
Wanita lain dalam hatiku
Bab 2
Judul: Wanita lain dalam hatiku (Maafkan aku, istriku)
Part: 2.
***
POV Resti.
Aku merasakan kegelisahan suamiku malam ini. Ia tak tidur, bahkan terus memainkan ponselnya.
Ketika suamiku ke kamar mandi, aku bergegas bangun, dan mengecek ponselnya yang selama ini tak pernah aku sentuh sama sekali.
Ponsel itu terus bergetar hingga membuatku penasaran.
Susi: pokoknya aku tak mau tahu, Mas! Secepatnya dirimu harus mengambil keputusan untuk kelanjutan hubungan kita.
Degh!
Siapa Susi, aku terus membaca percakapan lama, ternyata Susi adalah kekasih suamiku.
Tak bisa aku berlama-lama memainkan ponselnya, karena Bang Ardan pasti akan kembali.
Aku menaruhnya dan sengaja meninggalkan dengan pesan yang terbuka. Mata aku pejamkan lagi.
Beberapa saat, Bang Ardan naik ke atas ranjang dan memeriksa ponselnya.
Degup di jantungku terasa begitu dahsyat. Bagai dihujani ribuan jarum. Sungguh nyeri, sakit, dan tak bisa aku jelaskan lagi.
Air mata tertahan, tiga tahun pengabdianku tak berhasil memenangkan hatinya.
Apakah aku harus menyerah?
Tentu tidak!
Aku adalah seorang istri sah. Aku adalah wanita yang halal mendapat kasih sayangnya.
Sikap suamiku juga baik, hanya hatinya yang belum aku miliki.
Ya, Allah .... beri aku kekuatan dan ketabahan. Aku akan berusaha menjadi istri yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku akan membuat suamiku melupakan wanita lain dalam hatinya itu. Aku tidak akan mengungkit masalah ini di hadapannya.
Bantu aku, ya Rabb ... Engkau adalah pemilik kuasa atas membolak-balikkan hati manusia. Buatlah suamiku terbuka mata hatinya dan dapat mencintaiku, bukan hanya sekedar menerimaku sebagai seorang istri pilihan orang tuanya saja.
.
Pagi harinya, aku menyiapkan semua kebutuhan Bang Ardan. Tak ada yang berubah, bahkan senyumku tak pernah luntur ketika berada di hadapannya.
Walau sebagai wanita biasa, ada sesak di rongga dada. Namun, aku beristigfar dalam hati agar tampak tenang dan tegar.
Suamiku tak sepenuhnya bersalah. Ia juga adalah pria biasa. Sebagai anak, Bang Ardan sudah memenuhi baktinya pada orang tua, hingga pernikahan kami terlaksana.
Namun, sebagai seorang suami, mungkin Bang Ardan memang belum bisa menerimaku sepenuhnya.
Aku tidak putus asa. Aku akan menunggu dan terus mencoba membuktikan padanya, bahwa aku adalah seorang istri yang layak ia cinta.
"Dek, nanti malam Abang ingin bicara sesuatu. Kita keluar ya, ada seseorang yang akan Abang kenalkan, sekaligus Abang ceritakan," ujar Bang Ardan.
Mataku pedas karena menahan bulir bening yang ingin menerobos keluar. Aku sudah tahu, apa yang akan Bang Ardan sampaikan nanti malam. Tetapi itu tak boleh terjadi.
"Baik, Bang. Ini bekal makan siang. Nanti Resti mau izin belanja ya, Bang."
"Iya, Dek. Tak perlu meminta izin setiap kali mau keluar. Abang tidak akan memberatkanmu. Silakan pergi menyenangkan diri Adek ke mana pun Adek mau pergi."
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Maafkan aku, Bang. Hari ini aku ingin tahu ke mana saja Abang pergi. Aku juga ingin melihat sosok wanita yang bernama Susi itu. Abang pasti menemuinya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah nanti.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





