Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Princess Revenge Plan

The Princess Revenge Plan

Terbangun secara misterius di masa lalu, jiwaku kini terperangkap dalam raga seorang putri yang dikenal lemah dan sering dizalimi. Enggan membiarkan penindasan itu berlanjut, aku bertekad membalas setiap penderitaan yang ia alami berkali-kali lipat. Namun, sebuah lamaran mendadak dari Putra Mahkota datang mengusik rencana besarku. Tak peduli siapa pun yang menghalangi, misi balas dendam ini tetap menjadi prioritas utama meski harus melawan kerajaan sekalipun.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Nona aku telah membereskannya," ujar seorang pelayan membungkuk hormat pada tuannya.

"Baguss, sekarang tidak ada lagi yang perlu aku takutkan," ucapnya sambil tersenyum senang.

Dia adalah Shu Hang, saudara atau adik dari Xue Mingyan. Dia telah merencanakan pembunuhan untuk saudaranya sendiri.

Shu Hang berjalan dengan hati gembira karena telah berhasil membuat saudaranya terbunuh dan semua yang ia takutkan akhirnya sirna.

Demi melancarkan aksinya dia berlari menuju kediaman utama sambil menangis terisak isak.

Brakkk

Suara pintu yang dibanting oleh seseorang dan membuat seluruh penghuni di dalam terkejut.

"Ayah, ibu .... aku mendapatkan kabar buruk huhuhuhu," ucap Shu Hang yang langsung terduduk lemas di kaki ayahnya sang Perdana Mentri.

Ayahnya terkejut, lalu menyuruh Shu Hang untuk bangun dan duduk di sampingnya.

"Ada apa Hang er, katakan pada ayah apa yang terjadi?" tanya ayahnya khawatir.

"Kak ..... kak Ming er ayahh, di ... dia ...."

"Ada apa adikku? mengapa kau menangis?" potong Xue Mingyan yang sedang berdiri di ambang pintu.

Shu Hang menatap tidak percaya pada kakaknya ini, bagaimana tidak? dia seharusnya sudah mati dan bukan berdiri di sini.

"Apa yang ingin kau katakan? kenapa dengan diriku?" tanya Xue Mingyan  berjalan menghampiri Shu Hang.

Wajah Shu Hang pucat pasi, dia terkejut setengah mati melihat bahwa kakaknya masih hidup.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ayahnya bingung.

'Baiklah, waktu bermain telah dimulai,' ucap Xue Mingyan senang di dalam hatinya.

"Ayah, seseorang telah menjebak kami berdua. Dia mengatakan kalau Shu Hang mengajakku bertemu di sungai dekat hutan siang ini. Dia berniat jahat pada kami, ayah aku mohon pengadilannya," adu Xue Mingyan sedih.

Wajahnya Xue Mingyan sekarang terlihat sangat mengkhawatirkan, membuat semua orang yang berada di ruangan itu merasa iba padanya.

"Itu dia pelakunya ayah, dialah yang telah mengatakan kalau adikku Shu Hang ingin bertemu dengan diriku secara pribadi di sungai dekat hutan sana," ujar Xue Mingyan sambil menunjuk seorang pelayan yang berada di samping Shu Hang.

Pelayan yang ditunjuk oleh Xue Mingyan kaget, dia menatap Shu Hang selaku majikannya itu berniat meminta bantuan.

Shu Hang menggelengkan kepalanya pelan mengisyaratkan jangan pedulikan ucapannya.

Pelayan itu tersenyum puas, dia tidak peduli lagi jika harus menghina Xue Mingyan karena dirinya ada Shu Hang yang bisa membantunya.

"Nona Besar, apa yang nona bicarakan? dari tadi aku mengikuti terus Nona Shu Hang dan tidak pernah sedetikpun meninggalkannya. Lalu bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan Nona Besar jika aku hari ini selalu bersama dengan Nona Shu Hang?" tanya pelayannya itu sambil tersenyum puas menatap Xue Mingyan.

Xue mingyan menunduk kemudian dia tersenyum, lalu dia mendongakkan kepalanya dan menatap tajam pelayan itu.

"Lalu apa kau bisa jelaskan bagaimana aku mendapatkan hal ini?" tanya Xue Mingyan balik sambil menunjukan sepotong kain yang dari tadi digenggam olehnya.

Pelayan itu terkejut karena melihat warna kain yang sama dengan pakaiannya saat ini.

Dia teringat pada saat akan pulang ke sini, pakaiannya tidak sengaja tersangkut sebuah pohon. Tanpa pikir panjang dirinya langsung menarik pakaiannya dan meninggalkan potongan kain yang masih tersangkut itu tanpa curiga tidak akan terjadi apa apa.

"Tadi di hutan aku merobek pakaiannya saat dia menyiksaku ayah. Aku merobeknya untuk menunjukan bukti pada ayah kalau aku disiksa oleh dia," lirih Xue Mingyan takut.

Karena takut pelayan itu langsung berlutut meminta ampun pada Perdana Mentri.

"Maafkan hamba, tadi hamba keliru. Mohon maafkanlah hamba ini yang tidak tahu diri," ujar pelayan itu memohon ampun.

Perdana Mentri itu mengurut keningnya  pelan karena pusing.

"Sudahlah tidak perlu memperpanjang masalah ini. Semuanya kembali ke paviliun kalian sekarang, ayah ingin istirahat!" perintah Perdana Mentri.

Pelayan itu tersenyum senang karena Perdana Mentri sendiri tidak mempermasalahkan masalah ini.

Hal ini membuktikan kalau Xue Mingyan tidaklah lebih dari seorang sampah.

Bahkan ayahnya sendiri tidak peduli jika anaknya diganggu oleh seorang pelayan seperti dirinya.

Xue Mingyan tersenyum miris ketika mendengar ayahnya sendiri begitu tidak memperdulikan dirinya.

"Ayah, Ming er sangat mengkhawatirkan kondisi ayah sekarang. Tapi Ming er takut jika masalah kedua putri ayah yang dijebak oleh pelayannya sendiri bebas tanpa hukuman, ini akan merusak reputasi ayah sebagai Perdana Mentri. Ta ... tapi jika ayah lelah Ming er tidak berani menganggu ayah." panjang Xue Mingyan khawatir dengan menunjukan raut wajah sedih.

Ayahnya berpikir bahwa yang dikatakan oleh Xue Mingyan ada benarnya juga. Jika masalah ini sampai terdengar keluar maka akan timbul masalah besar baginya.

"Baiklah, sesuai yang dikatakan Ming er pelayan ini harus dihukum. Pengawal pukul pelayan ini sebanyak 40 kali menggunakan papan, buat dirinya jera karena telah berani menjebak putri seorang perdana mentri," perintahnya.

Pelayan itu terkejut, dia tidak mau jika harus menerima hukuman itu.

"Tuan, ampunilah saya, hamba bersalah. Tuaaannn ...." teriak pelayan itu meminta ampun.

Tetapi terlambat dia langsung diseret oleh dua pengawal dan pergi keluar untuk menerima hukuman.

Sebelum keluar dia melihat nonanya yang tidak peduli padanya dan dia juga sempat melihat Xue Mingyan.

Dia terkejut saat melihat Xue Mingyan yang tersenyum sinis sambil menatapnya tajam.

'Ada apa dengannya? kenapa dia bisa menjadi begitu pintar?' tanyanya didalam hati.

"Ayah, Ming er pamit mengundurkan diri," pamit Xue Mingyan sambil membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Sebelum pergi dia menatap saudaranya itu, Xue Mingyan tersenyum penuh kemenangan pada Shu Hang.

Shu Hang kaget dan kesal kenapa kakaknya ini bisa berubah dalam sekejap.

Dia bertanya tanya apakah ini kakaknya yang sama, yang selalu takut jika berhadapan dengan orang lain.

Xue Mingyan berjalan ke Pavilliun Awan miliknya. Tempat yang sangat kumuh dan jelek tanpa seorang pelayan ataupun pengawal.

Selama ini Xue Mingyan tinggal sendiri tanpa seorangpun. Karena diasingkan oleh keluarganya sendiri membuat dirinya menjadi penakut dan mudah ditindas.

Setelah masuk ke dalam Pavilliunnya, Xue Mingyan segera menutupnya lalu berbalik dan langsung tertawa.

Dia tertawa senang ketika melihat pelayan itu tidak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa pasrah menerima hukuman dipukul 40 kali oleh papan.

"Haduh, perutku sakit sekali," keluh Xue Mingyan sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa terus menerus.

"Ini hanya permulaan, aku belum menggertak atapun membalaskan dendamku padamu," ujar Xue mingyan kejam.

Dia memikirkan bagaimana tampang adik dan Selir ayahnya yang tersiksa karena ulahnya.

Itu membuat dirinya menjadi bersemangat, Xue Mingyan tidak sabar bermain lagi dengan mereka.

Ya itu dianggap hanya sebuah permainan oleh Xue Mingyan sendiri. Karena menurutnya mereka hanya bisa berbicara.

'Mereka menantang adu kepintaran denganku? huuh aku takut hanya akan mengecewakannya saja. Menantangku hanya akan membuat kalian menyesalinya seumur hidup!' tekad Xue Mingyan di dalam hatinya.

"Baiklah, untuk saat ini aku ingin mengubah Pavilliunku menjadi tempat yang layak ditinggali manusia," ucap Xue Mingyan pada dirinya sendiri.

Mungkin hari ini akan menjadi hari melelahkan baginya, tapi demi mencari kenyamanan dia akan melewati rintangan ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Benua terkutuk kini menjadi neraka akibat perdagangan manusia dan penindasan kejam bagi yang lemah. Demi mengakhiri penderitaan ini, para dewa mengutus Dewi Kematian untuk membasmi kejahatan di sana. Namun, sebuah insiden fatal saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Sang dewi justru terlahir kembali sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Mampukah ia menjalankan misi sucinya dan menyelamatkan mereka yang tertindas tanpa kekuatan dewa?
Sampul Novel Ketua Geng Itu Suamiku
8.0
Ayu, siswi beasiswa berprestasi di SMA Garuda, harus menjalani pernikahan dini dengan Arbinata alias Bin, pemimpin geng motor Garuda Steel yang bermasalah. Hidupnya berubah drastis setelah menyaksikan konfrontasi maut sang suami. Di tengah perjuangan lulus sekolah, Ayu terjebak dilema karena perhatian Iky, sahabat Bin. Mereka harus menghadapi musuh bersama serta kerumitan cinta segitiga demi meraih masa depan yang tenang di tengah kekacauan dunia geng motor.
Sampul Novel Pendekar Naga Biru
9.3
Ribuan tahun naga dianggap mitos di Kamandaria, hingga hadirnya Candaka mengubah segalanya. Sebagai titisan Pendekar Naga Biru yang diramalkan, ia bertekad mengakhiri penderitaan rakyat dari kekejaman raja lalim. Dalam petualangan penuh aksi ini, Candaka harus membuktikan eksistensi naga sekaligus memburu Kitab 9 Naga, pusaka silat terkuat di jagat raya. Mampukah ia menggulingkan tirani, mengalahkan Iblis Naga Hitam, dan merebut takhta demi kedamaian Bumi Karimun?
Sampul Novel Pendewaan
8.8
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?
Sampul Novel Penyihir Terakhir
8.3
Zephyr menjadi penyihir tunggal yang tersisa setelah pembantaian kaumnya seabad silam. Berkat sihir teleportasi sepupunya, ia lolos dari maut dan mengasingkan diri di reruntuhan Kadipaten Elzir. Namun, kedamaiannya terusik saat pasukan Kerajaan Elde memburunya sebagai ancaman besar. Kini, Zephyr harus menentukan nasibnya: menghancurkan umat manusia demi dendam masa lalu atau mencari jalan perdamaian. Keputusannya akan mengubah sejarah hubungan manusia dan sihir selamanya.
Sampul Novel Salsa Meguno
9.1
Salsa Meguno bukanlah lagi sosok gadis lemah yang mudah ditindas. Setelah melewati masa lalu yang penuh kegelapan, ia kini bertransformasi menjadi wanita tangguh dengan mental baja. Namun, tragedi memilukan yang merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya meninggalkan luka yang sangat mendalam. Di tengah ketidakpastian ini, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah Salsa akan memilih jalan balas dendam untuk menuntut keadilan atas kematian mereka?