
WINIH TRESNA
Bab 2
Tini menerjang pintu yang setengah terbuka dan menabrak udara kosong hingga dia terjungkal dan berguling di lantai beberapa kali. Suatu gerakan absurd, yaitu berguling di lantai dengan sangat lincah, yang sepertinya tidak akan bisa dilakukan oleh seorang wanita feminin seperti Tini, kecuali karena memang ada jin di dalam tubuhnya.
Fiki dan beberapa orang berlari mengejar Tini dan melihat Nurul Hakim berdiri di belakang pintu dengan wajah geli. Nurul Hakim menunjuk ke arah tubuh Tini sambil berkomat-kamit membaca ayat ruqyah, mulai dari taawudz, Al Fatihah, Al Baqoroh dan wajah Tini mulai berkeriut menahan sakit.
Fiki mendekati Nurul Hakim dan membantu anaknya meruqyah Tini. Tini memegangi lehernya, dia seperti mencekik dirinya sendiri. Beberapa ustadzah segera menolong Tini dan mencegah tangannya mencekik lehernya sendiri.
"Jangan! Jangan larang aku membunuh wanita ini! Dia harus mati!" teriak Tini, dia memberontak liar dari para ustadzah yang memeganginya.
"Dia harus ma*ti!" teriak Tini. Dia berusaha menyakiti tubuhnya sendiri dengan berusaha mencakar atau mencekik tubuhnya sendiri. Para ustadzah berusaha sekuat tenaga melarang Tini melakukan hal itu.
Nurul Hakim tidak mempedulikan teriakan-teriakan jin di dalam tubuh Tini yang membabi buta. Jin di dalam tubuh Tini mengumpat dan memaki Nurul Hakim dalam bahasa Jawa yang kasar dan sangat tidak pantas didengar. Nurul Hakim hanya tersenyum samar mendengar umpatan itu. Dia memakai kaus tangan yang tersedia di ruang terapi ruqyah dan mendekati Tini.
"Aja nyedhak! (Jangan mendekat!)" teriak Tini, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Jangan lihat aku, Ustadz!" teriak Tini, "aku takut dengan matamu!"
Nurul Hakim nampak tidak sabar lagi dan memegang tengkuk Tini dengan tangannya yang berbalut kaus tangan. Dia mulai mendaraskan ayat ruqyah dengan suara yang cukup lantang dan dalam sekejap Tini muntah-muntah dan kemudian pingsan. Nurul Hakim menghela napas lega.
"Semoga sudah keluar semua, ya, Bi," kata Nurul Hakim. Fiki mengangguk. Dia merasa bangga dengan anaknya yang tidak melanggar peraturan dari gurunya ketika meruqyah, yaitu tidak berbicara dengan jin yang ada di dalam tubuh orang yang mereka ruqyah. Fiki mendesah, nampaknya Nurul Hakim memang mewarisi kengenyelan dirinya. Nurul Hakim sangat kaku, terutama untuk masalah mematuhi peraturan.
Nurul Hakim sangat mematuhi semua peraturan yang bersangkutan dengan kehidupannya. Mulai dari peraturan di dalam rumah, di pesantren dan peraturan dalam meruqyah. Hakim --panggilan Nurul Hakim-- mempengaruhi sepupu-sepupunya untuk selalu berpenampilan rapi, tanpa rambut panjang dan anting atau gelang bagi sepupunya yang laki-laki.
Fiki mendengkus. Dunia ini memang aneh. Nurul Hakim yang sangat patuh peraturan memiliki guru ruqyah yang sepertinya kurang suka dengan peraturan, dengan penampilan yang berkebalikan dengan penampilan Nurul Hakim yang selalu rapi, guru Nurul Hakim memiliki rambut panjang dan memakai anting.
Ah, anting itu. Sejak dulu Fiki meminta Faza --guru Nurul Hakim-- untuk melepaskan anting itu, tetapi Faza menolak permintaan Fiki. Mereka berdua pun tidak pernah membicarakan hal itu lagi, sampai ketika Fiki tahu, bahwa anaknya memilih Faza sebagai gurunya. Hati Fiki langsung mencelos mengetahui hal itu, tetapi untunglah Nurul Hakim orang yang sangat berbeda dengan Faza dan tidak terpengaruh dengan penampilan Faza, yang adalah paman Nurul Hakim sendiri.
Fiki mendekati Hakim yang sedang melepas kaus tangannya di salah satu sudut ruang terapi ruqyah.
"Kenapa kamu ke sungai tadi? Ummi-mu mencarimu, kan?" tanya Fiki pada Hakim. Hakim tersenyum geli.
"Aku mencari Husna dan Huda, Bi. Mereka bilang mereka mau mengantar simbah pulang, makanya kucari mereka ke sungai," jawab Hakim. Fiki tertawa. Dia bisa membayangkan Salma akan memarahi Hakim sebelum Hakim menjelaskan masalahnya pada Salma.
"Ummi memarahiku," gerutu Hakim. Dia mencebik.
"Ya, jelas ummi-mu memarahimu. Pasti ummi-mu mengira kamu bermain di sungai," kata Fiki, mereka berpandangan dan tertawa.
"Ah, ummi selalu mengkhawatirkan banyak hal pada kami, Bi. Padahal kami sudah besar," kata Hakim. Fiki tertawa.
"Bagaimana tidak khawatir, Kim, kalian berada jauh di kota, dan ummi-mu ada di sini. Ummi-mu selalu merindukanmu, Nak," jawab Fiki. Dia memandang anak laki-laki tertuanya itu dengan bijak. Fiki menunggu protesan Hakim, yang sepertinya akan mengatakan lagi kepada Fiki bahwa dia sudah besar dan tidak seharusnya ummi-nya mengkhawatirkan mereka terus. Hakim malah tersenyum.
"Ketika memarahiku tadi ummi menangis, Bi " bisik Hakim pelan. Fiki membeliak tak percaya.
"Benarkah? Ummi bilang apa, Kim?" tanya Fiki penasaran. Hakim tersenyum.
"Ummi bilang : 'Kalau kamu masih main-main saja lebih baik kamu di sini saja membantu abimu!' Ummi juga memarahi Husna dan Huda, tetapi mereka berdua nampak tidak terlalu peduli, bahkan mereka berdua seperti akan tertawa, Bi. Mbak Nuha dan Mbak Nura juga sama saja, mereka mencibirku di belakang ummi. Bahkan Hamzah pun ikut-ikutan mengejekku," kata Hakim agak cemberut.
Fiki nampak tak bisa menahan gelinya, bagaimana tidak, Hakim adalah anak lelaki tertua Fiki yang memberi banyak pengaruh --terutama pengaruh dan pemaksaan untuk mematuhi peraturan-- pada tiga adiknya dan pada ketiga kakak kembarnya. Tak heran ketika Hakim dimarahi ibu mereka, pasti saudara-saudara Hakim mencibirnya karena, bahkan Hakim pun bisa melanggar peraturan, dan sampai dimarahi ibu mereka.
"Kalau aku memang pindah ke sini bagaimana, Bi? Apa abi mau menerimaku sebagai peruqyah?" tanya Hakim. Fiki tertawa terbahak.
"Ya, mungkin, sih kuterima, Kim, tetapi jangan marah kalau nggak digaji, ya?" jawab Fiki bercanda. Mereka berdua tertawa lagi.
"Kim! Ummi bilang apa tadi?" Terdengar teriakan di belakang Fiki dan Hakim yang sedang tertawa. Mereka berdua terdiam, tetapi sama-sama menahan tawa.
"Dicari pakdhe dari tadi, lo, Kim!" desis Salma gemas. Mata Hakim membelalak tak percaya.
"Astaghfirullah! Aku lupa, Mi!" seru Hakim, dia segera berlari meninggalkan kedua orang tuanya. Sepeninggalan Hakim, Salma mencebik pada Fiki.
"Kenapa malah disuruh meruqyah? Baru kuminta beristirahat agar Hakim tidak kelelahan, Ustadz! Lusa dia pulang," kata Salma gemas.
Fiki tertawa.
"Oh, jadi semua kemarahan ini karena Hakim dan adik-adiknya akan pulang ke Karang Pandan, to?" tanya Fiki pada Salma sambil menggenggam tangan Salma. Salma diam saja, bahkan memalingkan mukanya dari Fiki. Rupanya Salma menangis.
"Astaghfirullah! Maafkan aku, Ma," bisik Fiki, "istighfar, Ndhuk. Insya Allah semua akan baik-baik saja, kan?" tanya Fiki masih dalam bisikan.
Salma mencebik.
"Kalian memang selalu membuatku sedih!" seru Salma. Fiki tersenyum.
"Masih belum bisa 'move on' juga?" bisik Fiki. Salma mencebik.
"Mungkin nggak akan pernah bisa! Masak punya anak tujuh, semua mirip dengan bapaknya! Nggak ada satu pun yang mirip dengan diriku! Semua wajahnya, terutama matanya mirip dengan mata bapaknya." Salma bersungut-sungut dan berpura-pura melirik tajam ke arah Fiki.
"Yah, mau gimana lagi? Semua, kan kehendak Allah bukan keinginanku," kata Fiki geli, "aku hanya berdoa agar anakku banyak dan aku diberi umur panjang --seperti bapak dan ibuk-- untuk merawat, mendidik dan menyayangi keluargaku."
Salma menoleh ke arah Fiki dan tersenyum. Fiki selalu mengatakan doanya itu pada Salma dan Salma sangat terharu. Fiki adalah seorang anak yatim piatu yang dirawat oleh kakak dari bapaknya atau pakdhenya. Pakdhenya selalu menyayangi Fiki, tetapi Fiki merasa sedih karena Allah menghendakinya tidak memiliki orang tua kandung, sehingga Fiki selalu berdoa agar Allah memberinya banyak anak dan dia diberi umur panjang untuk dapat membesarkan anak-anaknya itu.
"Maafkan anak-anak kita karena mereka bukan hanya mewarisi mataku, tetapi juga mewarisi kengeyelanku, ya, Ma?" bisik Fiki menggoda Salma.
Salma nyaris tak bisa menahan gelinya, tetapi memang begitu adanya. Fiki memiliki mata heterokromia atau warna iris mata yang berbeda kiri dan kanan. Iris mata kiri Fiki coklat muda dan iris mata kanan Fiki coklat tua, dan semua anaknya memiliki mata yang sama persis dengan mata Fiki. Padahal mereka --Salma dan Fiki-- memiliki tujuh anak dan semuanya memiliki mata heterokromia.
Mereka berdua tertawa. Ah, selalu begitu. Salma tidak pernah bisa melewatkan, melawan, dan menangkal rayuan orang-orang bermata heterokromia itu. Salma selalu luruh dalam rayuan mereka, orang-orang bermata heterokromia, yang adalah suami dan anak-anaknya.
Fiki lega ketika tahu sepertinya Salma tidak sepenuhnya marah pada Hakim anak mereka. Sebenarnya Fiki tahu, Salma pantas sekali marah pada Hakim, yang sudah dewasa dan malah bermain di sungai ketika kakaknya menikah. Fiki meneliti wajah Salma sekali lagi, jangan-jangan ada yang terlewat oleh
Fiki di wajah cantik nan klasik itu. Salma tersenyum geli, dia sepertinya paham maksud Fiki.
"Aku marah pada Hakim bukan hanya karena Hakim itu ke sungai, Ust, tetapi juga karena satu hal," kata Salma. Fiki mengerutkan keningnya.
"Oh, apakah itu? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Fiki dengan wajah bingung. Salma mencebik jengkel melihat wajah Fiki itu, karena kadang Fiki berpura-pura bingung dan kemudian menggodanya. Fiki tertawa.
"Aku serius, Ma. Aku benar-benar tidak paham apa maksudmu," kata Fiki dengan pandangan bersungguh-sungguh. Salma tertawa geli, hilang sudah kejengkelan Salma.
"Nggih, Ust, Salma tahu ustadz pasti akan melewatkan cerita Hakim tentang seorang ustadz baru di pesantren ruqyah Karang Pandan. Kalau menurut Salma, Hakim sangat terganggu dengan adanya ustadz itu, karena ustadz itu menjadi perbincangan wanita ...."
"Ah, Hakim merada cemburu karena ustadz itu merebut reputasi ketampanannya?" potong Fiki dengan geli. Salma tertawa, dia mengangguk.
"Salma pikir juga begitu, Ust. Kalau kata Husna ustad baru itu seperti orang Korea, Ust. Putih, tinggi, tampan, baik hati, lemah lembut dan sangat cerdas. Ustadz baru itu lulusan Al Azhar. Beliau mengajar ilmu Hadits," jelas Salma panjang lebar.
Fiki mengerutkan keningnya. Dia memandang Salma heran dan Fiki bertanya-tanya dalam hati, kenapa Salma tahu cukup banyak tentang ustadz baru itu.
"Kok kamu tahu? Husna pasti tidak tahu tentang sekolah ustadz baru itu, kan? Mana peduli anak satu itu tentang ustadz ustadzahnya," kata Fiki sambil memandang Salma curiga. Salma tersipu malu.
"Aku bertanya pada beberapa orang kepercayaanku di pesantren ruqyah Karang Pandan dan sepertinya ustadz baru itu sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang di sana," jawab Salma sambil tersipu, tetapi tetap menjaga etika di depan suaminya.
Fiki terdiam. Dia mempelajari bahasa tubuh Salma. Kenapa Salma jadi seperti orang salah tingkah hanya karena menceritakan seorang ustadz baru di pesantren ruqyah Karang Pandan? Kenapa Salma jadi seperti remaja yang baru bertemu idolanya? Fiki mencebik.
"Kamu pernah bertemu ustadz baru itu?" tanya Fiki agak sebal. Salma tersipu dan mengangguk.
"Hah? Kapan itu?" tanya Fiki keheranan dan juga sedikit cemburu.
"Baru saja. Beliau datang menjemput Ustadz Nurul Ikhlash, Ust," jawab Salma. Fiki tersenyum geli melihat wajah Salma yang merona malu, seperti seseorang yang baru bertemu dengan kekasihnya.
"Dia lebih ganteng dari aku, Ma?" bisik Fiki menggoda. Salma terkejut dan buru-buru bersikap normal, tetapi dia juga berniat mengerjai Fiki yang selalu menggodanya.
"Iya, dong," jawab Salma bercanda. Mereka berdua tertawa.
"Siapa nama ustadz baru nan ganteng itu, Ma? Masak dari tadi ustadz itu-ustad itu terus manggilnya," tanya Fiki. Mereka berdua tertawa lagi.
"Namanya Ustadz Rahmat Salam. Panggilannya Ustadz Salam."
****
Hakim menjengit ketika melihat Nurul Ikhlash --pakdhenya-- tidak sendirian di ruang tamu rumahnya. Hakim langsung kehilangan semangatnya ketika melihat seorang pria muda yang menemani pakdhenya. Pria muda yang sangat putih kulitnya. Pria itu sangat tampan, bertubuh atletis, tinggi, besar, dan proposional antara tinggi badan dan berat badannya. Hakim yang kurus, merasa kurang nyaman kalau bersanding dengan ustadz baru itu, dan Hakim merasa kebanyakan pria akan merasa risau dan kurang nyaman kalau berdampingan dengan pria gagah perkasa dan tampan rupawan seperti ustadz baru bernama Rahmat Salam itu.
"Assalamualaikum, Ustadz Salam," sapa Hakim ramah.
"Waalaikum salaam, Ustaz Hakim." Mereka bersalaman dan saling bertukar kabar sekedarnya.
"Abimu mana, Kim? Aku mau pulang sekarang, ya? Kamu mau pulang kapan? Kalau besok atau lusa abi dan ummi-mu tidak apa-apa, kan?" tanya Nurul Ikhlash.
"Insya Allah tidak apa-apa, Pakdhe. Rencananya Hakim memang mau pulang lusa," jawab Hakim. Nurul Ikhlash mengangguk puas.
"Alhamdulillah kalau begitu. Jangan lama-lama, ya? Aku diminta menyampaikan pesan Ustadz Faza padamu untuk cepat pulang, karena nanti Ustadz Faza galau kalau kamu kelamaan di sini," goda Nurul Ikhlash. Mereka tertawa. Kemudian Nurul Ikhlash meminta Hakim untuk memanggilkan Fiki karena dia akan berpamitan.
Ketika Fiki dan Nurul Ikhlash berbicara sendiri, Salam mendekati Hakim, dan membuat Hakim langsung 'insecure'.
"Ustadz, apa benar kakak ustadz menikah dengan Ustadz Reza yang menjadi asisten Ustadz Mumtaz Baihaqi?" tanya Salam sopan.
Hakim mendesah. Hatinya yang paling dalam mengakui, sebenarnya tidak ada yang salah dengan Salam. Salam hanyalah pria yang ramah, santun, tampan dan cerdas. Pastilah menarik perhatian orang, terutama lawan jenis. Seperti contohnya sekarang ini. Dengan mudah Salam menarik perhatian Hakim dan menjalin percakapan dengan Hakim setelah membuka pertanyaan tentang pernikahan kakak Hakim dan Hakim merasa cemburu.
Apalagi ketika Salam akhirnya keluar dari rumah Hakim dan menuju mobilnya di halaman pesantren. Hakim yakin banyak santri akhwat dan ustadzah yang sengaja mengintip Salam dari kejauhan, dan Hakim pun semakin cemburu. Hakim berniat mencari tahu kenapa Salam bisa begitu.
****
Anda Mungkin Juga Suka





