atau, tidak sama sekali. Ia begitu lelah sepertinya."
"Ah, ia tak mengatakannya dari awal. Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Ini tidak bisa direncanakan begitu saja, Rose."
"Hm, tapi baiklah, terserah kalian saja. Lebih baik segera ajak Emily ke rumah kita karena aku pikir ia akan lebih aman jika berada bersama dengan kita, apalagi Ayah mengatakan jika ia tak ingin anak bungsunya itu seorang diri di rumah. Emily akan menginap satu minggu di sana, dan ini sebuah paksaan dari kita semua."
Liam melirik ke arah Emily sejenak, wanita itu terlihat tertidur rupanya, "Baiklah. Kalau begitu aku akan segera mengajaknya pergi ke rumah kita."
"Tentu, terima kasih. Hei, ini milikku."
Liam menaikkan sebelah alisnya dan setelah itu memutuskan panggilan tersebut. Ia tahu jika istrinya itu sedang berada di dalam pertempuran sengit dengan wanita lainnya di luar sana.
"Emily?" panggil Liam pelan sambil menatap puas wajah cantik itu.
Emily membuka kedua matanya sejenak, "Ehm, ya?"
"Kita akan pergi ke rumahku. Kau bisa sarapan di sana dan juga beristirahat," ujar Liam kemudian.
Emily mengangguk dan setelah itu membiarkan Liam untuk kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumah megah milik pria itu. Apalagi, sesekali Emily juga pernah menginap di rumah kakak iparnya itu karena Rose memaksanya. Walaupun ia sudah mengatakan jika rasanya tak enak sekali untuk menginap di rumah mereka karena takut akan mengganggu rumah tangga mereka berdua.
Tapi kali ini semuanya sangat terpaksa. Ia juga mendengar perkataan Ayahnya untuk menyuruhnya segera menginap di rumah mereka. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyetujuinya, asalkan pekerjaan malamnya aman terkendali.
***
Sesampainya di sana, Emily merasa jika rasa kantuknya itu menghilang seketika. Ia pun berjalan menuju ke arah dapur untuk segera melihat beberapa bahan makanan yang bisa ia masak siang ini.
"Apakah kau akan memasak?" tanya Liam yang kali ini telah berdiri di ambang pintu dapur.
Emily menatapnya dan tersenyum, "Ya, tentu saja. Apakah aku bisa mendapatkan bahan-bahan makanan yang lainnya? Sepertinya semua ini akan terlihat kurang untuk hari ini."
"Maaf karena kami tak terlalu banyak menyimpan bahan makanan setiap harinya karena Rose tak pernah memasak, kami selalu menyuruh staff koki untuk melakukannya atau kami akan memesan makanan diluar sana. Jadi, untuk siang ini kau bisa mengatakan apa yang ingin kau makan, aku akan membelinya untukmu," jawab Liam seraya berjalan mendekatinya.
Emily tersenyum prihatin mendengarnya. Rose memang sungguh keterlaluan sekali. Ia bahkan tak pernah menyentuh semua peralatan dapur itu. Tapi tunggu dulu, apa yang sudah pria ini katakan tadi? Ia akan membelikan Emily makanan? Bahkan ia bisa menyuruh asistennya saja tanpa harus membelinya sendiri. Tapi... sudahlah, Emily menganggap bahwa Liam adalah kakak laki-laki untuknya dan juga Rose. Ia memang begitu jarang sekali berkomunikasi dengannya, maka dari itu rasa canggung di antara keduanya juga begitu terasa bagi Emily kali ini.
"Ehm, tak masalah, aku melihat spageti dan juga telur. Ini sudah sangat membantu. Maaf untuk soal Rose, aku akan berbicara dengannya nanti mengenai hal ini," jawab Emily dan setelah itu sedikit membungkukkan tubuhnya agar ia bisa mengambil semua bahan makanan itu.
Liam seketika mengedarkan pandangannya menuju ke arah paha belakang Emily yang sangat seksi itu. Oh, rupanya wanita itu terlihat seperti sedang tidak menggunakan celana pendek, "Tidak usah, aku bahkan tak merasa keberatan sama sekali untuk hal itu. Asalkan Rose senang maka aku juga demikian."
Emily tersenyum. Jika di pikir maka Rose begitu beruntung untuk memilikinya. Lihatlah, Liam bahkan sama sekali tak merasa marah mengenai hal tersebut. Terlihat pula Emily yang kembali pada posisi berdirinya itu, namun ia kembali menundukkan tubuhnya sejenak untuk mengecek sesuatu yang lainnya di sana.
"Apakah kau menginginkannya juga?" tanya Emily yang masih mengambil bahan-bahan makanan itu.
Liam meneguk salivanya kembali dan mencoba untuk berpikir jernih, "Ya, aku sangat menginginkannya juga."
Emily tersenyum. Itu artinya ia harus memasak dua porsi kali ini. Tentu saja untuknya dan juga Liam, kakak iparnya itu.
"Baiklah, aku akan segera memasaknya, tunggu sebentar," jawab Emily kemudian dan setelah itu ia pun mulai sibuk dengan kegiatannya.
Liam masih setia duduk di kursi yang berada di belakang Emily saat ini. Sebuah pemandangan yang indah karena bisa melihat seorang wanita memasak, apalagi memasak makan siang untuk dirinya juga. Itu adalah satu hal yang sangat ia inginkan sekali sejak dulu.
"Apakah kau lebih suka memasak?" tanya Liam sambil menemani kegiatannya itu kali ini.
"Tak begitu, tapi terkadang aku menyukainya," jawab Emily.
Liam mengangguk. Emily memang sangat berbeda dengan Rose. Padahal, mereka berdua hanya terpaut tiga tahun saja.
"Apa kesibukanmu sekarang?" tanya Liam kembali.
Emily terdiam sejenak. Tak mungkin jika ia mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk bekerja. Apalagi mengatakan pekerjaan yang sesungguhnya itu kepada Liam. Tak boleh. Tentu saja, semua itu adalah rahasia.
"Aku tidak sedang melakukan apa pun. Begini-begini saja," jawab Emily pada akhirnya. Tak masalah jika Liam akan mengecapnya sebagai pribadi yang malas, itu lebih baik dari pada ia mengetahui pekerjaan rahasianya itu.
Liam tersenyum penuh arti mendengarnya, "Lalu, apakah kau tak memiliki seorang kekasih?"
"Tidak. Aku cukup malas untuk berkenalan dengan mereka semua," jawab Emily.
"Ada apa? Apakah salah satu dari mereka pernah menyakiti hatimu?" tanya Liam seketika.
Sebenarnya rumit sekali, maka dari itu Emily memilih untuk memfokuskan dirinya terhadap pekerjaannya saja. Hanya itu.
"Bukan begitu, maksudku, aku hanya ingin memfokuskan diri saja sebelum bekerja atau pun menikah nantinya," jawab Emily secara asal. Ia pun terlihat tengah menunggu spageti itu agar cukup lembek di dalam sana.
Liam lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. Saat ini ia telah berdiri di samping wanita itu, "Masih cukup lama. Mungkin kita bisa menunggunya 20 menit lagi."
Emily menatap ke arah Liam. Kali ini jarak di antara keduanya sangat dekat sekali. Bahkan, ia baru mengetahuinya jika Rose sangatlah beruntung karena telah mendapatkan seorang suami yang sangat tampan sekali. Tinggi tubuh Emily pun hanya sebatas lengannya saja. Oh, Liam memang sangat luar biasa.
"Kau benar sekali," jawab Emily yang masih menatapnya kali ini. Ia akui bahwa Rose telah memenangkan semuanya. Pasti di luar sana ada banyak sekali wanita yang merasa iri dengannya.
Liam tersenyum dan tentu saja mereka masih saling menatap satu sama lain, "Kau cantik sekali."
Emily merasa terpukau mendengar suara bariton itu yang telah memujinya, "Terima kasih."
Namun, Emily pun seketika memalingkan wajahnya. Ia hanya merasa gugup saja saat pria itu melihatnya secara lekat. Selain itu ia juga merasa tak enak dengan suasana tersebut.
Di dalam benak Liam kali ini, tentu saja masih tetap berpegang teguh pada dirinya sendiri bahwa Emily sangat luar biasa.
Ohhh, bahkan ia sudah tak tahan lagi.
***
Anda Mungkin Juga Suka





