Sampul Novel The Bad Guy

The Bad Guy

8.1 / 10.0
Dalam novel modern The Bad Guy, Jovie yang trauma akan komitmen harus berhadapan dengan Jace, seorang Casanova yang menjadikannya bahan taruhan. Kisah romance novel ini menguji batasan luka masa lalu saat pengkhianatan terbongkar. Temukan kelanjutan takdir mereka di web novel ini.
Ringkasan The Bad Guy
Trauma masa lalu akibat pengkhianatan ayahnya membuat Jovie Montgomery menutup hati dan enggan menikah. Baginya, pria hanyalah sosok yang akan pergi saat rasa bosan tiba. Namun, keteguhannya diuji saat ia bertemu Jace Sherwood, seorang Casanova yang mengejarnya demi sebuah taruhan. Saat Jovie mulai luluh, rahasia taruhan itu terbongkar dan menghancurkan kepercayaannya. Kini, Jace harus berjuang memenangkan kembali hati Jovie yang kembali menjauh karena luka baru.
Baca Selengkapnya

The Bad Guy Bab 1

“Ada masalah apa?” Jovie, manajer operasional Luxio Hotel yang sudah bersiap untuk pulang bertanya pada resepsionis yang baru saja meminta waktunya untuk melaporkan sebuah masalah.

“Baru saja housekeeping melaporkan tentang salah satu tamu hotel di Deluxe Room yang sudah beberapa hari ini tidak menyahuti panggilan dari luar. Bahkan piring kotor dari pesanan service room juga tidak dikeluarkan. Sementara waktu check-in, dia sudah berpesan untuk tidak ada satu orang pun yang masuk ke kamar termasuk housekeeping,” jawab resepsionis dengan wajah khawatir.

Jovie melihat jam tangan di pergelangan kirinya—sudah masuk jam tidur, bisa saja akan menjadi tidak sopan jika dia mengetuk pintu kamarnya sekarang, tapi dia juga khawatir jika sampai terjadi apa-apa dengan tamu hotel.

“Kapan waktu tamu itu check-out?” tanya Jovie lagi.

“Besok siang,” jawab resepsionis sopan.

“Berapa kali housekeeping mencoba untuk memanggil tamu?”

“Setiap waktu housekeeping harus mengangkut piring kotor dari setiap kamar, terhitung dari satu hari yang lalu.”

Jovie menggigit bibir bawahnya. Jelas ada hal yang tidak beres jika sampai berkali-kali tamu tidak menyahuti panggilan housekeeping. “Nomor berapa kamarnya?”

Resepsionis tadi menunjukkan detail pemesanan kamar di layar monitornya. Jovie melihatnya sekilas, kemudian segera membuka tempat master key dan menyambar salah satu sebelum bergegas menuju ke lantai tempat kamar itu berada.

Jovie berdiri di depan kamar yang dimaksud. Beberapa kali ketukan tidak mendapat sahutan. Sebab dia sudah melakukan SOP hotel untuk mengetuk lima kali dan tidak ada sahutan dari dalam, Jovie langsung membuka pintu kamar dengan master key yang dia bawa.

“Selamat malam, layanan manajemen hotel.”

Tidak ada jawaban. Anehnya, Jovie mendengar suara desahan dari arah dalam. Ranjang yang berada di balik sekat membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Kening Jovie mengerut bingung dan tak mengerti.

“Maaf, saya mendengar keluhan dari staff kami, saya terpaksa untuk melakukan pemeriksaan. Apakah Anda baik-baik saja?” Jovie kembali bersuara.

Desahan kembali terdengar. Kali ini bersamaan dengan suara hentakan yang membuat jantung Jovie berdetak kencang. Kakinya bergerak pelan ke arah ranjang, sementara kedua tangannya mendekap erat master key yang dari tadi terus dia pegang.

“Ah! Faster, baby!”

Desahan itu kembali terdengar, bersamaan dengan kedua mata Jovie yang menangkap pemandangan tabu. Seorang pria yang sedang bersetubuh dengan wanita muda terlihat membara di hadapannya.

“Come on, baby! Ah!”

Wanita itu tidak memperhatikan kedatangan Jovie. Dia terlalu menikmati hunjaman dari pria tampan itu dari dalam selimut tebal. Otot tubuh yang terbentuk sempurna, terlihat mengilat dibasahi keringat.

Jovie terkejut. Tubuhnya tiba-tiba mematung, tidak menyangka dia akan melihat hal seperti ini. Sialnya, pria itu terlanjur melihatnya. Masih dengan posisi yang terjepit di antara paha mulus si wanita muda, pria tampan itu menoleh dengan seringai tajam.

“Astaga!” pekik Jovie akhirnya.

Badannya berbalik cepat, memunggungi kedua orang yang masih saling bergelut dalam permainan panas di antara desahan yang semakin cepat. Tanpa disuruh, Jovie segera bergerak cepat meninggalkan ruangan itu, tapi saat itu juga dia menyadari bahwa tindakannya adalah salah besar. Dia tidak bisa berlalu begitu saja.

Dalam keadaan mata yang terpejam erat, Jovie kembali membalikkan badannya. “Maafkan saya! Maaf saya salah kamar.”

Pria itu kembali menoleh tak merespon ucapan Jovie. Sorot matanya tak terbaca, sedangkan seringai tipis kembali terukir di wajahnya sebelum dia kembali memuaskan wanitanya yang semakin menggeliat.

Di luar kamar, Jovie terdiam sejenak setelah menutup pintu kamar dengan perlahan. Berkali-kali dia mengusap matanya kasar, tak peduli maskara yang berantakan dan membekas di jari-jarinya.

“Miss, Anda salah kamar! Seharusnya tamu yang bermasalah itu di kamar sebelahnya!” Housekeeping yang tadi melaporkan keluhannya itu sedang tergopoh-gopoh menghampiri Jovie setelah dia menyadari bahwa atasannya itu telah salah mengambil master key.

Jovie menatap housekeeping itu dengan wajah datar. Badannya terasa lemas, tindakan cerobohnya telah membuat tamu hotelnya tidak nyaman. Meskipun perbuatan yang dilakukan tamunya itu juga membuatnya tidak nyaman.

Jovie mengangguk, sambil melenggang lemas melewati housekeeping yang menatapnya cemas. Mati-matian Jovie menahan malu saat dia masuk ke dalam lift yang sepi. Saat pintu lift tertutup, tubuhnya secara refleks merosot ke lantai. Sebelah tangannya memukul-mukul kepalanya sendri.

“Bodoh sekali kau, Jovie!”

***

Pagi hari saat Jovie kembali ke Hotel untuk bekerja, pikirannya masih diliputi dengan rasa bersalah dan kecemasan, jika tamu semalam melaporkan keluhannya. Namun sampai dia duduk di ruangannya sekitar dua jam kemudian setelah jam operasional staff manajemen berlangsung, tidak ada laporan satu pun yang masuk mengenai kejadian semalam.

Interkom dari ruangan CEO menyala, Jovie segera menyambar gagang interkom dengan fokus matanya yang masih tertuju untuk meniliti pada email keluhan, mencari-cari keluhan yang dilayangkan padanya.

“Jovie, ke ruanganku sekarang.”

“Baik, aku akan segara ke sana.”

Jovie kembali meletakkan gagang interkom pada tempatnya. Benar tidak ada laporan keluhan di email, tapi mungkinkah tamu tadi langsung melaporkan keluhannya pada CEO Luxio Hotel? Shit! Jovie mengumpati kebodohannya.

Detak jantung Jovie kembali berantakan saat tiba di depan ruangan Corey, CEO dari Luxio Hotel. Setelah tiga ketukan lembut, dia masuk ke ruangan dan segera menutupnya kembali setelah berada di dalam.

“Akhirnya, Jovie sudah datang. Masuklah,” pinta Corey pada Jovie.

Jovie melangkah masuk ke dalam, dan seketika tubuhnya membeku melihat sosok pria tak asing sedang duduk di depan kursi CEO-nya. Beberapa kali Jovie memejamkan mata, memastikan bahwa apa yang dia lihat ini salah. Namun, tidak! Apa yang dia lihat sekarang ini benar-benar nyata. Tidak salah sama sekali.

“Jace, perkenalkan wanita cantik di depanmu adalah Jovie Montgomery, dia manajer operasional Luxio Hotel. Kau bisa bicara dan meminta bantuan padanya terkait apa pun mengenai layanan hotel. Dia adalah orang kepercayaanku di sini.” Corey mengenalkan Jovie pada Jace.

“Jovie, pria tampan di depanmu adalah Jace Sherwood, salah satu investor VIP hotel yang baru memulai kerja sama bersama dengan kita terhitung hari ini. Dia adalah pemilik perusahaan Food and Beverage—Wood Foods Company, yang akan memasok seluruh kebutuhan hotel kita kedepannya. Tolong kau layani dia dengan sangat baik.” Penjelasan Corey terdengar seperti dengungan di telinga Jovie.

Jace terkekeh melihat reaksi Jovie yang terlihat lucu baginya. Meskipun dia terlihat enggan untuk mengalihkan pandangannya, pria itu tetap menoleh pada Corey. “Terima kasih, Corey. Firasatku bagus mengenai kerjasama ini. Jadi, mulai saat ini aku mendapat wewenang khusus untuk berkomunikasi dengan wanita cantik di depanku ini, bukan?”

Corey mengangguk sambil terkekeh. “Tentu saja. Kau bisa meminta bantuan apa pun padanya,” ucapnya, kemudian menatap tajam pada Jace. “Asalkan masih dalam konteks pekerjaan.”

Jace menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya. “Semua pasti karena tentang pekerjaan,” jawabnya sambil berdiri, mendekat pada Jovie yang masih terdiam, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

“Kedepannya, kita akan terus bekerja sama dengan baik.” Jace mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jovie.

Jovie menatap ngeri pada Jace. Jelas terlihat dia enggan membalas jabat tangan itu. Pikirannya sekarang benar-benar berkecamuk. Kepingan memorinya teringat akan di mana dirinya memergoki Jace berhubungan badan dengan wanita lain. Pemandangan yang sangat tabu di matanya.

Jovie menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Dia berusaha untuk setenang mungkin. Dia tak ingin Corey mencurigai dirinya. Detik itu juga, dia menyambut jabatan tangan Jace.

“Tentu saja, Tuan Sherwood. Kita akan bekerja sama dengan baik,” ucap Jovie hangat dan tulus.

Jace menyeringai senang saat Jovie menjabat tangannya. Gengamannya menjadi semakin erat, membuat Jovie terkejut dan refleks menatap kedua mata Jace. Jovie bermaksud ingin menarik tangannya, tapi sangat sulit untuk melepaskan tangannya yang telah digenggam erat oleh Jace.

“Senang bertemu denganmu lagi, Jovie.” Jace tersenyum jahil, sambil mengedipkan sebelah matanya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi The Bad Guy

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Dalam kondisi mengandung, aku terkejut mendapati kenyataan pahit bahwa Liam Barnes, kekasihku, membiarkan saudara kembarnya, Lucas, meniduriku selama tiga tahun. Liam melakukan pengkhianatan ini demi membalas dendam untuk cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, saat aku mengonfrontasi Lucas yang berlutut di hadapanku, ia justru menunjukkan pengabdian yang berbeda. Sambil mencium kakiku dengan khidmat, Lucas bersumpah bahwa kesetiaannya hanya untukku.
Sampul Novel Gairah Liar Nayla
7.8
Nayla selalu percaya bahwa kehidupan pasti akan berakhir indah meski badai menerjang. Namun, keyakinannya diuji saat ia jatuh pingsan karena kelelahan di sofa rumahnya. Di tengah kondisi tak berdaya itu, seorang pria misterius yang telah merencanakan segalanya muncul mendekat. Dengan niat terselubung, ia mulai menyentuh tubuh Nayla yang sedang terlelap. Situasi menjadi semakin mencekam saat pria itu meraba dadanya, memicu reaksi tak sadar dari Nayla yang sedang tertidur.
Sampul Novel PENGANTIN TITIPAN
9.2
Kamila jatuh hati pada Dion, mahasiswa KKN yang melamarnya tanpa izin keluarga. Saat restu tak didapat dan hari pernikahan tiba, Dion justru meminta Aldin Nabastala menggantikan posisinya. Demi kehormatan sang ayah, Kamila terpaksa menikahi duda tersebut meski hatinya masih milik Dion. Namun, seiring waktu, Aldin mulai mencintai istri titipan yang shaliha ini. Akankah Aldin merelakan Kamila kembali ke pelukan kekasih lamanya saat rasa cinta mulai bersemi?
Sampul Novel Penuh Luka Penderitaan
7.8
Valeria terpaksa bekerja lembur demi menghindari perundungan rekan kerjanya. Saat sedang membersihkan meja di ruang CEO baru, seorang pria asing yang perkasa tiba-tiba menariknya ke sebuah kamar rahasia yang mewah. Valeria terhempas ke atas tempat tidur besar di bawah kungkungan tubuh kekar pria tersebut. Tanpa daya, ia kini terjebak dalam cengkeraman sosok misterius dari dunia yang berbeda, yang secara paksa menuntutnya untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Sampul Novel Stuck With Him
7.8
Kehadiran Chessi yang mendadak dalam hidup Yuga menghancurkan segala rencana masa depannya. Setelah kematian sang ayah, Yuga terpaksa tunduk pada aturan ibunya, termasuk menikahi Chessi. Alih-alih bahagia, pernikahan ini menjadi tempat Yuga melampiaskan amarah. Meski Chessi berusaha mencari pengampunan, kebencian Yuga tetap membara. Baginya, satu-satunya cara untuk memaafkan Chessi hanyalah jika waktu bisa diputar kembali agar mereka tidak pernah bertemu.
Sampul Novel Tangisan Terakhir Seorang Istri
8.8
Marcell Wijaya, detektif ternama, tega mengusir istrinya yang hamil di jalan gelap karena menolak mendonorkan ginjal untuk cinta pertamanya, Emilia. Penolakan itu berujung penculikan oleh musuh Marcell yang dendam. Di bawah siksaan kejam hingga lidahnya dipotong, sang istri tak berdaya ketika Marcell mengabaikan telepon penculik demi menemani Emilia di rumah sakit. Saat Marcell akhirnya menyelidiki TKP penemuan jasad wanita hamil yang dimutilasi, ia tidak sadar bahwa korban itu adalah istrinya sendiri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan