Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Beautiful Secret

Beautiful Secret

Liam Andreas Ville, miliarder berusia 30 tahun, terjebak dalam pernikahan hambar dengan Rose yang hanya peduli pada kemewahan. Di sisi lain, Emily Alexandra bekerja keras secara sembunyi-sembunyi demi uang, berbeda jauh dari kakaknya yang manja. Suatu malam, rahasia Emily selama dua tahun terendus oleh Liam. Demi melindungi reputasinya dari Rose dan keluarga yang sangat pemilih, Emily terpaksa menjalin kesepakatan rahasia dengan sang kakak ipar agar pekerjaannya tetap tersembunyi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Makan siang di antara keduanya terlihat begitu sunyi karena tentu saja Emily begitu terlihat fokus dengan makanannya sendiri. Ia merasa canggung saat sedang bersama Liam seperti ini tanpa adanya kehadiran Rose atau pun orang lain. Lihatlah, kali ini hanya terdapat mereka berdua saja, bahkan semua asisten rumah tangga itu menghilang begitu saja.

"Rasanya enak sekali," puji Liam untuk masakan buatan dari Emily siang itu.

Emily menatapnya sejenak, ia bahkan merasa terkejut karena tentu saja ia hanya memasak spageti, tidak lebih dari itu semua,"Kau terlalu berlebihan, ini hanyalah spageti."

"Tapi rasanya begitu berbeda karena aku menyantapnya langsung denganmu," jawab Liam seketika dan tentu saja terlihat Emily yang terdiam sejenak. Ia hanya membalas jawaban tersebut dengan seulas senyuman saja dan setelah itu kembali terfokus dengan makanannya. Ah, semua itu terlalu berlebihan bagi Emily tentu saja.

Liam menatapnya dan tersenyum seorang diri setelah itu, "Menginaplah di sini."

Emily yang tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri lantas menatap kembali ke arah Liam dengan pandangan yang terkejut, "Ehm, terima kasih."

Emily bahkan merasa canggung sekali untuk menghadapi suasana seperti itu. Ah, ayolah Rose, kau harus kembali ke rumah secepatnya atau sekarang juga.

***

Setelah makan siang tadi, Emily memutuskan untuk pergi ke sebuah kamar yang selalu ditempatinya saat singgah atau pun menginap di rumah megah yang notabene adalah milik Liam.

Kali ini waktu telah menunjukkan pukul 6 sore dan itu artinya ia harus segera bersiap-siap untuk pergi bekerja. Masih ada banyak waktu karena penampilannya selalu tayang di saat pukul 10 malam. Atau terkadang lebih awal dari biasanya, mungkin pukul 9 malam, atau sesekali pernah di saat pukul 8 malam jika banyaknya pengunjung yang sudah tak sabar untuk segera melihat penampilannya itu.

Emily baru tersadar bahwa ia tak membawa pakaian apa pun hari ini. Apalagi semuanya terkesan dadakan sekali.

"Ah, apakah aku harus menghubungi Sandra saja?" gumam Emily.

Mungkin iya.

Setelah ia bersiap-siap nantinya, Emily akan segera menghubungi Sandra untuk mempersiapkan pakaiannya itu. Ia tak bisa kembali pulang karena jarak rumahnya itu cukup jauh dari posisinya saat ini. Selain itu, akan memakan banyak waktu jika ia mampir ke rumah orang tuanya itu hanya untuk mengambil pakaian saja.

Tak perlu menunggu lama lagi ia pun segera menuju ke dalam kamar mandi untuk segera mempersiapkan dirinya. Emily lebih suka jika ia pergi lebih awal sebelum semuanya terlihat ramai karena besar kemungkinan ia akan diketahui oleh mereka semua jika datang terlambat nantinya.

Rose masih belum kembali pulang. Ia yakin jika wanita itu masih berada di salon atau pun sedang melakukan perkumpulan arisan bersama dengan wanita sosialita lainnya.

Emily memang pernah melakukan itu, tapi dulu, sebelum ia bekerja sebagai seorang pole dancer.

Emily lalu berniat untuk menikmati air hangat yang ia rasakan di dalam bath up tersebut. Tentu saja rasanya sangat membuat dirinya tenang sesaat sebelum tampil di muka umum nantinya.

Tok! Tok!

Emily membuka kedua matanya. Ia merasa jika pintu kamarnya itu telah di ketuk oleh seseorang. Entah itu siapa, mungkin asisten rumah tangga mereka atau pun Rose yang telah kembali lebih awal. Emily tak menghiraukannya sejenak. Ia lalu kembali dengan kegiatannya itu dan mencoba untuk memikirkan sebuah kreasi tarian lainnya malam ini.

"Hm, jika di pikir-pikir, mungkin aku bisa menggunakan bikini saja. Sesekali tak masalah, bukan?" gumam Emily seraya tersenyum. Toh juga wajah nya tak terlalu terpampang jelas kepada mereka semua. Apalagi lampu remang-remang itu juga berhasil menyembunyikan sosok dirinya yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan topeng yang ia gunakan setiap tampil.

Setelah asyik dengan semua proposal tariannya itu, ia pun segera pergi untuk bersiap-siap dan menggunakan baju seadanya saja. Apalagi Rose pernah memberikannya beberapa potong pakaian agar bisa ia gunakan selama berada di rumah itu.

Saat berjalan mendekati tempat tidurnya tersebut, ia melihat sebuah tote bag cokelat yang berada di atas sana. Sepertinya terdapat pakaian di dalam sana.

Saat Emily memeriksanya, ternyata benar sekali dugaannya itu. Terdapat empat pakaian dan juga pakaian dalam yang tersedia di sana. Biasanya Rose yang selalu melakukan hal tersebut karena wanita itu begitu tanggap sekali jika berhadapan dengan pakaian atau pun barang modis lainnya.

"Tapi, kenapa Rose memberikan lingerie kepadaku? Kenapa ia tak memberikan baju kaos saja?" gumam Emily yang merasa heran.

Sebenarnya ia merasa tak masalah jika harus menggunakan semua itu. Tapi tetap saja ia lebih suka menggunakan kaos oversize ketika sedang berada atau menginap di luar rumah. Apalagi di sini terdapat Liam, jadi rasanya canggung sekali.

"Bagaimana jika aku menggunakan semua ini saat malam hari saja? Mungkin setelah kembali pulang dari club malam itu," gumam Emily kemudian dan setelah itu memutuskan untuk memberitahukan Sandra soal pakaian yang akan ia gunakan nantinya.

Setelah sibuk dengan percakapan di antara keduanya, rupanya Sandra tak memiliki bikini. Hanya pakaian yang biasa di pakai oleh Emily saja.

"Sungguh, aku tak membawanya. Tapi, bagaimana jika aku membelinya saja?"

"Hei, tak usah. Aku sudah mendapatkannya dari Rose. Baiklah, terima kasih. Aku akan menggunakan lingerie merah saja."

"Wow, luar biasa. Penonton akan semakin tertarik denganmu. Baiklah, ayo datang kemari sebelum pukul 9 malam karena kau harus pentas pukul 9.30. Oke?"

"Tentu saja. Sebentar lagi aku akan pergi ke sana. Tunggu aku di tempat biasa."

"Tentu saja, sayang. Baiklah, berhati-hati di jalan."

"Terima kasih."

Setelah panggilan itu terputus, Emily lalu menggunakan lingerie merah yang sangat seksi itu di dalam tubuhnya. Setelah itu ia pun menggunakan baju oversize yang berada di lemari kamarnya itu. Semua make up miliknya telah ia bawa sehingga lebih baik ia menggunakannya saja di tempat tujuan bersama dengan Sandra.

"Semuanya siap, aku akan pergi makan malam dengan Rose dan Liam terlebih dahulu," gumam Emily dan setelah itu ia pun berjalan menuju ke arah lift untuk segera menuju ke lantai bawah.

Tak perlu menunggu lama lagi, pintu lift pun terbuka, di sana memperlihatkan Liam yang tengah menikmati makan malamnya itu. Hanya seorang diri rupanya.

Emily berjalan menuju ke arah meja makan dan merasa canggung kembali. Apalagi saat Liam menatapnya kali ini.

"Di mana Rose?" tanya Emily kemudian seraya menyantap makan malamnya dengan cepat.

Liam menatapnya dan tersenyum, "Ia baru saja pergi untuk membeli sesuatu. Mungkin sebentar lagi akan kembali pulang."

Emily mengangguk. Mungkin ia akan berterima kasih kepada Rose soal lingerie itu nantinya. Atau besok pagi, entahlah.

Emily selalu melihat ke arah ponselnya untuk mengecek waktu saat ini. Bahkan ia menyantap makanannya itu dengan secepat kilat.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampaikan salamku untuk Rose," ujar Emily kemudian. Ia pun segera pergi berlalu dengan sedikit berlari. Kali ini ia akan menggunakan taksi saja karena mobilnya itu berada di rumahnya.

Drrt! Drrt!

Liam menatap ke arah ponselnya itu dan segera menerima panggilan dari Rose.

"Ya?"

"Beritahu Emily, aku belum bisa kembali pulang dan makan malam bersama dengan kalian semua. Aku akan sedikit terlambat malam ini."

"Tentu saja. Have fun, sayang."

"Aw, terima kasih."

Setelah panggilan tersebut usai, Liam menatap kembali kepergian Emily yang sudah tak terlihat lagi di hadapannya saat ini seraya tersenyum penuh arti. Ia lalu meneguk air mineralnya itu sejenak dan kembali menatap ponselnya itu sambil membalaskan beberapa pesan yang dikirimkan untuknya. Bahkan dengan semua pesan dari teman-temannya itu baru sempat ia balas saat ini.

"Ah, baiklah kalau begitu," gumam Liam dan setelah itu bangkit berdiri untuk berjalan menuju ke arah parkiran mobil mewahnya. Sambil menunggu kehadiran Rose, mungkin ada baiknya ia berkeliling sejenak atau pun hanya sekadar menikmati malam yang menurutnya begitu terasa lain dari malam-malam sebelumnya.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Aku Menikah Dengan Seorang Miliarder Berkondisi Vegetatif?!
7.9
Valerie dijebak oleh kekasih dan adiknya hingga terjebak dalam skandal semalam dengan pria misterius. Fitnah perselingkuhan membuatnya dibuang, lalu dipaksa ayah kandungnya menikahi miliarder yang sedang koma demi kepentingan keluarga. Valerie bangkit melawan ketidakadilan dan memutus semua ikatan masa lalunya. Saat sang suami akhirnya sadar dan mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban, Valerie memilih untuk pergi demi memulai hidup yang baru tanpa beban.
Sampul Novel CEO mengejar cinta adik mafia
8.0
Rio jatuh hati pada Kikan, adik dari musuh bebuyutan ayahnya. Hubungan mereka terhalang restu keluarga hingga fitnah keji muncul, menuduh kakak Kikan yang seorang mafia sebagai pembunuh abang Rio. Didorong dendam, Rio melancarkan aksi balas budi yang menyakitkan. Namun, kebenaran terungkap bahwa ibu tirinyalah dalang sebenarnya. Kini Rio terjebak penyesalan mendalam karena telah menghancurkan keluarga Kikan, sementara cintanya pada gadis itu tetap tak bisa padam.
Sampul Novel I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
8.9
Alan, wanita kutu buku, terjebak pernikahan tanpa cinta dengan CEO arogan, Gavin Wildberg. Gavin justru menjalin hubungan gelap dengan adik angkat Alan, Aluna. Derita Alan memuncak saat ibu mertuanya mengusir dan memaksanya bercerai karena dianggap buruk rupa. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria menyelamatkannya dan mengungkap identitas asli Alan. Kini, sebagai pewaris takhta konglomerat, Alan kembali untuk menuntut balas pada mereka.
Sampul Novel Istri Bayaran Yang Menyembuhkan Penyakitnya
9.0
Valerian DeVere mengambil langkah nekat dengan mencari istri bayaran demi menutupi kelemahannya. Namun, kontrak ini membawa keajaiban medis saat wanita tersebut secara tak terduga mampu menyembuhkan penyakit kronisnya. Seiring waktu, kesepakatan bisnis ini berubah menjadi ikatan yang rumit dan penuh risiko. Valerian kini terjebak dalam dilema besar: apakah ia benar-benar telah pulih, atau justru terseret ke dalam sebuah konspirasi gelap yang mengancam nyawanya?
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.