Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tinggalkan Suami Mafia Setelah Hidup Kembali

Tinggalkan Suami Mafia Setelah Hidup Kembali

Setelah tewas terbakar di gudang anggur bersama bayi kembarnya akibat kekejaman Vincent Kusuma, sang protagonis terbangun kembali di malam sebelum persalinan. Di kehidupan masa lalu, ia dikhianati suaminya yang berselingkuh demi mendapatkan pewaris mafia. Kini, setelah mendapat kesempatan kedua, ia tidak lagi sudi menjadi istri sah bos mafia tersebut. Begitu anak-anaknya lahir dan kekuatannya pulih, ia bertekad membawa bayinya pergi jauh untuk memulai hidup baru yang aman.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pada hari kelahiran kembar, aku menyuap dokter keluarga dan menyuntikkan semua inihibitor persalinan kuat yang ada di rumah sakit untuk menunda persalinan. Alasannya karena di kehidupan sebelumnya, Vincent Kusuma didiagnosis dengan oligospermia.

Demi punya penerus, Vincent sampai cari belasan selingkuhan di luar. Dia mengumumkan, siapa pun yang duluan melahirkan anak cowok, anak itulah yang akan jadi bos keluarga berikutnya.

Katanya, asalkan aku duluan melahirkan, dia akan mengusir semua selingkuhannya dan membiarkan anakku menjadi pewaris Keluarga Kusuma.

Aku memercayainya.

Saat tahu aku hamil kembar, rasa haru dan senang yang sulit dikatakan membuatku gemetaran.

Tapi setelah melahirkan, dia malah suruh orang mengurung aku dan bayi yang baru lahir ke dalam gudang anggur yang dingin dan melarang semua orang dekatin kami.

“Lusi berasal dari keluarga sederhana. Aku cuman mau kasih anaknya status yang sah supaya masa depan mereka lebih baik. Tapi kau sengaja menyebarkan kabar itu, sampai dia keguguran karena putus asa. Akhirnya dia dan bayinya mati.”

“Kau segitu kejam! Kau sama sekali nggak layak jadi ibu pewaris Keluarga Kusuma! Renungkanlah kesalahanmu! 3 hari lagi baru aku lepaskan kau dari sini!”

Setelah selesai berbicara, Vincent suruh kepala pelayan kunci pintunya tanpa menyisakan lubang.

Tapi, dia nggak tahu.

Malam itu, gudang anggur kebakaran. Aku dan anak kembarku tewas terbakar.

Pas aku buka mata lagi, ternyata aku kembali ke malam sebelum melahirkan.

Di kehidupan yang baru ini, aku nggak mau jadi istri sah mafia lagi.

Setelah anakku lahir dan tenagaku pulih, aku akan bawa anakku pergi jauh dari sini.

Aku panggil dokter keluarga dan minta suntikan inhibitor terakhir.

Dokter ketakutan hingga wajahnya pucat dan berkata, “Bu Avera, kau sudah harus melahirkan! Kalau terus ditahan, ibu dan anak akan mati!”

Aku menggertakkan gigiku. Belum sempat berbicara, pengawal Vincent langsung menerobos masuk dan mengangkatku dari ranjang bersalin dengan kasar.

Melihat ini, dokter yang berada di belakang berteriak dengan putus asa, “Tanda-tanda vital Bu Avera terus menurun! Dipaksa pindah akan bikin dia perdarahan berat! Ini berarti bunuh 3 nyawa sekaligus!”

Pengawal mengabaikannya, lalu menyeretku ke tempat konferensi pers keluarga yang diadakan di aula rumah.

Para selingkuhan Vincent juga dibawa masuk. Beberapa di antara mereka perutnya sudah besar. Jelas-jelas sudah mendekati masa persalinan.

Kemudian, semua wanita, termasuk aku, dipaksa minum sebotol cairan pahit oleh pengawal. Obat itu adalah obat aborsi yang sangat kuat.

Situasi di aula langsung ricuh. Tangisan dan ratapan terdengar di mana-mana.

“Kalau pun Kak Avera melahirkan, kami tetap nggak bisa rebut posisinya. Kenapa kami harus aborsi anak? Aduh! Sakit sekali! Tolong!

Aku juga dipaksa minum sampai habis. Proses persalinan yang sebelumnya ditahan oleh inhibitor langsung kacau. Darah mengucur deras dan membasahi seluruh gaun tidur sutraku.

Jeritan kesakitanku mengagetkan semua cewek yang ada di sana. Mereka memandangku dengan panik dan bertanya, “Kak Avera juga dikasih minum obat itu? Kakak ‘kan hampir melahirkan.”

“Kalau bukan anak yang dilahirkan istri pertama, lalu siapa? Siapa yang mau nyawa kita semua?”

Aku kesakitan sampai nggak bisa berdiri dengan stabil. Aku memaksakan diri untuk bangkit dan berteriak ke penjaga pintu, “Cepat panggil dokter! Ini bisa bunuh orang, tahu?”

Tepat pada saat ini, Lusi Nabila yang mengenakan setelan jas putih buatan khusus masuk sambil menggandeng Vincent Kusuma. Wajahnya bersemu merah, sama sekali nggak kelihatan lemah kayak orang yang baru saja melahirkan.

Begitu Vincent masuk, dia langsung melihat para selingkuhannya berjatuhan dan menggeliat kesakitan di lantai. Melihat ini, wajahnya langsung berubah muram.

Tapi Lusi malah langsung menatapku di antara kerumunan dan berteriak dengan suara melengking, “Kak Avera! Apa yang kau lakukan? Kok mereka bisa keguguran semua?”

“Ngeri sekali. Kalau bukan Vincent terus bersamaku, mungkin anakku juga bakal kayak mereka gitu. Kak Avera, kau kok sekejam itu?”

Lusi menatapku dengan mata berlinang, lalu langsung menuduhku sebagai biang keladi.

Mendengar ini, aku kaget hingga terus menggeleng-gelengkan kepala. Belum sempat berbicara, sepasang tangan besar mendorongku hingga jatuh ke lantai.

“Dasar bajingan! Beraninya kau racuni mereka saat aku nggak ada! Kau segitu iri hati? Sampai mau bunuh mereka dan bayi mereka!”

Aku meringkuk kesakitan, tapi mataku justru melihat Lusi yang berdiri di belakang Vincent tersenyum dengan puas.

Aku menggertakkan gigiku dan berkata, “Aku nggak buat apa-apa … Pasti dia!”

“Masih berani menyangkal?!” Vincent membentak dengan keras dan suaranya pun bergema di seluruh aula. “Ini bukan pertama kalinya kau berbuat jahat karena iri hati! Kali ini, aku nggak akan memanjakanmu lagi!”

Dia memerintah para selingkuhannya yang keguguran itu, “Satu orang kasih dia satu tamparan. Habis itu, aku antar kalian ke panti rehabilitasi swasta terbaik untuk pemulihan.”

Pengawal menahan aku di tengah aula, sama sekali nggak peduli pada darah yang mengucur deras dari bawah tubuhku.

Para selingkuhan berjalan mendekat sambil menangis dan berkata, “Maaf, Kak Avera.”

Tamparan datang bergantian. Kepalaku berdenyut, telingaku berdenging dan separuh wajahku langsung kebas.

Setelah semua orang pergi, Vincent baru menggendong bayi yang terbungkus selimut mewah dari pengasuhnya dengan puas. Lalu menghampiriku sambil menggenggam tangan Lusi.

Melihat seluruh tubuhku yang dipenuhi noda darah dan pipi yang membengkak, seberkas emosi rumit melintas di matanya.

Tapi sesaat kemudian, tatapannya kembali jernih dan berkata dengan dingin, “Jangan salahkan aku suruh mereka menamparmu. Kau buat mereka kehilangan anak. Aku harus hukum kau di depan mereka agar masalah ini bisa berakhir. Sekaligus biar kau tahu, aku nggak akan memanjakanmu lagi. Kalau kau tetap berbuat jahat, inilah akibatnya.”

“Selain itu, kali ini jangan bermimpi mau rebut posisi pewaris Lusi dan anaknya.”

Mendengar ini, seluruh badanku gemetar. Aku mendongak melihatnya.

Rupanya bukan hanya aku yang hidup kembali.

Pantesan hanya karena ucapan Lusi, Vincent langsung yakin akulah pelakunya.

Pantesan dia bilang ini bukan pertama kalinya aku berbuat jahat.

Karena di kehidupan sebelumnya, dia juga menuduhku dengan cara yang sama, menjatuhkan hukuman mati untukku dan anakku demi Lusi.

Memikirkan ini, mataku memerah. Dia malah berkata dengan dingin, “Avera, kau pura-pura kasihan juga nggak guna lagi.”

“Aku sudah suruh dokter beri Lusi obat pemacu kontraksi. Kali ini, dia yang duluan melahirkan. Sudah kubilang, siapa yang duluan melahirkan, anaknya yang akan jadi pewaris. Sekalipun kau adalah istri sahku, itu juga nggak ada gunanya.”

Mendengar ini, aku tersenyum getir sambil menahan bagian bawah tubuh yang terus mengucurkan darah, lalu berkata dengan nada rendah, “Aku sudah suntik inhibitor untuk menunda persalinan, kasih jalan buat kalian. Kenapa kau masih nggak membiarkan aku melahirkan anakku? Kenapa kau masih paksa aku minum obat dan mau bunuh anakku?”

Mendengar ini, Vincent tercengang. Dia mengerutkan alisnya dan berkata, “Jangan asal ngomong! Tenggat melahirkanmu tadi malam ‘kan sudah lewat. Aku sudah tanya ke dokter, harusnya kau sudah melahirkan.”

Sambil menahan nyeri hebat, aku mengulurkan tanganku untuk meraih celananya dan memaksanya meraba perutku yang masih besar.

Namun, wajahnya penuh rasa jijik. Dia segera melepaskan tanganku dan berkata, “Lusi baru siap melahirkan. Dia nggak tahan cium bau darah.”

“Tak usah drama lagi. Kalau mau buktikan bahwa kau nggak bermaksud mencelakai Lusi, dalam konferensi pers keluarga besok, akuilah bahwa kau yang mandul, sehingga kau minta Lusi untuk melahirkan anak untukmu.”

“Lalu, serahkan semua saham, properti, dana amanahmu pada Lusi dan anaknya. Ke depannya, kau layani mereka dengan baik.”

“Kalau masih macam-macam atau berani sentuh dia sedikit saja, kali ini yang kuhabisi bukan cuma kau saja. Jangan harap ayahmu yang terluka parah dan masih koma bisa terus dapat perawatan terbaik di panti rehabilitasi keluarga.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Demi membalas kepedihan atas kematian sang ibu, Anggara nekat menculik Almaira. Ia bertekad menyiksa ayah gadis itu dengan cara memisahkan mereka selamanya. Namun, kedekatan yang terjalin justru menumbuhkan perasaan tak terduga di hati Anggara. Kini ia terjebak dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai bersemi. Mampukah kasih sayang menghapus dendam membara, sementara Almaira sendiri sangat membenci sosok yang telah menyekapnya?
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Mahkota Pewaris yang Dikhianati
9.0
Emilia, pewaris sah Keluarga Hewitt, nyaris tewas akibat pengkhianatan orang tua dan keempat kakaknya demi seorang penipu. Kini, dia bangkit tanpa rasa takut untuk melawan siapa pun yang menindasnya. Sebagai dokter ternama dan penilai harta karun, ia membungkam setiap ejekan dengan kemampuannya. Saat dikucilkan karena tidak dicintai keluarganya, klan paling terpandang di kota justru muncul melindunginya dan menganggap Emilia sebagai permata yang sangat berharga.
Sampul Novel Pembalasan Janda Talak Tiga
7.8
Hanya beberapa menit usai ijab kabul, seorang pengantin wanita harus menelan pil pahit saat suaminya menjatuhkan talak tiga secara mendadak. Di tengah riuh tamu dan hidangan yang belum tersentuh, riasan serta henna di tangannya seolah menjadi saksi bisu kehancuran martabatnya. Rasa sakit yang mendalam seketika berubah menjadi api dendam kesumat. Tak mau terus terpuruk, sang janda kini bangkit dan bertekad membalas perbuatan keji yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Salsa Meguno
9.1
Salsa Meguno bukanlah lagi sosok gadis lemah yang mudah ditindas. Setelah melewati masa lalu yang penuh kegelapan, ia kini bertransformasi menjadi wanita tangguh dengan mental baja. Namun, tragedi memilukan yang merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya meninggalkan luka yang sangat mendalam. Di tengah ketidakpastian ini, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah Salsa akan memilih jalan balas dendam untuk menuntut keadilan atas kematian mereka?