Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ternyata Aku yang Membuat Suamiku Selingkuh

Ternyata Aku yang Membuat Suamiku Selingkuh

Niat tulus Jeni untuk menyelamatkan keponakannya dari perlakuan buruk sang ayah tiri justru menjadi bumerang yang menghancurkan hidupnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa keputusannya memberikan perlindungan akan menjadi awal dari keretakan hubungan pernikahannya sendiri. Sosok yang ia tolong dengan penuh kasih sayang kini perlahan berubah menjadi duri dalam daging yang mengancam keutuhan rumah tangganya bersama sang suami tercinta.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mas!"

Mas Firman menoleh ke arahku. Ku lihat ia sampai berpeluh membuka kelapa sebanyak itu.

"Maaf ya aku kesiangan. Tadi malam aku nggak bisa tidur," kataku sembari duduk di kursi panjang yang menghadap langsung ke pekarangan tetangga.

Mas Firman tetap menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengupas buah kelapa yang ada di tangannya dan menaruhnya bersama tumpukan yang lain lantas duduk di sampingku.

"Tumben nggak bisa tidur. Emangnya kebangun jam berapa? kok nggak bangunin aku?" tanya Mas Firman.

"Jam 12 kayaknya, Mas. Aku nggak bisa tidur karena mikirin Nida."

"Nida?" Aku tahu Mas Firman akan bereaksi seperti apa.

"Kenapa lagi sama Nida?" tanya Mas Firman skeptis. Aku tahu Mas Firman akan seperti itu.

"Nida ngirim pesan lagi, katanya Mas Aris pulang malam dalam keadaan mabuk dan memeluknya."

"Kamu percaya sama Nida?" Bola matanya memutar ke arahku. Ia selalu memberiku pandangan itu. Pandangan tak percaya. Sama seperti Mbak Nia. Dan Aku jengah sekali harus diperlakukan seperti itu.

"Kalau bukan aku yang percaya sama dia, mau siapa lagi, Mas? Ibunya aja nggak percaya!" Pagi ini aku mulai dibikin kesal sama Mas Firman.

"Nah justru itu. Ibunya aja nggak percaya, kenapa kamu percaya? Lagian ya sayang, kenapa dia nggak cerita aja sama Mas Deryl, tapi ceritanya selalu sama kamu. Kamu itu terlalu baik, gampang percaya sama orang." Mas Firman mulai memberiku ceramah panjangnya.

Padahal belum kuutarakan ide gilaku, tapi dia malah sudah merepet panjang. Bisa-bisa langsung ditolak kalau begini.

"Aku cuma nggak mau menyesal, Mas. Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Kalau misal kita tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kita tutup mata dan membiarkan hal buruk terjadi, sementara kita tadinya bisa mencegah, kira-kira apa yang akan kita rasakan nanti, Mas? Menyesal!! cuma ada penyesalan nanti. Sementara aku nggak mau menyesal, Mas!" kataku membabi buta. Aku heran, apa susahnya percaya dengan keponakan. Lagian dia untungnya apa kalau mau bohong?

"Baiklah ... baiklah. Sekarang gimana cara kita mencegah? Kita jauh, Jen! Kamu ingat kan kalau Nida ada di Kalimantan sedangkan kita ada di Jawa Tengah? Jauh, Jen, jauh!" Mas Firman membalasku dengan tak kalah bertenaga. Inilah saatnya aku mengutarakan niatku.

Aku menghela nafas panjang lantas menghembuskannya perlahan. Aku harus menata hatiku untuk mengatakan hal ini.

"Makannya aku punya rencana untuk membawa Nida ke sini, Mas," ucapku dengan suara yang lirih.

"Hah? Ke sini? Tinggal di sini?" Wajah Mas Firman tak bisa ditebak. Yang pasti dia sangat kaget, tapi dia belum menolak.

"Iya, Mas. Aku mau minta izin sama kamu kalau Nida tinggal di sini gimana?" Wajahku yang garang berubah jadi lembut seperti anak kucing yang minta dielus-elus.

Mas Firman melirik ke arahku sebentar lantas menatap kosong ke depan. Apakah ideku terlalu gila hingga dia enggan memberi tanggapan. Ku lihat ia melakukan seperti yang ku lakukan tadi. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, berkali-kali. Akhirnya ia membalikkan tubuhnya ke arahku.

"Jen apa kamu sudah memikirkan semuanya? Nida itu harus sekolah kan di sini? Emang Nida mau? Emang dibolehin sama mamahnya? Terus nanti mau ngomong sama Ibu gimana?"

Ia mengambil jeda lumayan lama. "Kamu jangan sembarangan mengambil keputusan! Bagaimana nanti Gilang menerima Nida. Meskipun mereka sepupu, tapi kan beda ceritanya kalau Nida tinggal di sini ."

Kini ia memalingkan pandangannya ke arah Gilang yang masih sibuk dengan kegiatannya. Aku belum memikirkan semua perkataan Mas Firman. Justru aku sengaja belum menanyakan tentang ide ini ke Mbak Nia maupun Nida, aku takut mengecewakan mereka andaikata mereka setuju tapi Mas Firman malah tidak setuju.

"Maafkan aku, Mas. Aku memang belum membicarakan tentang ini dengan Nida dan Mbak Nia. Aku cuma mau izin Mas Firman dan Ibu dulu. Ini kan rumah Ibu, jadi aku nggak berani melangkahi ibu, menawari Nida untuk tinggal di sini sementara Ibu dan Mas Firman belum tahu." Kepalaku tertunduk, aku melirik sekilas ke arah Gilang yang kini juga sedang menatap ke arah kami. Percakapan kami sepertinya menarik baginya sampai ia mengabaikan maina di tangannya.

"Mbak Nida mau tinggal di sini, Bu?" tanya Gilang pada akhirnya ikut buka suara. Ia berjalan ke arahku lantas duduk di pangkuanku. Meskipun badannya bongsor, Gilang memang sangat manja kepadaku.

Ku lingkarkan tanganku ke tubuhnya. "Enggak sayang. Ibu cuma asal bicara," kataku menatap matanya seraya tersenyum getir. Ku lihat dari ekor mataku kalau Mas Firman sedang memandangku tajam.

Mas Firman menghela nafas cukup lama dan menghembuskannya sedikit demi sedikit. "Aku bukannya nggak mau bantu Nida, Jen." Ku lihat dadanya sampai naik turun. "Tapi, semua ini harus dibicarakan dengan matang."

"Jadi Mas Firman setuju?" Begitu bukan sih maksud perkataanya tadi?

"Nggak, Jen." Rahangnya mulai mengeras lagi. "Kita butuh membicarakannya. Ayo kita bicarakan dengan ibu, dan kamu harus sudah siap dengan semua pertanyaan yang diajukan nanti, serta jawaban Ibu. Entah itu mau diterima ataupun ditolak!"

Wajahku berbinar-benar. Garis bibirku tertarik ke samping. Nggak apa-apa kalau nggak disetujui sekarang, tapi membicarakannya lagi berarti masih ada kesempatan.

Jawaban Mas Firman seakan mengangkat batu yang seakan tadi menghimpit dadaku. Aku bisa sedikit bernafas lega dan memikirkan langkah selanjutnya.

Mas Firman kembali berkutat dengan mengupas kelapa. Setelah semua kelapa terkupas, dia harus segera menyerut kelapa-kelapa itu untuk dijadikan santan. Dan Gilang mulai mengikuti ayahnya lagi, bergelut dengan dagangan di pagi hari.

Hari ini hari Minggu, aku lebih bisa bersantai karena Gilang libur. Aku harus segera pergi ke dapur karena ibu mertuaku pasti sedang sibuk memasak.

Ternyata betul, ibu sedang berdiri di depan kompor dengan tempe yang mengapung di atas minyak yang panas. Ia sesekali berjalan ke dalam sambil menyapu lantai.

"Ibu, maafkan aku kesiangan bangunnya, tadi malam nggak bisa tidur," ucapku seraya berjalan menuju tempat minum.

"Nggak apa-apa, Jen. Ini udah mateng semua, tinggal nyelesain goreng tempe. Memangnya kenapa nggak bisa tidur?" tanya Bu Firda sembari membungkukkan badan, berusaha menggapai kotoran yang dibawah meja dengan gagang sapu.

"Ibu ingat ceritaku tentang anaknya Mbak Nia?" tanyaku pada Ibu. Aku mengambil tiga gelas kosong dan mengisinya dengan gula dan teh lantas menuangkan air panas ke dalamnya.

"Iya ingat. Apa bener itu ayahnya agak mata keranjang?" Ibu mengayunkan sapunya dan membawa sampah ke luar pintu belakang.

"Tadi malam dia hubungin aku lagi, Bu. Katanya Mas Aris mabuk dan memeluknya dari belakang." Aku membawa tiga gelas teh itu ke atas meja makan dan duduk di sampingnya.

Setelah lantai terlihat bersih, Bu Firda lantas ikut duduk di kursi sebelahku.

"Astaghfirullah.. Itu Nia apa nggak mau bawa pergi si Nida. Ibu takut si Aris gelap mata." Bu Firda menyeruput teh bikinanku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aroma Godaan dan Perselingkuhan
9.1
Sebuah sentuhan fisik yang tak terduga mampu meruntuhkan seluruh pertahanan diri. Dalam novel modern Aroma Godaan dan Perselingkuhan, sebuah sesi bersama terapis andalan berubah menjadi momen yang sangat intim. Pijatan lembut yang menyentuh kulit seketika memicu sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh, membuat sang protagonis kehilangan kekuatan di atas sofa. Bisikan hangat yang mengusik telinga kian mengaburkan batas antara profesionalisme dan hasrat terlarang yang mengguncang jiwa.
Sampul Novel Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat
9.3
Rania berjuang keras menyelamatkan pernikahannya yang mulai retak dan berada di ambang kehancuran. Di tengah kepedihan itu, sosok dari masa lalunya hadir kembali membawa kenyamanan bagi hatinya yang gundah. Kini ia terjebak dalam dilema besar: tetap bertahan bersama Yoga, suami yang tidak pernah tulus mencintainya, atau membuka hati untuk Rendy, pria penyayang yang muncul saat ia sudah terikat. Keputusan sulit menanti di tengah konflik batinnya.
Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Dalam kondisi mengandung, aku terkejut mendapati kenyataan pahit bahwa Liam Barnes, kekasihku, membiarkan saudara kembarnya, Lucas, meniduriku selama tiga tahun. Liam melakukan pengkhianatan ini demi membalas dendam untuk cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, saat aku mengonfrontasi Lucas yang berlutut di hadapanku, ia justru menunjukkan pengabdian yang berbeda. Sambil mencium kakiku dengan khidmat, Lucas bersumpah bahwa kesetiaannya hanya untukku.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel Hasrat Liar Darah Muda
8.1
Firhan Ardana, pemuda 24 tahun, memulai karier magangnya di kota asal sembari menghadiri reuni SMP yang penuh kenangan. Namun, pertemuan itu justru menjeratnya dalam pusaran gairah yang rumit. Ia terjebak di antara pesona Puspita yang misterius, daya tarik Meilani yang blak-blakan, serta godaan berbahaya dari sang primadona, Azaliya. Di tengah gejolak darah muda, Firhan harus menghadapi konflik batin antara cinta dan nafsu yang mengaburkan batas moralitasnya.
Sampul Novel Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
8.6
Tepat di ulang tahun pernikahan kelima, Diah mendapati suaminya, Bara, berselingkuh dengan sepupunya, Fathia. Ironisnya, Bara meremehkan Diah sebagai istri membosankan tanpa tahu Diah sedang mengandung anaknya. Merasa dikhianati, Diah memutuskan menyembunyikan kehamilannya dari pria tak setia itu. Ia memilih bersandiwara menjadi istri patuh selama tiga hari terakhir sebelum pergi selamanya, membawa rahasia besar dan memulai hidup baru tanpa Bara.