Sampul Novel Pendewaan

Pendewaan

8.8 / 10.0
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?

Pendewaan Bab 1

Suatu pagi di akhir musim gugur. Saat fajar menyingsing menggantikan gelapnya malam, sinar mentari di ufuk timur memberikan sedikit kehangatan di udara dingin yang menusuk.

Saat itu lampu minyak di ruang bawah tanah rumah kediaman Keluarga Luo terlihat masih menyala. Seorang pemuda bernama Zen Luo duduk tegak di depan meja, tubuhnya menutupi sebagian besar cahaya yang terpancar dari lampu minyak tersebut, diam-diam dia mengeluarkan sebuah buku yang dijilid dengan benang dan terlihat sudah cukup usang.

Zen Luo adalah seorang pemuda bertubuh kurus dan tidak dapat dibilang tampan yang baru saja berusia 17 tahun, dia memiliki temperamen yang sangat lembut, matanya begitu bersinar bahkan di bawah cahaya lampu minyak yang redup dan temaram pun, tetap saja terlihat begitu bersinar dan mempesona.

"Aku membutuhkan waktu kira-kira sebulan untuk menyelesaikan buku 'Prinsip Surgawi' ini, semua argumentasi yang tertulis di dalam buku ini memang sangat baik, tetapi empat kata yang berbunyi 'Membalas kejahatan dengan kebaikan' sungguh sangat menjijikkan." Bisik Zen sambil menatap api di lampu minyak yang seukuran kacang. Wajahnya terlihat sangat sedih, "Jika saja ayah tidak berbaik hati dan mempercayai empat kata tersebut, aku sebagai keturunan langsung dari Klan Luo pasti tidak akan berakhir seperti ini, dan ayah juga pasti masih hidup ..."

Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka kunci pintu ruang bawah tanah yang kemudian membuyarkan lamunannya. Ekspresi wajahnya yang sedih langsung berubah menjadi sangat serius, dia dengan segera meniup api yang ada di lampu minyaknya dan menyelimuti dirinya dengan selimut katun yang sudah usang.

Pintu ruang bawah tanah pun akhirnya terbuka, lalu terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekatinya. Seorang petugas melangkah menuju ke arahnya dan menginjakkan kakinya di tempat tidur Zen, dia lalu berteriak kepadanya, "Apakah kamu masih tidur? Apakah kamu sedang bermimpi menjadi tuan muda dari Klan Luo? Bangun sekarang juga! Kamu harus pergi sekarang!"

Pria tersebut dulunya adalah seorang pelayan yang bekerja untuk Klan Luo, tampangnya terlihat agak keji, kutil yang tumbuh di dahinya sering membuat orang yang melihatnya merasa jijik, Zen duduk di tempat tidurnya sambil menggosok matanya, dia lalu menyingkap selimutnya, dan bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mengenakan pakaian, kaus kaki, dan sepatunya dengan santai tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun pakaian itu sudah tua dan lusuh tapi Zen tetap menyimpannya dengan rapi, dia adalah pria yang sangat rapi dan teliti.

Petugas tersebut memutar bola matanya, lalu mengkritiknya, dan kemudian memberi isyarat kepada yang lain dengan melambaikan tangannya, beberapa pria lalu datang menghampiri dan mengepung Zen, mereka lalu memakaikan baju pelindung kulit yang tebal dan juga memborgol tangan dan kakinya dengan paksa.

Setelah selesai, Zen lalu mengikuti para petugas tersebut berjalan keluar dari ruang bawah tanah dan pergi menuju ke Balai Seni Bela Diri Luo.

Klan Luo memiliki ratusan tambang dan juga jutaan hektar tanah yang sangat subur, mereka adalah klan yang sangat besar dan berkuasa di Kabupaten C.

Namun mereka tidak ada apa-apanya jika berada di wilayah timur karena di sana memiliki ribuan kota kabupaten dan juga keluarga kaya dan terkemuka yang tak terhitung jumlahnya.

Zen berjalan keluar dari ruang bawah tanah yang suram dengan dikawal oleh beberapa pria, ini sudah menjadi ritual hariannya, jadi dia sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Untuk pergi ke Balai Seni Bela Diri, dia harus berjalan melewati banyak paviliun, jembatan, dan ruang galeri.

Balai seni bela diri tersebut berada di area terbuka, tempat itu adalah tempat di mana anak-anak dari Klan Luo belajar dan berlatih seni bela diri. Pintu masuknya dihiasi dengan patung singa jantan dan singa betina yang terbuat dari marmer putih, lantainya terbuat dari lempengan batu basal yang hitam dan besar. Hanya dengan berdiri di pintu masuk saja, orang-orang bisa merasakan kekuatan yang memancar dari dalam Balai seni.

Di tengah Balai Seni Bela Diri tersebut, ada puluhan anak dari Klan Luo yang terlihat sedang berlatih seni bela diri di bawah bimbingan seorang guru, mereka semua mengenakan jubah abu-abu.

mereka terus menerus melayangkan tinjunya sambil berteriak.

Anak-anak tersebut harus belajar dengan rajin dan berlatih dengan keras agar bisa memenangkan posisi tertentu dalam Klan mereka, semua anak-anak yang ada di sana terlihat hanya berusia 10 tahun ke atas.

Pada akhir musim gugur ini, meskipun angin dingin sudah mulai bertiup, mereka tetap saja berlatih dengan semangat hingga bermandikan keringat. Panas dan dingin yang kontras memenuhi seluruh balai seni yang diselimuti oleh kabut putih.

Di sisi lain Aula Seni Bela Diri berdiri lebih dari selusin pria yang berpakaian seperti Zen, mengenakan pelindung kulit dengan tangan dan kaki yang dibelenggu. Orang-orang itu terlihat sangat menyedihkan, sekujur tubuh mereka dipenuhi oleh luka dan darah.

Zen lalu dikawal masuk ke dalam Balai Seni Bela Diri, penjaga menempatkannya di antara orang-orang yang terluka tersebut.

Sebagian besar dari mereka adalah terpidana mati yang telah dibeli oleh Klan Luo dari penjara lokal dan dijadikan sebagai budak. Para budak ini dijadikan sebagai alat bagi anak-anak dari Klan Luo untuk melatih dan menguji kekuatan mereka, mereka diperbolehkan untuk menyerang para budak itu sesuka hati mereka, beberapa budak bahkan sampai terbunuh dan cacat akibat dari serangan tersebut. Seiring berjalannya waktu, jumlahnya semakin bertambah, tidak tahu sudah berapa banyak budak yang kehilangan nyawa mereka di sana.

Namun kondisi Zen sangatlah berbeda, dia tidaklah dibeli dan juga bukanlah terpidana mati, dia adalah anak tertua dari cabang tertua Klan Luo. Anggota Klan yang lain biasa memanggilnya dengan sebutan tuan muda, dulunya dia juga seorang bangsawan, para rekannya pasti akan membungkuk dan memberi hormat padanya, bahkan para tetua keluarga pun bersikap sangat sopan kepadanya.

Sampai dua tahun yang lalu semua langsung berubah, sebuah bencana tiba-tiba terjadi di Kabupaten C, ayah Zen yang merupakan kepala Klan Luo diracuni oleh saudaranya sendiri, dia langsung meninggal di tempat saat itu juga.

Tidak lama setelah itu, cabang tertua dari Klan Luo langsung diambil alih oleh tiga cabang lainnya. Mereka memfitnah dan membuat tuduhan palsu terhadap ayah Zen dengan mengatakan kalau dia adalah seorang pemberontak di dalam Klan mereka, dan karena hal itu keluarga mereka tidak bisa bertahan dan cabang tertua menjadi tidak sekuat sebelumnya.

Zen yang tadinya merupakan tuan muda dari Klan Luo, juga dicap sebagai pemberontak dan langsung dijadikan sebagai budak mereka, dia dijadikan sebagai alat untuk latihan seni bela diri dan dipukuli sesuka hati oleh anak-anak dari Klan Luo tersebut.

Zen telah menjalani hidup seperti ini selama dua tahun, dia bahkan sudah tidak tahu berapa banyak tinju dan hinaan yang dia telah dia terima selama dua tahun terakhir ini.

"Latihan tinju hari ini sudah selesai, kalian boleh memilih seorang budak untuk latihan berikutnya sekarang! Dengan memukul tubuh manusia, memungkinkan kalian untuk bisa sepenuhnya memahami keterampilan tempur yang sebenarnya, dan juga bisa mengetahui kelemahan serta struktur tubuh manusia!"

Setelah guru tersebut selesai berbicara, anak-anak yang ada di sana langsung memilih budak mereka. Seketika itu, suara para budak yang memohon ampun dan belas kasihan pun langsung terdengar di seluruh ruang balai seni, anak-anak tersebut tidak pernah memperlakukan budak-budak tersebut sebagai manusia, mereka dilatih untuk memukul tanpa ampun dan belas kasihan.

Banyak dari mereka yang mencoba untuk menemukan Zen. Bisa memukuli mantan tuan muda dengan serangan dan pukulan sebanyak mungkin memberi mereka sebuah rasa pencapaian yang sangat besar!

Dengan sikap yang tenang, Zen melindungi bagian vital tubuhnya saat dirinya dipukuli bak karung pasir, dan karena sudah dua tahun menjadi budak di sana jadi sekarang dia sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Tidak lama kemudian, beberapa orang terlihat berjalan masuk ke dalam Balai Seni Bela Diri, seorang pria muda yang berpakaian rapi terlihat seperti pemimpin mereka.

"Tuan muda telah tiba!"

"Tuan muda, akhirnya Anda selesai menjalankan pelatihan. sekarang Anda terlihat lebih segar dan bersemangat, kemampuan dan kekuatanmu juga pasti telah berkembang pesat!"

"Tuan muda kita adalah orang yang cerdas, dia adalah bibit Klan Luo yang sangat berbakat. sekarang dia pasti sudah semakin kuat dan telah memasuki tingkat pemurnian tulang yang lebih tinggi."

Melihat kedatangan tuan muda tersebut, anak-anak langsung menghentikan aktivitas mereka dan mulai berkumpul di sekitarnya, beberapa dari mereka bahkan berjalan mendekatinya dan melemparkan beberapa pujian kepadanya. Jelas terlihat kalau mereka semua sangat menyanjungnya.

Zen menatap pemuda itu dengan penuh kemarahan, Pria muda yang dipanggil tuan muda oleh anak-anak ini adalah Perrin Luo, dia adalah putra tertua dari cabang kedua Klan Luo, usianya sama dengan Zen.

Perrin menggantikan posisi Zen sebagai tuan muda dari Klan Luo setelah dia diturunkan dan dijadikan sebagai budak mereka.

Beberapa waktu lalu, Zen mendengar kabar kalau Perrin pergi ke tempat terpencil untuk berlatih, dia menghilang untuk waktu yang cukup lama, dan sepertinya kemampuannya meningkat dengan pesat setelah dia melakukan pelatihan tersebut.

Perrin Luo yang sangat sensitif kemudian menolehkan kepalanya ke arah Zen dan menyadari kalau sepupunya itu sedang menatapnya dengan penuh kebencian. Dia lalu tersenyum menyeringai sambil berjalan ke arahnya dan berkata, "Zen, aku pergi berlatih dalam jangka waktu yang cukup lama, dan saat aku kembali kesini, aku tidak menyangka kalau kamu masih hidup."

"Terima kasih karena sudah begitu peduli padaku, sayang sekali aku masih hidup." Jawabnya dengan geram.

"Berani sekali kamu! kata-kata macam apa itu? Beraninya kamu berbicara seperti itu pada tuan muda!?"

"Kamu hanya seorang budak di sini, berlutut! Cepat berlutut dan minta maaf pada tuan muda atau kamu akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini!"

Beberapa anak dari Klan Luo lalu meneriakinya, seolah-olah dia telah melakukan suatu kesalahan yang tidak termaafkan pada mereka.

Zen melihat sekelilingnya dengan acuh tak acuh. Saat dia menjadi tuan muda, semua orang-orang yang ada di sana berperilaku seperti anjing kecil di depannya, bahkan bernapas saja mereka juga tidak berani, namun setelah dia kehilangan kekuasaannya, sikap mereka langsung berubah, semua ini terjadi begitu tiba-tiba. Sekarang, mereka semua telah menjadi anjing Perrin.

Perrin lalu mengangkat tangannya untuk memberi isyarat pada anak-anak tersebut agar berhenti berteriak. Dia pun lalu berkata pada Zen dengan senyum kemenangan, "Zen, tahukah kamu mengapa aku pergi berlatih?"

Zen tidak berbicara sepatah kata pun, Dia hanya menatap Perrin dengan ekspresi yang datar.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pendewaan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Derita Menantu Jelita
8.2
Kecelakaan tragis yang melumpuhkan sang suami memaksa ayah mertua tinggal bersama mereka. Namun, situasi di rumah tangga dalam novel modern misteri Derita Menantu Jelita ini kian mencekam saat sang suami bertekad mendapatkan keturunan demi garis keluarga. Sebuah rencana nekat dijalankan; ia diam-diam mencampurkan obat ke dalam minuman istri dan ayahnya sendiri. Keputusan gelap tersebut seketika mengubah segalanya, menyeret kehidupan mereka ke dalam pusaran konflik yang tak lagi terkendali.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan