Sampul Novel Istri Keempat

Istri Keempat

9.2 / 10.0
Dalam novel Istri Keempat, Airin terpaksa menikahi Saka, seorang billionaire dengan tiga istri. Namun di balik wajah polosnya, Airin menyimpan sifat licik dan manipulatif demi bertahan hidup. Temukan kisah romance penuh intrik ini dalam web novel terbaru yang menantang batas kesetiaan.
Ringkasan Istri Keempat
Airin dikenal sebagai putri penurut yang tak pernah membantah titah orang tuanya. Namun, kepatuhannya diuji saat ia dipaksa menikahi Saka Januar Pradipta, pengusaha kaya yang telah memiliki tiga istri. Menjadi istri keempat bukanlah akhir bagi Airin. Di balik wajah polosnya, tersimpan sisi manipulatif dan licik yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Meski mampu mengelabui dunia, Airin tak berkutik di hadapan Saka yang sanggup melihat jati diri aslinya.
Baca Selengkapnya

Istri Keempat Bab 1

Matahari bersinar terik di atas langit, suara cicada yang menempel di pohon berbunyi sangat nyaring. Seorang lelaki paruh baya berlari tergopoh-gopoh ke arah rumah panggung yang di terasnya duduk seorang pria berpakaian modis dengan laptop terbuka di meja hadapannya. Mendengar langkah seseorang yang tergopoh itu, atensi si pria teralihkan padanya.

“Ada apa?” tanya si pria, suaranya terdengar berat dan tegas.

“Tu-tuan…!” lelaki paruh baya itu berhenti di bawah tangga teras, napasnya terengah-engah. “Tuan Sakha… ada yang pingsan di ladang!” serunya susah payah.

Berbanding terbalik dengan kepanikan lelaki itu, ekspresi di wajah Sakha justru tidak berubah. Sakha melipat layar laptopnya dengan hati-hati, kemudian berdiri dan mendekati salah satu pekerjanya itu.

“Di mana dia?” tanya Sakha.

Lelaki itu buru-buru menunjukkan jalan menuju ladang yang dia maksud.

Sakha mengikutinya di belakang. Saat mereka sampai di ladang, terik sinar matahari semakin terasa menyengat. Di tengah ladang yang ditumbuhi jagung itu, berkumpul beberapa orang yang juga merupakan pekerja tani yang bekerja di ladang Sakha, mereka tampak mengerumuni sesuatu.

“Hei, minggir-minggir! Ini Tuan Sakha sudah saya panggilkan,” seru lelaki yang tadi melapor.

Lantas semua pasang mata tertuju pada Sakha yang berjalan mendekat, beberapa mata menatapnya terkejut.

“Pak Ji! Kenapa manggil Tuan Sakha? Kamu ini, merepotkan saja! Tau ini siang bolong begini!” omel Inah, memukul pelan bahu Parji, lelaki itu masih ngos-ngosan, sibuk mengatur napasnya.

“Habisnya… kasihan Ririn. Daripada membiarkannya di sini, panas-panasan, yang ada keadaannya malah makin memburuk, lebih baik kita panggil Tuan Sakha. Lagipula itu sudah menjadi salah satu tanggung jawabnya untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pekerjanya,” Parji membalas ucapan Inah dengan suara pelan.

Tepat setelah itu, Sakha sampai di dekat mereka dan langsung menatap ke bawah, ke seorang perempuan yang dibaringkan di atas tikar lusuh, cahaya matahari menerpanya, wajahnya pucat dan berkeringat deras, keningnya berkerut-kerut seperti seseorang yang kesakitan.

“Bagaimana ini, Tuan? Rumahnya lumayan jauh dari sini, kita ndak tahu bagaimana harus membawanya pulang,” kata Parji.

Tanpa pikir panjang, Sakha menjawab, “Biar saya yang bawa dia.”

Jawaban itulah yang para pekerjanya tunggu, jelas terlihat dari kelegaan di wajah mereka sesaat setelah Sakha mengatakan demikian.

Sakha berjongkok, menatap wajah perempuan itu untuk beberapa saat. Dia tampak lusuh sekali, pikir Sakha. Bajunya itu dulu pasti berwarna putih, tapi sekarang sudah cokelat dan ujungnya sedikit sobek. Dari lipatan pakaiannya, Sakha menduga dia mengenakan beberapa lapis pakaian. Wajah perempuan itu juga kotor karena debu dan pucat.

Sakha menduga alasannya sampai pingsan begini adalah karena dehidrasi. Tanpa menunggu lebih lama, Sakha pun mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya, dia sedikit terkejut karena ringannya tubuh itu, Sakha tidak menduganya karena tubuh perempuan itu tampak berisi.

“Saya akan membawanya ke rumah, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian,” kata Sakha.

“Baik, Tuan.”

“Ya, Tuan.”

“Terima kasih, Tuan.”

Sakha mengangguk, kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Bekerja di tengah siang bolong seperti ini memang selalu berat, tapi Sakha sudah mengatur semua waktu dan dia tidak ingin terik matahari menjadi penghalang, dia bahkan memberikan upah lebih kepada para pekerjanya yang bekerja pada siang hari.

Saat sampai di rumah peristirahatan yang tersembunyi di kebun dengan pepohonan rindang, Sakha baru menyadari bahwa tubuh perempuan di dalam gendongannya terasa panas sekali, padahal cahaya matahari sudah tidak terlalu mengenai mereka karena daun di pepohonan.

Sakha masuk ke dalam rumah, membaringkan perempuan itu ke ranjang di salah satu kamar yang terdapat di sana. Kamar itu tidak pernah terpakai, kecuali kamar di sebelahnya yang biasanya Sakha gunakan untuk tidur siang saat menunggui pekerja di ladang.

Sebenarnya, Sakha juga tidak tahu harus melakukan apa, jadi dia mengambil hapenya untuk menelepon seseorang.

“Galih, sepulang kamu membeli benih, langsung ke rumah peristirahatan. Bawa mobil,” kata Sakha, setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Sakha mematikan hapenya lalu menatap perempuan itu. Sakha menyentuh dahi perempuan itu, terasa panas. Peluh terus saja mengalir di pelipisnya.

Sakha berpikir apa yang harus dia lakukan, kemudian perhatiannya tertuju pada pakaian lusuh yang perempuan itu kenakan. Sakha menyentuhnya pelan, sedikit jijik karena kotor, tapi Sakha mencoba untuk mengabaikannya kemudian membuka kemeja yang perempuan itu kenakan. Dan benar seperti dugaannya, perempuan itu mengenakan baju berlapis-lapis, yang mau tidak mau harus Sakha lepas sampai menyisakan kaus berwarna putih bersih yang telah basah oleh keringat.

Pantas saja ringan, tubuhnya kurus sekali, batin Sakha. Baju berlapis-lapis memang membuat tubuh si perempuan tampak lebih berisi.

Sakha kemudian mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air dingin, lalu mengelap peluh di wajah perempuan itu.

Bulu mata yang panjang bergerak-gerak, kelopak mata terbuka, memperlihatkan manik mata hitam kelam yang langsung tertuju menatap mata Sakha. Sakha terhenyak sebentar, tangannya yang tadi bergerak langsung berhenti.

“Kamu pingsan, saya mencoba membantu kamu,” kata Sakha, tapi sepertinya perempuan itu tidak mendengarnya. Saat Sakha hendak berucap lagi, mata perempuan itu kembali tertutup.

Sakha terdiam menatapnya, kemudian melepas handuk di tangannya dan mengambil lagi hapenya. Menelepon Galih, menyuruh bawahannya itu untuk cepat.

Tidak lama kemudian, Galih pun datang, betapa terkejutnya dia melihat bosnya berada di dalam kamar dengan seorang gadis berpenampilan lusuh dan kotor di ranjangnya.

“Bawa gadis ini pulang,” Sakha berkata.

Galih mematung di ambang pintu, mulutnya terbuka.

Sakha mendelik tajam padanya. “Kamu mendengarku, Galih, bawa dia pergi.”

“Apa yang sudah…”

“Dia pingsan di ladang jagung sehingga aku harus menggendongnya sampai sini.”

Dengan penjelasan singkat itu, Galih pun mendekat, memandang wajah perempuan itu.

“Kamu mengenalnya?” tanya Sakha.

Galih mengangguk. “Dia anak Pak RT yang tukang hutang itu,” jawab Galih. Sebenarnya Sakha tidak memerlukan jawaban yang seperti itu, tapi yang penting sekarang dia tahu kemana Galih harus membawa perempuan itu.

Sakha baru saja hendak ke luar, tapi kemudian dia teringat akan sesuatu. “Sejak kapan anak perempuan pria itu bekerja di ladangku?” tanyanya heran.

“Oh bukan, ini bukan si Mawar sama Melati, namanya kalau tidak salah Ririn.”

Pantas saja, batin Sakha, dia tidak melihat perempuan lusuh ini saat terakhir kali dia berkunjung ke rumah Fahrul Jamal, Pak RT tukang hutang yang dibilang Galih itu. Karena setahu Sakha, Jamal hanya memiliki dua putri yang sangat cantik dan sering dijuluki sebagai kembang desa, siapa yang akan menduga bahwa gadis lusuh di hadapannya sekarang juga merupakan putri pria itu.

“Kamu sudah menyampaikan pesanku pada Pak RT itu, kan?”

“Sudah, Tuan, kemarin malam. Dia tampaknya agak syok, tapi juga tidak punya pilihan lain.”

“Hm, baguslah.”

“Ngh… Tuan.”

“Apa?”

Galih tampak ragu-ragu. “Apakah… Tuan sudah membicarakan perihal akan menikah lagi dengan nyonya-nyonya di rumah?”

Karena pertanyaan Galih itu, Sakha menatapnya memicing. “Siapa yang menelepon kamu?”

“Nyonya Henia, Tuan,” jawab Galih.

“Hm, sejak kapan kamu jadi punya mulut ember begitu, Galih?”

“Bu-bukan saya yang kasih tau, Tuan! Nyonya Henia bilang dia dengar desas-desusnya saja dari warga desa yang suka begosip.”

Sakha terdiam untuk beberapa saat, bergumam, “Seharusnya saya tidak membawa mereka kemari.” Setelah mengucapkan itu, Sakha pun berlalu pergi.

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Istri Keempat

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Rumit Tiga Sekawan
8.4
Setelah kondisi kesehatannya berangsur membaik, Wenny Sanjaya dihadapkan pada pilihan penting mengenai perjodohan masa kecilnya yang diatur oleh keluarga. Melalui sambungan telepon, sang ibu, Maya Sanjaya, menawarkan opsi untuk membatalkan rencana pernikahan tersebut jika Wenny keberatan pulang ke Kota Jintara. Namun, secara tak terduga Wenny menyetujui perjodohan itu. Ia hanya meminta waktu selama dua minggu untuk menuntaskan segala urusan pribadinya di Kota Hanis sebelum melangsungkan pernikahan.
Sampul Novel Dosen muda
8.8
Chintya sangat gemar menghabiskan waktu di kafe Perpustakaan Universitas Merah Putih yang mewah. Baginya, fasilitas lengkap bukanlah daya tarik utama, melainkan meja kafe yang luas untuk menampung kertas gambar A3 miliknya. Dunia Chintya berpusat pada seni sketsa dan desain grafis, hobi yang sangat ia cintai. Meski bercita-cita mendalami bidang tersebut selepas SMA, ambisinya terhalang restu orang tua yang melarangnya mengambil jurusan seni saat kuliah.
Sampul Novel Merebut Cinta Suami Dari Kekasihnya
8.9
Abimanyu Raharja terpaksa menikahi Hazna Safitri, seorang guru TK sederhana, demi menuruti keinginan ibunya. Meski Hazna adalah istri setia yang menjaga kehormatan rumah tangga, Abimanyu tetap tidak bisa mencintainya. Hatinya telah tertambat pada Angela Kana, aktris populer yang menjadi kekasih gelapnya. Kehadiran Angela bagai mawar indah bagi Abimanyu, namun durinya terus melukai perasaan Hazna. Kini kesabaran Hazna menjadi satu-satunya kekuatan untuk bertahan.
Sampul Novel SUARA
9.6
Pasca perceraian orang tuanya, Suara yang berusia 12 tahun terpaksa menghuni rumah tua kosong karena ibunya harus bekerja. Di sana, ia menjadi sasaran serangan gaib ayah tirinya serta gangguan makhluk halus setiap malam. Namun, saat mengadu, ia justru terancam dianggap gila oleh ibunya sendiri. Diikuti lelembut sejak kecil, Suara harus berjuang sendirian atau mengandalkan sosok pendamping tak kasat mata yang selama ini melindunginya tanpa ia sadari.
Sampul Novel Terjerat Hasrat Cinta Atasanku
9.2
Dalam sebuah dinamika romansa modern yang penuh gairah, hubungan antara atasan dan bawahan ini menghadapi rintangan yang luar biasa besar. Ibarat Tembok China yang berdiri sangat kokoh dan tak tertandingi, ada penghalang masif yang memisahkan hasrat mereka. Meskipun ketertarikan satu sama lain sangat kuat, kekuatan dinding tersebut sulit untuk diruntuhkan. Kisah ini mengikuti perjuangan cinta yang harus berhadapan dengan batasan yang sangat sulit ditembus.
Sampul Novel THE GOOD GUY
8.7
Amora meninggalkan Gio demi Marcel, sahabat yang ia anggap tulus. Namun, pernikahan yang diharapkan membawa kedamaian justru berubah menjadi petaka. Sosok Marcel yang lembut ternyata hanya kedok belaka. Kehadiran wanita dari masa lalu Marcel serta tekanan mertua kian menghancurkan batin Amora. Meski terjebak dalam trauma dan penderitaan, Amora terpaksa bertahan demi janin di rahimnya, agar sang anak tidak kehilangan figur ayah saat lahir nanti.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan