Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Beautiful Secret

Beautiful Secret

Liam Andreas Ville, miliarder berusia 30 tahun, terjebak dalam pernikahan hambar dengan Rose yang hanya peduli pada kemewahan. Di sisi lain, Emily Alexandra bekerja keras secara sembunyi-sembunyi demi uang, berbeda jauh dari kakaknya yang manja. Suatu malam, rahasia Emily selama dua tahun terendus oleh Liam. Demi melindungi reputasinya dari Rose dan keluarga yang sangat pemilih, Emily terpaksa menjalin kesepakatan rahasia dengan sang kakak ipar agar pekerjaannya tetap tersembunyi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pole dance atau tari tiang semakin digandrungi oleh wanita-wanita urban atau yang hidup diperkotaan. Penggemarnya sudah berambah ke berbagai latar belakang, mulai dari artis, pilot, hingga ibu rumah tangga. Tari tiang ini adalah bagian dari sebuah olahraga senam yang mengandalkan kekuatan otot dalam menopang tubuh di sebuah tiang. Tapi kali ini Emily telah menggabungnya menjadi sebuah olahraga yang menarik banyak perhatian mereka semua.

Emily sedang melakukannya. Ya, tarian yang ia berikan terkesan sangat vulgar dan juga seksi, tapi ia masih tetap menggunakan pakaiannya itu. Walaupun hanya sebatas crop top dan juga rok mini saja.

"Lihatlah, ia sangat seksi sekali. Siapa namanya?" tanya seseorang yang saat ini sedang mengisi sebuah kursi VVIP yang tepat berada di hadapan Emily. Tapi, wanita itu tak mendengarnya karena masih sibuk dengan pekerjaannya itu.

Pria berkepala plontos itu menoleh ke arah Emily dan tersenyum, "Oh, dia adalah Emily. Ya, aku akui bahwa wanita itu sangatlah seksi sekali. Ia bahkan memiliki banyak penggemar di club malam ini."

Pria itu tersenyum saat mendengar jawabannya, "Emily.. nama yang indah untuknya."

"Kau benar sekali, Tuan," jawab pria berkepala plontos itu kembali.

Pria matang berusia 30 tahun dan memiliki paras wajah bak dewa Yunani itu kerap kali membuat pengunjung club malam itu merasa iri karena semua hal yang ia miliki. Kedua sorot matanya pun tajam dan berwarna hazel. Rambut cokelatnya itu juga berhasil membuat ketampanannya meningkat. Ia masih menonton Emily hingga semuanya terselesaikan. Bahkan, kedua rekannya itu masih saja mengomentari Emily yang terkesan sangat seksi itu. Ia hanya tersenyum sambil terus menikmati semuanya malam itu.

Setelah penampilannya selesai, wanita itu pun tersenyum kepada para pengunjung dan setelah itu pergi berlalu dari atas panggung. Ia bahkan tak sempat untuk melihat ke semua pengunjung itu, selain gelap, tentu saja karena ia merasa cukup lelah untuk malam ini.

"Kau sangat luar biasa," goda Sandra, managernya itu. Bahkan ia selalu hadir ketika Emily tampil. Penampilannya memang selalu di tunggu-tunggu oleh mereka semua.

Emily tersenyum dan menerima air mineral pemberian dari Sandra, "Terima kasih, kau sangat tahu jika aku sedang merasa haus."

"Kau ini, aku adalah managermu, jadi wajar sekali aku mengetahuinya," ujar Sandra seraya terkekeh.

Satu hal lainnya adalah, ketika Emily tampil di atas panggung perdananya itu, ia tentu saja selalu menggunakan topeng hitam untuk menutupi setengah wajahnya saja. Itu karena ia tak ingin jika semua orang yang datang mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

"Ini, kau memang luar biasa," ujar Sandra yang memberikan sebuah amplop putih yang sangat tebal.

Emily tersenyum saat mendapatkannya. Tentu saja, satu kali tampil ia telah berhasil mendapatkan $2000 dan itu sangatlah banyak untuknya.

"Senang bekerja sama denganmu. Kalau begitu aku permisi dulu," ujar Sandra dan setelah itu pergi berlalu dengan perasaan yang sangat senang. Tentu saja karena komisi yang ia dapatkan sangatlah banyak sekali.

Emily tersenyum dan setelah itu mengganti pakaiannya. Bagaimana pun juga ia harus kembali pulang sebelum pukul 1 dini hari. Apalagi kali ini ia merasa cukup lelah akibat tak banyak beristirahat belakangan ini.

Ia melirik ke arah arlojinya itu, ternyata saat ini waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Masih ada waktu untuk mengganti semua pakaiannya saat ini sebelum kembali pulang.

***

Emily membuka kedua matanya secara perlahan saat ia mendengar teriakan dari Rose, saudara perempuannya itu.

Rose sudah menikah sejak satu tahun yang lalu, tapi sampai saat ini mereka masih belum dikarunia seorang anak. Entah kenapa, mungkin menurutnya karena di antara mereka berdua tak memiliki banyak waktu untuk 'membuatnya' sehingga pikir-pikir ada benarnya juga. Apalagi Rose adalah salah satu wanita sosialita yang sangat gemar menghabiskan uang setiap waktu.

Tak munafik, Emily juga seperti itu, tapi perbedaannya adalah ia yang sangat suka bekerja terlebih dahulu sebelum berbelanja atau pun sebagainya. Tapi tidak dengan Rose, ia masih bergantung pada kedua orang tuanya dan juga suaminya yang sangat kaya raya itu.

"Emily, ayo bangun. Ini sudah pukul 11 siang tapi kau rupanya belum bersiap-siap juga," teriak Rose dan kedengarannya sangat antusias sekali.

Ia cukup terkejut karena Rose datang ke rumah orang tuanya itu secara tiba-tiba. Ia bahkan tak pernah mempersiapkan sarapan terlebih dahulu. Tidak tentu saja karena Rose tak pandai memasak. Berbeda dengan Emily yang sangat pandai dalam bidang itu. Terlihat sekali perbedaannya, bukan?

"Prada sedang mengatakan diskon 10%, sebaiknya kau bersiap-siap karena aku tak ingin terlambat," ujar Rose seraya melihat dirinya di pantulan cermin besar itu.

Emily masih mencoba untuk menatapnya. Cukup sulit karena ia masih merasa mengantuk sekali, "Kau pergilah lebih dulu. Aku akan menyusulmu nanti."

Rose menatapnya dan terdiam sejenak, "Jika di pikir-pikir, kau ada benarnya juga. Baiklah, segera bersiap-siap. Liam akan mengantarkanmu nanti. Oke?"

Emily mengangguk dan setelah itu Rose terlihat pergi berlalu dari dalam kamarnya yang bernuansa pink tersebut.

Emily pun bangkit berdiri dan segera bersiap-siap secepat kilat. Mungkin ia akan berdandan seadanya saja, tak seperti Rose yang terkesan berlebihan sekali padahal ia hanya akan mengikuti diskon saja siang ini.

"Hoam, sepertinya aku juga harus menikmati sarapanku yang terkesan telat ini," gumam Emily seraya memejamkan kedua matanya sejenak di dalam bath up itu.

Di lain sisi, saat ini terlihat Liam yang sedang memainkan ponselnya. Rumah megah itu memang terlihat sepi sekali, hanya ada asisten dan juga bodyguard saja di sana. Itu karena kedua orang tua Rose dan Emily sedang berada di luar negeri untuk melakukan pertemuan dengan rekan kerja Ayah mereka. Tentu saja sekaligus dengan menikmati liburan untuk keduanya. Sudah biasa sekali bagi keluarga Orlando.

"Sayang, aku akan pergi lebih dulu, kau tunggu Emily di sini. Ia sedang bersiap-siap di dalam kamarnya," ujar Rose kepada Liam yang terlihat malas sekali pagi ini. Ia juga terlihat menahan kekesalannya itu.

"Kenapa aku harus menunggu di sini? Lalu, kau akan pergi ke mana?" tanya Liam kemudian.

"Oh, tenanglah sayang. Kau hanya perlu menunggu Emily saja. Aku akan pergi lebih dulu menuju ke mall itu. Kami tak ingin Prada akan kehabisan barang-barangnya sekejap saja tanpa menyisakannya kepada kami. Baiklah, aku tak punya waktu lagi. Sampai jumpa," ujar Rose dan setelah itu pergi berlalu meninggalkan Liam seorang diri.

Liam menghela napas panjang. Sejujurnya, ia sangat ingin menikmati malam-malam yang sangat bergairah seperti layaknya pasangan suami istri kebanyakan. Bahkan, ia ingin jika semua itu dilakukan setiap harinya.

Tapi tidak dengan rumah tangganya. Rose sering kali menolak kewajibannya sebagai seorang istri karena lelah. Selain itu ia juga mengatakan jika sedang tak mood untuk melakukannya. Dan setelah itu Liam dengan sangat terpaksa melakukannya seorang diri saja. Begitu seterusnya hampir setiap hari.

Liam memejamkan kedua matanya. Ia cukup pusing siang ini. Seharusnya ia beristirahat di akhir pekan atau pun menikmati hari-hari yang sangat luar biasa itu. Tapi ternyata Rose malah mengajaknya untuk pergi berbelanja. Sial sekali.

Beberapa saat kemudian, terlihat Emily dengan pakaian oversize hitam yang tak memperlihatkan celana pendeknya itu. Seolah-olah ia tak menggunakan apa pun di bagian bawahnya saat ini.

"Maaf, Liam, kau sudah menunggu lama sekali untukku. Baiklah, ayo," ujar Emily seraya berjalan menuju ke arah halaman depan.

Liam meneguk salivanya dalam-dalam saat melihat Emily tadinya. Baiklah, dua kata yang ada di dalam benaknya saat ini..

Seksi.

Menggoda.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Aku Menikah Dengan Seorang Miliarder Berkondisi Vegetatif?!
7.9
Valerie dijebak oleh kekasih dan adiknya hingga terjebak dalam skandal semalam dengan pria misterius. Fitnah perselingkuhan membuatnya dibuang, lalu dipaksa ayah kandungnya menikahi miliarder yang sedang koma demi kepentingan keluarga. Valerie bangkit melawan ketidakadilan dan memutus semua ikatan masa lalunya. Saat sang suami akhirnya sadar dan mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban, Valerie memilih untuk pergi demi memulai hidup yang baru tanpa beban.
Sampul Novel CEO mengejar cinta adik mafia
8.0
Rio jatuh hati pada Kikan, adik dari musuh bebuyutan ayahnya. Hubungan mereka terhalang restu keluarga hingga fitnah keji muncul, menuduh kakak Kikan yang seorang mafia sebagai pembunuh abang Rio. Didorong dendam, Rio melancarkan aksi balas budi yang menyakitkan. Namun, kebenaran terungkap bahwa ibu tirinyalah dalang sebenarnya. Kini Rio terjebak penyesalan mendalam karena telah menghancurkan keluarga Kikan, sementara cintanya pada gadis itu tetap tak bisa padam.
Sampul Novel I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
8.9
Alan, wanita kutu buku, terjebak pernikahan tanpa cinta dengan CEO arogan, Gavin Wildberg. Gavin justru menjalin hubungan gelap dengan adik angkat Alan, Aluna. Derita Alan memuncak saat ibu mertuanya mengusir dan memaksanya bercerai karena dianggap buruk rupa. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria menyelamatkannya dan mengungkap identitas asli Alan. Kini, sebagai pewaris takhta konglomerat, Alan kembali untuk menuntut balas pada mereka.
Sampul Novel Istri Bayaran Yang Menyembuhkan Penyakitnya
9.0
Valerian DeVere mengambil langkah nekat dengan mencari istri bayaran demi menutupi kelemahannya. Namun, kontrak ini membawa keajaiban medis saat wanita tersebut secara tak terduga mampu menyembuhkan penyakit kronisnya. Seiring waktu, kesepakatan bisnis ini berubah menjadi ikatan yang rumit dan penuh risiko. Valerian kini terjebak dalam dilema besar: apakah ia benar-benar telah pulih, atau justru terseret ke dalam sebuah konspirasi gelap yang mengancam nyawanya?
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.