
TULANG RUSUK
Bab 3
Hellen memeluk leher putranya sembari mengulum senyum.
“Gimana kalau kamu nikah aja sama dia?” Kembali Hellen memberi usulan.
Neil melotot kemudian jarinya menggosok pangkal hidungnya untuk menutupi keterkejutannya karena usul bundanya. Usulan bundanya sangat tidak masuk akal. Bahkan wanita itu paling tahu jika dirinya masih ingin sendiri dan tidak siap menjalin hubungan yang serius.
“Bunda jangan bercanda, gadis itu masih belia belum lagi dia tak bisa bicara,” tegas Neil, memberikan alasan. Berharap jika sang bunda akan mengerti dan memikirkan kembali.
Sang bunda hanya mengedikkan bahunya santai. “Bunda nggak bercanda loh, serius. Kau tahu bundanya Anita dulu yang nolongin Bunda waktu mau dijambret hingga membuat bundanya Anita tertebas tangannya dan meninggal karena kehabisan darah. Kamu ingat kejadian itu? Lagi pula tidak bisa bicara bukan berarti dia akan selamanya seperti itu. Masih banyak cara untuk berkomunikasi, manusia normal saja belum tentu bisa saling memahami. Kamu paham, ‘kan maksud Bunda?” ujar bundanya.
“Maksud Bunda, aku harus balas budi dengan menikahi anaknya begitu?” tanya Neil memastikan dengan suara datar dan dingin, tampak penolakan dalam nada suaranya.
“Nggak juga sih, semua terserah kamu. Tapi Bunda memang berencana membawa dia ke Amerika untuk operasi pita suaranya. Dia masih bisa bicara kok nantinya, dia begitu karena trauma kecelakaan dengan ayahnya dulu sewaktu dia kecil,” ujar Hellen sembari berjalan kembali ke ruang keluarga dan tentu saja Neil mengikuti di belakangnya.
"Jadi kedatangan dia memang sudah Bunda yang atur?"
"Baru rencana sebetulnya, mungkin Bunda sangat beruntung karena tanpa menunggu waktu yang lama dia sudah memutuskan untuk ke sini."
"Kenapa jadi Bunda yang beruntung? Bunda tidak akan kekurangan apapun tanpa membantunya," ujar Neil dengan maksud hati menggali informasi sebanyak mungkin.
Neil sungguh penasaran dengan rencana bundanya, entah kenapa terbersit pemikiran jika sang bunda akan menjodohkan gadis itu dengan anak teman-teman sosialitanya jika sampai Neil tidak mau. Hanya perasaannya saja sih, tapi semoga saja tidak ya. Dengan tubuh seindah itu, usia muda. Sudah tentu banyak pria yang mau memilikinya.
“Kau tahu, Bunda selama ini mengawasinya, bahasa asing yang dikuasai cukup baik. Dia bisa berbahasa Inggris dan Spanyol, Bunda rasa Anita bisa meneruskan kuliah sambil bekerja.”
“Jika nanti tiba saatnya dia sudah siap, Bunda akan jodohkan dia dengan salah satu anak teman Bunda. Kalau kamu tidak mau. Ayolah Neil, cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Bayangkan jika sampai dia mendapatkan pasangan yang memperlakukan dia dengan semena-mena. Bunda pasti akan merasa bersalah dengan bundanya," imbuh Hellen.
Mata Neil melotot, benar dugaannya bundanya memang memiliki maksud tersebut.
“Apa tidak terlalu cepat Bunda?” tanya Neil seraya berdehem, ia merasa terusik dengan perasaannya yang tiba-tiba merasa berat membayangkan gadis belia itu bersama dengan pria lain. Benarkah, tidak mungkin ia bisa tertarik semudah ini? Bahkan bayangan Dina, kekasih yang kadang kala menemani menghangatkan ranjang tak terlintas sedikitpun saat ini. Neil menggelengkan kepala, baginya sungguh tidak masuk akal. Mereka baru saja bertemu tetapi sosok gadis itu rasanya menggugah sisi posesifnya lebih jauh. Mungkin itu hanya insting melindungi mengingat dirinya adalah anak tunggal dan wanita itu sangat muda seperti seorang adik.
Hellen mengerutkan dahinya, “Apanya yang terlalu cepat? Ayahmu sudah setuju kok. Malah Ayah bilang, jika kamu nggak mau menikahi Anita, Bunda sama Ayah mau mengadopsinya menjadi adikmu.” Mata Hellen berbinar saat mengucapkan itu.
Benar bukan dugaan Neil. “Masih terlalu cepat Bunda, dia baru saja tiba di sini masa iya langsung dijodohkan dengan Neil,” terang Neil, memohon pengertian sang bunda. Neil memandang ngeri ke arah sang bunda. Di dalam hatinya ada rasa berat melepas Anita menjadi adiknya terlebih membayangkan gadis itu di pelukan pria lain, seperti pemikiran yang tadi sempat terlintas di benaknya. Ada apa dengan hatinya? Baru juga bertemu dengan gadis itu? Neil tahu bukan hanya dari segi fisik yang sangat menarik perhatian, tetapi ada sesuatu dari gadis itu yang tidak bisa dirinya abaikan. Jadi, apa yang harus ia lakukan, menikah lagi? Alfred sang anak begitu spontan memanggil Anita dengan sebutan ‘Mama’. Lalu bagaimana dengan dirinya? Neil tidak mungkin semudah itu mencintai gadis belia itu. Gadis se-belia almarhum mantan istrinya, sementara pengkhianatan mantan istrinya masih segar tersemat dalam ingatannya. Mungkinkah dirinya memang menyukai wanita muda?
Suara pintu kamar yang tertutup terdengar oleh keduanya. Hellen menoleh ke asal suara.
“Anita kemari Nak,” panggilnya.
Anita berjalan ke arah mereka dengan sedikit menundukkan kepalanya. Ia merasa tak nyaman dengan pandangan mata Neil kepadanya.
Anita duduk di samping Hellen. Hellen mengusap lembut punggung Anita dengan sayang, menenangkan.
“Besok kita akan ke panti sebentar setelah itu kita ke rumah sakit,” kata Hallen memulai percakapan.
Anita menatap wajah Hellen dengan pandangan ngeri. Ia takut dengan rumah sakit, ia teringat kecelakaan yang ia dan ayahnya alami serta kejadian yang menimpa ibunya.
Hellen menyadari hal itu kemudian ia menggenggam kedua tangan Anita.
“Jangan khawatir kita hanya akan memeriksa tenggorokanmu saja. Jika semuanya sudah siap, Bunda berencana membawamu ke Amerika untuk memulihkan pita suaramu.”
Anita menangis terharu dengan kedua tangannya menutupi mulutnya. Ternyata masih ada orang baik hati yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya mau berbaik hati menyembuhkannya.
Hellen memeluk gadis yang terlihat gemetaran tersebut. Anita masih terkejut dan bahagia sekaligus maka dari itu, tubuhnya tak berhenti bergetar. “Kamu mau ‘kan, Nak?” tanya Hellen dan Anita mengangguk.
Sejurus kemudian ia membuat gerakan. “Bagaimana caranya Anita membalas, Anita tak punya apa-apa?” tanyanya.
Jelas saja, gadis itu kebingungan. Dalam hatinya memiliki firasat jika pasti keluarga itu mengenal dirinya. Namun bagaimana bisa sementara selama ini ia tinggal bersama dengan ibunya di kota kecil.
“Sudah gampang itu, dengan Anita selalu ada untuk Bunda itu lebih dari cukup. Anita mau kan mengurus Alfred?”
Anita yang senang dengan anak kecil, mengangguk mengiyakan. Ia cukup berpengalaman mengasuh karena di desa ia sering dititipin oleh para tetangganya untuk mengasuh balita mereka, karena keterbatasan dirinya untuk berkomunikasi membuat ia juga tidak bisa bekerja di luar selain melukis untuk mengisi waktu luangnya.
“Jadi, Anita tidak jadi bekerja di panti asuhan?”
“Tidak Nak, sepertinya cucuku lebih membutuhkanmu.”
'Dan anakku juga, semoga.'
Hellen sangat berharap gadis cantik di depannya ini menjadi menantunya. Ia sangat yakin gadis ini pilihan yang sesuai untuk anaknya. Anita bisa mengimbangi sifat Neil yang kadang susah diatur.
“Baik Bunda.”
“Bagus kalau begitu sekarang kamu kembali ke kamarmu dan istirahatlah,” ujar Hellen.
Saat Anita bangkit dan hampir melewati Neil. Pandangan mata mereka bertemu Neil dengan wajah datarnya menatap dalam-dalam manik mata Anita yang tampak teduh dan sendu.
“Nanti malam ikutlah makan malam bersama kami,” ujarnya.
Anita yang tak berani membantah hanya sekali lagi menganggukkan kepalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





