Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel WINIH TRESNA

WINIH TRESNA

Kejadian misterius mengguncang Pesantren Ruqyah Karang Pandan setelah putra seorang ustadz mendadak hilang tanpa jejak. Situasi semakin mencekam saat ditemukan bekas ceceran darah yang sangat mencurigakan di dalam kamar korban. Apakah ada kekuatan gelap yang terlibat dalam peristiwa ini? Teka-teki mengerikan mulai menyelimuti lingkungan pesantren, memaksa semua orang bertanya-tanya tentang kebenaran di balik hilangnya sang anak secara tragis.
Bab
Bagikan

Bab 3

Fiki hanya tersenyum dari kejauhan. Dia tahu Salma pasti akan menghadapi perpisahan dengan anaknya ini dengan penuh emosi. Dan sekarang Salma sedang memeluk Hakim. Lama sekali. Mereka nampak berbicara dan berbisik-bisik dan Fiki melihat Hakim menyeka matanya.

Ah, mau bagaimana lagi? Mereka akan berpisah dalam waktu yang tak jelas berapa lamanya. Sebenarnya jarak mereka tak seberapa jauh. Hanya dua jam perjalanan dengan mobil berkecepatan standar, tetapi sebagai Bu Nyai, Salma tidak bisa seenaknya sendiri pergi ke sana ke mari dan Fiki merasa iba padanya. Kadang Fiki berlaku curang, dia mengantarkan Salma ke pesantren ruqyah Karang Pandan untuk menemui keluarganya dan dia menggunakan kesempatan itu untuk bersantai.

Fiki mendekati keempat anaknya. Masya Allah! Kebanggaan seorang bapak yang melihat anak-anaknya mau belajar ilmu agama membuat Fiki merasa terharu. Dia memeluk Hakim erat.

"Kapan ujian kompetensi ustadznya, Kim?" tanya Fiki. Hakim merona.

"Insya Allah pekan depan, Bi," jawab Hakim sambil tersenyum salah tingkah, "aku belum belajar," jawab Hakim lagi. Fiki tertawa. Dia tahu kemampuan Hakim.

"Umurmu berapa, Kim?"

"Ck! Pertanyaannya nggak relevan," jawab Hakim sambil bersungut-sungut. Fiki tertawa terbahak-bahak.

"Nah, kalau kamu menjawab dengan cara itu, kamu pasti akan diterima jadi ustadz, Kim," jawab Fiki sambil tertawa terbahak-bahak. Hakim pura-pura merengut, tetapi kemudian dia juga tertawa.

Kemudian giliran si kembar. Mereka berdua masih kuliah dengan jurusan yang sama dengan kakek mereka. Kedokteran Hewan dan dengan cita-cita yang sudah mereka miliki sejak kecil, menjadi peruqyah.

"Baik-baik sama ummi, ya, Bi?" kata Huda sambil memeluk Fiki. Fiki tertawa.

"Insya Allah," jawab Fiki.

Husna memeluk abinya tanpa kata. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Fiki tersenyum dan menghapus air mata itu.

"Jangan sedih," bisik Fiki. Husna mengangguk, mata Husna menyiratkan suatu hal yang tak dapat diterjemahkan oleh Fiki, tetapi Fiki tahu ada sesuatu yang disembunyikan anak perempuannya itu.

"Kenapa, Ndhuk?" bisik Fiki. Husna menggelengkan kepalanya. Fiki hanya diam. Dia tahu Husna sering memendam rasa yang sebenarnya, tetapi mungkin Fiki bisa menanyakannya besok-besok ketika Husna tidak sedang sedih karena akan meninggalkan orang tuanya.

Hamzah menghapus air matanya dan mengulas sebuah senyuman. Ah, anak ini. Dia sering disebut Fadli kecil oleh keluarga mereka. Anak itu begitu mirip dengan kakeknya dalam versi kulit yang putih. Yang sering membuat Yasna mengatakan 'seandainya Mas Fadli berkulit putih seperti ini, pasti istrinya dua.' Ah, kontroversi sekali ketika Yasna memanggil bapak mertuanya dengan panggilan Mas Fadli. Salma menangisi hal itu.

"Kenapa menangis?"

"Ibuk itu tidak pernah memanggil bapak dengan panggilan Mas Fadli di depan anak-anaknya ...."

"Astaghfirullah! Kalau kamu menganggap bahwa hal itu adalah tanda-tanda akan terjadi hal buruk berarti itu tathayyur, Ma! Naudzubillah! Nggak boleh kayak gitu! Ayo istighfar!" potong Fiki dengan keras dan tegas waktu itu.

Salma memang terdiam, tetapi Fiki yakin Salma pasti akan tetap memikirkan hal itu.

Dan sekarang cucu Fadli yang mewarisi wajah tampan dan tengil kakeknya itu tersenyum pada Fiki.

"Insya Allah bulan depan, hafalan Hamzah selesai. Abi datang waktu Hamzah wisuda, ya, Bi?" tanya Hamzah dengan penuh kebanggaan. Oh, ya, Allah. Fiki nyaris menangis mendengar kabar dari Hamzah itu. Dia memandang mata heterokromia anak bungsunya itu dengan penuh rasa haru dan akhirnya air mata Fiki mengalir juga. Dia mengangguk.

"Insya Allah! Insya Allah, Mas," jawab Fiki. Dia memeluk Hamzah yang tingginya sudah hampir sama dengannya, padahal Hamzah baru SMA kelas tiga.

Ketiga anak pertama Fadli pun mengucapkan perpisahan dengan adik-adik mereka, dengan janji mereka akan mampir ke Karang Pandan sebelum kembali ke Karang Legi. Ya, mereka bertiga seakan menggantikan posisi abi mereka sebagai peruqyah di Karang Legi.

"Insya Allah aku menyusul, ya?" kata Nufa kepada kedua kembarannya. Mereka mengangguk dan mereka bertiga berbisik-bisik di sudur ruang tamu rumah Fiki setelah mobil yang membawa keempat adik mereka berlalu.

Fiki dan Salma berdiri di depan rumah mereka dengan rasa hampa. Tujuh anak dan sekarang mereka sendirian begitu saja. Fiki mengembuskan napas panjang dan tersenyum lebar.

"Dan sekarang kita berdua lagi," kata Fiki pada Salma. Fiki tertawa melihat Salma menangis.

"Wis, ah, nangise. Bariki ana kajian ibu-ibu, lo, Ma. Mosok arep nangis terus, (Sudah, ah, nangisnya. Setelah ini ada kajian ibu-ibu, lo, Ma. Masak mau nangis terus,)" kata Fiki pada Salma. Salma tersenyum dan menghapus air matanya. Dia mengangguk. Salma berusaha menepikan rasa khawatir tentang kedua orang tuanya seperti yang diceritakan Husna tadi malam pada Salma.

Tetapi Salma tetap tersenyum dan menyambut pelukan Fiki, dan membiarkan Fiki memandangnya dengan penuh kecurigaan. Ah, Fiki, kan selalu bermain detektif-detektifan.

****

Faza tersenyum lebar ketika sudah melihat sosok yang ditunggunya selama ini setelah sholat Ashar. Hakim dan Hamzah. Kakak beradik yang cukup berbeda wajahnya, tetapi mata mereka membuat orang percaya kalau mereka adalah bersaudara.

"Alhamdulillah, datang juga idolaku!" seru Faza, membuat Hakim merah padam karena malu, "jadi ikut ujian kompetensi ustadz, kan, Mas?" tanya Faza. Hakim mengangguk.

"Insya Allah jadi, Om. Ezra juga ikut, kan, Om?" tanya Hakim. Faza mengangguk.

"Insya Allah, semoga ibunya Ezra ridho," jawab Fiki. Hakim mengerutkan keningnya, membuat Faza tertawa.

"Yah, begitulah. Bulikmu itu seperti simbah utimu, selalu khawatir," jawab Faza, dia tertawa. Hakim pun tertawa, dia tahu Ezra tidak akan terlalu memedulikan apa yang dikatakan ibunya.

"Ya, kudoakan semoga lancar dan sukses, ya, Kim. Ajaklah Ezra untuk belajar, Kim! Dia sama sekali tidak mau belajar," keluh Faza, dia melepas kacamatanya dan memijit keningnya. Dia memandang ke arah Hakim yang tertawa.

"Kenapa tertawa?"

"Hakim juga belum pernah benar-benar belajar, Om," jawab Hakim, membuat Faza mengerutkan keningnya dan kemudian tertawa.

"Astaghfirullah! Ternyata kamu sama saja, ya?" tanya Faza sambil tertawa geli, "ya, sudah, mau bagaimana lagi. Kurasa aku dulu juga tidak banyak belajar sebelum ujian kompetensi ustadz, bismillahirrahmannirrahiim, om doakan lancar, ya?"

Hakim mengangguk dan tertawa setengah geli. Dia juga beristighfar, semoga dengan caranya menghadapi ujian yang seperti ini tidak akan membuat kualitasnya sebagai ustadz --apabila dia memang lulus ujian kompetensi ini-- akan menurun.

Seseorang melambai dari pintu. Ah, akhwat rupanya. Hakim keheranan, tetapi segera mafhum, karena akhwat itu adalah sepupunya. Marisa. Anak bungsu Faza.

Faza mendesah.

"Om duluan, ya. Setelah Maghrib sepertinya ada pasien ruqyah, Kim. Kamu siap, kan?" tanya Faza. Hakim mengangguk dan melihat omnya keluar dari masjid menemui anaknya. Mereka nampak berbicara sebentar dan seketika Faza masuk lagi ke dalam masjid.

"Kim, mereka datang lebih cepat! Pasien ruqyahnya sudah datang sekarang!"

****

Aida mendesah.

Dia benci keadaan ini. Keadaan di mana dia harus mengajar, tetapi ada pasien ruqyah dan para ustadz belum pulang dari masjid dan hal itu saja sudah membuat Aida menjadi emosi.

"Aku arep ketemu karo wonge kae. Wonge ning kene, to? (Aku mau bertemu dengan orang itu. Orang itu ada di sini, kan?)" tanya seorang wanita muda yang kerasukan itu.

Sebenarnya mereka sudah mendaftarkan untuk ruqyah setelah Maghrib, tetapi sepertinya jinnya sudah tidak sabar lagi. Sehinga keluarga wanita muda itu terpaksa membawa sang wanita ke pesantren ruqyah dua jam lebih awal.

Dan Aida kelelahan. Hari ini jadwalnya sangat padat dan hal itu membuatnya sangat ingin menggigit wanita yang berjumpalitan, berakrobat dan begitu usil tanpa henti di depannya. Dan Aida terpaksa harus menggertakkan rahangnya kuat-kuat untuk mencoba berkonsentrasi meruqyah wanita itu.

Untunglah Marisa datang membawa para peruqyah itu dan Aida buru-buru izin meninggalkan ruang terapi ruqyah.

Faza mengangguk ketika Aida izin kepada Faza. Wajah Faza penuh keheranan.

"Kenapa, Ustadzah? Apakah ustadzah tidak enak badan?" tanya Faza. Aida terdiam sejenak, dia malu hendak mengatakan pada Faza bahwa sepertinya dia baru mendapatkan haidh sekarang, jadi dia mengangguk saja. Wajah Faza nampak kurang percaya.

"Oh, njih, Ust. Istirahat saja, njih, Ust. Semoga Ustadzah lekas sembuh," jawab Faza diplomatis. Aida mengangguk dan bergegas ke kamarnya. Dia harus segera mendapat pertolongan pertama untuk masalah yang satu ini.

****

Hakim melihat wanita itu melompat ke sana ke mari dengan lincah. Wanita itu masih muda dan nampak sangat feminin dan lembut. Sehingga sepertinya tidak mungkin melakukan lompatan, jungkir balik dan segala hal yang sepertinya sangat ekstrim itu, yang kadang menggelikan juga.

"Ustadzah Suci, njih?" tanya Faza. Seorang ustadzah mengangguk dan segera mendekati wanita itu, tanpa rasa ragu atau takut. Wanita itu melihat ke arah Suci dengan pandangan yang heran. Dia menggelengkan kepalanya.

"Kenapa yang mendekatiku yang wanita? Kenapa bukan ustadz? Kalau yang itu aku mau ... yang itu ganteng seperti oppa-oppa Korea!" terak wanita itu sambil menunjuk ke arah Hakim.

Hakim melengak, dia mendengar tawa tertahan di seluruh penjuru ruang terapi ruqyah yang begitu luas dan sejuk itu. Faza menoleh dan tersenyum tipis.

"Wah, Oppa Kim," bisik Faza. Hakim tertawa juga. Dia merah padam menahan malu, karena beberapa santri akhwat dan ustadzah tertawa geli dan bahkan beberapa menunjuk-nunjuk ke arahnya.

Faza mengisyaratkan agar semua diam dan meminta semua untuk mulai meruqyah, dia sendiri segera memakai kaus tangannya dan maju mendekati wanita muda itu. Wanita itu agak panik melihat Faza. Dia menggelengkan kepalanya.

"Jangan, Ust! Aku hanya ingin bertemu orang itu," kata wanita itu. Faza tersenyum.

"Kamu siapa? Dan kamu ingin ketemu siapa?" tanya Faza.

"Aku ingin bertemu orang baru itu, Ust. Orang baru dari Padang Larang itu. Orang yang tampan seperti ustadz itu," kata wanita itu sambil menunjuk ke arah Hakim lagi. Terdengar dengung istighfar dan tawa lagi.

"Padang Larang? Siapa nama ustadz itu? Lalu mau apa kamu ketemu dengan ustadz itu?" tanya Faza, dia berusaha mengingat siapa ustadz yang dimaksud oleh jin di dalam tubuh wanita itu.

"Namanya Rahmat Salam. Aku hanya mau meminta ustadz itu membuka kiriman untuknya kemarin dulu," wanita itu tersipu malu dan terkikik panjang, "ah, aku jadi malu, Ust," bisik wanita itu pada Faza, dia memeluk lengan Faza. Faza beristighfar dan berusaha melepaskan pelukan itu.

"Aku juga mau sama ustadz. Ustadz ganteng. Boleh, kan, Ust?"

"Astaghfirullah! Tentu saja tidak boleh!" seru Faza sambil menahan tawa setelah akhirnya dia bisa melepaskan pelukan wanita itu. Wanita itu duduk bersimpuh di depan Faza. Dia menangis pelan.

"Aku mau ketemu sama ustadz Rahmat Salam!" teriak wanita itu sambil menghentak-hentakkan tubuhnya dengan marah.

"Kalau hanya sekedar menyampaikan pesan, aku bisa menyampaikan pesan itu padanya dan kamu tinggal keluar dari tubuh wanita ini, ya? Kasihan dia kelelahan kamu ajak jungkir balik dari tadi," kata Faza.

Wanita itu menggeleng.

"Ustadz tidak tahu di mana kiriman itu," kata sang wanita. Faza mengerutkan keningnya.

"Jangan-jangan kiriman gaib, ya?" tanya Faza. Wanita itu menggeleng lagi.

"Aku yang akan bilang sendiri pada ustadz itu," kata wanita itu masih ngeyel. Faza mendesah.

"Baiklah, aku akan memanggilkan ustadz Salam. Syaratnya kamu tidak boleh menyentuh ustadz Salam dan yang kedua setelah menyampaikan pesanmu, kamu harus segera keluar dari tubuh wanita ini," kata Faza dengan tegas. Wanita itu menelan ludah, dia nampak takut pada Faza yang terlihat galak, tetapi kemudian dia mengangguk dengan wajah yang merengut.

"Ganteng tapi pelit, galak lagi," bisik wanita itu cukup keras. Faza mendengarnya dan menoleh ke arah wanita itu.

"Jadi dipanggilkan Ustadz Salam, nggak?" goda Faza. Wanita itu membeliak takut. Dia buru-buru duduk dengan rapi dan mengangguk. Wanita itu menunduk dalam-dalam, membuat beberapa orang tertawa geli.

Tak lama kemudian ustadz tampan berkulit putih bersih itu memasuki ruang terapi ruqyah dengan kebingungan dan sedikit malu. Hakim menegang melihat Salam yang tersenyum bingung pada semua orang, apalagi ketika mendengar bisik-bisik akhwat. Faza mendelik.

"Kalau tidak bisa tenang besok akhwat harus meruqyah sendiri di tempat lain!" seru Faza dan semua langsung terdiam. Hakim tersenyum geli dan merasa puas dengan kemarahan Faza.

Sang wanita muda itu nampak kegirangan melihat Salam. Dia bangkit dan hampir bergerak mendekati pria itu, seandainya dia tidak melihat Faza yang memandangnya dengan galak. Wanita itu menyurut dan duduk dengan sopan di tempatnya semula.

"Cepat lakukan tugasmu, setelah itu keluar dari tubuh wanita itu," kata Faza dengan tegas. Wanita itu mencebik maksimal dan Salam benar-benar kebingungan. Apalagi ketika Faza memintanya duduk di sampingnya.

"Ada apa, njih, Ust?" tanya Salam pada Faza.

"Ada jin yang ingin menyampaikan sesuatu pada ustadz," jawab Faza setengah geli. Wajah Salam bertambah bingung, tetapi dia berusaha menahan diri untuk bertanya lebih lanjut dan memilih untuk diam dan menunggu.

Faza berdeham dan meminta wanita itu menyampaikan pesannya pada Salam. Wanita itu mengangguk.

"Ustadz, tolong kiriman dari Pandan Wangi dibuka, ya? Kiriman itu khusus untuk Ustadz Salam. Jangan sampai besok bukanya, ya? Nanti malah bisa gawat," kata wanita itu. Dia memandang Salam dengan agak genit, tetapi kemudian menganggukkan kepalanya kepada Salam dan menoleh ke arah Faza.

"Matur nuwun, Ust," bisik wanita itu dan dia pingsan seketika.

Beberapa ustadzah yang sudah siap, segera membantu wanita itu dan membawa sang wanita ke ruang rawat diikuti oleh keluarga sang wanita dan setelah ruang ruqyah itu sepi, Salam memandang Faza kebingungan, seakan minta petunjuk.

"Ustadz, saya tidak paham apa maksud wanita tadi. Saya tidak menerima paket atau kiriman dari siapapun dan dari manapun," kata Salam dengan kebingungan.

Faza nampak agak terkejut mendengar perkataan Salam tadi.

"Benarkah, Ust?" tanya Faza untuk memastikan apa yang didengarnya tadi benar.

"Njih, Ust," jawab Salam agak takut, "kalau tidak keberatan, saya minta bantuan asatidz untuk memeriksa kamar saya. Saya takut, Ust," lanjut Salam.

Ah, Faza bernapas lega, karena itu tadi yang inging dikatakannya pada Salam, untunglah Salam mengatakan hal itu terlebih dahulu. Faza mengangguk menyanggupi dan bergegas menuju ke kamar Salam.

****

Salam memijit keningnya. Dia keheranan. Asatidz itu memeriksa kamarnya dua kali dan tidak menemukan benda mencurigakan atau benda aneh yang ada di kamarnya. Kenapa?

Salam mendesah. Entahlah! Dia mengantuk dan memutuskan untuk tidur, ketika dia melihat buku itu. Buku tulis yang sepertinya bukan miliknya. Ah, mungkin milik santri yang belum sempat diperiksanya.

Salam membuka buka itu dan merasakan tekstur aneh pada kertas di dalam buku itu. Buku itu teksturnya kasar dan seperti berpasir. Salam keheranan dan melihat telapak tangannya yang terasa kotor dan kasar. Tetapi dia terlambat ....

****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh
9.7
Aurelia adalah putri tunggal konglomerat yang hidup dalam kemewahan hingga sebuah kecelakaan maut mengubah segalanya. Setelah menabrak tiga pemotor hingga tewas, gadis berusia lima belas tahun ini memilih kabur demi menghindari tanggung jawab. Namun, pelarian itu justru mengundang petaka supranatural. Kini, Aurel diburu oleh tiga roh penuh dendam yang menuntut balas. Mampukah ia lepas dari teror mengerikan ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kutukan?
Sampul Novel Cermin
8.7
Pasca kecelakaan, Inestia Rossi mampu melihat hantu dan mencium aura kematian. Baginya, cermin adalah satu-satunya alat yang jujur mengungkap wujud asli mereka. Di tengah trauma cinta, ia bertemu Rangga, pria skeptis yang justru memberinya keberanian. Meski sering terancam kasus-kasus mengerikan di apartemennya, Ines terus berjuang. Konflik keluarga sempat memisahkan mereka, namun takdir membawa keduanya bertemu kembali untuk berjuang dalam status hubungan yang berbeda.
Sampul Novel Dinodai Tetangga
8.9
Pemerkosaan yang dilakukan Alex pada Andini membuat Andini merasa trauma. Dia bahkan sempat tidak mau berhubungan dengan sang suami-Arka. Andini dan Arka terpaksa pindah rumah demi menghindari Alex. Apakah pindah rumah solusi utama? Tidak, nyatanya Alex tetap menganggu Andini. Apa yang akan dilakukan Andini setelah ini? Apa dia akan membiarkan Alex mengganggu dia lagi?
Sampul Novel Kisah Cinta Di Negeri Gaib
7.9
Niat Andrian melamar Afifa di Pulau Sempu bersama para sahabatnya berubah menjadi petaka. Afifa, seorang indigo yang mampu berinteraksi fisik dengan makhluk halus, justru terperangkap di dunia astral setelah membuat sosok gaib bernama Aqeel jatuh cinta. Di tengah berbagai peristiwa misterius di alam lain, Afifa berjuang mencari jalan keluar. Sementara itu, Andrian yang setia menolak menikah dengan orang lain demi menanti kepulangan kekasihnya yang hilang secara misterius tersebut.
Sampul Novel KUNCI LATHI
8.7
Azalia mendadak kehilangan seluruh ingatannya tanpa jejak. Satu-satunya hal yang tersisa di benaknya hanyalah potongan mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Saat terbangun dalam kondisi linglung, dia menyadari bahwa kehidupannya telah berubah menjadi misteri yang mencekam. Kini, Aza harus berjuang mencari jawaban di tengah kegelapan yang mengepungnya. Mampukah ia melepaskan diri dari teror mimpi yang terus menghantui dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang?
Sampul Novel Misteri Desa Purnama
8.8
Demi melepas penat dari dunia perkuliahan, Aldi memilih berlibur ke Desa Purnama yang tenang. Namun, kedatangannya justru memicu bangkitnya kekuatan supranatural tersembunyi dalam dirinya. Di tengah suasana desa yang terpencil, Aldi terjebak dalam serangkaian peristiwa mistis yang mencekam dan sulit dinalar. Mampukah ia bertahan menghadapi teror gaib tersebut, ataukah liburan impiannya akan berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung?