Sampul Novel Unexpected Feeling

Unexpected Feeling

7.8 / 10.0
Dalam novel Unexpected Feeling, Indira terjebak hukuman menjadi pacar Fajar, senior yang dikenal suka berganti pasangan. Melalui romance novel ini, Fajar mencoba sembuh dari traumanya sementara Indira belajar kedewasaan. Temukan kisah modern novel ini tentang kejujuran dan pilihan hati.
Ringkasan Unexpected Feeling
Indira tak menyangka hukuman dari Fajar, senior yang dikenal sering berganti pasangan, adalah menjadi pacarnya. Meski bingung dan takut menolak, Indira terjebak dalam hubungan ini. Bagi Fajar, Indira adalah harapan baru untuk sembuh dari trauma masa lalu yang gagal diatasi kekasih sebelumnya. Seiring waktu, hubungan mereka tumbuh dewasa tanpa saling tahu rahasia masing-masing. Namun, apakah Fajar benar-benar mencintai Indira atau hanya menjadikannya obat semata?
Baca Selengkapnya

Unexpected Feeling Bab 1

“Dik, nanti istirahat ketemu saya di ruang kesehatan.”

Indira menatap bingung dengan apa yang dilakukan pria itu, pria yang tidak lain seniornya. Mengalihkan kembali pandangan ke depan dan mencoba fokus tapi tetap saja memikirkan perkataan senior tadi, menatap Mita yang berada disampingnya dengan tatapan bingung.

“Tadi siapa?” bisik Indira.

“Kayaknya senior deh, kamu nanti jangan lupa kesana.” Mita mengatakan tanpa menatap Indira.

Materi yang disampaikan berjalan cukup lama, Indira mulai mencatat apa saja yang penting. Mendengarkan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, menjelang istirahat tugas diberikan dengan membentuk kelompok berdasarkan absen.

“Jangan lupa ke ruang kesehatan,” ucap Mita mengingatkan.

“Hampir aja lupa,” ucap Indira sambil memukul keningnya pelan.

“Kalian ke kantin?” tanya Lia, salah satu mahasiswi baru sama seperti Indira dan Mira.

“Aku yang ke kantin,” jawab Mita.

“Kamu?” Lia menatap Indira.

“Dipanggil sama senior, kalian ke kantin aja. Aku nitip minum sama roti ya.” Indira memberikan uang pada Mita.

Mereka bertiga keluar dari ruangan, langkah Indira berhenti di salah satu pintu sedangkan kedua temannya melanjutkan langkahnya menuju kantin. Indira menatap pintu bingung, tidak tahu siapa nama senior yang memanggilnya tadi.

“Cari siapa?” tanya salah satu senior wanita.

“Gue panggil dia,” sahut senior pria yang tadi memanggil Indira sebelum membuka mulut “Ayo ikut.”

Indira memilih mengikuti langkah senior yang memanggilnya, memasuki ruangan yang tampak sepi. Menutup pintu dengan pikirannya masih bertanya-tanya tentang apa kesalahan yang baru saja dirinya lakukan sampai-sampai harus dipanggil oleh senior, tidak berani menatap senior pria yang bersandar di meja dengan Indira dihadapannya.

“Indira Pradipta, kamu tahu letak kesalahan kamu kenapa saya panggil?” Indira langsung menggelengkan kepalanya “Kamu tidak menghargai senior yang berbicara di depan sampai-sampai melamun?”

Indira menatap senior pria dihadapannya dengan tatapan terkejut, seketika dirinya ingat berada dimana sekarang. Fakultas psikologi, orang-orang yang berada disini pastinya belajar membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah jadi tahu apa yang ada didalam isi kepala atau dipikirkan oleh orang tersebut.

“Kenapa diam? Benar kata-kata saya? Apa senior kamu terlalu membosankan sampai-sampai kamu tidak mau mendengarkan?”

“Bukan begitu, kak.” Indira langsung membantahnya.

“Lalu?”

“Tiba-tiba aja blank.” Indira memberikan alasan yang sangat masuk akal.

Senior dihadapannya hanya menggelengkan kepalanya “Kamu beruntung karena saya yang tahu coba kalau senior lain pasti habis.”

“Maaf, kak.” Indira menundukkan kepalanya merasa tidak enak dan bersalah.

“Kamu tahu siapa saya?” Indira langsung menggelengkan kepalanya “Fajar Putra Mardani panggilannya Fajar, ingat nama ini baik-baik.”

“Baik, kak.” Indira menganggukkan kepalanya masih tidak berani menatap seniornya, Fajar.

“Saya mau kasih hukuman buat kamu.”

Indira mengangkat kepalanya terkejut dengan kata-kata Fajar, tidak menyangka akan mendapatkan hukuman di hari pertamanya masuk perguruan tinggi. Menatap Fajar dengan harapan yang di dengarnya tidak benar, bisa dikatakan salah mendengar apa yang dikatakan Fajar.

“Kamu mau tahu hukumannya?” tanya Fajar.

Indira menganggukkan kepalanya ragu tanpa melepaskan tatapan pada Fajar, senyum kecil terlihat di bibir Fajar membuat Indira menatap terkejut. Menggelengkan kepalanya cepat, tidak boleh terpesona dengan senior yang baru dikenalnya ini.

“Bagaimana mau tahu hukumannya?” Fajar bertanya lagi yang diangguki Indira “Saya nggak tahu kamu mau tahu atau tidak, memang kamu mau dihukum?”

“Nggak mau dihukum, kak.” Indira menjawab cepat.

Indira melihat Fajar memberikan kantong plastik yang tadi dibawanya, menatap bingung atas kantong plastik yang diberikan Fajar. Tatapan mereka bertemu, Fajar seakan memberitahukan Indira untuk mengambil kantong plastik, sedikit ragu Indira mengambilnya dengan tatapan bingung.

“Kamu makan dulu,” ucap Fajar dengan menunjukkan kantong plastik yang ada di tangan Indira “Saya nggak tahu kamu suka atau tidak.”

“Terima kasih, kak. Pasti aku makan setelah ini.” Indira langsung menjawabnya.

Fajar menganggukkan kepalanya “Lebih baik kamu istirahat dulu masalah hukuman saya pikirkan terlebih dahulu.”

“Baik, kak.” Indira menanggapi dengan sopan.

Keluar dari ruangan dengan bertanya-tanya, seharusnya bukan hanya dirinya saja yang tidak memperhatikan orang berbicara didepan tapi kenapa hanya dirinya saja yang dipanggil. Menggelengkan kepalanya untuk tidak berpikir aneh-aneh, bisa saja memang dirinya yang sedang apes.

Melangkahkan kakinya menuju musholla untuk melakukan ibadah, langkah Indira terhenti saat melihat Fajar berada didepan dan mereka akan melakukan jamaah. Melihat itu membuat Indira langsung menggunakan mukena dan bergabung bersama, setelah selesai Indira kembali ke ruangan dan teringat kantong plastik yang diberikan Fajar dengan segera dibuka dan dimakannya.

“Ini pesanan kamu,” ucap Lia yang mengambil tempat duduk disamping Indira “Kamu satu kelompok sama siapa?”

“Makasih, aku belum ketemu anak-anaknya yang mana. Mita kemana?”

“Mita di musholla, memang siapa saja anak-anaknya?” Indira langsung mengambil catatan dan memperlihatkan pada Lia “Shinta, tadi duduk disampingku kalau yang lain nggak tahu aku.”

“Nanti aku cari,” ucap Indira langsung menerima bukunya.

Memilih tidak banyak bicara dengan menikmati pesananannya, Indira sudah makan dua bungkus roti. Lia sendiri masih setia duduk disamping Indira dengan memainkan ponselnya, mencoba untuk tidak peduli dengan menikmati makanannya.

“Aku tadi lihat ada senior cakep banget.” Lia membuka suara membuat Indira menatap kearahnya “Tadi memang kamu kemana? Habis melakukan kesalahan apa?”

“Dipanggil ke ruang kesehatan, nggak tahu salahnya apa mungkin lagi apes aja.” Indira mengangkat bahunya saat menjawab.

Indira juga tidak bertanya tentang senior yang dimaksud, bagi dirinya senior semua sama. Tampan atau tidak bukan utama dirinya mencari pasangan, Indira lebih menyukai pria dewasa dengan ibadahnya yang bagus.

“Indira ya?” suara seseorang membuat Indira menatap kearahnya “Tio, kita satu kelompok. Nanti selesai acara ngerjain tugasnya ya.”

“Ok, yang lain udah tahu siapa saja?” Indira langsung menanggapi Tio.

“Sudah, tapi ada beberapa yang belum. Kita ketemu di gazebo ya nanti.” Tio menjawab yang diangguki Indira.

Menatap Tio yang berjalan menjauh dari mereka, tampaknya memang Indira harus mengenal banyak anak disini. Menatap sekitar dan ruangan terisi penuh, tampaknya yang keterima di tahunnya sangat banyak dan tidak mungkin mengenal mereka satu per satu dengan cepat.

“Mas Wahyu tadi bilang kalau angkatan kita paling banyak dibanding tahun sebelumnya,” ucap Lia seakan paham dengan yang dilakukan Indira dan membuat Indira menatap kearahnya.

“Gimana bisa kenal sama mereka cepat?”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Unexpected Feeling

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Hidup Kayra hancur setelah suaminya menghilang tanpa jejak pasca panggilan video terakhir mereka. Kini, ia berjuang sendirian membesarkan dua anaknya. Di tengah kesulitan, ia bertemu Damar, ipar yang membencinya karena skandal masa lalu terkait rahasia saudari kembarnya. Meski awalnya Damar menolak mengakui anak hasil hubungan tersebut, kemiripan sang bayi meluluhkan hatinya. Akankah pertemuan ini membawa Kayra menuju kebahagiaan yang selama ini hilang?
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.1
Sepulang berwisata dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular misterius yang diyakini bisa memberikan kemudaan abadi. Syaratnya mengerikan: patung itu harus diberi sesembahan darah menstruasi gadis perawan. Ibu memaksaku memberikan darah serta memotong rambutku untuk dililitkan pada kepala ular tersebut. Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah tidak perawan sejak kuliah. Dua bulan berlalu, petaka pun tiba saat kulit ibu mulai ditumbuhi sisik biru dan dia mulai berganti kulit layaknya ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan