
Transmigrasi Sang Mafia
Bab 3
Hari-hari setelah pertarungan malam itu berubah menjadi sebuah ujian yang tak berujung bagi Zaira. Tubuh yang selama ini terasa rapuh kini mulai menyatu dengan kekuatan baru yang muncul dari liontin merah di lehernya. Tapi seiring bertambahnya kekuatan, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar bisa dipercaya makin menggelayuti pikirannya.
Pagi itu, Zaira duduk di tepi balkon apartemen mewah yang kini menjadi tempat tinggal barunya. Kota di bawah sana bergerak dengan ritme yang sama cepatnya seperti detak jantungnya-sibuk, penuh rahasia, dan penuh bahaya. Ia merasakan ketegangan dalam setiap hembusan angin yang melewati rambutnya.
Kael datang menghampirinya, membawa secangkir kopi hangat. "Sudah lama kau di sini sendiri," katanya dengan nada hangat tapi penuh waspada.
Zaira menerima kopi itu, tapi matanya masih memandang ke kejauhan. "Aku terus memikirkan... siapa sebenarnya yang membunuh keluargaku? Dan mengapa aku harus hidup dalam tubuh ini yang asing?"
Kael menghela napas panjang. "Jawabannya tidak sesederhana yang kau kira. Ada orang-orang kuat di balik layar, yang ingin menjaga rahasia itu tetap tersembunyi. Dan kau... kau adalah ancaman terbesar mereka."
Zaira memejamkan mata, membayangkan semua wajah yang pernah ia temui-teman-teman lama yang ternyata berkhianat, orang-orang yang ia percayai yang kini menjadi musuh. Rasa sakit dan pengkhianatan itu seperti belati yang menusuk jiwanya.
"Tapi aku tidak mau menjadi korban lagi," katanya pelan, suara bergetar tapi penuh tekad. "Aku ingin mengendalikan hidupku, bukan dikendalikan masa lalu."
Kael tersenyum tipis. "Itulah alasan aku di sini. Untuk memastikan kau tidak sendirian."
Namun, di balik kata-katanya yang menenangkan, Zaira merasakan ada sesuatu yang belum terungkap. Ada rahasia yang Kael sembunyikan, sesuatu yang bisa menghancurkan kepercayaannya.
Hari itu, Zaira menerima pesan misterius melalui telepon. Pesan itu hanya berisi satu kalimat:
"Percayalah pada yang salah, dan kau akan jatuh lebih dalam."
Tidak ada nama pengirim, hanya nomor yang tak dikenal.
Zaira menatap layar telepon dengan hati berdebar. Pesan itu terasa seperti peringatan, atau mungkin jebakan.
Ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Mengandalkan insting dan latihan yang selama ini ia pelajari, Zaira mulai menggali informasi melalui jaringan bawah tanah yang selama ini dijaga oleh Kael.
Malam hari, ia menyelinap ke sebuah bar tersembunyi di sudut kota yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang tahu banyak hal tentang dunia mafia. Lampu remang dan musik jazz menciptakan suasana yang suram, cocok untuk pertemuan rahasia.
Di sudut ruangan, seorang pria bertato dengan mata dingin menatap Zaira. "Kau yang mereka panggil Callista?" tanyanya dengan suara serak.
Zaira mengangguk. "Aku butuh informasi tentang keluarga lama dan siapa yang membunuh mereka."
Pria itu tersenyum sinis. "Berani kau datang ke sini. Jawaban yang kau cari bukan hanya menyakitkan, tapi juga bisa membunuh."
Tapi Zaira sudah terlalu jauh untuk mundur. "Aku siap mati, asal tahu kebenarannya."
Pria itu memberikan sebuah amplop berisi foto-foto dan dokumen rahasia. Zaira melihat nama-nama, tanggal, dan lokasi yang semuanya mengarah pada sebuah konspirasi besar yang melibatkan orang-orang yang selama ini dianggapnya teman.
Salah satu nama yang muncul berulang kali adalah Kael.
Jantung Zaira berdetak sangat kencang. Apakah Kael benar-benar pelindungnya, atau justru dalang di balik kehancuran keluarganya?
Ia memutuskan untuk menghadapi Kael secara langsung.
Keesokan harinya, di ruang kerja Kael yang luas dan mewah, Zaira meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja.
Kael menatapnya dengan tenang, tapi ada bayangan gelap di matanya.
"Apa ini?" tanyanya dingin.
Zaira menatapnya dalam-dalam. "Kael, kau berkhianat padaku, bukan?"
Kael menggeleng pelan. "Tidak semua yang terlihat adalah kebenaran. Aku memang memiliki rahasia, tapi semua demi melindungimu."
Zaira tertawa getir. "Melindungi? Dengan cara menyembunyikan fakta bahwa kau tahu siapa yang membunuh keluargaku? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
Kael menghela napas, menunduk. "Karena... aku harus memastikan kau siap. Musuh kita terlalu kuat. Jika kau tahu terlalu cepat, kau akan hancur sebelum bisa bertarung."
Perdebatan itu berubah menjadi ketegangan yang membakar. Zaira merasa dikhianati oleh orang yang ia percayai, tapi ia juga sadar bahwa tanpa Kael, ia mungkin sudah mati berulang kali.
"Aku tidak tahu harus percaya siapa," ujar Zaira dengan suara gemetar.
Kael melangkah mendekat, menatap mata Zaira dengan lembut tapi tegas. "Aku tidak akan pernah membiarkan kau sendirian. Janji itu."
Namun, kata-kata itu tak langsung menghapus luka di hati Zaira.
Malam itu, Zaira duduk di kamarnya, menatap langit-langit sambil memikirkan semua pilihan yang ada. Di satu sisi, ada Kael, sosok yang selama ini menjadi sandaran. Di sisi lain, ada kebenaran yang semakin kabur dan musuh yang semakin dekat.
Dengan suara pelan, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Apapun yang terjadi, aku harus kuat. Aku harus membalas dendam. Dan aku harus menemukan siapa yang benar-benar musuh."
Keesokan harinya, sebuah kejutan datang dari masa lalu yang tak terduga.
Seorang wanita muncul di depan pintu, mengenakan jas hitam dengan tatapan dingin.
"Wajah ini pasti sudah lama tidak kau lihat," katanya pelan.
Zaira menatap wanita itu, mengenali bayangan masa lalu yang ingin ia lupakan.
"Aku di sini untuk mengingatkanmu, Callista," wanita itu tersenyum sinis. "Dunia yang kau masuki bukan hanya tentang kekuasaan dan darah. Tapi juga tentang pengorbanan terakhir yang harus kau buat."
Di luar jendela, kota yang gemerlap berubah menjadi panggung pertarungan yang lebih besar. Bayangan wanita itu membawa rahasia yang bisa merubah segalanya - dan Zaira harus memilih: bertarung untuk hidupnya, atau menyerah pada takdir yang membawanya ke jurang kehancuran.
Anda Mungkin Juga Suka





