
Wanita lain dalam hatiku
Bab 3
Judul: Wanita lain dalam hatiku (Maafkan aku, istriku)
***
POV Resti.
Seperginya Bang Ardan. Aku langsung bersiap-siap untuk mencaritahu.
Aku tidak akan melabrak Susi, ataupun memarahinya. Aku hanya ingin melihat sosoknya.
Jika Susi jauh lebih baik dariku dalam segi menutup aurat dan sikapnya, maka aku akan belajar darinya.
Namun, bukankah seharusnya Susi menjauhi Bang Ardan, karena saat ini Bang Ardan sudah tak sendiri lagi.
Ah, entahlah ....
Cinta terkadang buta. Mereka berdua sepasang kekasih yang saling menyayangi. Tentunya tidak akan mudah untuk saling melepas.
Tugasku adalah menyadarkan Bang Ardan. Jika hubungan itu tetap dilanjutkan, maka akan menjadi dosa baginya, dan mungkin bagiku juga. Karena kini aku telah mengetahui hubungan terlarang suamiku dengan wanita lain. Namun, aku diam saja.
Tidak!
Aku tak mau membuat suamiku berlama-lama terjebak dalam lembah dosa.
Aku sangat menyayanginya. Tak pernah terbesit di pikiranku memikirkan pria lain semenjak sah menjadi istri Bang Ardan.
Walau aku juga memiliki kekasih dulu, tapi setelah menikah, haram bagiku untuk mengingat pria lain, apa lagi sampai menjalin hubungan.
.
Waktu berjalan ....
Aku sengaja menunggu jam pulang kerja Bang Ardan. Aku berada di dalam taksi, jadi Bang Ardan tak akan curiga.
Tak berapa lama, keluar Bang Ardan dan melajukan mobilnya.
"Pak, tolong ikuti mobil itu ya!" ucapku pada sopir taksi.
"Baik, Mbak."
Aku terus menatap ke depan, takut kehilangan jejak Bang Ardan.
Maafkan aku, ya Allah ... semua ini aku lakukan demi ingin tahu kebenarannya.
Lima belas menit waktu yang ditempuh. Benar seperti dugaanku. Bang Ardan singgah di sebuah Apartemen mewah.
Suamiku itu turun dari mobilnya, dan bergegas masuk ke dalam Apartemen.
Bagaimana caraku masuk ke sana?
Setelah Bang Ardan tak terlihat lagi. Aku memberanikan diri untuk keluar.
Aku bertanya pada satpam. "Maaf, Pak. Apa yang nama Susi, benar tinggal di Apartemen sini?"
"Susi Saraswati, Mbak?"
Aku bergeming sesaat, tak tahu aku siapa nama lengkapnya. Tapi mungkin saja benar itu.
"Iya, Pak."
"Dia tinggal di lantai 3 nomor 31 Mbak."
"Baiklah, terima kasih banyak, Pak."
Pelan langkahku menuju petunjuk yang disebutkan itu.
Saat berada di lantai tiga, aku langsung mencari nomer Apartemen Susi.
Detak jantung mulai tak beraturan. Tepat di depan kamar nomer 31 aku berdiri.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucapku dengan nada suara bergetar.
Keringat dinginku keluar, berkali-kali istigfar aku ucapkan agar tetap kuat menerima kenyataan.
Clekek ....
Pintu dibuka, wanita cantik berambut panjang, tampak seumuran denganku, menatap penuh kebingungan.
"Kamu Resti, bukan?" tanya-nya dengan mata yang membesar tanpa berkedip.
Brak!
Terdengar ada suara benda yang jatuh dari dalam.
Aku tersenyum seramah mungkin. Detik berikutnya Bang Ardan turut keluar.
"Dek Resti," lirihnya dengan sorot mata sulit kujabarkan.
"Boleh saya masuk ke dalam?" tanyaku dengan masih menebar senyuman.
Mengangguk Susi. Aku langsung mengikuti langkahnya.
Kini kami duduk di sofa yang tersedia. Apartemen ini benar-benar mewah dan nyaman.
"Dek, maafkan Abang! Sebenarnya nanti malam Abang ingin membahas ini," ujar suamiku.
Susi hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
"Resti yang minta maaf pada Abang, dan Susi. Karena Resti, hubungan kalian jadi terhalang. Namun, takdir Allah tak bisa dielakkan, Bang. Jodoh, rezeki, dan maut sudah menjadi kehendakNya."
"Abang tahu, Dek. Abang bersalah, tapi Abang tak mampu melenyapkan rasa Abang pada Susi. Abang ingin menikahinya walau hanya pernikahan sirih. Abang berharap Adek tidak keberatan," papar Bang Ardan dengan jujur.
Aku melihat keseriusan dalam bola matanya. Besar rasa cinta Bang Ardan pada Susi membuat hatiku pilu.
Ya, Allah ....
Apa yang harus aku lakukan?
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





