
Anak yang tersembunyi
Bab 3
Alia pergi ke pasar, untuk membeli bahan-bahan makanan, dan kebutuhan rumah tangga yang lainnya. Saat ini uang yang dia pegang tidaklah cukup banyak. namun, Alia menggunakannya dengan sangat bijak, agar dapat memenuhi kebutuhan anaknya.
Alia hanya membeli kebutuhan yang benar-benar dia perlukan. Karena, uang gajinya harus digunakan hingga satu bulan ke depan.
"Bu. tolong bungkuskan saya telur satu kilo, minyak satu kilo,,,," Alia menyebutkan nama barang-barang yang lain, yang perlu dia beli untuk kebutuhan selama satu bulan.
Sedikit kesusahan, wanita itu membawa barang belanjaannya. Alia berjalan hendak pulang ke rumah.namun, tanpa sengaja Dia menabrak seorang wanita paruh baya, yang sedang jalan tergesa.
"Maaf" ucap nya, sambil mengambil kantung belanjaan nya yang terjatuh.
"Alia,"
Alia segera melihat siapa yang sedang memanggil namanya, seketika dia meletakkan kembali barang belanjaannya, dan segera memeluk orang yang begitu dia rindukan selama ini.
"Bapak,ibu.kok kalian ada di sini?" Tanya Alia, setelah melepaskan pelukannya.
"Bapak dan ibu ada undangan pernikahan,di desa ini, kebetulan ibu pengen mampir ke pasar sekalian. nggak taunya malah bertemu kamu di sini nduk" Bu Siti menjelaskan pada anaknya.
" bagaimana kabarmu sekarang ,nduk?" Siti bertanya sambil menelisik ke arah perut anaknya, yang sudah kembali rata.
Alia yang mengerti maksud tatapan dan pertanyaan ibunya, dia pun segera menjelaskan, apa yang terjadi setelah Dia pergi dari kampung halamannya.
air mata Siti mengalir tanpa terasa, wanita paruh baya itu sangat sedih mendengar cerita dari anaknya, apalagi membayangkan saat Alia melahirkan, tanpad seorang suami yang mendampinginya.
"Apa boleh. bapak melihat anakmu?" Tanya pak Ridwan, pada Alia.
"Tentu saja boleh pak, Dia adalah cucu bapak, dan Dia pasti sangat suka bertemu dengan kakek dan neneknya"ujar Alia membuat senyum mengembang di bibir kedua orang tuanya.
Alia membawa bapak dan ibunya untuk melihat Ilham, buah hatinya di rumah Bu Ayu.
rumah yang selama ini dia tempati, perjalan membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, dari pasar menggunakan angkutan umum.
Kini mereka bertiga sudah berjalan, masuk ke sebuah gang kecil. di mana di dalamnya ada banyak rumah-rumah yang sangat sederhana di bangun di sana, salah satunya yakni rumah ibu Ayu.
"Silakan masuk pak, Bu,"ujar Alia, setelah membukakan pintu untuk kedua orang tuanya.
"Kamu udah pulang nduk?"terdengar suara Bu Ayu dari dalam rumah.
"Iya Bu"sahut Alia.
"Assalamualaikum"
ucap kedua orang tua Alia, saat baru mau masuk ke dalam rumah sederhana itu.
"Waalaikumsalam"jawab Alia.
Terlihat dari dalam rumah, Bu Ayu menggendong Ilham mendekat ke arah mereka.
"Siapa yang datang nduk?"tanya Bu Ayu, masih sambil berjalan.
"Ini Bu. Alia ketemu sama orang tua Alia, tadi di pasar"ujar Alia, kepada Bu Ayu.
"Loh. mas Ridwan, Mbak Siti?"ucap Bu Ayu, yang baru saja melihat kedua tamunya.
"Loh. Ayu, ini rumah kamu?"ucap Bu Siti, kepada Bu Ayu.
"Kalian saling kenal?"tanya Alia, kepada mereka bertiga.
"Iya nak. kami saling kenal, suaminya Bu Ayu dulu adalah, sahabat bapak. namun, beliau sudah meninggal dunia. bukan begitu Ayu?"ucap Bu Siti, memberikan penjelasan kepada putrinya.
"Betul sekali Alia, kami adalah sahabat"
Ucap Bu Ayu membenarkan perkataan Bu Siti, kemudian wanita itu kembali berucap.
"Alhamdulillah. berarti selama ini saya merawat anaknya, mbak Siti dan mas Ridwan?"tanya Bu Ayu, kepada mereka berdua.
"Betul sekali Ayu, saya sangat berterima kasih. karena kamu sudah mau menampung anak saya di sini. Saya tidak tahu lagi kabarnya selama satu tahun ini, setelah warga mengusirnya"ucap pak Ridwan, penuh haru.
Setelah berbicara banyak hal, dan mereka melepas rindu. kini akhirnya pak Ridwan dan Bu Siti harus pamit.
Sebenarnya mereka tidak ingin berpisah dari anak dan cucunya, namun tidak mungkin mereka menginap di rumah Ayu. dan tidak mungkin pula dia membawa Alia bersama cucunya pulang ke rumahnya, karena pasti warga akan kembali mengamuk.
"Kamu baik-baik di sini ya nduk ,jaga cucu bapak dan ibu baik-baik. ibu dan bapak akan sering mengunjungimu di sini"ucap Bu Siti kepada Alia, saat mereka hendak berpamitan.
*
"Tuan muda lepaskan aku. tolong tuan muda, ini sakit" tangan kekar itu terus saja mengunci pergerakan Alia, meskipun tubuhnya memberontak, namun tenaganya tidak dapat mengalahkan tubuh kekar yang menguncinya diari atas.
Tanpa menghiraukan teriakan Alia. pria itu terus saja mencumbu tubuh Alia, yang saat ini sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
karena, baju yang Alia kenakan, sudah teronggok di lantai.
Alia terus berteriak meminta tolong.namun, tidak ada satu orang pun mampu menolongnya. karena, kamar itu menggunakan peredam suara, sehingga suara di dalamnya tidak terdengar sampai keluar.
"Tuan aku mohon. lepaskan aku Tuan"
Alia kembali berteriak dan meronta, sekuat tenaga dia ingin terlepas dari kungkungan, pria yang saat ini berada di atas tubuhnya. hingga sesuatu menembus pertahanannya, dan Alia menjerit karena merasa sakit.
" hah,hah,hah,,"
Alia terbangun dari tidurnya,keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
ini terjadi di setiap malam, semenjak kejadian itu.
namun, tidak ada seorangpun yang tahu, jika wanita itu sebenarnya sangatlah lemah, dan sedang dihantui rasa trauma, yang begitu mendalam.
"Ya Tuhan. Ampuni segala dosa-dosa ku ya Tuhan"ucap Alia, setelah dia melakukan shalat di sepertiga malam.
Alia selalu terbangun di tengah malam, dengan mimpi-mimpi yang begitu buruk.
dan wanita itu akan selalu mengerjakan shalat malam. untuk meminta ampun atas segala kesalahan dan dosa-dosanya.
Pagi ini seperti biasa. Alia akan pergi ke rumah orang-orang yang memerlukan jasa cuci gosoknya, sedangkan Ilham. dia selalu di tinggalkan bersama ,Bu Ayu. Namun, di tengah jalan yang sepi,tiba-tiba ada seorang pria yang terlihat begitu menakutkan.
saat ini pria itu memandang Alia yang sedang berjalan, Dia melihat Alia dari ujung kaki hingga ujung kepala. padahal wanita itu mengenakan baju yang begitu longgar, sehingga tidak menampakkan sedikitpun lekuk tubuhnya yang molek.
"Halo nona manis, temani abang di sini ya?"ucapnya, sambil berjalan mendekat ke arah Alia.
Alia memasang sikap waspada, wanita itu sudah mengambil ancang-ancang hendak lari ,bila saja pria itu berbuat macam-macam.
"Kok diem aja sih manis, jangan takut. Abang tidak akan kasar kok"ucapnya lagi, membuat Alia makin bergidik.
"Ya Tuhan lindungilah hambamu, dari orang-orang yang jahat"ucap Alia dalam hati.
Alia segera berlari, saat pria itu semakin dekat. namun, pria itu tidak membiarkan Alia lepas. dia pun mengejar Alia, langkah Alia yang tidak begitu lebar, hampir saja dikalahkan oleh pria mesum tadi.beruntungnya tepat sebelum pria mesum itu mendekat, ada beberapa orang yang sedang melewati jalanan itu.
Beberapa orang itu ternyata adalah sebuah rombongan, yang terlihat seperti akan pergi ke sebuah lamaran, karena beberapa dari mereka membawa barang-barang seserahan.
Alia yang butuh perlindungan, perlahan masuk diantara rombongan yang sedang berjalan, membuat pria mesum yang sejak tadi sudah mengejarnya, kini terlihat menjadi geram.
Kini Alia sudah merasa aman. wanita itu hendak meninggalkan para rombongan itu, namun, langkah kakinya terpaku, saat melihat seseorang yang sangat dia kenal, berjalan di antara para rombongan.
Anda Mungkin Juga Suka





