
Terlahir Kembali: Menyelamatkan Anakku Dari Sahabatku
Bab 3
Aku berlari ke kamar mandi untuk membasahi seluruh rambutku, lalu membungkusnya dengan handuk sebelum pergi membukakan pintu untuk Bella.
"Kenapa ribut banget? Aku tadi lagi keramas, jadi nggak dengar ketukan pintumu," kataku dengan nada kesal. "Lagian, ada apa sih yang penting banget sampai harus dibicarakan sekarang?"
Bella langsung balik bertanya, "Kenapa kamu ganti kode pintu?"
"Aku dengar katanya kalau pakai satu kode terus itu nggak aman. Jadi, setiap beberapa waktu harus diganti," jawabku santai.
Bella kemudian menyibakkan rambutnya, memperlihatkan area di kepalanya yang hampir tidak ada rambut. Kulitnya bahkan terlihat mengilap karena refleksi cahaya.
Aku menutup mulutku untuk menahan tawa dan berkata, "Sepertinyak amu kena alopecia, ya?"
"Felita, gimana ini? Aku kan masih umur 20-an dan belum nikah. Kalau aku botak, siapa yang mau sama aku?" keluhnya.
"Aku sudah coba pakai segala macam shampo perangsang rambut, tapi nggak ada hasilnya. Awalnya cuma rontok beberapa helai, tapi sekarang, rambutku rontok segenggam-segenggam. Aku stres banget!"
"Aku lihat di internet ada yang bilang kalau pakai ASI buat keramas bisa merangsang folikel rambut. Aku panik, jadi kepikiran buat pinjam ASI dari kamu," lanjutnya.
Aku memasang ekspresi bingung. "Bukan aku nggak mau pinjamkan, tapi ASI-ku sudah nggak keluar lagi. Kamu tahu sendiri, Mery sejak lahir hampir nggak pernah minum susu formula. Badanku nggak terlalu kuat, jadi beberapa hari lalu ASI-ku sudah berhenti."
Bella melirik dadaku dengan curiga dan berkata, "Jangan-jangan kamu cuma nggak mau pinjamkan, makanya bilang begitu?"
"Ya ampun, mana mungkin. Kita ini teman baik, masa hal sekecil ini aku bohong sama kamu," sahutku.
"Aku nggak percaya, kecuali aku bisa membuktikannya sendiri," katanya sambil mengulurkan tangan ke arahku dan mencoba memeras dadaku untuk memastikan masih ada ASI atau tidak. Tentu saja, tidak ada setetes pun yang keluar.
Untungnya, aku sudah memerah semua ASI-ku sebelumnya dan menyimpannya di dalam freezer. Kalau tidak, pasti kebohonganku akan terbongkar.
"Aku sudah bilang, 'kan? Kamu nggak percaya. Aku benar-benar sudah nggak punya ASI lagi," kataku dengan pasrah.
Bella hampir menangis putus asa. "Aduh, aku bakal jadi botak benaran, ya? Tolong dong, aku nggak mau!"
Aku berpura-pura menghiburnya, "Aku belum pernah dengar ASI bisa merangsang folikel rambut. Jangan mudah percaya sama informasi di internet. Lebih baik kamu periksa ke dokter."
"Harusnya aku pinjam dari kamu lebih awal. Aduh, ribet banget," keluhnya sambil menghela napas.
Bella kemudian menoleh ke arahku dan bertanya, "Mana Mery? Mana anak angkatku? Sudah lama aku nggak lihat dia. Penasaran dia sekarang seperti apa."
"Baru saja dia minum susu formula dan langsung tidur," jawabku.
"Aku mau lihat dia. Sudah lama banget nggak ketemu. Aku kangen sama dia," pinta Bella.
Awalnya aku tidak ingin memperlihatkan putriku, tapi Bella sudah dengan seenaknya mengangkatnya tanpa izin.
Mungkin karena merasa takut, putriku langsung menangis keras.
"Ada apa ini? Dulu aku gendong dia baik-baik saja. Kenapa sekarang baru aku gendong langsung menangis? Anak kecil memang menyebalkan," ujar Bella dengan nada kesal.
Dia mengulurkan tangannya, seolah ingin memukul putriku. Aku yang ketakutan langsung merebut putriku dari tangannya dan memeluknya erat sambil menenangkan.
"Kamu kenapa sih? Mana mungkin aku benar-benar mukul dia. Aku cuma bercanda mau menakutinya saja. Siapa suruh dia berani melawan ibu angkatnya," ujar Bella sambil menyeringai ke arah putriku.
Bella kemudian menatap putriku dengan wajah garang. "Semua gara-gara kamu menghabiskan ASI ibumu. Kalau ibu angkatmu ini jadi botak, aku akan cabut semua rambutmu."
Putriku yang tadinya sudah hampir tenang, langsung menangis lebih keras lagi mendengar ucapan itu.
"Lucu juga, anak sekecil ini ternyata bisa mengerti apa yang kubilang?" kata Bella sambil tertawa sinis.
Untuk menghentikan tangisan putriku, aku segera mendorong Bella keluar dari rumah.
"Kamu pulang saja sekarang. Kalau Mery sampai ketakutan gara-gara kamu, aku nggak akan memaafkanmu," kataku tegas.
"Tunggu ...." Bella mengarahkan pandangannya ke sekeliling rumah, lalu menatapku tajam. "Barusan aku mencium aroma dari tubuh Mery. Itu bukan bau susu formula, malah lebih mirip bau ASI. Apa kamu sengaja bohongin aku?"
Amarahku langsung memuncak. "Aku perlu bohong sama kamu? Kita sudah bersahabat bertahun-tahun, tapi ternyata kamu mikir begitu tentang aku. Aku benar-benar salah menilaimu."
"Lagi pula, sekarang aroma ASI dan susu formula itu sudah hampir mirip. Kamu kan belum pernah punya anak, wajar kalau kamu nggak tahu."
"Kalau kamu tetap berpikiran seperti itu, aku nggak bisa apa-apa lagi. Anggap saja aku nggak pernah punya sahabat seperti kamu."
Melihatku marah, nada bicara Bella mulai melunak.
"Felita, maaf, aku salah. Gimana kalau kamu kasih tahu aku kode pintunya? Bukannya kamu pernah bilang, di antara kita nggak boleh ada rahasia?"
Aku tahu Bella sudah mulai curiga. Dia meminta kode pintu sekarang jelas-jelas untuk mencoba masuk ke rumahku saat aku tidak ada, supaya dia bisa memeriksa apakah aku menyembunyikan ASI.
"Bella, kita ini sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Setiap orang punya privasi. Kalau kamu bisa masuk ke rumahku sembarangan, itu nggak pantas. Masih ingat waktu terakhir kali kamu masuk tanpa izin?"
"Waktu itu aku dan suamiku lagi ... ya, di ranjang. Dia sampai trauma dan nggak mau menyentuhku selama hampir setengah bulan."
Anda Mungkin Juga Suka





