
Terlahir Kembali: Menyelamatkan Anakku Dari Sahabatku
Bab 2
Awalnya aku berpikir aku tidak akan terlahir Kembali. Bagaimanapun juga, aku sudah membuat Bella membayar atas perbuatannya. Namun, mungkin Tuhan merasa kasihan padaku dan tidak rela melihatku kehilangan putriku begitu saja. Oleh karena itu, aku diberi kesempatan lagi untuk melindunginya.
Aku dan Bella adalah sahabat baik selama lebih dari sepuluh tahun. Kami sudah saling mengenal sejak SD. Oleh karena itu, dia tahu kode pintu rumahku. Hal ini yang memberinya peluang di kehidupan sebelumnya.
Segala kejadian di kehidupan sebelumnya melintas di pikiranku seperti kilasan film. Putriku sudah kenyang dan tertidur pulas dalam pelukanku. Aku mengulurkan tangan untuk menghapus sisa susu di sudut bibirnya. Putriku mungkin sedang bermimpi indah, terlihat dari caranya mengisap jari kecilnya dengan bahagia.
Melihat pemandangan ini, aku tidak bisa menahan air mata yang mengalir. Perasaan mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang sungguh tidak mudah untuk diterima.
Suamiku yang melihat reaksiku tampak bingung dan segera bertanya, "Sayang, Mery terlalu kuat ngisapnya waktu nyusu sampai buat kamu kesakitan ya?"
Aku menggelengkan kepala dan meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Hal paling penting yang harus kulakukan sekarang adalah mengganti kode pintu depan agar Bella tidak bisa lagi masuk diam-diam ke rumahku. Dulu aku menganggapnya sebagai sahabat baik, tapi dia hanya menganggapku sebagai orang bodoh.
Aku melihat jam, dan menyadari bahwa lima menit lagi adalah waktu ketika Bella di kehidupan sebelumnya menghubungiku untuk meminjam ASI. Tepat lima menit kemudian, pesan darinya masuk.
[ Felita, bisa pinjam sedikit ASI? Belakangan ini aku sering bergadang dan rambutku rontok parah. Kalau terus begini, aku akan jadi botak. ]
[ Aku dengar ASI bisa merangsang folikel rambut. Jadi, aku mau pinjam sedikit darimu. ]
Aku belum sempat menjawab untuk menolak, tapi bel pintu tiba-tiba berbunyi.
"Felita? Kamu nggak di rumah? Aneh, kenapa pintu ini nggak bisa dibuka? Kamu ganti kode pintunya?"
Aku tidak merespons, tetapi dia mulai mengetuk pintu dengan keras.
"Felita? Nggak mungkin, di jam segini biasanya kamu ada di rumah, 'kan?"
Tiba-tiba suara ketukan berhenti dan kupikir dia sudah pergi. Namun, detik berikutnya dia mulai menendang pintu dan mencoba membukanya dengan paksa.
"Aku tadi jelas melihat lampu rumahmu menyala dari bawah. Kenapa kamu nggak bukakan pintu? Apa aku pernah buat salah sama kamu?"
Setengah jam sebelumnya, suamiku mendapatkan panggilan darurat untuk operasi dan buru-buru pergi ke rumah sakit. Aku sendiri sedang dalam cuti melahirkan, jadi hanya aku dan putriku yang ada di rumah. Awalnya aku tidak ingin membukakan pintu untuk Bella, tapi keributan yang dia buat semakin besar hingga mengganggu para tetangga.
Anda Mungkin Juga Suka





