
Terpaksa Menikahi Sang Anak Majikan
Bab 2
Secara tiba-tiba Langit langsung menyambar bibir Cahaya.
"Mmphtt ...." Sontak saja membuat Cahaya semakin kencang memukuli dada pria itu, meronta-ronta berusaha lepas dari cengkramannya.
Sementara orang itu dengan memejamkan kedua mata, masih terus menikmati bibirnya dengan rakus dan kasar.
"Awww ... !" Namun, tiba-tiba ia melepaskan bibirnya dan mengaduh kesakitan karena Cahaya telah menginjak sebelah kaki pria itu.
Merasa pertahanan orang itu mulai berkurang, dengan sekuat tenaga gadis tersebut mendorong dada bidangnya. Dan ia berlari ke arah pintu. Sayangnya, lelaki itu bisa mengejar dan menangkap tubuhnya kembali. Dengan mudah Ia langsung memanggul tubuh ramping itu di bahunya.
"Ahhh! Lepasin!" Cahaya terus meronta menggerak- gerakan kakinya dan memukuli punggung pria tersebut.
Kemudian Langit membopong wanita itu dan menjatuhkannya ke atas ranjang.
Brugg!
Dengan gerakan cepat pria yang sedang mabuk itu memposisikan dirinya di atasnya dan mengunci tubuh gadis tersebut.
'Degg!'
Gadis itu semakin shock dan sangat panik karena posisinya kini sungguh sangat membahayakan baginya. Dalam seketika itu juga, dia kembali meronta dan ingin langsung berteriak.
"Tolong ... Mmhhtpp!"
Namun, bibirnya kembali dibekap oleh Langit. Sehingga membuat suaranya tertahan.
Dengan keadaan yang sangat panik, dalam hati itu pun berdoa, "Semoga saja ada orang yang datang untuk menolongnya."
Benar saja, bertepatan dengan itu
Brakk!
Bagus Santosa dan sang istri yang bernama Sintya Widyawati itu merasa sangat terkejut. Sepulang dari perjalanan di luar kota, mereka tak sengaja mendengar ada suara keributan dari kamar sang anak sulung.
Sehingga otomatis membuat kedua paruh baya itu merasa keheranan dan juga sangat panik karenanya. Lalu, dengan tanpa berpikir panjang lagi, saat itu juga sang suami langsung mendobrak pintu kamar tersebut.
Dan, betapa terkejutnya mereka ketika melihat apa yang tengah dilakukan oleh dua orang yang berada di dalam kamar itu.
Langit yang sedang menindih Cahaya terjingkat kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga dengan wanita yang kini berada di bawahnya itu pun sama kagetnya dengannya.
"Langit! Apa yang kamu lakukan?" teriak Bagus dengan penuh emosi menatap nanar pada putra sulungnya yang kini tengah berada di atas tubuh seorang wanita.
Lalu, dengan seketika lelaki paruh baya itu segera menyeret paksa tubuh Langit agar segera bangkit dari atas gadis itu. Dan dengan sangat marah ia langsung melayangkan sebuah tamparan.
Plakk!
Langit yang masih dalam keadaan mabuk hanya sempoyongan sembari meringis kesakitan memegangi pipinya yang terasa perih dan panas akibat dari tamparan keras ayahnya.
Sementara Cahaya yang dalam keadaan setengah telanjang, baju bagian atasnya sudah terkoyak hingga menampakan bra putih yang ia kenakan. Dengan segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu, sembari duduk menunduk, ia mulai menangis.
Sintya yang merasa sangat syok, panik dan juga iba melihatnya, segera mendekat dan memeluknya dengan erat.
"Hsstt ... sudah jangan menangis, ya! Tolong maafkan anak saya, Aya! Sudah kamu jangan takut ya, kamu sudah aman sekarang," ucapnya seraya mengusap-usap lembut kepala gadis itu.
"Hehehe ... eh, Papah," oceh Langit sembari cengengesan tersenyum pada ayahnya.
"Dasar anak bodoh. Bikin malu saja!" Dengan sangat geram lelaki paruh baya itu mulai memukulinya dengan bertubi-tubi.
Sehingga membuat Sintya yang melihatnya segera melerainya.
"Udah, stop, Papah! Dia ini sedang mabok. Sehingga ia tidak sadar dengan apa yang diperbuatnya, Pah!" sergahnya sembari berdiri di antara dua pria itu.
"Ya, justru inilah kebodohannya. Kenapa dia pakai mabok-mabokan segala. Dan lihatlah sekarang! Andai saja kita tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada Cahaya sekarang?"
"Iya iya, Pah. Langit memang bersalah. Tetapi bukan begini solusinya," teriak Sintya berusaha menghentikan suaminya.
"Lalu, sekarang kita harus bagaimana, Mah? Lihatlah, kasian Cahaya. Pasti dia sangat terpukul dan juga trauma atas semua ini, Mah." Bagus menunjuk gadis yang masih terus sesegukan duduk di atas ranjang sang putra.
"Mah, Pah! Ada apa ini? Kok, pada ribut di sini, sih?" Thalita yang terbangun karena mendengar kegaduhan dari kamar sang kakak segera berlari dan masuki kamar itu dengan kebingungan.
Dirinya cukup kaget saat melihat ada pecahan botol di depan kamarnya. Dan kini ia semakin merasa syok melihat Cahaya yang sedang duduk menangis di atas ranjang sang kakak. Seketika itu ia langsung bergegas mendekatinya.
"A-aya, kamu kenapa?" Gadis berambut coklat itu menatapnya keheranan dan langsung memeluknya dengan sangat erat.
Sementara gadis yang dipeluknya itu hanya terisak dan tak bisa berkata-kata untuk sekedar menjawab pertayaannya.
Lalu, Thalita menoleh ke arah kakak laki-lakinya yang kini dalam bertelanjang dada. Dan penampilannya juga sangat awut-awutan tidak karuan yang menandakan kalau lelaki itu pasti sedang mabuk berat.
"Huh?!" Reflek Thalita membekap mulutnya dengan sebelah tangan, ia merasa sangat syok. Baru menyadari pasti kakaknya itu telah melakukan suatu hal yang buruk pada Cahaya.
"Thalita! Cepat bawa Cahaya ke kamarmu sekarang!" titah sang ayah. "Dan kamu Langit, Papah tunggu di ruang tamu. Kita perlu bicara sekarang juga!"
Anda Mungkin Juga Suka





