Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Berpisah

Terpaksa Berpisah

Akibat kesalahpahaman sepele, Sara harus menghadapi pengucilan dari keluarga suaminya hingga pernikahan mereka berakhir tragis. Tak ingin terus terpuruk, ia bangkit untuk membalas dendam dengan memimpin perusahaan kakeknya dan bertekad mengungkap kebusukan keluarga Atkinson. Namun, ambisinya tidak akan berjalan mudah. Apakah Sara mampu menjatuhkan mereka, ataukah Rion sebagai mantan suami akan turun tangan untuk menghentikan seluruh rencana besarnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sara mengerjapkan mata berulang kali, mencerna kembali apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Jika dia menganggukkan kepala, maka keajaiban luar biasa akan terjadi.

Setahun menikah, Sara tidak hanya sekali melihat tubuh suaminya. Dia tahu kalau Rion memiliki apa yang diidamkan para wanita. Mustahil jika dia tidak gugup, mustahil jika dia tidak memikirkan soal hubungan intim.

"Sara, kau mendengarkanku?"

"Y—ya, aku mendengarkanmu."

Betapa malunya berada di punggung sang suami dengan pipi yang merona merah. Sara ingin sekali memeluk pahatan sempurna itu dari belakang namun dia bukanlah seseorang yang aktif perihal bersentuhan.

"Kau masih bisa membatalkan niatmu jika tidak yakin untuk melakukannya."

"Tidak! Aku sangat yakin! Bisakah kau melepaskan pakaianmu?"

Rion menganggukkan kepala, tanpa ekspresi bersalah atau menyesal menunjukkan bagaimana bidangnya dada seorang pria, sedangkan Sara menanti dengan jantung berdegup kencang.

Sara tidak sabar, sungguh tidak sabar menodai matanya dengan pemandangan menakjubkan. Dia segera menyentuh pundak yang keras setelah baju berhasil dilepaskan, termenung beberapa saat hanya untuk sekadar menyadarkan diri kalau ini bukanlah mimpi.

"Ada apa, Sara?"

Mendengar suara itu membuat Sara sadar dan seketika menjadi canggung. Tangan yang terulur seolah sedang menyentuh tas mahal di toko besar juga mendadak kaku.

Apa yang dia lakukan?! Di depan suami sendiri terlihat seperti wanita tidak tahu malu!

Sara langsung meremas bahu suaminya sehingga Rion meringis kesakitan. Itu hampir seperti cubitan yang banyak, dilakukan dalam satu waktu. Bahkan, kulitnya memerah dan meninggalkan jejak tangan sesaat.

"Ma—maafkan aku!"

Rion mengernyitkan alis, melemparkan pandangan heran bercampur rasa sakit dalam ekspresi. "Apa kau yakin bisa memijat dengan baik?"

Sejujurnya, dia agak ragu soal itu.

"T—tentu saja! Aku bisa memijatmu dengan sangat baik."

Kini Sara memperlihatkan kemampuannya. Dia memijat bahu sang suami dengan lembut, membuat kepercayaan yang sempat lenyap timbul kembali. Rion tampaknya bisa menikmati bagaimana gerakan tangan Sara melemaskan otot-ototnya yang tegang.

"Aku harap kau tidak masalah jika keluargaku tinggal begitu lama bersama kita di sini."

"Kau tidak perlu khawatir."

Suasana hening selama beberapa saat. Mereka jarang berada dalam waktu seperti ini, ditambah Rion bukan orang yang suka bicara. Sara pun memiliki ketakutan soal menunjukkan siapa dirinya. Jadi, mereka pun sama-sama membuat batasan tanpa mencampurkannya dalam pernikahan, karena perjodohan yang terjadi membuat mereka membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan membentuk kepercayaan.

"Maaf, Sara. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."

"Kenapa bicara seperti itu?"

"Aku hanya sibuk bekerja, sedangkan kau sering terabaikan. Seharusnya, aku tidak berlaku demikian pada istriku sendiri."

"Kau tidak harus menekan dirimu. Aku sungguh baik-baik saja."

Mereka tidak menolak perjodohan, bukan berarti pula saling menyukai satu sama lain ketika pernikahan terjadi. Meskipun begitu, mereka sama-sama memberikan kesempatan untuk sebuah hubungan. Apa yang terjadi sampai detik ini adalah karena mereka berusaha melakukan yang terbaik.

Rion membalikkan badan, menyentuh tangan Sara sambil menatap kedua bola mata wanita itu dalam-dalam. Jantung Sara akan copot sebentar lagi, sepertinya begitu jika tatapan Rion yang selalu membuatnya gugup terus tertuju padanya.

"Aku masih belum bisa menata hatiku atas kepergian kakek. Maka dari itu, sulit bagiku berpikir dengan baik dan terkadang lupa dengan orang-orang di sekelilingku. Jadi, yang ingin aku katakan adalah jika ada yang ingin kau lakukan atau minta, katakan saja tanpa merasa terbebani."

Tidak Sara kira kalau suaminya akan memikirkannya sampai seperti itu. Dia hanya ingin mengerti akan kondisi Rion, lalu bertekad untuk menunggunya sampai suasana kembali membaik. Satu minggu sampai akhirnya mereka bisa bicara seperti ini tidaklah mudah, berada dekat namun terasa jauh.

Sara tersenyum, kemudian menganggukkan kepala. "Aku mengerti."

Rasa lapar membangunkan Sara lebih awal keesokan hari. Dia terkejut mendapati dirinya berada di pelukan Rion, sebelumnya pun bersandar di dada pria itu dengan nyaman. Bagaimana bisa berakhir begitu?

Tadi malam setelah memijat, dia sangat mengantuk dan akhirnya ikut tertidur. Pagi ini pun terbangunkan oleh rasa lapar karena tidak jadi turun untuk makan malam.

Dibandingkan hal itu, bisa menatap Rion dengan jarak begitu dekat sangatlah langka. Kalau saja bisa sedikit terbuka dengan kehidupan masing-masing, pasti hubungan mereka akan semakin erat. Atau ... tidak?

Sara tidak begitu tahu kepribadian suaminya, karena mereka bisa dikatakan jarang berinteraksi lebih mendalam. Pertama kali sesaat mereka resmi menjadi pasangan yang sudah menikah. Rion sempat bertanya banyak hal sampai membuat dia terkantuk-kantuk di malam pernikahan.

“Apa bunga favoritmu?”

“Tulip.”

“Kenapa memilih tulip?”

“K—karena dia cantik?”

“Kau tahu apa arti dari bunga tulip?”

“Sepengetahuanku, mereka memiliki arti yang berbeda-beda tergantung warnanya.”

“Benar.”

Itu merupakan kejadian yang lucu di mana kecanggungan sempat merebak di antara mereka. Siapa yang akan membahas soal bunga tulip di malam pertama pernikahan? Mungkin, hanya mereka orangnya. Topik yang dipilih secara asal adalah jalan untuk mengatasi kecanggungan menurut mereka.

Berbicara tentang malam pernikahan membuat pipi Sara merona merah. Mereka sudah pernah melakukan hubungan intim ketika menjalani bulan madu. Itu malam pertama yang canggung, karena mereka tidak memiliki pengalaman.

Kruk, kruk.

Sara segera menahan perutnya. Dia harus cepat-cepat ke luar kamar sebelum suara memalukan itu membangunkan Rion. Padahal, dia ingin tinggal sedikit lebih lama. Sangat disayangkan.

Turun ke lantai bawah, Sara langsung bertemu dengan ibunya Rion yang tampak tidak senang ekspresinya. Apa karena tadi malam dia tidak ke luar dari kamar untuk makan malam bersama?

"Selamat pagi, Bu," ucap Sara.

Belinda mengernyitkan alis. "Aku selalu ingin mengatakannya padamu bahwa aku bukanlah ibumu dan tidak akan pernah menjadi ibumu."

Dikatakan seperti itu, Sara ciut nyalinya. Dia menundukkan kepala dan berkata, "Maaf, T—tante."

Belinda tidak menghiraukan lagi, lantas menata makanan di meja. Tentu sebagai menantu Sara tidak ingin tinggal diam saja. Dia membantu pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukannya itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Belinda dengan nada sinis andalan.

"Tante tidak seharusnya repot membuatkan sarapan. Saya yang akan melakukannya bersama para pelayan."

"Selain hobi membantah, ternyata kau juga hobi mengatur orang lain, ya?"

"Bukan seperti itu, saya hanya—"

"Pelayan memang berbaur dengan sesamanya." Charla muncul dan berkata.

"Apa maksudmu?"

Sara merasa kalau ucapan itu sudah sangat keterlaluan jika memang benar dirinya disebut sebagai pelayan.

"Orang yang hanya melakukan pekerjaan rumah, bukankah namanya pelayan?"

Sara tersenyum pahit. "Mengatakan diriku pelayan di rumah suami sendiri, bukankah itu sangat keterlaluan?"

"Rumah suamimu? Heh, kau pikir ada cap air yang mengatakan siapa pemilik rumah ini?"

"Dalam surat wasiat sudah jelas kalau kakek meninggalkan sebagian besar hartanya untuk Rion."

"Kalau memang begitu, kau sebaiknya pergi dari rumah ini, karena kakek tidak meninggalkan satu pun untukmu."

"Rion—"

"Kau pikir kak Rion akan membagikannya untukmu? Dia memang suamimu, tapi jika dia berpisah darimu, kau akan berbuat apa?"

"Berpisah?"

Sara yang sudah di ambang batas, langsung menjambak rambut Charla hingga sang adik ipar berteriak kesakitan. Belinda sendiri berusaha melerai namun sulit karena mereka berdua adalah ayam betina yang brutal.

"Setelah menyebutku pelayan, sekarang kau berani-beraninya berkata bahwa kami akan berpisah?!"

"Ibu, tolong aku! Wanita ini sudah gila!"

"Kau pikir aku akan mengalah hanya karena kau anak kecil? Aku sudah cukup bersabar selama ini dan tidak mengadukanmu pada Rion, tapi kau tetap saja tidak mengontrol ucapanmu sebagai anak kecil."

"Hah, anak kecil? Aku memang berumur delapan belas tahun, tapi otakku lebih dewasa dibandingkan dirimu!"

"Kau pikir berkata-kata buruk adalah sikap yang dewasa, hah?!"

"Kau sendiri menjabak rambutku!"

Mereka berakhir jambak-jambakan dan di pertengahan itu semua tidak sengaja menghadap tangga, langsung terdiam saat menemukan seseorang berdiri di atas sana sambil menatap mereka. Dia adalah Rion.

Charla segera menarik tangannya, merapikan rambut yang berantakan. Sara juga melakukan hal serupa.

"K—kak Rion, bukan aku yang memulainya."

Sara mengerutkan alis, tampak tidak terima. "Kau jelas yang memulainya lebih dulu."

Rion menghampiri mereka bertiga, lalu menatap Belinda dan berkata, "Maaf, seharusnya istriku tidak membuat keributan."

Sara melupakan keberadaan sang mertua, melihat Rion yang mewakilinya untuk meminta maaf. Dia lebih tidak bisa diandalkan sekarang. Hal itu membuat keberaniannya surut digantikan penyesalan lantaran tersulut emosi dan mengecewakan suaminya.

Belinda berdeham. "Lain kali, aku tidak ingin melihat kejadian ini lagi."

Belinda beranjak pergi bersama Charla, sedangkan Rion menatap istrinya dengan pandangan mata yang buruk. Baru kali ini Sara menerima tatapan mengerikan begitu dari suaminya.

"Ikut aku, Sara."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIARY_LIANA
8.4
Liana Salsabila, mahasiswi cerdas di Medan, mengalami trauma berat setelah dipaksa keguguran oleh kekasihnya melalui minuman beracun. Tragedi ini berujung pada pengangkatan rahim yang menghancurkan batinnya. Meski berasal dari keluarga terpandang, putri pengusaha saham Arbi dan Fitri ini sempat nekat menjalin hubungan rahasia tanpa restu. Kini, ia ditinggalkan saat sakit. Mampukah Liana menghadapi kemarahan orang tuanya setelah rahasia kelam ini terungkap?
Sampul Novel Dinodai CEO Kejam
8.7
Sena Monela mengalami petaka besar setelah salah memilih pakaian di hari ulang tahun kekasihnya. Akibat mengenakan gaun milik kakaknya, Giana, ia disekap oleh pria asing bernama Alexander Sagala. Xander berniat menghancurkan Giana demi membalas dendam atas depresi berat yang diderita sang adik. Setelah menyadari bahwa ia menangkap orang yang salah, miliarder kejam tersebut justru menolak melepaskan Sena. Nasib Sena kini sepenuhnya berada di tangan penculiknya dalam misteri tawanan ini.
Sampul Novel Dipaksa Menikah dengan Hartawan Misterius
8.4
Pasca wafatnya sang ibu, Chelsea Kurniawan hidup menderita di bawah tekanan ayah dan ibu tirinya. Ia dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi Tristan Sudrajat demi menggantikan Cheline. Meski sempat kabur dan terlibat cinta satu malam dengan pria asing, Chelsea tetap tertangkap dan terpaksa menikah. Di luar dugaan, Tristan justru memperlakukannya dengan sangat baik. Namun, Tristan menyimpan banyak rahasia besar, termasuk identitas aslinya sebagai hartawan misterius.
Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Shifra, yatim piatu yang dinikahi miliarder Elzien Kagendra, harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan tragis. Hidupnya berubah menjadi pelayan di rumah mertua hingga sebuah insiden satu malam memaksanya menikahi adik iparnya sendiri. Saat telah memiliki anak, Elzien yang disangka wafat tiba-tiba muncul kembali. Kini Shifra terjebak dalam dilema besar antara cinta pertamanya atau suami kedua yang merupakan ayah dari bayinya. Siapa yang akan dia pilih?
Sampul Novel Hakikat cinta yang kau nodai
9.1
Hana lelah menghadapi perselingkuhan Devan yang terus berulang meski telah berkali-kali dimaafkan. Setelah delapan tahun bersabar, ia akhirnya memilih bercerai. Di tengah luka, hadir Rama, pewaris Abimana Group yang saleh, sebagai oase ketenangan. Namun, cinta mereka terhalang status Hana sebagai janda dua anak dan hierarki bisnis keluarga Rama. Akankah Rama diterima oleh anak-anak Hana, atau justru Devan kembali mengejar mantan istrinya yang dulu ia khianati?
Sampul Novel Kala Hidup Mengalir dengan Damai
8.8
Tiga tahun pernikahan hanya mendatangkan kebencian dari Kayden Farista kepada Calista Lisano. Saat Nadia Farista kembali, Kayden merancang rencana ekstrem untuk memalsukan kematiannya demi melepas status pewaris dan kawin lari dengan Nadia. Namun, rencana yang diucapkan di ruang operasi itu terdengar oleh Calista. Tanpa ragu, Calista langsung meminta pengacaranya menyiapkan surat cerai dan menghubungi kakak laki-lakinya di luar negeri, memilih untuk menyerah dan pergi selamanya.