
Transmigrasi Sang Mafia
Bab 2
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gedung kaca bertingkat yang menjulang tinggi menembus langit senja. Lampu-lampu kota mulai menyala, memantul di permukaan gedung, menciptakan bayangan yang seolah hidup dan mengawasi setiap langkah.
Zaira menatap sekeliling dengan mata yang masih penuh kebingungan. Tubuh Callista yang ia tempati kini berdiri di depan sebuah dunia baru-bukan dunia sekolah yang membosankan dan penuh ejekan, tapi dunia orang-orang kuat, dunia di mana kekuasaan dan uang adalah segalanya.
Kael membuka pintu mobil dan berjalan menuju lobi gedung dengan langkah tenang, seolah ia adalah penguasa di tempat ini.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Zaira dengan suara yang lebih tegas dari sebelumnya. Suara itu adalah suara Zaira yang selama ini tersembunyi di balik ketakutan Callista.
Kael menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Kau harus tahu siapa dirimu sebenarnya. Dan kau harus siap menghadapi kenyataan yang selama ini tersembunyi."
Mereka melangkah masuk ke dalam gedung, melewati resepsionis yang tersenyum sopan tapi tetap dengan mata waspada. Lift besar mengangkut mereka ke lantai atas, di mana ruang kantor megah menunggu.
Di dalam ruang itu, seorang pria tua berdiri menyambut mereka. Wajahnya serius dan penuh wibawa. "Kael, kau membawa tamu yang kau bicarakan?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ya, ayah. Ini Callista," jawab Kael singkat.
Zaira terpaku. Panggilan "ayah" itu membuat darahnya berdesir. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertemuan biasa.
Pria itu melangkah maju, menatap Zaira dengan mata tajam. "Callista... atau Zaira, jika kau mau, ini saatnya kau mendengar semua yang selama ini kau sembunyikan dari dirimu sendiri."
Zaira merasa jantungnya berdegup semakin kencang. Ia tahu, inilah titik balik yang selama ini ia hindari - menghadapi masa lalu yang penuh darah dan kebohongan.
"Dulu kau adalah pewaris dari salah satu keluarga mafia paling berpengaruh di negara ini," pria tua itu memulai, suaranya berat dengan beban sejarah. "Tapi kekuatan itu membuatmu menjadi target. Keluargamu dibantai, dan kau selamat karena sebuah pengorbanan besar."
Zaira mengernyit, ingatannya samar-samar kembali. Bayangan kekerasan, pengkhianatan, dan pengorbanan yang menyakitkan.
"Kau tak benar-benar mati," lanjut pria itu. "Tubuhmu hilang, tapi jiwa dan kekuatanmu tertanam dalam tubuh Callista. Takdir membawamu kembali, tapi dalam wujud yang lemah, agar kau belajar arti kekuatan sebenarnya."
Zaira menatapnya, merasa campur aduk antara marah dan bingung. "Jadi... aku ini semacam proyek?"
Pria itu tersenyum tipis, "Bukan proyek, tapi kesempatan kedua. Kau punya kekuatan, dan kau harus menggunakannya untuk membalas dendam pada mereka yang menghancurkan keluargamu."
Kael mengangguk, menatap Zaira dengan serius. "Aku ada di sini bukan hanya sebagai ayah, tapi juga pelindungmu. Dunia yang kau hadapi sekarang jauh lebih berbahaya dari yang kau kira."
Zaira merasakan tekanan yang luar biasa. Semua yang selama ini ia lari, kini hadir di hadapannya dalam bentuk yang tak bisa ia hindari.
"Tapi bagaimana dengan tubuh ini?" tanya Zaira pelan. "Aku merasa rapuh, lemah, dan... takut."
Pria tua itu melangkah ke meja dan mengambil sebuah kotak kecil. "Di sini ada sesuatu yang akan membantumu mengendalikan kekuatanmu. Tapi kau harus berjanji, kau tidak akan menyerah."
Zaira menatap kotak itu dengan penuh penasaran. Di dalamnya terdapat sebuah liontin kecil dengan batu merah menyala.
"Ini bukan sembarang liontin," kata pria itu. "Ini warisan keluarga yang bisa menghubungkan kekuatan jiwamu dengan tubuh ini. Tapi ingat, kekuatan itu datang dengan harga."
Hari-hari berikutnya dihabiskan Zaira untuk belajar dan berlatih. Kael dan pria tua itu menjadi guru sekaligus pelindungnya. Ia belajar mengendalikan kekuatannya yang tersembunyi, belajar membaca bahasa tubuh musuh, dan menyusun strategi untuk menghadapi bahaya yang mengintai.
Tapi semakin dalam ia belajar, semakin besar juga beban yang ia rasakan. Dunia yang dulu ia tinggalkan penuh dengan darah dan pengkhianatan, kini hadir kembali dalam berbagai bentuk yang lebih rumit.
Suatu malam, saat Zaira sedang berlatih sendirian di ruang rahasia gedung itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bayangan masa lalu muncul kembali - bukan hanya kenangan, tapi juga ancaman nyata.
Seseorang mengintai di luar ruangan, langkahnya pelan tapi pasti. Zaira segera menyembunyikan diri dan menyiapkan diri untuk bertarung.
Pintu terbuka perlahan, dan sosok bayangan hitam masuk. Mata Zaira membelalak, mengenali wajah yang selama ini menjadi momok dalam hidupnya.
"Jadi kau masih hidup, Zaira..." suara itu dingin, penuh kebencian.
Zaira mengangkat kepala, matanya menyala penuh amarah. "Aku bukan Zaira lagi. Aku adalah Callista. Tapi jangan salah, aku lebih kuat dari yang kau kira."
Pertarungan pun tak terhindarkan. Suara benturan dan gesekan memecah keheningan malam itu. Tubuh rapuh Callista tak mampu menahan serangan secara langsung, tapi Zaira menggunakan kecerdasan dan insting bertarungnya untuk mengelak dan membalas.
Saat pertarungan semakin intens, Zaira teringat liontin di lehernya. Dengan gerakan cepat, ia menyentuh liontin itu, dan seketika aura merah menyala mengelilinginya.
Tubuhnya yang lemah seolah berubah menjadi bayangan pembalasan yang tak terduga. Ia memukul mundur lawannya dengan tenaga yang luar biasa, membuat musuh itu terkejut dan akhirnya mundur.
"Ini baru permulaan," ujar Zaira dengan suara berat. "Aku akan membalas semua yang telah hilang. Aku akan menjadi ratu, bukan mangsa."
Keesokan harinya, Kael datang dengan wajah serius. "Kau mulai menunjukkan kekuatanmu, tapi ingat, musuhmu bukan hanya dari masa lalu. Ada banyak pihak yang ingin menguasai dunia yang kau tinggalkan."
Zaira mengangguk, tatapannya tajam dan penuh tekad. "Aku siap menghadapi semuanya. Tak ada yang akan menghancurkanku lagi."
Kael tersenyum tipis. "Bagus. Karena jalanmu masih panjang, dan aku akan berada di sisimu."
Namun di balik semua itu, ada rahasia yang lebih gelap menunggu untuk terungkap - rahasia yang bisa merubah segalanya dan membuat Zaira mempertanyakan siapa sebenarnya musuh dan siapa yang benar-benar bisa dipercaya.
Malam itu, di balik bayangan kota, seorang sosok misterius mengamati dari kejauhan. Dengan suara serak yang penuh dendam, ia berbisik, "Zaira... aku sudah menunggumu."
Anda Mungkin Juga Suka





