
Terpaksa Menikahi Sang Anak Majikan
Bab 3
Setelah itu, lelaki berkacamata itu segera berlalu meninggalkan kamar. Thalita gegas menuntun Cahaya untuk menuju ke kamarnya.
Sementara Sintya memapah putranya menuju ranjang dan merebahkannya di sana. Lalu ia segera keluar kamar, mencari obat untuk meredakan mabok dan memberikannya pada Langit.
***
Hingga beberapa menit kemudian.
Dengan rasa pusing di kepala, Langit berjalan menuju ruang tamu. Di mana di ruang itu sudah ada kedua orang tuanya, adiknya dan tentu saja Cahaya.
"Ada apaan sih, Pah?" tanyanya linglung. Ia masih belum menyadari apa yang telah diperbuatnya tadi.
"Ada apa, kamu bilang? Kamu lihat dia!" teriak Bagus menunjuk gadis yang kini terduduk di sebelah putrinya.
Raut wajah gadis itu tampak begitu sedih dan terpukul. Dengan tertunduk, sesekali ia mengusap sisa air matanya yang masih terus mengalir di kedua pipinya.
Seraya mengerutkan dahi, Langit menoleh ke arahnya.
"Apa kamu sudah mengingat apa yang telah kamu lakukan padanya tadi, Langit?" tanya Bagus menatap tajam pada anaknya.
Sehingga membuat Langit merasa sangat kebingungan mendengarnya.
"Mak-maksud, Papah apaan sih? Aku gak ngerti deh." Dengan sangat lesu pemuda itu kini menjatuhkan bokongnya di atas sofa yang berada tepat di hadapan Cahaya.
"Kamu tadi hampir menodainya, Langit!" ujar Bagus sembari mengeratkan giginya geram.
"A-apaa?!" Jelas pemuda berkaos putih itu kaget mendengarnya. Namun, tak lama kemudian ia malah tertawa sumbang seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ayahnya katakan.
"Hahaha ... jangan becanda deh, Pah! Mana mungkin aku mau memperkosa gadis seperti dia. Kayak gak ada gadis lain aja deh," cibirnya sembari tersenyum sinis menatap Cahaya.
Brakg!
Dengan penuh emosi Bagus menggebrak meja dengan cukup keras, hingga membuat semua orang yang berada di sana tersentak kaget.
"Kamu pikir Papah sedang bercanda, huh?" bentaknya.
"Ya ya, a-aku minta maaf, Pah. A-aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa tadi." Dengan terbata-bata Langit merasa sedikit ketakutan melihat ekspresi wajah ayahnya yang tampak begitu marah padanya.
"Mu-mungkin aku khilaf, Pah! Sungguh aku gak sengaja, Pah. Tadi aku mabok, sehingga aku tidak sadar dan tidak ingat jika telah melakukan ini semua, Pah!" Pemuda berambut coklat itu berusaha membela diri.
"Kamu ini benar-benar bikin malu Papah aja, Langit! Sekarang bagaimana dengan Cahaya, hah!" Dengan geramnya Bagus mengepalkan kedua tangan. Ingin rasanya ia memukulinya lagi, namun langsung dicegah oleh istrinya.
Sementara Langit kini hanya diam tertunduk pasrah menerima amarahnya.
"Sudah! Sudah, Pah! Sabar, jangan emosi, ya! Ingat dengan penyakit jantung Papah!" Sintya mengusap lengannya berusaha untuk menenangkannya.
"Gimana gak emosi, Mah? Itu si Langit. Argh ... !" Dengan menyugar rambut kasar, Pria paruh baya itu benar-benar merasa kebingungan. "Gimana dengan Cahaya, Mah? Dan bagaimana kita menghadapi keluarganya nanti?"
Dengan tertunduk lesu, Langit pun berkata, "Maafkan Langit, Mah, Pah! Aku sudah membuat kalian kecewa."
"Langit-kangit! Papah benar-benar gak habis pikir sama kamu." Bagus bangkit dari duduknya dan mendekat ke arahnya. Kemudian sembari menghela nafas berat, ia menatap tajam sang anak yang sedang terduduk lesu di hadapannya kini.
"Kenapa kamu pakai mabok-mabokan segala, hah? Dan lihatlah sekarang, apa akibatnya? Kamu hampir menodainya. Dan sekarang kita harus bagaimana, Langit?" lanjutnya lagi.
"Ya ya, gak harus gimana-mana lah, Pah. Lagi pula aku juga tidak sampai menodainya, kan? Jadi, dia masih aman. Kenapa kita harus repot sih?" jawab Langit tanpa beban.
"Apa kamu bilang? Memang kamu tidak sampai menodainya karena Papah datang tepat waktu. Jika tidak, yang ada kamu pasti telah menodainya, Langit!" Lagi-lagi lelaki paruh baya itu merasa geram mendengar perkataan putra sulungnya yang seolah menganggap remeh masalah ini.
"Pokoknya Papah gak mau tau. Kamu harus bertanggung jawab!" tandasnya penuh dengan penekanan.
"Maksud, Papah?" Langit mengangkat wajah dan mengerutkan dahi menatapnya kebingungan.
"Ya, kamu harus menikahi Cahaya!"
"Apaa! Me-menikah?" pekik Langit syok. "Ta-tapi, aku gak bisa menikah dengan dia. Karena Aku tidak mencintainya, Pah."
"Lagipula aku juga tidak sengaja melakukan itu semua. I-itu hanya kecelakaan. Sungguh aku gak sengaja. Aku khilaf, Pah." Tentu saja pria muda berusia 25 tahunan itu langsung menolaknya.
"Terus kamu maunya bagaimana, Langit? Setelah semua ini terjadi, lalu kamu mau lepas dari tanggungjawab, huh?" pungkas Bagus kesal.
"Langit-langit! Papah dan Mamahmu ini tidak pernah mengajarimu tuk jadi orang yang tidak bertanggungjawab seperti ini, Langit!" lanjutnya lagi.
Tiba-tiba saja keluarga dari Cahaya yang sengaja dipanggil oleh Bagus telah datang. Yaitu Paman dan Bibiknya Cahaya kini telah masuk ke rumah tersebut.
"Tuan, ini Pak Hadi dan istrinya sudah datang," ucap salah satu pelayan yang mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk masuk ke ruang tamu.
Reflek semua orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah pasangan suami istri tersebut.
"Oh, Pak Hadi dan Bu Irma. Mari-mari silahkan duduk!" ujar Bagus mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Iya, terimakasih, Tuan." Pria paruh baya yang telah mengabdikan diri sebagai sopir pribadi keluarga ini selama hampir 8 tahunan itu mengangguk dan memilih untuk duduk di samping keponakannya.
Lalu dengan kebingungan ia pun berkata, "Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tau, ada apa Tuan memanggil kami datang ke sini?"
"Em ... jadi begini, Pak Hadi. Saya ingin meminta ijin kepada Bapak. Saya ingin menikahkan Cahaya dengan Langit."
"Apaa?! Ca-cahaya menikah dengan De-den Langit?" Dengan membelalakan mata, sontak sepasang suami istri itu langsung terpekik kaget.
Anda Mungkin Juga Suka





