
Warisan Rahasia Ayahku
Bab 3
Suara hujan deras mengguyur atap rumah sakit malam itu, seperti hendak menenggelamkan semua kegelisahan yang Ravina simpan. Ia masih duduk di kursi ruang residen, memandangi layar komputer yang sudah mati sejak satu jam lalu. Jari-jarinya kaku di atas meja, matanya kosong menatap pantulan wajahnya di monitor hitam itu.
Hari ini adalah hari terpanjang dalam hidupnya.
Sejak pagi, berita tentang ayahnya muncul lagi di televisi: "Eks Menteri Kesehatan, Haryo Pratama, kembali diperiksa atas dugaan aliran dana proyek alat kesehatan." Nama itu disebut berulang-ulang, dan setiap kali terdengar, dada Ravina seperti diremas.
Bahkan pasien dan perawat di bangsal tidak bisa menahan diri untuk membicarakannya.
"Kasihan ya, anaknya kerja di sini," kata salah satu perawat yang tak sadar Ravina berdiri di belakangnya.
"Kau pikir kasihan? Aku sih malu kalau punya bapak kayak gitu," jawab yang lain, setengah berbisik.
Ravina tersenyum miris. Ia sudah kebal dengan kata-kata seperti itu, tapi malam ini rasanya berbeda. Mungkin karena ia sudah terlalu lelah pura-pura kuat.
Pintu ruangannya terbuka tiba-tiba.
Darian muncul, masih dengan jas putih dan kemeja abu yang sudah sedikit kusut. Rambutnya basah karena hujan. Di tangan kirinya ada map berisi laporan operasi sore tadi.
"Dokter Ravina," suaranya dalam, tegas seperti biasa. "Anda belum pulang?"
Ravina menoleh malas. "Tidak, Pak Direktur. Saya sedang menyelesaikan catatan medis pasien bedah thoraks."
Darian mendekat, menaruh map di meja. "Saya sudah periksa catatan itu. Sudah cukup. Pulanglah. Besok Anda ada shift pagi."
"Ada banyak yang belum saya perbaiki."
"Kalau Anda jatuh pingsan di tengah operasi besok pagi, itu justru menambah masalah."
Nada suaranya tidak marah, tapi tajam. Ravina menunduk, menahan desakan emosi yang tiba-tiba naik.
"Masalah saya sudah terlalu banyak, Pak," katanya pelan. "Satu lagi juga tidak akan mengubah apa pun."
Darian diam. Pandangannya menusuk. "Anda masih membawa beban itu ke sini?"
"Kalau Bapak bicara soal kasus ayah saya, saya mohon jangan mulai lagi. Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk dihakimi."
"Siapa yang menghakimi?"
"Semua orang," Ravina balas cepat. "Dan Anda salah satunya."
Hening. Suara hujan semakin keras di luar. Darian menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca.
"Kalau saya ingin menghakimi Anda, saya sudah memecat Anda sejak minggu pertama saya masuk ke sini," katanya datar.
Ravina menelan ludah. Ia tahu pria itu tidak sedang menggertak. Darian bisa saja menyingkirkannya kapan pun.
"Tapi saya tidak melakukan itu," lanjut Darian. "Karena saya tahu Anda dokter yang baik."
Ravina menatapnya, antara bingung dan curiga. "Kenapa Anda bicara seolah tahu siapa saya?"
"Karena saya pernah di posisi Anda."
Ucapan itu membuat Ravina tertegun. "Apa maksud Anda?"
Namun Darian hanya menghela napas, memungut mapnya kembali, lalu berjalan ke arah pintu. "Tidak semua orang di dunia ini sebersih yang terlihat, Dokter Ravina. Termasuk saya."
Pintu tertutup.
Ravina masih terpaku. Ada sesuatu dalam nada suaranya - semacam kelelahan yang sama seperti miliknya. Tapi pria itu terlalu pandai menutupi perasaan.
Keesokan paginya, Ravina datang lebih awal. Matanya sembab karena tidak tidur, tapi ia berusaha terlihat normal.
Di lobi rumah sakit, sekelompok wartawan sudah menunggu. Kamera dan mikrofon diarahkan pada siapa pun yang mengenakan jas dokter.
"Dokter Ravina! Apakah benar Anda anak dari Haryo Pratama?"
"Bagaimana komentar Anda soal kasus ayah Anda?"
"Apakah benar Anda juga terlibat dalam proyek yang sama?"
Ravina langsung memucat. Ia ingin lari, tapi langkah-langkah cepat seseorang datang dari belakang.
Darian.
Tanpa bicara, pria itu menarik pergelangan tangannya, membawa Ravina menembus kerumunan wartawan dengan tatapan tajam.
"Maaf, area ini untuk staf medis saja. Kalian tidak punya izin!" suaranya menggema keras. Para wartawan sempat berdebat, tapi Darian hanya menatap dingin dan berkata pelan, "Saya akan pastikan izin liputan kalian dicabut."
Mereka langsung mundur.
Begitu mereka sampai di lift, Ravina menarik tangannya.
"Saya bisa sendiri!" katanya dengan nada tersinggung.
Darian tetap diam, menatap layar lift tanpa ekspresi. "Anda seharusnya melapor pada pihak keamanan agar wartawan itu dilarang masuk."
"Saya tidak ingin memperkeruh keadaan."
"Anda justru memperkeruh keadaan dengan diam."
"Kenapa Anda peduli?" Ravina menatapnya dengan mata berair. "Kenapa Anda tidak ikut saja dengan orang-orang yang menatap saya seolah saya kriminal?"
Lift terbuka. Darian melangkah keluar, lalu menoleh sebentar. "Karena saya tahu, tidak semua anak bisa memilih dosa orang tuanya."
Ravina membeku. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari apa pun.
Ia menatap punggung pria itu yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus membenci atau berterima kasih padanya.
Jam makan siang.
Cafetaria rumah sakit penuh. Ravina membawa nampan, mencari tempat duduk kosong. Namun bisik-bisik kembali terdengar.
"Itu dia, anak mantan menteri."
"Katanya ayahnya korupsi ratusan miliar, ya?"
"Makanya dia bisa jadi dokter secepat itu, mungkin dibeli juga."
Ravina menggigit bibir. Ia meletakkan makanannya di meja paling pojok, mencoba menahan air mata.
Seseorang duduk di depannya - tanpa permisi.
Darian. Lagi.
"Boleh saya duduk?" tanyanya datar, padahal sudah duduk.
Ravina mengangkat alis. "Kalau saya bilang tidak?"
"Sudah terlanjur."
Ia menatap piring Ravina yang hampir tak disentuh. "Anda bahkan tidak makan."
"Saya tidak lapar."
"Tidak bisa. Tubuh Anda tidak boleh lemah."
Ravina mendengus. "Anda ini direktur atau pengasuh pribadi saya?"
"Direktur yang tidak ingin kehilangan salah satu dokternya karena kelelahan."
Ravina menatapnya, antara jengkel dan terharu. "Anda benar-benar tidak punya ekspresi lain ya selain dingin?"
"Punya," Darian berkata sambil menatap matanya langsung. "Tapi Anda tidak akan siap melihatnya."
Ravina mendadak kehilangan kata.
Ada sesuatu di sorot mata pria itu - campuran peringatan dan luka. Ia menunduk, jantungnya berdetak cepat tanpa alasan.
Malam itu, Ravina pulang larut. Hujan turun lagi, kali ini lebih deras. Jalanan sepi, hanya suara klakson sesekali.
Begitu sampai di parkiran apartemen, ia melihat sosok lelaki berdiri di bawah atap kecil.
Darian.
Ia menatap Ravina sejenak sebelum berkata, "Saya mengantar berkas hasil operasi yang Anda minta tanda tangani tadi siang."
"Kenapa tidak lewat email saja?"
"Saya ingin memastikan Anda sampai rumah dengan selamat."
Ravina terdiam. Ia berusaha menutupi rasa bergetar di dada.
"Kenapa Anda terus saja melakukan hal-hal seperti ini?"
"Karena Anda butuh seseorang untuk memastikan Anda tidak runtuh."
Ravina tertawa pahit. "Saya tidak butuh dikasihani."
"Kalau saya bilang saya tidak kasihan?"
"Lalu apa?"
"Entahlah," katanya pelan. "Mungkin... saya hanya ingin memastikan seseorang tidak tenggelam seperti saya dulu."
Ravina menatapnya lama, bingung, sebelum akhirnya mengambil berkas itu dari tangannya.
"Apa maksud Anda dengan 'seperti saya dulu'?"
Darian menatap langit yang gelap. "Saya juga pernah hidup dengan nama besar. Sampai semuanya direnggut dalam semalam."
Ravina terpaku. "Keluarga Anda?"
"Orang tua saya... dipenjara karena kasus suap bertahun-tahun lalu. Saya tumbuh dengan kebencian terhadap nama saya sendiri. Jadi saya tahu persis apa yang Anda rasakan."
Ravina tak tahu harus berkata apa.
Untuk pertama kalinya, topeng dingin pria itu retak. Di balik jabatan dan ketegasannya, ternyata ada masa lalu yang serupa. Luka yang sama.
"Kenapa Anda memberitahu saya ini?"
"Karena Anda satu-satunya orang yang mungkin bisa mengerti," jawabnya pelan.
Hening. Hanya suara hujan di antara mereka.
Lalu Ravina membuka pintu apartemennya, berbalik menatap pria itu. "Terima kasih, Pak Direktur."
Darian tersenyum samar - senyum pertamanya yang Ravina lihat.
"Darian saja."
"Baiklah... Darian."
Pintu menutup.
Tapi bahkan setelah itu, Ravina masih berdiri di balik pintu, mendengarkan langkah kaki pria itu yang perlahan menjauh.
Entah kenapa, dadanya terasa hangat. Tapi di saat yang sama, ada rasa takut yang merayap.
Sesuatu sedang berubah. Dan Ravina tahu, ia tidak siap untuk perubahan itu.
Keesokan paginya, Ravina datang ke rumah sakit dengan perasaan aneh. Ia merasa lebih tenang, tapi sekaligus gelisah.
Baru saja ia mengganti jas dokter, perawat Livia datang tergesa-gesa.
"Dokter Ravina! Ada pasien gawat di ruang IGD, dan Pak Direktur yang memimpin!"
Ravina segera berlari.
Begitu masuk, ia melihat Darian sudah mengenakan sarung tangan bedah, berdiri di samping meja operasi darurat.
"Dokter Ravina, bantu saya. Kita harus lakukan laparotomi segera," katanya cepat.
Tanpa pikir panjang, Ravina bergabung. Tangan mereka bekerja cepat, gerakan mereka sinkron seolah sudah lama berpasangan di ruang operasi.
Suasana tegang. Detak monitor jantung naik turun.
"Clamp!"
"Sudah!"
"Pressure dropping, 80 over 40!"
"Tambahkan saline, cepat!"
Darian menatap Ravina, mata mereka bertemu di balik masker. Ada bahasa tak terucap di sana - saling percaya.
Beberapa menit kemudian, suara monitor stabil kembali.
"Pressure normal. Pasien stabil," ujar Ravina lega.
Darian menarik napas panjang, menatap timnya. "Kerja bagus, semua."
Begitu operasi selesai, mereka berdua keluar ke koridor. Hujan di luar sudah berhenti.
Ravina menatap tangannya yang masih bergetar. "Saya hampir lupa rasanya berhasil menyelamatkan nyawa seseorang," katanya lirih.
Darian menatapnya. "Itu karena Anda terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri."
Ravina tersenyum tipis. "Mungkin benar."
Darian mendekat sedikit. "Mulai sekarang, jangan biarkan masa lalu mengendalikan Anda. Biarkan saya yang urus sisi buruk dunia ini. Anda hanya fokus menyembuhkan orang."
Ravina menatapnya lama. Tatapan itu bukan lagi tatapan dokter pada direktur, tapi dua jiwa yang mulai saling mengenali luka masing-masing.
Dan di saat itulah, pintu ruang operasi terbuka lagi. Seorang staf datang tergopoh-gopoh.
"Pak Direktur! Media sudah menunggu di lobi. Mereka membawa bukti baru soal kasus lama keluarga Anda!"
Waktu seolah berhenti.
Ravina menatap Darian, terkejut. "Keluarga... Anda?"
Darian memejamkan mata sebentar, wajahnya menegang.
"Sepertinya... masa lalu saya juga belum selesai, Dokter Ravina."
Anda Mungkin Juga Suka





