
Anak yang tersembunyi
Bab 2
Malam semakin larut hujan alam semakin larut hujan semakin deras. namun,Alia masih duduk di sebuah halte bus. wanita itu bingung hendak pergi ke mana, karena dia tidak mengenali siapapun. ingin pergi ke rumah saudara orang tuanya, namun pasti akan ditolak.
"Ya Tuhan tolonglah hambamu ini, harus bagaimana menghadapi semua ini apa yang harus hamba lakukan ya Tuhan?" Alia bergumam, di tengah-tengah derasnya hujan.
Hingga tanpa terasa matanya terpejam, meninggalkan langit yang gelap dan berganti pagi yang cerah.
Tubuh Alia menggigil kedinginan, wanita itu sepertinya demam, Dia pun berjalan perlahan meninggalkan halte bus tempatnya beristirahat tadi malam.
Langkahnya pun saat ini tidak tentu arah.karena, masih belum memiliki tujuan yang pasti, hingga dia masuk ke dalam hunian padat penduduk.
di sana Dia melihat rumah-rumah terbuat dari papan-papan kayu.Seorang wanita paruh baya mendekatinya,dengan tatapan yang begitu hangat.
"Apa yang kamu cari nak?"tanya wanita paruh baya itu kepada Alia, namun Alia menggeleng. kemudian wanita itu limbung ke tanah, tidak sadarkan diri.
Mata Alia memindai sekelilingnya, saat baru saja terbangun dari pingsan. saat ini Dia berada di sebuah ruangan yang terbuat dari papan- papan bekas, tubuhnya berbaring di atas kasur yang begitu keras.
namun, Dia bersyukur, karena saat ini ada seseorang yang menolongnya. "Kamu sudah sadar nak? ini minumlah" seorang wanita yang tadi sempat bertanya kepada Alia pun, memberikan segelas air putih kepada wanita itu. Alia pun menerima langsung dan meminumnya. karena, memang wanita itu merasa sangat haus."Terima kasih Bu"ucap Alia sambil meletakkan gelas di samping tempat tidur.
"Sama-sama nak, sebenarnya kamu dari mana, kenapa bisa sampai ke sini?"tanya wanita paruh baya itu."Nama saya Alia Bu, saya berasal dari desa ronggowalon" kemudian Alia menceritakan semua kisahnya, kepada wanita paruh baya, yang minta dipanggil dengan nama ,Bu Ayu.
"Waduh kasihan sekali kamu nduk, sikap mereka tidak bisa dibenarkan. seharusnya mereka mencari tahu dulu, apa yang sebenarnya terjadi,tidak harus menghakimi tanpa tahu penyebabnya"ujar Bu Ayu.
"Ini semua salahku, karena Aku tidak bisa menjaga diri"ucap Alia, penuh sesal.
"Sudahlah nak, sebaiknya kamu tinggal di sini bersama ibu dan juga anakmu nanti. lagi pula ibu di sini juga tinggal sendirian"ucap Bu Ayu, kepada Alia, berharap wanita muda itu mau tinggal bersama dirinya.
Bu Ayu hidup sebatang kara di sana. wanita paruh baya itu tidak memiliki seorang anak, sedangkan suaminya yang sudah tua sudah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu.Mendengar permintaan Bu Ayu,Alia merasa sangat bahagia. namun, wanita itu sedikit tidak enak, karena pasti akan merepotkan Bu Ayu nantinya.
"Apa tidak merepotkan Bu?"tanya Alia kepada Bu Ayu, sungguh sebenarnya dia begitu bahagia, saat ada orang yang mau menerimanya.
"Aku justru akan sangat merasa senang, karena bisa memiliki kalian".
Hari ini tibalah saatnya Alia melahirkan, wanita itu sedang meringis, menahan sakit sendirian di dalam ruangan bersalin bersalin, di rumah seorang bidan.
Tidak terasa satu bulan sudah dia tinggal bersama Bu Ayu, di rumah yang sangat sederhana itu. namun, Bu Ayu memperlakukannya dengan sangat baik, dia merawat Alia seperti anaknya sendiri.
Saat ini wanita paruh baya itu sedang menunggu di luar ruangan bersalin, dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Dia mengkhawatirkan keadaan Alia yang berada di dalam sana.
"Ayo, bu Alia. tarik nafasnya dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan.ulangi beberapa kali ya" seorang bidan sedang memberikan instruksi kepada Alia. wanita itu pun melakukan apa yang diperintahkan oleh bidan cantik itu, walaupun sesekali dia meringis menahan sakit yang luar biasa.
Hingga tak berselang lama, suara tangisan bayi menggema di ruangan itu,perasaan lega pun menghinggap pada diri Ayu, dan juga Alia.
Seorang bayi laki-laki terlahir begitu tampan, wajahnya bak pinang dibelah dua, dengan seseorang yang sudah merenggut kesucian Alia. sehingga wanita itu kembali teringat malam yang sangat menyakitkan bagi dirinya.Namun, bagaimanapun bayi itu tidaklah berdosa, sehingga ia tetap menyayanginya.
"Kamu beri nama siapa dia ,nduk?"tanya Bu Ayu kepada Alia saat mereka sudah berada di ruang rawat, semua di rumah bidan itu.
"Ilham Bu, aku akan memberi dia nama ,Ilham Mubarok"ucap Alia, sambil memandangi bayi yang saat ini berada di dalam pangkuannya.
"Bagus sekali namanya nduk, pantas. kayak orangnya, ganteng" ujar Bu Ayu.Hari berganti, dan kini Alia sudah kembali ke rumah sederhana milik Bu Ayu, para tetangga pun berdatangan untuk mengucapkan selamat kepada Alia.
Di sana semua orang menirima kehadiran Alia dan juga anaknya, mereka semua bersikap sangat baik dan hangat. tidak ada yang menghina atau membenci Alia dan anaknya,tidak ada yang menyinggung siapa ayah dari bayi itu.
semua berjalan begitu saja, tanpa ada yang ingin menyakiti hati Alia, membuat wanita itu merasa bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang melindunginya.
Hari-hari Alia lalui dengan banyak orang-orang baik di sekitarnya, bahkan kadang anaknya pun dibawa pergi oleh tetangganya selama berjam-jam.
namun Alia tidak perlu khawatir, karena mereka semua menyayangi putranya itu.Hari berganti, waktu bergulir. kini tidak terasa Alia sudah tinggal di tempat itu selama satu tahun.
seorang teman mengajaknya bekerja, sebagai tukang cuci baju dari rumah ke rumah, di mana banyak orang-orang yang membutuhkan jasanya.
Semua itu Alia jalani, karena demi masa depan putranya, apapun akan dia lakukan.
seperti hari ini Alia baru saja pulang dari bekerja Dan disambut tawa ceria putranya yang kini berusia satu tahun.
Bu Ayu merawat putranya dengan begitu baik, sehingga balita itu tumbuh sehat dan juga ceria, rasa lelah yang seharian bekerja seakan hilang berganti dengan rasa syukur karena hingga saat ini dia bisa hidup bersama putra semata wayangnya yang selalu menjadi penguat dalam keterpurukan.Kaki kecil itu berjalan perlahan menuju sang bunda, yang baru saja terlihat di ambang pintu." ma ma ma" bibir kecil itu berceloteh sambil berjalan, Alia menyambut dengan merentangkan tangannya, agar anak nya masuk ke dalam pelukannya."Ya, sayang nya bunda" Alia memberikan kecupan di seluruh wajah mungil itu."Pergilah makan dulu, biarkan Ilham bersama ibu"ucap Bu Ayu kepada Alia. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi Alia seperti putrinya sendiri, Dia sangat bersyukur di usianya yang sudah tua bisa bertemu dengan Alia dan juga Ilham.
Alia pun menuruti perkataan Bu Ayu, dia masuk ke dalam untuk makan siang terlebih dahulu. setelah itu baru dia akan bermain dengan putranya hingga sore, kemudian memandikan Ilham.
Kehidupan Alia saat ini benar-benar untuk putranya, hanya untuk Ilham. Dia akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan Ilham, dan akan menghabiskan waktu bersama Ilham.
Anda Mungkin Juga Suka





