Sampul Novel KUNCI LATHI

KUNCI LATHI

8.7 / 10.0
Dalam KUNCI LATHI, Azalia terjebak amnesia misterius setelah terbangun dari mimpi buruk yang terasa nyata. Dia harus mengungkap rahasia kelam di balik ingatannya yang hilang demi bertahan hidup. Temukan ketegangan dalam mystery story dan horror novel mencekam ini di platform web novel kami.
Ringkasan KUNCI LATHI
Azalia mendadak kehilangan seluruh ingatannya tanpa jejak. Satu-satunya hal yang tersisa di benaknya hanyalah potongan mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Saat terbangun dalam kondisi linglung, dia menyadari bahwa kehidupannya telah berubah menjadi misteri yang mencekam. Kini, Aza harus berjuang mencari jawaban di tengah kegelapan yang mengepungnya. Mampukah ia melepaskan diri dari teror mimpi yang terus menghantui dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang?
Baca Selengkapnya

KUNCI LATHI Bab 1

Jantung Aza berdebar kencang. Suara misterius itu membangunkannya lagi, berarti pasti akan ada yang meninggal dan ... dan pasti dia akan mengalami serangan lagi. Dia harus segera bangun dan pergi dari tempat itu, dia tidak ingin mendapat serangan lagi seperti biasanya.

Aza membuka pintu kamarnya perlahan. Kegelapan menyambutnya. Aza memicingkan matanya untuk beradaptasi dengan kegelapan itu dan tiba-tiba angin dingin menyambar wajah Azalia. Aza menjerit dan buru-buru masuk lagi ke dalam kamarnya. Aza merasakan wajahnya kebas setelah diterpa angin dingin tadi.

Oh, terjadi lagi! Kenapa setiap Aza terbangun dari tidurnya karena ada suara aneh itu, pasti akan ada angin yang mengenai wajahnya dan ... dan rasa kantuk itu datang lagi!

"Za? Aza? Bangun, Ndhuk!"

Aza membuka matanya. Dia tersenyum ternyata semua hanya mimpi. Aza berhamdallah pelan.

"Aza!" Aza tersenyum, nada suaranya ibunya sudah tinggi, berarti sebentar lagi ibunya akan memasuki kamarnya dan memarahinya. Aza segera bangun dan ketika ibunya memasuki kamarnya Aza sudah siap.

"Za!"

Aza tersenyum, dia sudah duduk di tepi ranjangnya.

"Ya, bu," jawab Aza sambil tersenyum manis.

"Oh," kata sang ibu dan kemudian tersenyum lega, "bangun, ya, Ndhuk. Sudah siang. Ikut ke pasar, ya?"

Aza mengangguk.

"Mandi dulu, sarapan dan kita berangkat dengan mobilnya Mbah Wondo," kata sang ibu dengan wajah berbinar. Aza membeliak kaget. Naik mobil?

"Naik mobil, Bu?"

"Iya. Makanya ayo, cepat! Jangan sampai ketinggalan, ya?" Aza mengangguk dengan penuh semangat dan segera bergegas ke kamar mandi.

****

Aza tersenyum tiada henti ketika mereka sampai di pasar besar Wanarata. Pasar terbesar yang ada di desa Wanarata, sebuah desa kecil di daerah Karang Legi. Aza riang tak terkira ketika ibunya membawanya ke sebuah toko baju dan meminta Aza memilih baju yang paling disukainya. Aza memilih baju warna kuning dan berenda-renda. Aza tersenyum tiada henti, membayangkan betapa cantik dirinya ketika memakai baju itu nanti.

Setelah itu ibu Aza mengajak Aza berkeliling pasar. Aza mengamati pasar itu dengan seksama. Aza takjub melihat begitu banyak penjual yang ada di pasar itu. Terutama Aza terpesona dengan penjual daging yang didatangi ibunya. Penjual itu memakai baju berwarna serba hitam dan diam memandang ibunya tajam.

"Sikile papat, ya, (Kakinya empat, ya?)" kata sang ibu. Penjual itu mengangguk.

"Endhase loro, (Kepalanya dua,)" kata sang ibu, penjual itu mengangguk lagi. Dia nampak mencatat.

"Sing paling apik, lo, Pak. Ojo lali mripate dicopot, sik, ya? (Yang paling bagus, lo, Pak. Jangan lupa matanya dilepas, dulu, ya?)" Penjual itu mengangguk lagi.

Aneh! Penjual itu tidak berbicara sama sekali atau bertanya ibu Aza membeli daging apa. Aza membayangkan ibunya membeli daging ayam dan itu membuat Aza sedikit kecewa, karena hanya akan ada kaki ayam atau ceker ayam empat buah dan kepala ayam dua buah. Sedikit sekali!

Setelah ibu dan sang penjual daging itu berbincang sebentar, sang penjual pun masuk ke dalam ruangan di dalam kiosnya dan keluar sambil membawa kaki kambing yang besar. Aza membeliak melihat daging sebesar itu dan tersenyum cerah karena sepertinya ibunya membeli empat buah kaki kambing yang besar itu.

Sang penjual meletakkan kaki kambing itu di depan ibu Aza. Ibu Aza tertawa melihat daging sebesar itu. Dia memukul-mukul daging itu dengan penuh semangat.

"Gemuk, ya?" tanya ibu Aza dengan pandangan geli. Wajahnya nampak bersinar. Penjual itu mengangguk sambil menggeram pendek.

"Lima ribu, ya?" tanya ibu Aza. Penjual itu nampak berpikir, tetapi kemudian mengangguk. Mereka saling memukul daging itu bergantian dan kemudian tertawa bersama dan saling mengangguk.

Sang penjual mengambil secuil kertas kecil dan menulis di kertas itu.

"Kaki empat, kepala dua, lima ribu," gumam penjual itu dan memberikan kertas itu pada ibu Aza, kemudian mereka berdua bersalaman dan ibu Aza pergi begitu saja dari kios daging itu.

Aza mengikuti langkah ibunya yang menjadi sangat cepat, seakan sang ibu lupa pada Aza. Aza agak panik mengejar ibunya melewati lorong-lorong pasar besar Wanarata yang sangat membingungkan dan tiba-tiba terlihat gelap dan menyeramkan.

Aza hampir menangis karena ibunya sudah tidak terlihat lagi. Dia kebingungan dan kelelahan mengejar ibunya, sampai akhirnya Aza terjatuh dan menangis tersedu memanggil-manggil ibunya.

"Cup ... cup ... jangan menangis, Ndhuk. Kakimu sakit? Sini sama budhe." Sebuah tangan putih mulus terulur pada Aza. Aza merinding melihat tangan yang nampak begitu pucat itu. Tangisnya terhenti seketika. Dia mendongak dan melihat seorang wanita cantik yang juga berkulit pucat di depannya.

Aza berusaha beradaptasi dengan pasar yang temaram itu. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari bahwa di belakang wanita cantik berkulit pucat itu ada kerlip cahaya yang menurut Aza sangat menarik. Aza bangkit dan tanpa memedulikan wanita itu, Aza berjalan mendekati cahaya kerlap kerlip menarik hati.

"Kamu suka dengan lampu itu, Ndhuk?" tanya sang wanita. Aza diam saja. Dia tetap mendekati sumber cahaya itu, tetapi sepertinya ada yang aneh. Dari kejauhan lampu itu nampak lucu dan sangat menarik, tetapi ketika Aza hampir mendekati lampu itu, melihat ....

"Aaaaahhhh!"

****

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi KUNCI LATHI

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bunga yang Terinjak
9.7
Keadilan hancur ketika pelaku pemerkosaan putriku, seorang anak dari keluarga kaya raya, dibebaskan begitu saja dari jeratan hukum. Bukannya menyesal, dia justru menghinaku dengan melemparkan segepok uang tepat ke wajahku, menegaskan kesombongannya bahwa uang mampu membeli segalanya di dunia ini. Di tengah luka mendalam dan penghinaan yang tak tertahankan itu, sebuah hasrat gelap membara di dalam diriku. Detik itu juga, aku hanya menginginkan satu hal: menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri.
Sampul Novel Janda Lugu
8.4
Terlilit hutang akibat ditipu, Arka melarikan diri ke kampung halaman untuk menghindari kejaran rentenir. Di sana, ibunya justru menjodohkannya dengan Nilam, janda kaya raya. Arka pun berniat menikahi Nilam demi menguras hartanya. Namun, ketulusan Nilam perlahan meluluhkan hati Arka hingga ia menyesali niat busuknya. Saat rahasia terbongkar, Nilam yang kecewa justru meminta pernikahan formalitas belaka. Mengapa sosok yang semula lugu itu berubah drastis?
Sampul Novel KUTEBUS TALAKKU
9.7
Indah bertekad menebus talaknya dengan uang, sementara Raqeef berambisi memenangkan kembali cintanya. Di sisi lain, Hairi murka setelah terjebak skandal kamera tersembunyi di sebuah klub malam. Drama keluarga kian rumit saat Lovena dengan tegas menolak mengakui kehadiran saudara baru dan mengancam mengusirnya. Di tengah konflik ini, Teddy menuntut agar sosok misterius tersebut segera dihadirkan dalam pertemuan keluarga besar untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Pembalasan Dendam yang Munafik
9.3
Menjadi putri orang terkaya di Kota Silo adalah impian semua orang, tetapi bagi gadis yang tidak bisa merasakan sakit ini, itu adalah awal dari neraka baru. Setelah diselamatkan dari penyiksaan kejam sang istri miliarder demi publisitas, ia menyadari bahwa status barunya menuntut bayaran yang fatal. Keluarga munafik itu menginginkan kematiannya sebagai bentuk balas budi. Dalam novel Pembalasan Dendam yang Munafik, ia memilih untuk tidak menyerah dan bersiap membalikkan takdir demi menghabisi mereka.
Sampul Novel Pengantin Yang Terjebak Dalam Dendam
9.4
Sephia terjerat dalam pernikahan paksa dengan pewaris kejam, Elandro Varela. Semua berawal saat Sephia harus bertanggung jawab merawat ibu Elandro pasca kecelakaan tragis. Namun, Elandro justru memanfaatkan ikatan ini untuk melampiaskan dendam pribadinya. Bagi Sephia, janji suci tersebut hanyalah hukuman dan penjara emas yang penuh kebencian. Di tengah tekanan perang dingin ini, mampukah Sephia bertahan, atau ia akan hancur oleh amarah Elandro yang tak berujung?
Sampul Novel Sweet Lollipops
9.1
Chika Nada Juwita adalah gadis ceria bertubuh gempal yang menaruh hati pada Kevin Devano. Kevin sendiri merupakan murid pindahan yang dikenal sangat dingin, angkuh, sekaligus perfeksionis dalam memilih pasangan. Walau Kevin memiliki standar tinggi yang sulit digapai, Chika tidak lantas menyerah begitu saja. Ia terus berjuang dengan penuh semangat demi meluluhkan hati pria itu. Akankah ketulusan Chika mampu meruntuhkan benteng pertahanan Kevin yang begitu kokoh?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan