Sampul Novel Cermin

Cermin

8.7 / 10.0
Dalam novel Cermin, Ines menggunakan kemampuannya melihat aura kematian untuk mengungkap misteri melalui pantulan kaca. Bersama Rangga, ia menghadapi berbagai kasus mengerikan di horror novel ini. Baca kisah perjuangan mereka melawan takdir dalam mystery story yang penuh ketegangan.
Ringkasan Cermin
Pasca kecelakaan, Inestia Rossi mampu melihat hantu dan mencium aura kematian. Baginya, cermin adalah satu-satunya alat yang jujur mengungkap wujud asli mereka. Di tengah trauma cinta, ia bertemu Rangga, pria skeptis yang justru memberinya keberanian. Meski sering terancam kasus-kasus mengerikan di apartemennya, Ines terus berjuang. Konflik keluarga sempat memisahkan mereka, namun takdir membawa keduanya bertemu kembali untuk berjuang dalam status hubungan yang berbeda.
Baca Selengkapnya

Cermin Bab 1

Aroma buku bagai sebuah candu. Seratnya, barisan kata di dalamnya, seolah nadi dan nafas untukku. Aku sangat menyukai jika berada di sini, di tempat di mana aku dikelilingi oleh benda persegi aneka warna dan kaligrafi indah di sampulnya. Setiap Sabtu, inilah yang kulakukan. Sebuah jadwal rutin setiap akhir pekan. Melepas penat setelah berkutat dengan tulisan dalam novelku sendiri.

Fiksi.

Urutan judul buku di depan sudah bergeser karena ada beberapa buku baru di rak. Aku yakin kalau keberadaan ku di sini akan menjadi lebih lama dari minggu lalu. Aku harus menyeleksi tiap buku untuk menentukan bagian buku yang ingin ku baca lebih dulu. Tentu saja dengan membelinya, apalagi sampul buku ini masih tersegel rapi di dalam sebuah plastik bening. Dengan kamera CCTV yang berada di tiap sudut ruangan, membuatku tidak mungkin merobek plastik ini dan membacanya dalam sekali duduk. Buku-buku ini tebal, tapi aku mampu membacanya dalam semalam.

J. Miles, Beneath the Saphire eye's. Sebuah novel fantasi yang cukup menarik bagiku. Apalagi ternyata penulisnya adalah orang Indonesia. Pasti bahasanya lebih mudah kumengerti ketimbang novel terjemahan luar negeri. Sekalipun sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, akan tetapi tetap saja tidak semudah mencerna novel asli Indonesia. Blurb di belakang novel membuatku yakin untuk membeli buku satu ini. Sangat menarik, pikirku.

Kaki jenjang ini kembali melangkah ke samping, netra hanya tertuju pada barisan novel dengan tema fantasi, misteri, maupun horor di depan. Lorong ini adalah kesukaanku. Karena ini adalah genre yang paling aku sukai, sekaligus genre yang mudah kutulis. Entah mengapa aku bukan tipe penulis romantis, atau adegan dewasa seperti kebanyakan teman sesama penulis. Aku lebih mahir dalam mengekspresikan gambaran setan, iblis dan kejadian mengerikan yang dialami tokoh ceritaku. Novel pertamaku laku keras di pasaran, mengangkat tema seorang gadis indigo dengan kehidupan sehari-harinya. Sangat klasik, namun disukai banyak orang. Mereka bilang kisah yang kutulis bagai sebuah kisah nyata yang memang dialami seseorang. Namun aku, tetap mengatakan kalau itu semua adalah karangan ku saja.

Dalam keheningan di toko buku ini, ada tetesan air yang membuatku menoleh, dan mencari sumber suara tersebut. Tetesan air yang perlahan itu justru membuat perhatianku teralih. Kedua bola mata langsung tertuju pada AC di sudut kanan, aku yakin kalau air tersebut berasal dari AC yang bocor. Yah, air dari mana lagi.

Toko buku ini memang selalu hening. Tidak banyak orang yang suka pada buku dan aku yakin toko baju di sebelah justru lebih ramai. Namun suasana di sini biasanya tidak sehening ini. Walau tidak ramai pengunjung, tapi ada lantunan musik yang membuat pengunjung santai dan makin betah. Hanya saja kali ini aku tidak dapat mendengar alunan musik apa pun, bahkan pelayan toko yang biasa lalu lalang menata rak buku, tidak terlihat.

Aku melirik jam di pergelangan tangan, sambil menarik nafas dalam, merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. "Hm, jam makan siang, pantas aja sepi." Aku kembali hanyut dalam novel kedua. Sebuah novel dengan tema fallen angel membuatku sedikit tertarik, teringat akan novel yang kutulis sebelumnya, yang juga mengangkat tema yang sama. Aku putuskan mengambil novel ini juga, karena ingin membaca kisah malaikat terbuang versi barat, yang biasanya lebih rinci dan dalam. Walau biasanya akan merujuk pada satu agama tertentu. Tapi pembahasan ini cukup menarik bagiku.

Tetesan air tadi makin deras kudengar. Bukan hanya setetes dua tetes dalam lima detik, tapi seperti kain basah yang diperas dengan kasar, aku cemas jika lantai akan basah dan membahayakan pengunjung lainnya.

"Mba ... Mas? Ac-nya bocor, ya?" jeritku sambil menatap ke sudut toko, di mana kasir berada di sana. Namun tidak ada sahutan. Bahkan tidak ada seorangpun yang duduk di kursi kasir sana. Makin lama aku merasa aneh dengan ruangan ini, aku merasa seorang diri di sini.

Ke mana semua orang?

"Mba? Mas?" Kembali aku memanggil karyawan toko, siapa tau panggilan kali ini dapat mereka dengar. Atau mungkin mereka telah kembali dari makan siang.

"Ke mana sih mereka? Kalau toko di rampok, gimana coba?!" gerutuku kesal. Alhasil aku melupakan novel ketiga yang hendak aku ambil tadi, dan mencari suara kucuran air yang sejak tadi mengganggu telinga. Aku mulai tidak nyaman.

Langkah ku hentikan di depan AC yang kucurigai sebagai sumber bising nya air. Aku mendongak dan menatap bagian bawah, tepatnya belakang rak buku. Namun tidak ada tanda-tanda genangan air atau tetesan air seperti yang kuduga sejak tadi.

"Kok nggak ada airnya? AC nya kan cuma ini aja di sini, suara airnya juga jelas banget aku denger tadi. Masa sih bukan AC ini? Atau aku salah denger, ya?" tanyaku berbicara pada diri sendiri. "Ah, nggak mungkin salah!" aku kembali menepis keraguan dengan keyakinan. Apalagi air tadi masih jelas kudengar sampai sekarang. Aku kembali menajamkan pendengaran, mencari di mana asal muasal kucuran air yang mengusikku sejak tadi. Rasa penasaran juga mendominasi, bahkan aku melupakan buku yang sudah kupilih tadi, walau masih kudekap dalam dada. Satu persatu lorong aku periksa, hanya ada deretan novel yang tersusun rapi. Hingga saat sampai pada lorong yang paling ujung, dekat tangga yang berada di luar toko. Toko buku ini memang berada di sebuah Mall besar, walau ukuran toko ini kecil, aku yakin biaya sewanya tidak murah.

Kakiku berhenti, tepat di depan genangan air. Air di depanku berwarna keruh kekuningan, namun anehnya ada aliran air lagi yang datang. Makin lama warna air itu berubah hitam dan terlihat kotor. Bahkan sedikit bau. Aku jongkok untuk melihat sumber datangnya air tersebut. Rak novel yang tersusun rapi, memiliki jarak satu jengkal di antara tiap rak-nya. Dari celah rak paling bawah, aku melihat sepasang kaki. Tanpa alas kaki. Kaki tersebut terlihat kotor dan pucat. Berdiri di belakang rak, menempel di tembok. Jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku mulai gemetaran, berkali-kali aku menelan Saliva agar mudah untuk berteriak nantinya. Karena aku yakin sepasang kaki yang bersembunyi di belakang rak itu, bukanlah manusia. Anehnya yang seharusnya aku berdiri, atau bahkan lari, justru hanya diam di tempatku. Aku tetap berada pada posisiku semula. Jongkok, dengan pandangan menatap ke sudut tersebut. Tubuhku makin kaku, ketika otakku mulai berpikir untuk lari. Seolah-olah sosok di sana melarangku pergi meninggalkannya.

"Jangan ganggu! Jangan ganggu." Kalimat itu terus ku ucapkan dalam hati, tapi sosok tadi justru mulai bergerak. Kakinya melangkah maju, menembus rak di depannya. Aku yakin, dia hendak mendekat. Entah kenapa mereka selalu berlaku hal sama, di saat aku ingin mereka pergi, mereka justru mendekat. Tubuhku makin menegang, bahkan kedua bola mataku tidak dapat terpejam, sekalipun aku sangat ingin.

Kini sepasang kaki tadi, sudah berdiri di depanku. Tetesan air yang kudengar sejak tadi berasal dari pakaiannya yang basah. Namun, warna pakaian itu terlihat belum pudar. Kepalaku yang tadinya menunduk, dituntun untuk mendongak untuk menatapnya. Itu semua di luar kendaliku. Dengan bibir bergetar aku mulai melihat tubuhnya. Gaun yang ia pakai seperti gaun pernikahan, model yang masih terbilang baru, dengan dominan warna putih dengan bahan brukat. Gaun itu menjuntai panjang, walau tidak sampai menutup seluruh kakinya. Karena ada robekan kasar sebatas lutut. Aku yakin, gaun ini adalah sebuah gaun pengantin yang panjang dan indah.

"Rosi?"

Aku kembali menelan Saliva, saat ia menyebut namaku. Tatapanku mulai beralih ke wajah sosok wanita tersebut. Aku tersentak, karena ternyata aku mengenal siapa dia. "Li ... Lili?!" suaraku terbata-bata. Bayanganku seolah terserat pada kejadian terakhir pertemuan ku dengan Lili. Itu adalah tiga hari lalu, dia datang dengan wajah berbinar membawa undangan pernikahan. Dua minggu lagi dia akan menikah dengan kekasihnya, Ramon. Semua terlihat sempurna, tapi mengapa dia di sini sekarang. Dengan keadaan tanpa raga.

"Ka ... Kamu kenapa?" Sekalipun dia salah satu temanku, tapi tetap saja terlihat menakutkan dengan keadaannya sekarang.

"Ros, tolong. Tolong aku, Ros," kata Lili dengan terisak. Dia menutup wajahnya, menangis.

"Li, apa yang terjadi?" Pertanyaan yang sama kuulangi, ingin segera mendapat penjelasan Lili. Aku penasaran apa yang terjadi padanya, kenapa dia meninggal dengan pakaian seperti ini, dan kondisinya. Mengenaskan. Ada beberapa luka di bagian tubuhnya. Semua tersamarkan karena basah tubuhnya.

Lili hanya menangis, makin menyayat hati. Sementara aku terus menanyakan hal serupa. Tiba-tiba tangisannya berhenti. Aku dapat memundurkan tubuhku walau sedikit. Sikapnya aneh. Dalam beberapa detik saja, wajah Lili berada tepat di depanku. Aku menjerit sambil menutup wajah. Cukup aneh karena tiba-tiba aku mampu bergerak kembali. Walau belum kuat untuk berlari.

"Mba ... Mba ... Kenapa?" tepukan di bahu membuatku melepaskan tangan yang sejak tadi menutupi wajah. Di sampingku sudah ada seorang wanita dengan seragam toko buku ini. Di belakangnya juga ada seorang pria dengan pakaian yang sama. Mereka karyawan toko buku yang minggu lalu kulihat, menatapku dengan ekspresi kebingungan. Aku kembali menoleh ke depan, dan sosok Lili sudah hilang. Tetapi genangan air tersebut masih ada.

"Loh, ada yang bocor nih, Vit!" seru pegawai wanita di samping ku.

"Eh iya. Mba terpeleset, ya? Astaga! Maaf, ya. Biar aku ambil lap pel dulu, Na." Dia bergegas pergi ke meninggalkan kami berdua.

"Mba ... ada yang luka?"

Aku menggeleng. Lalu berdiri dibantu olehnya. "Nggak apa-apa kok. Cuma jatuh aja," elakku berusaha setenang mungkin.

"Maaf sekali lagi ya, Mba. Aneh juga kok tiba-tiba ada air di sini, ya," gumamnya sambil memeriksa sekitar.

"Mungkin ... Ada pipa yang bocor, mba," jelas ku terdengar masuk akal. "Oh ya, saya beli novel ini." Dua buah novel yang masih kudekap, segera kuberikan padanya.

_______

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cermin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Alana's Secret
9.6
Alana, siswi SMA yang yatim piatu sejak kecil, menyimpan rahasia besar berupa kemampuan membaca pikiran dan melihat ingatan orang lain. Hidupnya yang tenang berubah saat ia harus bekerja sama dengan siswa populer bernama Sandri untuk sebuah kompetisi. Lewat kekuatannya, Na menemukan petunjuk mengejutkan bahwa orang tuanya ternyata tewas dibunuh. Bersama Sandri, ia mulai menyelidiki dalang di balik tragedi tersebut demi mengungkap kebenaran yang terkubur.
Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berusia dua abad, mengembara demi membalas dendam atas kematian ibunya sejak perang klan tahun 1822. Meski enggan berurusan dengan manusia, ia justru jatuh hati pada Elena Karenina yang ceroboh. Namun, situasi berubah mencekam saat identitas Elena terungkap sebagai keturunan musuh bebuyutannya, klan Oyster. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam masa lalu memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih ini?
Sampul Novel Dusta dan Kenikmatan
8.5
Seorang gadis lugu terjebak dalam dilema karena merasa belum siap menjadi ibu. Namun, kekasihnya terus melancarkan bujuk rayu manis hingga sang gadis akhirnya menyerahkan kesuciannya untuk pertama kali. Malang tak dapat ditolak, setelah berhasil merenggut kehormatan gadis itu, sang pria justru menghilang tanpa jejak. Kini, ia hanya bisa meratapi nasibnya yang malang dan merasakan kepedihan mendalam akibat pengkhianatan kekasih bajingannya tersebut.
Sampul Novel PEDANG HALILINTAR
8.4
Jalu tumbuh sebagai pejuang aliran hitam di bawah asuhan guru abadi yang terasing di Pulau Tengkorak. Sang guru mengutusnya menaklukkan dunia persilatan, namun perjumpaan dengan pertapa Gunung Pesagi mengubah haluan hidup Jalu menuju jalan kebenaran. Saat sang guru berhasil bebas berkat bantuan iblis, Jalu harus menghadapi sosok yang membesarkannya itu dalam pertempuran besar demi menjaga kedamaian dunia yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Sampul Novel Pernah Sakit, Juga Melupakanmu
8.6
Khawatir dengan kondisi Ricky Mandos yang kritis setelah kecelakaan balapan liar, Amanda Hilman bergegas ke rumah sakit untuk mendonorkan 1000 cc darahnya. Meski diminta pulang oleh keluarganya untuk beristirahat, rasa cemas membuat Amanda memutuskan kembali. Namun, langkahnya terhenti saat melihat perawat membuang seluruh kantong darah yang baru ia donorkan ke tempat sampah. Di saat yang sama, suara tawa mengejek terdengar dari kamar sebelah, menyadarkannya bahwa ketulusannya hanyalah sebuah jebakan kejam.
Sampul Novel Wilhem Village
9.7
Ilya Irise kehilangan Elias, teman sebangkunya yang menghilang secara misterius sepuluh tahun lalu. Saat mulai bekerja di Desa Wilhem, ia terkejut bertemu CEO Vincent Valore yang sangat mirip dengan Elias. Ilya pun berusaha menyelidiki identitas asli sang miliarder. Namun, suasana berubah mencekam ketika seorang rekan kerjanya tewas terbunuh. Penduduk setempat mulai mengaitkan tragedi berdarah ini dengan legenda vampir masa lalu yang kembali menghantui desa.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan