
The Power of Mita
Bab 2
Mita menemui sahabatnya yang tengah nongkrong di pos ronda, dia memang tinggal sebatang kara, orangtuanya pergi ke kota dan sudah bertahun-tahun tidak pulang. Awalnya Mita tinggal bersama Ibunya, berhubung ibunya menikah lagi, Mita tinggal sendiri, cari uang sendiri, dan hidup sendiri. Ngeri ....
"Bro! Ada misi baru, nih!" seru Mita, pada Achsen, Bredy dan Yunita.
"Misi apa?" tanya Achsen, dengan gayanya yang somplak.
"Memutuskan hubungan orang," jawab Mita tanpa basa-basi.
"Eh! Gak baik itu ... memutuskan hubungan orang," protes Yunita, tidak suka.
"Ada uangnya tidak?" tanya Bredy, langsung pada intinya. Meski seorang Dokter, pikirannya hanya ada uang.
"Apa pernah seorang Mita menolong orang secara cuma-cuma?! Tentu saja ada. Sekarang! Aku tanya pada kalian, khususnya Bredy dan Achsen. Wanita cantik menurut kalian itu seperti apa?" tanya Mita menatap keduanya. Bredy dan Achsen tampak sibuk dengan pikirannya.
"Kalau menurutku, sih. Wanita cantik itu bisa dilihat dari kakinya, kalau kakinya bersih otomatis itunya bersih. Kalau itunya bersih lelaki jadi suka dan betah," jawab Bredy, membuat Ahcsen tertawa.
"Yakin?!" Achsen semakin gencar mengoloknya.
"Yakin-lah! Ingat! Aku seorang Dokter," sahut Bredy, menggerutu.
"Baiklah! Lihat bencong di sana! Dia kakinya bersih, loh. Godain gih!" perintah Achsen kali ini bukan hanya dia yang tertawa, melainkan Mita dan Yunita juga.
"Hai, Mas Bred ... godain ekke, ih ... ganteng deh," seru mbak setengah pria, genit menatap Bredy.
"Dasar, Kalian! Dia bukan wanita tahu! Tapi makhluk unik," Bredy semakin kesal dan memerah mukanya, kalau soal pendapat, dia memang kekeh dengan ucapannya.
"Eh! Ngomong-ngomong, kakimu buluk, Mit. Apa jangan-jangan punyamu bau?" tanya Achsen, kali ini ganti menggoda Mita, wanita yang biasanya tenang kini jadi kesal gara-gara sahabatnya.
"Enak aja, aku setiap hari membersihkannya dengan ramuan Manjamanuk, tak cukup dengan itu aku bilas dengan ramuan Manjamani, keren deh! Cobain gih!" balas Mita, geram menatap Achsen.
"Kalian ngomong apa, sih?! Sudah deh," Yunita berusaha melerai tapi gagal.
"Jadi tidak bau, dong?" timpal Bredy, ikutan ingin tahu.
"Sedikit bau, sih, mau cium?!" tantang Mita, kesal menatap Achsen dan Bredy.
"Jangan!! Nanti mereka pingsan!" seru Yunita, dan mereka semua tertawa di tengah kegelapan malam.
Maklum, Mita menutup ruangan ramalnya sekitar jam sembilan malam dan setelah pulang, langsung menemui sahabatnya atau team-nya.
"Sudah cukup, kembali pada masalahnya. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yunita, menyudahi candaan mereka.
"Aku masih butuh informasi, selain kakinya bersih, terus apalagi?!" tanya Mita, pada Bredy dan Achsen.
"Wanita cantik itu menurutku rambutnya juga tidak berantakan, baunya wangi dan dandanannya sopan. Kalau seksi, mending langsung kutindih saja!" Achsen menjelaskan sambil membayangkan tubuh Monalisa, artis bokep yang sering ditontonnya. Mita pernah diberitahu oleh Achsen tapi langsung ditoyor oleh Bredy, katanya, biarkan Mita bersih dari pikiran kotornya.
"Baiklah, Achsen. Kau carilah bunga bangkai! Bawa padaku dan cepatlah! Rencananya dilakukan besok. Sementara kau Bredy, cari sesuatu yang bisa membuat kaki tampak kotor, aku ingin pria yang akan dijodohkan dengan Mexca membatalkan niatnya. Dan ... Yunita, Kita cari baju seksi," intruksi Mita pada semua temannya. Mereka langsung bergegas menyelesaikan tugasnya.
Esoknya, Mita kembali membuka ruangan ramalnya dan wanita bernama Mexca kembali menemuinya. Rupanya untuk berpisah dengan Samuel besar terlihat dari keseriusan niatnya, dengan tenang Mita menemuinya.
"Bagaimana?! Kau jadi membantuku?!" tanya Mexca harap-harap cemas menanti jawaban Mita.
"Tentu saja, semua sudah disiapkan. Tentukan saja harganya," perintah Mita, memang tidak bisa basa-basi orangnya.
"Ini ada lima juta. Kalau kau berhasil akan aku tambah lagi," ucap Mexca, membuat Mita membelalakkan kedua matanya tidak percaya.
"Ini banyak sekali! Apa dia begitu sulit?!" seru Mita, biasanya tamu dengan bayaran tinggi tidak main-main dengan urusannya.
"Sangat sulit! Samuel sangat kaya orangnya, dia juga selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, kalau kau berhasil, jangankan lima juta, aku rela membayarmu berkali-kali lipat," ucap Mexca, sungguh membuat Mita dilema. Apa dia harus membantunya?!
"Tapi ... jika gagal bagaimana?" lirih Mita, sedikit gemetar tangannya.
"Tidak masalah, aku tidak akan menuntutmu, dan uang ini akan tetap menjadi milikmu. Tapi Aku mohon, Mita. Kau harus berhasil, demi hubunganku dengan pria pilihanku," pinta Mexca, memelas.
"Aku tidak berani jamin. Tapi akan tetap berusaha, nanti malam temui, Aku. Kau harus menuruti apa perintahku. Aku akan menggoda Samuel tepat di depan matamu, Kau nanti harus pura-pura marah dan tidak mau dijodohkan dengannya, sementara teamku, mereka akan membantuku dari jarak jauh."
"Oh ya?! Siapa saja mereka?!" tanya Mexca, berantusias.
"Guys!! Keluarlah!" perintah Mita pada semua sahabatnya. Achsen, Bredy dan Yunita langsung menampakkan wajahnya.
"Hai," sapa Achsen pada Mexca, tingkah genitnya tidak hilang juga. "Aku Ahcsen, biasa dipanggil, Ach--" desah Achsen membuat Mita menutup muka, sangat malu punya teman seperti dia, tapi karenanya Mita tidak kesepian, andai tidak ada mereka, Mita pasti akan sengsara karna ditinggal orangtua, berhubung mereka ada, Mita sangat bahagia, itulah sebabnya Mita menjaga baik hubungannya dengan para sahabat. Ada rezeki dibagi-bagi, ada yang kesusahan dibantu, dan jika ada yang kesulitan ... dilawan bersama-sama.
"Achsen nanti akan merekam adegan saat Aku merayu Samuel di depanmu, sementara Kau, tetaplah dengan sikapmu, pura-pura merana dan kecewa. Dengan begitu, kau bisa menunjukkan video tidak senonohku itu ke ayahmu, biarkan ayahmu tahu," jelasku membuat Mexca menggangguk puas.
"Hai ... Aku, Mexca," ucap Mexca, tersenyum menatap Achsen.
"Aku, Bredy. Biasa dipanggil, Bred," ucap Bredy, memperkenalkan diri, tabiatnya masih sama, datar ....
"Dia yang akan memberitahu media jika Samuel macam-macam. Dengan begitu, Samuel akan menyerah dan tidak jadi menikah denganmu. Ingat, video saat bermesraan denganku ada di tangan Achsen. Sedikit rumit memang, tapi kami penuh pertimbangan," jelas Mita, menunjukkan rencananya. Mexca tampak puas dengan hasilnya.
"Aku, Yunita, semoga bisa berkawan baik," ucap Yunita, menjabat tangan Mexca. Yunita adalah orang kaya, dia melakukan semua ini demi menghibur hatinya sendiri, kalau mau, dia bisa foya-foya dan hidup enak dengan orang kalangan atas, berhubung dia suka kesederhanaan, dia membantu Mita dan All team.
"Senang berkenalan dengan kalian, kuharap kalian bisa membantu Mita untuk memutuskan hubungan perjodohanku dengan Samuel," ucap Mexca, setelah membahas tentang rencananya, dia pulang.
"Apa kau yakin dengan rencana kita, Mit?" tanya Yunita, dia selalu memikirkan dampak dari rencana sahabatnya.
"Sebenarnya beresiko, Yun. Tapi berhubung kita butuh uang, rasa takut harus kita lawan," tekan Mita, tidak mau diganggu-gugat.
"Kita?! Kamu aja kali, Mit. Aku seorang Dokter, Yunita seorang pengusaha, sementara Achsen ... meskipun pengangguran Aku yakin dia bisa dapat kerja lebih baik dari ini, sementara, Kau-- kenapa Kau tidak menerima pertolongann kami? Kerjalah sama kami, jangan menipu seperti ini," ucap Bredy, sifat pedulinya kembali datang. Kalau sudah cuek, sahabatnya sekarat pun dia tertawa, dasar!
"Kau tahu, kan? Aku tidak suka dikasihani, selama masih bisa mandiri, kenapa menyusahkan teman?" Mita kekeh pada keputusannya.
"Terus! Kau pikir ini tidak menyusahkan teman?!" tekan Yunita membuat Mita tertawa.
"Astagaaa! Dikit doang. Sabar ya," Mita mengakhiri ucapannya dan menyiapkan rencana buat besok.
Merayu calon Mexca, Samuel.
Apakah berhasil?!
Hem ....
***
TBC.
Anda Mungkin Juga Suka





