Sampul Novel RAHASIA BAPAK MERTUA

RAHASIA BAPAK MERTUA

8.3 / 10.0
Dalam RAHASIA BAPAK MERTUA, sebuah larangan keras membuka tabir misteri di rumah modern ini. Penyelidikan terhadap gerak-gerik mencurigakan sang mertua mengungkap kebenaran gelap yang tersembunyi. Simak mystery story mencekam ini dalam koleksi horror novel terbaru kami secara gratis.
Ringkasan RAHASIA BAPAK MERTUA
Di rumah ini, ada satu ruangan terlarang yang tak boleh kami masuki sesuai perintah bapak mertua. Namun, kecurigaan muncul saat beliau selalu keluar dari kamar tersebut dalam kondisi berkeringat dan kelelahan yang tidak wajar. Didorong rasa penasaran yang besar, aku memutuskan untuk menyelidiki aktivitas misteriusnya secara diam-diam. Siapa sangka, sebuah rahasia gelap dan mengejutkan yang selama ini tersimpan rapat akhirnya berhasil aku bongkar.
Baca Selengkapnya

RAHASIA BAPAK MERTUA Bab 1

"Gantiin popok Bapak, Han!"

Glek!

Wanita 23 tahun yang kerap disapa Jihan tersebut menaik turunkan liur di kerongkongan. Bagaimana tidak? Mertua berjenis kelamin lelaki, yang bahkan baru dua hari tinggal seatap dengannya sudah berani minta dibuka-bukain.

Jihan menghentikan kegiatan potong memotong sayur di meja dapur. Menoleh ke belakang guna menengok pria paruh abad yang terduduk di atas kursi roda. Perempuan itu sontak bergidik ngerih. Sugiono namanya. Pria berkepala botak dan kumis ubanan tersebut memandangnya mulai dari bawah hingga atas, lalu ke bawah lagi. Tatapannya bak buaya hendak menerkam mangsa.

"Bapak sudah risih? Biar kutelepon Mas Azlin aja ya, Pak!" tukas Jihan mencari solusi lain. Sebagai seorang wanita, apalagi menantu, sungguh tak mungkin bagi Jihan mengganti popok lelaki lanjut usia tersebut, sudah pasti onderdil berharga di sana akan terlihat.

"Lama banget, kalau nunggu Azlin lagi. Belum tentu dia lapang juga. Kalau lagi banyak orderan gimana? Sudahlah, kamu saja, Han! Bapak betul-betul nggak tahan ini." Pria berjenggot itu menggoyang-goyangkan bokong di atas kursi roda.

"Bapak buang air besar di popok?" tanya menantu barunya penuh selidik.

"Ya, enggak, sih. Kencing doang, tetapi sama aja, rasanya popok ini sudah penuh dan berat."

Helaan napas Jihan terdengar banter. Menurutnya lelaki berambut hitam campur putih itu amat tak sabaran. Apa dia tidak malu dengan menantu perempuannya tersebut? Padahal jarak antara toko bunga Azlin-putranya cuma berkisar 30 menit. Masak sebegitu saja tak bisa menahan.

Wanita yang baru 48 jam dinikahi oleh Azlin sang pengusaha bunga plastik buru-buru mengambil telepon. Dengan gesit ia menghubungi sang suami agar segera balik ke rumah. Mertua perempuannya tidak bisa diganggu saat ini, sebab sedang arisan bersama teman-teman sebaya.

"Mas, pulanglah dulu! Bapak kamu minta ganti popok, nih," adu hawa berkerudung sage pada suaminya.

Belum juga tahu bagaimana respon Azlin, Jihan malah dikagetkan oleh sentuhan di kawasan pant*t. Ia menjerit, membuat ponsel genggam terhempas ke lantai.

"Heh! Ngapain pakai hubungi suamimu segala? Kan, ada kamu di sini. Kenapa bukan kamu aja sih yang bukain popok bapak?"

Semakin terkejutlah ia, tatkala yang menyenggol area kewanitaannya tadi adalah si bapak mertua. Wajah Jihan memerah. Giginya bergemelatuk.

"Pak! Jaga kesopanan, ya!" tutur Jihan sedikit kasar.

"Eh, kenapa bapakku dimarahin, Han?"

Tanpa diduga-duga, suami Jihan-Azlin sudah nongol saja di hadapan. Kakinya mendarat di ambang pintu dapur, bertepatan dengan sentakan Jihan terhadap bapak mertuanya.

Mulut Jihan ternganga. Sedikit gugup, sebab yang ditangkap Azlin adalah potongan kesalahan Jihan saja.

"Loh Mas? Kamu kok sudah sampai sini aja?" tanya wanita itu kebingungan.

"Pas kamu telepon, kebetulan aku memang sudah di depan pintu. Sengaja pulang cepat buat istirahat. Kamu Kenapa marahin bapak begitu?" Ekspresi Azlin seperti tidak senang. Meskipun menyayangi istrinya, akan tetapi ia bisa marah, kalau orang yang telah membesarkannya disenggol.

"Ini, Mas, bapak tadi-"

"Maafkan bapak, Zlin. Bapak sudah mengganggu istrimu memasak. Tadi bapak cuma minta telepon kamu supaya cepat pulang untuk mengganti popok, tetapi Jihan malah marah-marah."

Apa yang terjadi dan apa yang disampaikan oleh Sugiono si kepala botak betul-betul berbanding terbalik. Jihan terperangah. Sebentar saja tinggal di sana sudah bisa menebak bagaimana perangai bapak mertuanya tersebut. Sosok yang katanya kecelakaan dua tahun lalu, sampai membuatnya terduduk di kursi roda hingga sekarang, malah dengan senang hati membalikkan fakta, seakan-akan Jihanlah yang salah di sini.

Pancaran kekecewaan tergambar di muka Azlin. Dia menatap Jihan sambil menahan sesuatu di dada.

"Jangan pernah marahi orang tuaku, Han! Apalagi kita baru menikah dan kita menumpang hidup pula dengan mereka. Kamu bisa ngomong baik-baik sama bapak dan lain waktu."

"Mas, bukan begitu. Sebenarnya tadi-"

"Ah, nggak apa-apa. Bapak maklum. Mungkin Jihan perlu beradaptasi dengan keluarga kita lagi, terlebih dengan keadaan bapak yang cacat begini. Sudahlah, bapak ke kamar saja." Pria berkaos biru liris hitam tersebut menekan tombol pada kursi roda, sehingga benda itu dapat berjalan dengan sendirinya.

Azlin berdecak sebal, lalu melaju mengikuti langkah kursi roda bapaknya.

Jihan terpukul akan kebenaran ini. Ternyata perangai Sugiono saat Jihan masih proses lamaran dengan Azlin sangatlah berbeda, setelah mereka tinggal di bawah naungan atap yang sama. Jihan tak punya kuasa untuk mengatur suaminya agar mereka tinggal mandiri saja, meskipun sebenarnya Azlin mampu. Alasan orang tua tidak ada yang menjaga selalu suaminya kedepankan.

Jihan mengendus napas berat. Rumah yang megah ini akan terasa bak neraka, apabila didihidupi lelaki gatel dan tukang fitnah begitu.

***

Lelaki berkepala licin sudah stay di meja makan. Yang membantu untuk naik ke sana adalah putranya yang kini entah berada di mana.

Jihan mempersiapkan makan malam seorang diri. Satu per satu mangkuk berisi lauk ditata rapi.

"Kamu pinter juga masak ya, Han!" Vokal bapak mertua terdengar, memuji Jihan penuh tatapan kagum.

"Bapak sudah rasa dua hari ini. Semuanya pas! Memang cocok kamu dijadikan istri," tukasnya lagi.

Jihan bahkan tak berani melirik pasca kejadian tadi siang. Sekadar mengangguk agar disangka tidak angkuh saja.

Begitu meletakkan mangkuk terakhir, dengan gesit lengan Sugiono menyambar jemari halus milik menantunya. "Hati-hati, Han! Awas pecah. Kamu kekencengan narohnya."

Wushhh...

Berdebar rasanya dada Jihan. Darahnya berdesir deras. Jihan gegas menarik tangan dari atas meja. Ini bukan sentuhan biasa. Pria lanjut usia itu dengan enteng meletakkan telapaknya di atas punggung tangan Jihan untuk dielus-elus. Apa namanya kalau memang bukan sengaja memegang? Kalau sekadar menyenggol, maka bukan seperti itu.

"Pak! Jaga sikap, ya!" peringat Jihan geram. Ingin menyiram gulai ayam itu rasanya ke wajah Sugiono.

Lelaki yang katanya cacat itu hanya mesem-mesem di tempat. Jihan tak kuasa dengan semua ini. Bersumpah, kalau dia akan melapor pada sang suami.

"Mas! Bu! Ayo, makan dulu. Sudah selesai, nih."

Merasa disambar angin segar, tatkala suami serta mertua perempuan turut berkumpul di sana. Dengan begitu Sugiono tak akan bisa merecokinya lagi.

Mereka makan seperti biasa. Melakukan percakapan umum. Jihan yang mulai memahami sisi gelap bapak mertuanya spontan menoleh ke arah lelaki tersebut. Dia tampak anteng dan lugu. Apa yang ia lakukan terhadap Jihan tadi, tak lagi diperbuat.

"Jangan, Bu! Biar aku aja yang cuci piring. Ibu masuk saja ke kamar bawa bapak. Istirahat, soalnya udah malem." Jihan menepis tangan ibu mertua yang hendak merapikan piring kotor dan membawanya ke wastafel.

Sosok berambut sanggul itu mengangguk disertai satu simpul lebar. Menuruti perkataan si menanti dengan membawa suaminya merujuk ke bilik.

Setelah semua usai, Jihan bermaksud hendak ke kamar. Namun, langkahnya terhenti, tatkala melintasi sebuah bilik yang pintunya tak pernah dibuka selama ia berada di sana.

Perempuan berkerudung orange itu sengaja menarik handle pintu. Nahas! Seseorang malah memergokinya.

"Jihan! Jangan dibuka!" seru Azlin dari haluan lain.

Hawa bermata lentik menoleh. Dahinya berkedut mendengar larangan tersebut. Dengan tangan yang masih tergantung di knock pintu, ia membalas, "Kenapa? Memangnya ruangan apa ini, Mas? Apa sebuah bilik rahasia?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi RAHASIA BAPAK MERTUA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Tasya memberanikan diri melangkahkan kaki ke kantor pusat Adityaswara dengan harapan besar. Sambil menahan debar di dada, ia segera menghampiri meja resepsionis untuk mencari tahu ketersediaan lowongan pekerjaan di sana. Ia sangat berharap keberuntungan berpihak padanya sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan bergengsi tersebut. Langkah awal ini menjadi penentu masa depannya dalam mengejar karir di bawah pimpinan CEO perusahaan yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Hasrat Liar Polwan
7.9
Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis yang sangat wajar dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Terlepas dari jabatan atau profesi yang ditekuni dalam kehidupan sosial, kepuasan batin merupakan aspek yang tidak memandang status, kasta, maupun kekayaan seseorang. Kisah ini menyoroti sisi kemanusiaan yang paling mendasar, di mana hasrat dan nafsu tetap hadir di balik seragam, membuktikan bahwa kebutuhan batiniah tidak dapat dibatasi oleh hierarki duniawi.
Sampul Novel Penyesalan Ibu Mertua
9.5
Febri memberi Yusuf pilihan sulit antara dirinya atau sang ibu. Kehadiran Ibu Sella menjadi ancaman besar yang menghancurkan harmoni rumah tangga mereka, bahkan sampai memicu perceraian. Namun, takdir membawa mereka kembali bersama. Akankah Ibu Sella akhirnya menyadari beban tanggung jawab Yusuf sebagai suami? Ikuti perjuangan Febri menghadapi realitas pahit menjadi menantu di rumah keluarga suami dalam kisah penuh konflik emosional ini.
Sampul Novel PERNIKAHAN YANG MANIS DAN GILA
8.6
Louisa Alexander, CEO sekaligus arsitek ternama, terjebak dalam muslihat rekan bisnisnya. Saat berusaha kabur, ia justru bertemu Devian Salvatore, sepupu yang sangat ia benci. Meski sempat bersitegang, Louisa terpaksa meminta bantuan hingga situasi berakhir di ranjang hotel. Naas, Louis sang ayah memergoki mereka dan menuntut pernikahan segera. Devian kini dilanda ketakutan luar biasa, membayangkan reaksi mematikan dari kembarannya, Demian, atas skandal gila ini.
Sampul Novel Petaka Di Balik Gairah
8.7
Setelah resmi bercerai dari suaminya, seorang wanita yang didera kesedihan mendalam memutuskan untuk mencoba layanan pijat dari seorang terapis pria demi menenangkan diri. Tanpa diduga, terapis tersebut rupanya sangat ahli dalam memikat dan menggoda wanita. Sentuhan dan pesonanya yang memabukkan segera membawa sang wanita hanyut sepenuhnya ke dalam sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hingga membuat seluruh tubuhnya terasa melayang dalam kepuasan tak terduga.
Sampul Novel Purba Mahkota
8.2
Tujuh putri bersaudara yang dulu hidup rukun kini terjebak dalam konflik berdarah demi memperebutkan takhta Putri Purba. Kekacauan memuncak saat mahkota justru jatuh ke tangan Purbasari, putri yang tidak pernah menginginkan kekuasaan. Purbararang, sang kakak tertua yang ambisius, harus menelan kepahitan di balik jeruji besi. Di tengah kekalahan yang menyakitkan, ia meratapi kasih sayangnya yang tulus kepada adiknya sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan