Sampul Novel Kehormatan Yang ternoda

Kehormatan Yang ternoda

9.0 / 10.0
Dalam novel romance Kehormatan Yang ternoda, Salmah harus berjuang mempertahankan anaknya dari Jhondra, seorang billionaire yang ingin merebut hak asuh. Demi sang putri, ia terpaksa menjadi istri kedua di tengah konflik modern novel ini. Baca kisah selengkapnya di web novel ini.
Ringkasan Kehormatan Yang ternoda
Salmah, gadis desa yang hidup melarat, harus membesarkan Ayuna sendirian setelah menjadi korban pemerkosaan. Tiga tahun berlalu, Jhondra Mahardika, sang pelaku, muncul kembali untuk merebut putrinya. Hal ini terjadi karena istrinya, Dinda Kirana, tak lagi bisa hamil usai operasi pengangkatan rahim. Demi melindungi hak asuh Ayuna, Salmah terpaksa bersedia menjadi istri kedua Jhondra. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan batin yang sangat menyiksa dirinya.
Baca Selengkapnya

Kehormatan Yang ternoda Bab 1

"Assalamu'alaikum, Nek."

Salmah mengetuk daun pintu mewah di hadapannya. Hingga beberapa kali barulah muncul si pemilik rumah yang dipanggil Salmah dengan sebutan Nenek.

"Wa'alaikum salam. Siapa?" daun pintu pun dibuka.

Wajah wanita tua itu terlihat tidak senang dengan kehadiran Salmah. Tanpa basa-basi ia langsung ingin menutup kembali pintu. Akan tetapi Salmah berusaha menahannya agar tetap pada kondisi terbuka.

"Tunggu, Nek! aku mohon!" wajah Salmah mengiba pada wanita tua itu.

"Apa lagi? pasti ingin menyusahkan lagi," ketus Wanita tua itu yang tidak lain adalah Nenek kandung Salmah.

"Ibu sedang sakit Nek, tolong pinjam uang untuk bawa ibu berobat!"

"Sudah Kuduga," sinis tatapan sang Nenek. Lalu ia melanjutkan ucapannya, "Tidak ada yang namanya pinjaman! Itu resikonya kalau durhaka kepada orang tua. Dibilang jangan menikah dengan Ayahmu itu.

Hidupnya miskin melarat, mana bisa membahagiakan Ibumu. Sekarang jalani saja! Toh itu pilihannya sendiri. Sudah sana kamu pulang!"

Pintu ditutup dengan keras hingga membuat Salmah terkejut.

Ini bukan yang pertama kali, namun tidak membuat Salmah jera. Kepada siapa lagi ia akan meminta bantuan kalau tidak kepada keluarga sendiri. Namun yang dianggap keluarga, tidak pernah sedikitpun peduli.

Begitu juga dengan Bibi dan Pamannya yang lain. Mereka semua sama saja, selalu menghina Ayah dan Ibu Salmah.

Menurut mereka, Ibu Salmah tidak ada lagi hubungan keluarga antara mereka semenjak Ibu Salmah memilih menikahi Ayah Salmah.

Menurut mereka, Ayah Salmah tidak sederajat dengan mereka.

Sepanjang perjalanan menuju pulang, uraian air mata berlinang di pipi Salmah.

Ia tidak habis pikir mengapa ada keluarga seperti itu?

Mungkin bisa dibenarkan semua sikap mereka karena rasa kecewa terhadap anak mereka. Namun adakah hati orang tua sekeras itu, membiarkan anaknya sendiri dalam kesusahan?

Salmah berdiri lesu di ambang pintu rumahnya yang reot. Terlihat Sang Ayah sedang menuntun ibunya keluar dari rumah reot mereka itu.

"Salmah, dari mana saja kamu nak?" ujar Pak Zainal melihat pada wajah putri bungsunya.

"Dari rumah Nenek Ayah."

Winda langsung menegakkan kepalanya. Menatap Salmah penuh marah.

"Apa yang kau harapkan di rumah itu, Salmah? sudah berapa kali Ibu melarangmu? lupakan mereka! anggap kita tidak punya keluarga di sini."

"Tapi, Bu. Ibu sedang membutuhkan biaya untuk berobat."

"Salmah, apa kamu tidak mencintai Ayahmu? apa kamu akan melukai hatinya dan pergi merendahkan harga dirinya di depan keluarga yang tidak menyukai Ayahmu ini?"

Air mata Winda berlinang. Ia terkulai lemah dalam dekapan suami yang selama ini sudah menjadi nahkoda dalam mengarungi samudera rumah tangga.

Meskipun Zainal tidak kaya seperti yang diharapkan orang tua Winda. Meskipun hidupnya dalam garis kemiskinan, namun Winda tidak pernah menyesal menikah dengan Zainal.

Bahkan ia sangat bahagia, karena Zainal selalu memperlakukan dia dengan baik dan lemah lembut.

"Sudah, Buk. Jangan marah, kamu lagi tidak sehat."

Zainal mencoba meredam amarah sang istri. Meskipun ia selalu tersakiti oleh keluarga Winda, tidak sedikit pun ia ingin menaruh dendam di hati. Menurutnya itu hanya akan membuat dirinya sendiri tidak tenang. Ia hanya mencoba mengikhlaskan semuanya kepada Sang maha kuasa.

"Maafkan Salmah, Ibu! Salmah hanya sangat khawatir dengan kondisi Ibu." Salmah meremas jari-jari tangannya dan menundukkan kepalanya, ada penyesalan di dalam hatinya saat ini.

"Ya sudah, kita bawa Ibumu ke puskesmas sekarang!"

Zainal menggendong Winda hati-hati. Berjalan setapak demi setapak menuju puskesmas terdekat. Salmah pun mengekori langkah sang Ayah dari belakang.

Setibanya di puskesmas, Winda langsung diperiksa.

Seorang Dokter muda lagi tampan yang kini memeriksa Winda saat ini. Di sampingnya pun terdapat beberapa orang Dokter muda juga.

"Apa keluhannya, Ibu?" tanya sang Dokter.

"Badan saya lemas sekali Dokter, terus dada saya sakit sekali." jawab Winda sambil terbatuk-batuk.

"Mari silahkan, Ibu berbaring dulu ya!"

Stetoskop ditempelkan pada bagian dada Winda. Tensimeter pun juga di tangannya.

"Banyak bawa istirahat ya, Bu! dan ini obatnya. Bila setelah ini belum ada perubahan, bawa kembali ke sini." ucap sang Dokter muda dengan tersenyum ramah.

*****

Sore hari yang begitu indah. Rona langit mengukir bagaikan curahan tinta sang seniman.

Angin sepoi-sepoi menambah suasana nyaman saat ini.

Jhondra Mahardika, seorang Dokter muda, berparas tampan nan menggoda siapa saja lawan jenisnya yang menatap.

Dia dan dua temannya yang lain sedang menjalani internship selama sembilan bulan di sebuah desa.

Bertugas di sebuah puskesmas sebelum ia benar-benar dilepas untuk melakukan tugas Dokternya tanpa pengawasan dari Dokter senior.

Sore ini Jhondra sedang memetik tali gitarnya. Melantunkan lagu-lagu bersama kedua temannya.

Salmah lewat dengan menundukkan kepalanya karena merasa sungkan melewati rumah kost Jhondra.

Evan yang mengenakan kaos dan celana pendek sedang menepuk pahanya sendiri, mengikuti alunan suara gitar Jhondra langsung menghentikan aktivitasnya.

"Sore, Neng," sapa Evan ramah terhadap Salmah.

Sekilas Salmah melirik arah suara itu dan tersenyum kaku lalu menundukkan kepalanya kembali seraya melangkah menuju masjid. Ia sangat pemalu terlebih lagi kurang percaya diri. Bullying yang kerap ia terima dari teman-temannya juga keluarganya sendiri membuat rasa percaya diri itu memudar. Ia seakan tidak pantas bergaul, atau pun memiliki kehidupan.

Seburuk itulah dampak bullying bagi Salmah.

Salmah mengisi harinya selalu menyendiri tanpa merasakan perasaan seperti yang dirasakan oleh remaja lazimnya.

Untuk mengisi kekosongan harinya itu, setiap sore sebelum masuk waktu magrib, Salmah mengajari anak-anak desa mengaji dengan tanpa imbalan. Karena ia sangat senang melakukannya.

"Shodaqollahul Adzim"

Salmah menyudahi mengaji sore ini, karena waktu magrib telah tiba.

Anak-anak berhamburan berlarian keluar masjid untuk mengambil wudhu. Begitu pula dengan Salmah.

"Eh, Neng, yang tadi bukan?" sapa Evan saat berpapasan dengan Salmah di depan tempat berwudhu.

Salmah hanya tersenyum kaku dan menganggukkan sedikit kepalanya.

"Neng, Ibunya yang berobat kemarin bukan?" tanya Evan lagi.

"Iya,"

Kali ini Salmah menatap serius pada Evan.

"Kenalkan saya Dokter Evan, dan ini Dokter Jhondra dan yang ini Dokter Gavin." Evan menunjukkan kedua temannya dan memperkenalkan mereka kepada Salmah.

"Bagaimana keadaan Ibunya? sudah mendingan?" tanya Evan lagi.

Salmah kemudian tersadar selama itu Evan berbicara, selama itu pula ia memperhatikannya.

Lalu buru-buru ia kembali menunduk.

"Alhamdulillah sudah mendingan, Dokter," jawab Salmah.

"Alhamdulillah. Rumah Neng yang sebelum rumah kost itu kan?"

"Iya, Dokter."

"Wah, berarti kita bertetangga."

Suara adzan pun berkumandang Salmah permisi dari sana untuk mengambil wudhu yang sempat tertunda.

Saat mereka sedang berwudhu, Jhondra mengatakan kepada Evan, jangan kegenitan. Harus menjaga wibawa karena mereka adalah Dokter.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kehormatan Yang ternoda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Godaan Teknisi AC
9.1
Sebuah kunjungan perbaikan pendingin ruangan di larut malam berubah menjadi awal dari pengkhianatan yang menegangkan. Sentuhan sang teknisi membangkitkan gairah tak terduga yang belum pernah dirasakan sang istri sebelumnya. Di bawah tekanan intimidasi, ia dipaksa untuk menelepon suaminya sendiri agar perselingkuhan panas ini terbongkar. Meski ia memohon demi menyelamatkan pernikahannya, panggilan telepon itu terlanjur tersambung, mengancam akan menghancurkan segalanya dalam sekejap.
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Limdong tumbuh dalam kesendirian setelah orang tuanya tewas demi publik. Ia dikucilkan karena kekuatan dahsyat di tubuhnya sering meledak tanpa kendali, membuat siapapun tak berdaya melawannya. Demi mencari perhatian yang tak pernah ia dapatkan, Limdong sering bertingkah jahil, namun hal itu justru membuatnya kian dijauhi. Di tengah pengasingan sosial tersebut, ia memendam ambisi besar untuk menjadi Raja. Mampukah sosok yang dianggap aneh ini meraih mimpinya?
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila
9.0
Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan ditakuti, mendapati hidupnya jungkir balik setelah menikahi Yara. Gadis itu sangat konyol dan penuh tingkah ajaib yang menguji kesabaran Arkhan. Namun di balik keceriaannya, Yara menyimpan trauma kelam yang membuatnya selalu menghindar dari keintiman. Di tengah ancaman rival dan konflik organisasi, Arkhan harus meruntuhkan tembok masa lalu Yara. Inilah kisah cinta absurd nan emosional antara sang predator dan istri uniknya.
Sampul Novel SUAMI MADU TIGA
9.2
Sebastian Narendra Gunawan, pengusaha kaya yang sudah beristri dua, berambisi menikahi seorang gadis payung sebagai istri ketiganya. Namun, rencana Naren terhambat oleh berbagai rintangan yang menguras emosi. Salah satu istrinya bahkan melancarkan aksi teror demi menggagalkan pernikahan tersebut. Di tengah tekanan dan ancaman yang membayangi, mampukah Naren mewujudkan keinginannya, atau justru sang calon istri memilih mundur dari lingkaran hidupnya?
Sampul Novel Tahun Ketiga Setelah Kematianku
9.3
Tiga tahun lalu, seorang anggota tim ekspedisi ilmiah berbakat tewas tragis di Asantri. Dibunuh oleh kekasih gelap tunangannya, Kevin Pradana, ia kehilangan nyawa bersama janin di kandungannya setelah wajahnya dirusak dan tubuhnya dibuang ke laut. Tragisnya, Kevin justru memfitnahnya mencuri perbekalan dan menghapus namanya dari tim hingga ia dibenci semua orang. Kini, setelah tiga tahun berlalu, misteri ini mulai terkuak saat tubuhnya yang membeku akhirnya ditemukan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan