
TULANG RUSUK
Bab 2
Tarsih mengintip dari jendela samping. “Nah itu Bunda Hellen sudah datang, ayo sekalian Bibi kenalkan. Taruh dulu tas bawaanmu di situ nanti baru kita bereskan,” tunjuk Tarsih pada kursi panjang di samping pintu.
Anita mengangguk, tak lupa dia membawa papan magnetiknya.
Hellen yang baru saja masuk ke rumah kemudian mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga sembari menjulurkan kaki dan memijatnya ringan.
“Bunda ...,” sapa Tarsih.
Hellen menoleh menatap Tarsih berganti menatap Anita, yang berdiri canggung dan malu-malu di belakang wanita yang lebih muda darinya itu. Gadis cantik yang tentu saja tak bisa menutupi tinggi tubuhnya yang semampai karena Tarsih hanya sebatas dagunya.
Hellen menunjuk ke arah Anita dan tersenyum. “Ini siapa? Anita ya?”
Tarsih dan Anita mengangguk bersamaan. Hellen menegakkan tubuh, kemudian menyuruh keduanya duduk di sofa di depannya.
Anita terlihat semakin tegang dan bingung apa yang harus ia lakukan sampai bulir-bulir keringat tampak di dahi dan di atas bibirnya.
Hellen tersenyum menatapnya, entah kenapa ia merasa senang bertemu dengan Anita. Sepertinya Anita gadis yang polos. Hellen menelusuri tubuh Anita dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Semburat memar yang sudah mulai memudar di lengan dan kaki Anita tak luput dari perhatian Hellen. Seketika hati Hellen merasa iba karenanya. Geram pun menggelegak, seolah apa yang terjadi pada gadis ini belum cukup.
Tarsih sudah menceritakan keadaan yang dialami oleh Anita. Untung saja gadis ini bisa melarikan diri dari jerat kakak tirinya. Kemudian dengan menggunakan gerakan bahasa isyarat Hellen mengajak Anita berkomunikasi.
“Jangan takut kamu aman di sini. Kamu diterima bekerja, tapi kamu kerjanya di panti asuhan milik saya,” ujar Hellen.
Mata Anita membulat sempurna, wajahnya merona. Ia bahagia akhirnya gadis seperti dirinya ada yang mau menerima bekerja. Terlebih sang majikan bisa bahasa isyarat seperti dirinya. Sesuatu yang tidak ia duga bisa dengan mudah didapatkan.
“Terima kasih Nyonya.”
Hellen menggelengkan kepalanya. “Jangan panggil Nyonya panggil saya, Bunda.”
Anita semakin kaget, Anita melirik Tarsih yang membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia merasa kaget, dan canggung pastinya selama hidup satu-satunya wanita yang ia panggil bunda adalah ibu kandungnya yang telah almarhum.
“Jangan khawatir semua pekerja di sini memanggil saya dengan sebutan Bunda kok. Ya sudah kamu istirahat dulu, jangan lupa besok pagi jam sembilan kamu sudah harus siap,” ujar Hellen seolah bisa membaca isi pikiran Anita.
Saat Anita bangkit berdiri terdengar suara langkah kaki bergema memasuki rumah tersebut bersama dengan suara langkah kaki anak-anak yang berlari.
“Oma ...!” panggil anak batita laki-laki yang kemudian berhambur ke pelukan Hellen. Diikuti oleh seorang pria yang Anita yakini adalah pria yang sama bertemu dengannya di depan gerbang.
“Oh ya Anita, dia adalah anakku Neil dan ini cucuku Alfred,” ujar Hellen mengenalkan Neil yang masih berdiri beserta Alfred yang duduk di pangkuannya.
Anita reflek berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Neil menyambut uluran tangan Anita dengan mantap, tangannya yang lebar merangkum tangan halus dan mungil tersebut seraya menatap bundanya dengan menaikkan satu alisnya. Neil heran kenapa bundanya menggunakan bahasa isyarat? Kemudian pandangannya beralih pada gadis belia yang tadi bertemu dengannya di depan.
Cantik .... Hanya perlu sedikit berdandan saja pasti banyak pria yang akan meneteskan air liur menatap kemolekan tubuhnya. Nggak salah kan jika Neil menilai demikian, Neil pria normal.
Kemeja yang ia kenakan sekarang saja seperti sudah tak mampu menampung berat dadanya. Dengan pinggul seperti gitar spanyol dan perut yang rata. Jangankan Neil, Hari saja sudah berpikir yang macam-macam.
Ucapan Hellen memecahkan lamunan Neil, sedangkan Anita yang ditatap seperti itu hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap mata kelam setajam elang. Anita juga tidak berani menarik tangannya yang masih setia dalam genggaman hangat Neil. Tangannya bergetar gugup, tentu saja. Tidak ada yang pernah menggenggam tangannya selembut itu, tidak juga sang kakak tiri yang hanya bisa mengkasarinya.
“Dia yang akan membantu Bunda di panti, Nak. Lumayan sekarang Bunda punya asisten,” ujar Hellen.
“Oh begitu,” jawab Neil seraya melirik genggaman tangannya pada tangan Anita yang bergetar gugup, Neil mengusapnya lembut sebelum melepasnya.
Kelakuan Neil tak lepas dari pengamatan Hellen dan Tarsih yang sempat bertukar pandangan.
Anita dengan mata membulat reflek menarik dan mendekap tangan di dadanya. Detak jantungnya berdetak tak menentu tetapi terasa menyenangkan. Ia berbunga-bunga hanya sebab usapan lembut sekaligus merasa sesuatu yang berbeda. Sangat berbeda sekali dengan sentuhan seseorang yang sangat ia takuti. Seharusnya hal itu tidak ia rasakan yang mungkin bagi pria matang di depannya ini bukan suatu yang berarti, Anita berusaha mengenyahkan rasa itu. Ia merasa kecil dan tidak pantas, murahan lebih tepatnya atau hanya gejolak jiwa mudanya yang berbicara.
Alfred yang sedari tadi hanya menatap Anita dari pangkuan neneknya kemudian turun dan berlari ke arah Anita dan memeluk paha gadis itu.
Anita menunduk kaget saat merasakan lengan kecil memeluk kakinya. Anita tersenyum kepada Alfred.
Alfred mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Anita dan dengan polosnya ia berkata, “Mommy Al, ya? Mommy Al,” tanyanya sembari mengangguk-anggukkan kepala meminta kepastian kepada Anita..
“Mommy gendong,” pinta Alfred sembari mengulurkan tangan ke atas.
Sesaat Anita terperangah tak hanya ia begitu juga ketiga pasang mata yang lainnya. Anita menatap canggung kepada orang dewasa lainnya. Namun dirinya juga tidak tega dengan anak kecil yang menatapnya dengan penuh pengharapan. Anita tak menyangka anak itu langsung menghampiri dirinya seperti ini, satu hal yang pasti bocah ini tak memiliki sosok ibu. Hati Anita tersentuh dengan kepercayaan anak ini kepadanya. Andai saja ia bisa bicara ingin ia katakan bahwa dirinya bukan ibu anak ini.
Anita dengan gugup dan tersenyum tipis, dengan matanya ia meminta izin kepada Neil dan Hellen untuk menggendong Alfred. Setelah mendapatkan izin dari keduanya dengan anggukan, ia kemudian mengangkat anak itu. Bocah berusia dua tahun itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Anita. Dengan satu tangannya memeluk leher Anita kemudian ia menguap dan memejamkan matanya. Ya, semudah itu.
Neil dan kedua orang lainnya tak menyangka jika Alfred yang terkenal pemilih, dengan mudahnya tertidur dalam gendongan Anita. Anita menimang tubuh kecil itu yang membuat si kecil semakin nyenyak tidur.
Hellen kemudian bangkit. “Ayo aku antar ke kamar Alfred. Alfred sudah menyukaimu. Maaf ya, jika tiba-tiba Alfred memanggilmu mama karena mamanya sudah meninggal,” terang Hellen dengan berjalan bersama Anita menuju kamar Alfred yang persis di sebelah tangga. Hellen terlihat bahagia dan Anita jelas tidak ingin mengecewakan majikan barunya ini.
“Biasanya dia sangat pemilih, bahkan dengan para pekerja di rumah ini saja dia tidak mau gampang terbuka dan dipegang,” imbuh Hellen yang berjalan riang mendahului Anita.
Anita kemudian menidurkan Alfred namun anak itu merangkul lehernya dengan kencang sehingga Anita ikut merebahkan diri di samping Alfred dengan tidur menyamping seraya mengusap punggung Alfred dengan lembut.
Hellen keluar kamar cucunya dan mendapati Neil berdiri di depan pintu.
“Nda, gimana kalau gadis itu menjadi pengasuh Alfred?” usul Neil dengan mengedikan dagunya.
Anda Mungkin Juga Suka





