Sampul Novel The Deadly Love

The Deadly Love

9.6 / 10.0
Dalam The Deadly Love, Betty terjebak di dunia gelap saat bertemu pembunuh bayaran, Aldric. Romance fiction books ini menyajikan aksi modern penuh risiko demi menumbangkan musuh masa lalu. Akankah misi mereka berhasil? Baca online novel ini untuk mengikuti perjuangan hidup mati mereka.
Ringkasan The Deadly Love
Hidup tenang Betty berubah drastis setelah sebuah tragedi berdarah mempertemukannya dengan Aldric, pembunuh bayaran yang dingin. Meski tak berperasaan, Aldric justru terobsesi memiliki Betty sejak pandangan pertama. Namun, hubungan mereka terancam oleh sosok masa lalu yang ingin merebut Betty. Aldric bersumpah akan melakukan apa pun demi melindungi miliknya. Bersama rekan mereka, mampukah keduanya memusnahkan benalu yang merusak hidup mereka selamanya?
Baca Selengkapnya

The Deadly Love Bab 1

Raut wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat cemberut saat mendengar ucapan pria di hadapannya. Lagi-lagi Max akan pulang lebih awal dan meninggalkannya menata buku sendiri. Bukan itu yang membuat Betty kesal, dia hanya takut pulang sendiri, itu saja.

"Ayo lah, jangan memasang wajah seperti itu. Aku berjanji, setelah anakku lahir aku tidak akan merepotkanmu lagi."

"Bukan itu, Max. Kau tahu aku takut pulang malam," sahut Betty mulai mengurutkan buku yang akan dia tata.

"Sudah ku bilang, naiklah taksi."

Betty menatap Max aneh, "Aku hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Kenapa harus memakai taksi?”

"Kalau begitu berhenti mengeluh. Aku sudah memberikan saran yang baik." Max mengedikkan bahunya acuh dan mulai meraih tasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih dan sebentar lagi perpustakaan akan tutup.

"Aku pulang, Beth."

Betty mengangguk pasrah. "Ya, berikan salamku pada Wanda.”

Sudah dua jam Betty berkutat dengan kegiatannya menata buku. Entah kenapa banyak sekali buku yang dikembalikan hari ini, sehingga dia harus menatanya sebelum perpustakaan kembali dibuka besok.

Entah berapa lama Betty berkutat dengan buku-bukunya. Waktu berputar begitu cepat sampai jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tidak terlalu larut untuk Betty, setidaknya dia masih menemukan satu atau dua manusia di jalan nanti.

Betty mulai meninggalkan perpustakaan dengan mantel yang terpasang erat di tubuhnya. Musim dingin akan segera datang dan dia bimbang akan itu. Betty sangat menyukai musim dingin, tapi tidak dengan tubuhnya. Entah kenapa tubuhnya begitu sensitif dengan hawa dingin yang dapat membuatnya flu seketika.

Betty memilih untuk melewati jalan pintas. Dia memilih jalan ini untuk mempersingkat waktu. Keadaan jalan yang gelap sudah menjadi hal yang baisa untuk Betty. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Langkahnya terhenti saat mendengar suara rintihan seseorang yang membuat bulu kuduknya berdiri. Mata indah itu menatap ke segala arah dengan penasaran, mencoba mencari tahu asal suara mengerikan itu.

Betty terus berjalan sampai akhirnya suara rintihan itu semakin jelas terdengar. Semakin penasaran, Betty tidak ragu lagi untuk mencari tahu. Matanya membulat begitu melihat ada jejak darah di depannya.

"Aku mohon, Tuhan. Jangan korban pembunuhan lagi," gumam Betty mengikuti jejak darah itu.

Langkah Betty terhenti saat melihat seorang pria tengah terbaring lemah di balik tempat sampah. Matanya mengedar ke segala arah untuk mencari bantuan. Pria itu masih hidup! Betty sangat yakin, karena tangan pria itu melambai padanya seolah meminta bantuan.

"Astaga! Apa yang terjadi? Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Betty mendekat dan menatap ngeri pada luka menganga di perut pria itu.

"Ja—ngan." Pria itu meraih tangan Betty dan meletakkan sebuah kotak kecil di tangannya

"Apa ini?" tanya Betty bingung.

"Tol—ong berikan benda ini pada Al."

Betty terdiam dan menatap kotak itu penasaran, "Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."

"Tidak! Biarkan aku mati di sini. Sekarang kau pergi dan berikan benda itu pada Al."

"Aku tidak mengerti!" Betty berteriak histeris. Tentu saja dia bingung karena pria di hadapannya memilih untuk mati malam ini.

"Zoo bar & club. Al ada di sana, cepat pergi atau kau akan berakhir mengenaskan sepertiku."

Takut, itu yang Betty rasakan. Matanya sudah memerah menahan tangis karena bingung harus melakukan apa. Dia hanya ingin pulang sekarang. Gadis itu tidak menyangka jika akan bertemu dengan pria sekarat malam ini.

"Ak—ku mohon, pergi sekarang."

"Bagaimana denganmu? Kau akan mati!" teriak Betty menangis.

Tanpa disangka pria itu tersenyum. "Ini sudah jalan yang aku pilih."

"Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini.” Betty masih ragu untuk pergi.

"Sial! Bisakah kau menurut?! Aku tidak punya banyak waktu. Kau hanya perlu pergi menemui Al dan berikan benda itu. Ingat satu hal, namaku Gordon." Gordon berbicara dengan lemah. Rasa sakit di tubuhnya benar-benar tidak bisa ditolong. Hanya satu misi lagi dan semua akan berakhir. Dia belum bisa pergi dengan tenang jika kotak itu belum berada di tangan yang tepat.

"Tidak! Buka matamu! Jangan mati, setidaknya jangan mati sekarang! Astaga, bagaimana ini?!" Betty berteriak frustrasi. Tangannya bergetar berusaha untuk membangunkan Gordon yang mulai terpejam. Namun, sepertinya sia-sia karena pria itu tetap menutup matanya.

Kaki Betty terasa lemas melihat pemandangan itu. Tangannya dengan gemetar mencengkeram erat kotak pemberian Gordon. Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang? Menghubungi polisi atau bagaimana?

Akhirnya Betty memutuskan untuk kembali ke jalan utama dengan langkah berat. Tubuhnya masih lemas melihat bagaimana Gordon mati di hadapannya. Ini pertama kalinya Betty melihat betapa kejamnya dunia malam.

Betty tidak akan memanggil polisi. Dia tidak mau terlibat dengan masalah Gordon. Lebih baik dia menyerahkan semua ini ke pada pria yang bernama Al. Betty yakin jika pria itu akan melakukan sesuatu nantinya.

***

Suasana bar yang ramai membuat Aldric mendengus tidak suka. Dia memang tidak suka keramaian tapi hanya Zoo Bar & Club yang menjadi tempat teraman untuknya saat ini, setidaknya untuk pria sepertinya.

Asap rokok kembali keluar dari bibir merah itu. Sudah 3 batang rokok yang Aldric habiskan dan Gordon belum juga datang. Apa pria itu lupa jalan kembali? Seharusnya Mr. X memberikan misi Gordon padanya. Target Gordon kali ini bukanlah main-main. Banyak tameng berlapis yang melindungi target dan hanya otak licik Aldric yang dapat menembusnya.

Tepukan pada bahunya membuat Aldric menoleh. “Ada seseorang yang mencarimu."

Alis Aldric bertaut, "Siapa?"

"Aku tidak tahu, dia bertanya pada semua orang di mana pria yang bernama Al. Tentu saja tidak ada yang tahu!"

Aldric terdiam. Tidak ada yang mengetahui namanya selama ini. Hanya orang-orang yang berkecimpung di dunia gelap yang mengetahui namanya. Jadi siapa orang yang mencarinya?

"Di mana dia?"

"Di sana," tunjuk Roy pada gadis yang tengah berdiri dengan gelisah, "Apa kau menghamilinya?" Lanjut Roy dengan bodoh.

Aldric memilih untuk mengabaikan Roy dan berjalan ke arah gadis yang terlihat mencolok dengan pakaian tertutupnya. Dari kejauhan, Aldric dapat melihat raut wajah ketakutan yang tidak dapat disembunyikan.

"Kau mencariku?" tanya Aldric dengan pelan, berusaha untuk tidak menarik perhatian banyak orang.

"Kau pria yang bernama Al?" tanya Betty bodoh. Matanya menatap pria di hadapannya dengan teliti. Kaos putih dengan balutan jaket kulit serta celana jeans membuat tampilan Aldric terlihat normal. Namun Betty meyakinkan diri jika pria di hadapannya sama bahayanya seperti Gordon.

"Jika kau pria yang bernama Al, ini untukmu." Betty meraih tangan Aldric dan meletakkan kotak pemberian Gordon dengan cepat.

Aldric terdiam dengan mata yang tertuju pada tangan Betty. Tangan kecil itu terasa hangat menggenggamnya.

"Apa ini?"

Pertanyaan bodoh! Tentu saja Aldric tahu apa isi kotak itu. Bukti fisik yang menunjukkan jika Gordon sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Entah mata, lidah, gigi, atau bahkan jantung dari target.

"Aku tidak tahu, Gordon memintaku untuk memberikannya padamu."

"Di mana dia?" tanya Aldric dengan dingin. Wajahnya begitu kaku saat sadar jika Gordon sedang tidak baik-baik saja sekarang. Jika keadaan Gordon baik, maka pria itu sendiri yang akan menemuinya.

"Dia—" Betty menelan ludahnya gugup, "Dia sudah meninggal, di sekitar Curzon st."

Aldric memejamkan matanya sebentar dan mengangguk. Benar dugaannya, Gordon sedang tidak baik-baik saja. Mungkin pria itu kewalahan dengan anak buah Richard yang terus mengejarnya karena berhasil membunuh tuannya.

"Kau harus mengambil jasadnya," ucap Betty dengan suara serak menahan tangis. Dia kembali teringat dengan Gordon yang mati secara mengenaskan.

"Tidak perlu," kata Aldric singkat dan berbalik meninggalkan Betty.

"Hei! Kau tidak bisa pergi begitu saja! Dia temanmu bukan?" Betty mengejar Aldric dan menarik lengannya. Lagi-lagi sengatan itu kembali Aldric rasakan.

"Jika kukatakan dia bukan temanku, apa kau akan menyerah?"

Betty menggaruk lehernya gugup. "Setidaknya kau mengenalnya. Demi Tuhan! Pria itu sudah mati dan sendirian di gang sempit itu!"

"Pelankan suaramu!" Mata Aldric menajam.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa mati? Dan kenapa kau bisa sesantai ini?!" Betty berbicara dengan frustrasi. Dia tidak pernah berurusan dengan hal seperti ini. Bahkan untuk masuk ke dalam bar pun ini pertama kali untuknya. Sebut saja Betty kutu buku, karena itu benar adanya.

Aldric berjalan mendekat membuat Betty mundur dengan gugup, "Aku tekankan padamu. Semua ini bukan urusanmu."

"Jika kau tidak mau mengurus mayat Gordon, aku akan memanggil polisi." Ancam Betty yang justru membuat Aldric tersenyum manis. Senyum yang merupakan pertanda buruk.

"Menghubungi polisi, eh? Coba saja, mari kita lihat seberapa beraninya dirimu."

Betty memejamkan matanya menahan emosi. Pria di hadapannya benar-benar misterius dan menyebalkan. Jika memang itu maunya, Betty akan lakukan. Dia akan menghubungi polisi untuk mengatasi mayat Gordon. Biar bagaimanapun juga dia adalah manusia yang mempunyai hati. Dia tidak akan tega melihat mayat Gordon membusuk begitu saja.

"Baik jika itu yang kau inginkan. Tahu akan seperti ini lebih baik aku ke kantor polisi dari pada menemuimu." Betty berbalik untuk pergi. Dia sudah tidak nyaman berada di tempat ini. Bagaimana bisa Rubby bertahan bekerja di sini?

Sebuah cengkeraman erat berhasil membuat Betty meringis. Gadis itu berbalik dan menatap mata Aldric yang begitu menakutkan.

"Hati-hati dengan apa yang kau lakukan."

"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Jika kau tidak ma—"

"Sial!" Aldric mengumpat membuat ucapan Betty terhenti. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Urus mayat Gordon, hilangkan jejak sampai bersih."

Aldric memutuskan panggilannya secara sepihak. "Kau puas, Nona?" tanyanya pada Betty.

"Ya aku puas, terima kasih,” ucap Betty tersenyum manis.

Lagi-lagi tubuh Aldric terpaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sentuhan dan senyum gadis itu begitu berefek padanya?

"Aku harap kau menutup mulutmu tentang semua ini. Jika tidak, jangan menyesal jika kita akan bertemu lagi." Aldric tersenyum manis dan membuat tubuh Betty merinding. Pria itu mengancamnya.

"Pergilah," usir Aldric dan berjalan menjauh. Namun dia kembali berbalik dan tersenyum manis, "Lain kali jangan sentuh orang asing seperti itu, kau tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka."

Betty terdiam dan menatap tangannya kesal. Benar, dia begitu lancang menyentuh Aldric, tapi dia tidak bisa mencegahnya. Mungkin pria itu tidak suka jika ada orang asing yang menyentuhnya.

Namun pikiran Betty salah besar, justru sentuhan itu menimbulkan efek berbahaya untuk tubuh Aldric.

***

TBC

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi The Deadly Love

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CINTA MASA MUDA (YOUNG LOVE)
8.8
Kisah ini menyoroti hubungan asmara sepasang mahasiswa yang awalnya penuh kasih dan gairah. Namun, rasa sayang tersebut berubah menjadi obsesi karena sikap posesif sang pria dan pengkhianatan yang ia lakukan. Merasa tertekan, sang wanita berjuang melepaskan diri dari cinta pertamanya demi mencari jati diri dan kemandirian. Penuh adegan dewasa, narasi ini menggambarkan konflik batin untuk lepas dari ketergantungan emosional yang menyakitkan.
Sampul Novel CINTA TUAN CEO
8.6
Linggar, selebgram dan beauty vlogger ternama, bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Darka, di Bali. Meski sempat balikan, kehadiran Radit, pengusaha restoran sekaligus sahabat kakaknya, mengalihkan perhatian Linggar. Konflik memuncak saat Linggar tahu Darka dekat dengan Sena, sementara Darka pun memergoki kedekatan Linggar dengan pria lain. Video putusnya mereka viral hingga masuk TV, memaksa Linggar dan Darka benar-benar mengakhiri hubungan mereka selamanya.
Sampul Novel Dikhianati Demi Jabatan, Dicintai oleh Atasan
9.2
Pernikahan lima tahun Emma hancur saat Rowan, suaminya, tega menjadikannya alat transaksi demi ambisi karier. Rowan meminta Emma menemani atasannya minum demi proyek, tidur bersama untuk melunasi utang, hingga melahirkan anak sang atasan agar ia naik jabatan menjadi manajer umum. Muak dengan pengkhianatan tanpa henti ini, Emma mengambil keputusan besar. Pada hari Rowan resmi dipromosikan, Emma menceraikannya dan langsung menikah dengan atasan suaminya.
Sampul Novel Kisah Tukang Pijat Tunanetra
9.0
Demi menopang perekonomian keluarga yang terdampak pandemi, seorang pemuda memutuskan bekerja paruh waktu sebagai terapis pijat tunanetra. Pekerjaan yang semula biasa saja berubah drastis saat ia mengetahui adanya bisnis rahasia di lantai atas tempatnya bekerja. Di sana, ia justru dipertemukan dengan Siena Laudy, sosok bos wanita berkuasa yang memimpin perusahaannya. Pertemuan tak terduga ini memicu ketegangan baru ketika sang atasan meminta layanan pijat dengan teknik khusus darinya.
Sampul Novel Putus Setelah Enam Tahun Berpacaran
8.7
Enam tahun mendampingi Soren, sang bos mafia Meksiko, ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Hubungan mereka merenggang sejak Soren sibuk dengan wakil barunya, Thea, hingga melupakan janji pernikahan di hari jadi mereka. Puncaknya terjadi saat pesta Natal, ketika Soren memesan kue kacang kesukaan Thea tanpa peduli alergi parah sang kekasih. Akibat lelucon temannya, kue tersebut mengenai wajahnya hingga pingsan. Sadar dari kondisi kritis, ia membulatkan tekad memberi tahu ibunya untuk pulang dan membatalkan rencana pernikahan tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan