Sampul Novel The Last Love of Promise

The Last Love of Promise

7.9 / 10.0
Terjebak perjodohan keluarga, Rain Octaviani dan miliarder Dion Langit Anggara harus menikah tanpa rasa cinta. Dalam The Last Love of Promise, keduanya berjuang menyembuhkan luka masa lalu di tengah konflik batin. Baca romance novel ini untuk melihat takdir mereka di webnovel Indonesia.
Ringkasan The Last Love of Promise
Rain Octaviani, gadis muda yang baru menginjak usia dua puluh tahun, terpaksa menikahi Dion Langit Anggara akibat perjodohan orang tua mereka. Dion adalah pria kaya berusia tiga puluh tahun yang bersikap dingin. Keduanya terjebak dalam ikatan tanpa cinta karena bayang-bayang luka masa lalu. Rain dikhianati oleh Dewa, sementara hubungan Dion ditentang keluarga. Di tengah pernikahan formalitas ini, mampukah mereka saling menyembuhkan dan menumbuhkan rasa cinta yang tulus?
Baca Selengkapnya

The Last Love of Promise Bab 1

“Jika pertemuan itu harus datang dengan bahagia, bagaimana jika pertemuan itu harus berawal dengan sebuah tangis dan derita? Apakah kamu sanggup untuk merasakan itu?"

Apakah salah jika kita berharap pada sebuah rasa untuk menemukan arti memiliki kembali? Ataukah kita bisa membelah indah untuk meneladani kalnbu kita dalam sebuah penantian? Dan apakah kita pantas membahas untuk tetap saling berpeluk agar saling meneladani kalbumu dan kalbuku? Entahlah, tetapi aku yakin jika semua penantian panjang akan terbayar lunas dengan sebuah pertemuan nantinya, meskipun pertemuan untuk terakhir kalinya.

Seperti saat ini, lorong kampus terlihat berlalu-lalang mahasiswa dan mahasiswi serta beberapa dosen untuk menikmati makan siang yang telah menunggu mereka di kantin. Dion Langit Anggara, salah seorang dosen yang mengampu mata kuliah Sastra Indonesia di sebuah fakultas bahasa dan seni itu kini berjalan kearah kantin untuk berharap bisa menikmati secangkir kopi dan tentunya sebatang nikotin untuk mengembalikan semua mood mengajarnya kembali.

“Bu, kopi hitam satu cangkir tanpa gula ya, berapa?” Dion mengeluarkan dompet untuk membayar kopi yang dia pesan.

“Lima ribu saja pak Dion, kelihatan sangat kusut hari ini bapak,” balas ibu kantin itu sembari menyiapkan kopi hitam miliknya.

Dion hanya tersenyum dan segera memberikan uang untuk pesanannya tersebut, “Ambil kembaliannya bu. Saya duduk di sebelah sana ya, terimakasih.”

Dengan segera dia berjalan kearah meja dan tempat duduk yang berada tepat di sudut kantin yang terlihat kosong dan sunyi, mungkin sesunyi hatinya saat ini. Bagaimana tidak? Umurnya yang hampir menginjak tiga puluh tahun itu masih belum memiliki tambatan kekasih untuk hatinya.

Sebatang rokok telah dibakarnya, asap tipis telah dinikmatinya tanpa beban meskipun ada sedikit sebuah rasa yang telah mengganjal di hatinya. Tatapannya lurus tepat kedepan kursi yang kosong tetapi sesaat kemudian dia tersenyum simpul.

“Andaikan kamu masih mau menunggu saat itu, mungkin kita sudah saling menyatu saat ini dan selamanya. Tapi . . .,”

Ucapannya terputus karena ibu kantin telah meletakkan secangkir kopi dan kemudian deringan ponselnya memberikan notifikasi jika ada sebuah pesan.

“Dia lagi, kenapa mahasiswi macam dia selalu menggangu waktuku untuk bersantai,” ucapnya sambil membalas pesan di ponselnya.

Kemudian dia kembali menikmati rokoknya dan tak lupa dia menuangkan kopinya di tempat khusus untuk mendinginkan cairan hitam itu untuk dinikmati hangat-hangat. “Kopi tanpa gula sangat nikmat, senikmat kamu yang dulu pernah berjanji untuk saling bersama,”

Lima menit kemudian, seorang mahasiswi telah berdiri di belakangnya, “Permisi pak, mohon maaf menggangu waktunya, saya . . .”

“Rain Octavia, mahasiswi akhir yang ingin revisi skripsi dengan saya. Silahkan duduk dan segera selesaikan apa yang perlu diselesaikan,” ucap Deny datar.

Rain, mahasiswi akhir itu memutar bola matanya malas mendengar ucapan dosen pembimbingnya itu. Jika tidak karena tugas skripsi yang dia selesaikan, maka dia tak perlu repot-repot berurusan dengan dosen dingin macam, Dion Langit Anggara.

“Iya pak, ini yang kemarin bapak minta revisi dan sudah saya revisi semuanya. Bapak mau minum apa?” tanya Rain seramah mungkin.

Dion hanya diam dan mengoreksi berkas skripsi milik Rain, tawarannya yang seolah tak dianggap kini membuatnya untuk memonyongkan bibirnya tepat di depan Dion.

“Jangan tersingung jika aku tak menjawab tawaran dari anda, bisa lihat bukan? Sudah ada kopi hitam dan ini kenapa harus ada tanda titik dua kali dalam satu kalimat? Ini juga, kenapa teori sastra yang kemarin sudah saya berikan tidak anda jabarkan? Mau lulus cepat atau tidak anda, Rain Octavia!!” suara tegas terdengar membunuh untuk Rain.

“Tapi pak? Kemarin bukankah bapak membenarkan teori tersebut? Dan . . .” suara Rain terputus karena sorot mata tajam Deny terlihat sangat membunuhnya.

“Perbaiki lagi dan saya tunggu sampai nanti sore di cafe senja tengah kota, permisi.”

Dion kini berjalan meninggalkan Rain seorang diri, entah kenapa hatinya sakit ketika melihat wajah Rain. Wajah yang selalu dia kagumi dulu, pada sosok perempuan yang berhasil mengisi hatinya tetapi dia segera menepis semua wajah yang telah menyita semua waktunya saat itu.

Rain yang melihat skripsinya dicoret begitu banyaknya hanya bisa menghela nafas berat, dia menatap punggung dosennya itu dengan tatapan benci, “Kok bisa dosen sepertia masih hidup, harusnya masuk ke museum. Dasar dosen killer.”

Kini dia kembali menuju perpustakaan kampus untuk menyelesaikan skripsinya yang nanti sore dan mungkin hari ini harus mendapatkan tanda tangan dosennya tersebut untuk bisa sidang skripsi secepat mungkin. Dengan langkah yang sedikit malas kini dia memasuki perpustakaan yang terlihat hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi seperti dirinya yang menyelesaikan skripsi atau hanya sekedar menikmati udara dingin di perpustakaan.

Langkahnya terhenti ketika seorang mahasiswa tengah tersenyum kearahnya, rasa lelah dan kesal yang menerjangnya tadi berubah menjadi senyuman yang begitu manis, “Bubub di sini? Sejak kapan?”

“Sejak lihat kamu duduk dengan Pak Dion tadi, gimana bae? Sudah dapat tandatangan untuk sidang skripsi?” laki-laki itu mengelus kepala Rain dengan begitu lembutnya.

“Belum, bantuin ya untuk revisi semua ini ya bububku sayangku Dewa Geofani,” ujar Rain dengan begitu lembutnya.

Dewa Geofani, mahasiswa yang tengah menempuh strata dua itu hanya menggeleng dan tersenyum mendengar suara Rain yang begitu manja. Mereka berdua telah menjalin hubungan semenjak pertemuan tiga tahun silam, tiga tahun Dewa telah mampu menaklukkan hati Rain. Meskipun, banyak masalah yang selalu hadir di antara keduanya. Tetapi, Dewa yang sangat begitu sabar itu selalu mengalah dengan sifat dan sikap yang hadir di diri Rain, kekasihnya itu.

Kini mereka berdua tenggelam dalam lautan materi untuk tugas akhir yang harus Rain serahkan sore ini. Tiga jam telah mereka lewati dan habiskan untuk skirpsi dan kini waktunya Rain untuk segera menuju café yang sudah ditentukan oleh Dion, Dosen Pembimbing Skripsinya tersebut.

“Mau aku antar sayang?” tanya Dewa lembut sembari membenarkan anak rambut Rain yang terjatuh.

“Yakin? Nanti nunggu lama lho bubub, belum lagi bubub juga kan pernah ada masalah dengan pak Dion juga, malah runyam nantinya jika dia tahu aku kesayangan bubub,” balas Rain bergelayut manja ke lengan Dewa.

Dewa mengangguk faham, dia tersenyum simpul mendengar jawaban kekasihnya tersebut. “Yasudah kalau gitu, hati-hati dan jangan lupa makan terus banyakin minum air putihnya juga. aku antar sampai parkiran motor ya.” Dewa menggenggam jemari manis Rain.

Rain tersenyum ke arah kekasihnya tersebut dengan segera dia segera melajukan motornya ke arah café yang akan menentukan nasibnya yang berada di tangan dosen pembimbingnya itu. Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan kini dia tengah mengedarkan pandangan keseluruh sudut café yang terlihat sangat sunyi itu.

“Tumben sekali tuh orang belum datang, mending aku siap-siap terlebih dahulu aja deh tapi pesan satu gelas es coklat panas juga segar juga sih.” Rain bermonolog sendiri sembari berjalan ke arah kasir untuk memesan satu gelas es coklat.

Setelah memesan es coklat, pandangan Rain menatap dua orang yang tengah berdebat dengan begitu hebatnya. Dua orang lawan jenis yang salah satu darinya sangat dikenal oleh Rain, “Bukankah itu . . .”

Rain segera berjalan ke arah mereka berdua. Tetapi sial bagi Rain, karena sebuah tatapan mata yang mengarah ke dirinya membuat kembali ke arah tempat duduknya. Dengan segera Rain berjalan kembali ke tempat duduknya dan bersiap untuk menerima apapun resiko yang telah dilakukannya barusan.

Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa mengingat tatapan yang barusan dilihatnya. Tatapan yang selalu membuatnya selalu tak ingin untuk melihatnya, mungkin untuk selamanya. Tiba-tiba, seorang pria duduk tepat di depannya tanpa permisi.

“Tadi lihat dan dengar semuanya?”

Rain yang mendengar suara tersebut langsung mendongak ke arah asal suara kemudian menggeleng serta meringis untuk melarikan diri dari masalah yang tak ingin dia jalani nantinya. “Ehm tidak pak Dion, mau pesan es atau . . .”

“Tidak perlu, mana skripsimu.” Pinta Dewa datar.

“B . . . baik pak.” Jawab Rain gemeteran sambil memberikan tumpukan skripsinya ke Dewa.

Setelah hampir setengah jam menunggu Dion mengoreksi skripsi miliknya, hati Rain terus berdoa dan berharap untuk segera menjalani satu penantian panjang dan penantian akhir di kuliahnya tersebut, sidang skripsi. Tetapi, terlihat mimik wajah Dion yang tetap datar saat mengoreksi seluruh skripsinya tersebut, hingga . . .

“Okey sudah bagus semua dan tiga hari lagi sidang.” Ucap Dion sambil membubuhkan tandatangannya sebagai konfirmasi ke skripsi Rain.

Mendengar ucapan dosennya itu yang terkenal killer dan selalu tidak meloloskan mahasiswa mahasiswi akhir untuk sidang skripsi berbanding terbalik dengan yang dialaminya saat ini membuat hati Rain berteriak senang hingga hampir memeluk tubuh Dion. Tetapi Dion langsung menepisnya . . .

“Tetapi sebelumnya ada satu hal yang aku tanyakan ke kamu ini terkait . . .” suara Dion terputus dengan tatapan ke arah mata Rain.

“Terkait apa pak? Apa ada yang salah terhadap skripsi saya atau ada yang perlu saya ganti segera? Saya siap jika harus . . .”

Jari telunjuk Dion memberikan isyarat ke arahnya untuk berhenti, “Semuanya tidak ada masalah, tetapi aku mau tanya satu hal. Apakah bisa dan boleh?”

Rain mengganguk dan segera duduk untuk bersiap menerima pertanyaan dosenya yang kali ini terlihat sangat kalem dan menggoda di matanya itu.

“Kamu percaya cinta itu ada, Rain?” tanya Dion datar.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi The Last Love of Promise

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.5
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica selalu percaya pada alasan pekerjaan suaminya, Rio Aditya, setiap hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap saat Jessica mendengar pengakuan Rio yang berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya karena kehilangan rasa cinta pasca-keguguran. Di hari yang sama, Jessica justru divonis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa dendam, ia pun memutuskan untuk pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan