Sampul Novel Terjerat Pesona Dosen Tampan

Terjerat Pesona Dosen Tampan

9.4 / 10.0
Dalam romance novel Terjerat Pesona Dosen Tampan, aktris Agnesia Putri harus cuti dari karier demi gelar sarjana. Tantangan muncul saat ia terpaksa tinggal satu atap dengan Kevin, dosen muda yang membenci profesinya. Simak lika-liku hubungan mereka di webnovel modern ini.
Ringkasan Terjerat Pesona Dosen Tampan
Agnesia Putri Hutama adalah aktris ternama yang terpaksa mengambil jeda dari dunia hiburan demi meraih gelar sarjana. Di tengah perjuangan akademisnya, ia justru bersinggungan dengan Kevin, dosen muda menawan yang menyimpan kebencian mendalam terhadap profesi selebritas. Situasi menjadi semakin rumit saat sebuah keadaan memaksa keduanya untuk tinggal bersama di bawah satu atap. Akankah benci berubah jadi cinta saat dua dunia mereka yang kontras saling beradu?
Baca Selengkapnya

Terjerat Pesona Dosen Tampan Bab 1

“Morning, Mom! Wah, masak apa ini?” Agnes segera melangkahkan kaki menuju meja makan, mendekati ibunya yang tengah menyiapkan sarapan. Dia sudah siap berangkat ke tempat kerjanya hanya dengan dress panjang garis dipadu dengan sneakers putih hadiah dari kakak laki-lakinya saat ulang tahun kemarin.

“Mama masak sop merah kesukaan kamu. Makan dulu, yuk!” ajak ibunya, Clarice namanya. Clarice kemudian menarik kursi untuk putrinya tetapi Agnes harus segera berangkat karena sudah hampir terlambat.

“Maaf, Mom. Tapi, adek kayaknya nggak bisa ikut sarapan kali ini. Sudah telat banget, jadi adek harus berangkat sekarang,” keluh Agnes, sembari melirik Michelle –manajernya- yang tengah sibuk dengan ponsel miliknya.

“Sarapan nggak habisin waktu lama, Dek,” sahut Clarice. Agnes menghela napas berat, pasti akan sulit membujuk ibunya karena sarapan memang ritual wajib di keluarga itu.

Jika bukan sarapan, tidak ada waktu lain untuk bisa berkumpul karena anggota keluarga mereka terlalu sibuk dengan urusan masing – masing.

“Lain kali, ya, Mom. Sorry. Adek berangkat dulu, bye!” Agnes mencium pipi kiri dan kanan ibunya lalu melangkah keluar dari rumah sebelum suara berat seseorang menghentikannya.

“Mau ke mana, Dek?”

Agnes menoleh, menyipitkan mata untuk memastikan penglihatan. “Papa sudah pulang dari Shanghai?” Agnes bertanya dengan nada heran, menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangannya. Sekalipun keluarga ini kaya raya, sopan santun dan tata krama masih sangat dijunjung tinggi, apalagi ayahnya juga asli orang jawa.

“Kamu ada jadwal pagi ini?”

Agnes mengangguk dengan senyuman tipis, alisnya sedikit naik saat melihat perubahan ekspresi wajah ayahnya berubah serius.

“Papa mau bicara sama kamu sebentar, bisa, ‘kan?” Ingin hati berkata tidak, tetapi tidak mungkin. Sama saja dengan membangunkan singa tidur kalau tidak menuruti kemauan ayahnya.

Tanpa menjawab, Agnes lalu menarik kursi untuk duduk. Gunawan, ayah Agnes lalu berdehem, membuat gadis itu semakin gugup dan penasaran tentang apa yang ingin ayahnya bicarakan. “Papa dengar kamu mengambil cuti kuliah satu tahun, kenapa?”

Agnes tertegun mendengar pertanyaan ayahnya. Padahal dia baru saja mengajukan formulir cuti itu kemarin sore sebelum syuting iklan. Belum juga disetujui, tetapi Gunawan sudah mengetahuinya.

“Dek, kok diam? Jawab pertanyaan papa.” Suara Gunawan berubah menjadi sedikit menyeramkan di telinga Agnes.

Sebenarnya, Agnes sendiri takut untuk bicara jujur, takut ayahnya tidak akan mengijinkan, terlebih lagi dia sudah memasuki semester akhir kuliah. Hanya tinggal skripsi saja.

“Iya, Pa.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Agnes. Menundukkan kepala dan memainkan tangan di bawah sana.

“Alasannya?”

Diam. Tidak ada jawaban dari gadis itu.

“Agnes.”

Kepala Agnes otomatis terangkat sebelum Gunawan semakin marah, karena jika ayahnya sudah memanggil dengan nama dan bukan dengan panggilan “Dek” itu artinya pria paru baya itu mulai tersulut emosi.

“Hmm … itu, Pa.” Kan, Agnes mendadak berubah menjadi orang gagu, bicara saja tidak becus.

“Jangan bilang, kamu mengambil cuti demi karir keartisan kamu yang tidak penting itu?”

Tanpa sengaja Agnes terpancing emosi saat kata “tidak penting” itu keluar dari mulut ayahnya. Tidak penting katanya? Ck. Tahu apa Papa tentang profesi gue selama ini? Batin Agnes tidak terima.

“Pa, kita sarapan dulu aja, yuk!” Clarice hadir di tengah pembicaraan mereka, dia sengaja melakukan itu untuk mencairkan suasana yang mulai menegang.

“Papa sedang bicara dengan Agnes, Ma,” tegas Gunawan, seakan tidak ingin disela atau dibantah.

“Tapi, Pa –”

“Mom, it’s okay.” Dengan sengaja Agnes memegang sebelah tangan ibunya, dia sangat berterima kasih atas niat baik Clarice yang ingin membantu, tetapi Agnes perlu menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Pa, adek minta maaf kalau adek mengajukan cuti tanpa minta ijin dulu sama Papa. Tapi, adek ngelakuin ini karena adek merasa ini hal yang tepat untuk dilakukan.”

“Tepat belum tentu benar, ‘kan?” sarkas Gunawan.

Agnes mengepalkan kedua tangan di bawah meja, menghembuskan napas pelan untuk mengendalikan emosi.

“Adek janji setelah pekerjaan adek semua selesai, adek akan menyelesaikan tanggungjawab pendidikan adek tahun depan.”

“Yakin? Bagaimana kalau tahun depan pekerjaan kamu semakin banyak? Mau ambil cuti lagi? Kenapa gak sekalian aja kamu keluar dari kampus?”

“Papa tidak pernah meminta apapun dari kamu, Agnes. Papa hanya meminta selesaikan dulu tanggungjawab pendidikan kamu. Setelah itu, terserah kamu mau syuting sinetron stripping atau apapun itu,” lanjutnya. Nada bicara Gunawan mulai melunak, mungkin karena melihat ekspresi wajah putrinya yang mulai menunjukkan kekesalan.

“Agnes hanya meminta waktu satu tahun, Pa.”

“That’s bullshit! Sekali kamu mengajukan cuti, akan sulit untuk kembali, Agnes. Papa jelas tahu melebihi siapapun tentang itu.”

Tentu saja, karena Gunawan adalah pemilik yayasan universitas yang menjadi tempat Agnes menempuh pendidikan sekarang.

“Just give me one chance, okay? Please, Pa.”

“Oke kalau itu mau kamu.” Agnes hampir bernapas lega sebelum bola matanya membulat sempurna dengan perkataan Gunawan selanjutnya. “Terserah jika kamu masih tetap bersikeras dengan keputusan kamu, tapi jangan salahkan Papa jika karir kamu berakhir sampai di sini.”

It’s over! Jika Gunawan sudah memutuskan untuk bertindak, maka tidak ada satu pun orang yang sanggup melawan.

***

“Ngapain di sini?”

Agnes menolehkan kepala, mengerutkan dahi saat melihat sosok yang dia rindukan selama tiga bulan terakhir.

“Abang?”

“Taraa! Kejutan!” seru Ammar, kakak laki-laki Agnes. Pria itu merentangkan kedua tangan dengan senyum menyebalkan miliknya.

Tanpa bersuara, Agnes menubruk dada kekar milik abangnya. Memeluk dengan erat, menumpahkan rasa rindu padanya.

Ammar menikah tiga bulan yang lalu, kemudian pergi bulan madu dan tidak kunjung pulang. Katanya sekalian mengadakan pameran busana Neta, istrinya, di Paris.

“Abang kenapa baru pulang?” rengek Agnes, mengeratkan pelukan semakin dalam.

“Kamu sendiri, abang pulang bukannya dikasih pesta sambutan malah harus lihat muka kamu yang kusut gitu. Kenapa? Ada masalah?” Agnes melonggarkan pelukan, mendongak untuk melihat jelas muka abangnya yang di dagu mulai ditumbuhi oleh janggut.

“Ini kenapa ada janggutnya? Bukannya Abang gak suka numbuhin janggut?” tanya Agnes, sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas persoalannya dengan sang ayah barusan.

Ammar menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, kemudian membalas, “Oh, ini. Ya gimana, kakak ipar kamu yang minta. Katanya bawaan baby.”

Menyadari maksud perkataan Ammar, kedua sudut bibir Agnes otomatis tertarik ke atas. “Kak Neta hamil?”

Ammar hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Agnes tersenyum lebar. “Wah, selamat Abang!” Agnes ikut bahagia, sungguh.

“Eh, tapi kamu belum jawab pertanyaan abang!” Memang dasar Ammar punya otak cerdas, jadi sulit sekali dibohongi.

“Kalau ada orang tanya tuh dijawab!”

“Iya, astaga! Ini juga mau jawab!” kesal gadis itu, memberontak karena Ammar terus mendesaknya.

“Kenapa? Papa gak setuju kamu ngambil cuti kuliah?” Spontan Agnes memundurkan kepala, dahinya mengkerut dalam.

Dengan cengiran lebar, Ammar lalu berkata, “Abang tahu dari mama tadi.”

Agnes mendecak kesal di tempat. “Kalau tahu, kenapa pakai tanya?!”

“Abang mau kamu yang cerita,” Ammar memberi jeda pada kalimatnya, “kalau kamu mau, abang bisa bantu,” lanjutnya.

Mendengar perkataan Ammar, spontan Agnes menolehkan kepala. “Abang mau bantu adek bujuk Papa?”

“Memang Papa bisa dibujuk?” Pertanyaan itu seperti kalimat retoris yang sudah jelas jawabannya. Tentu tidak.

“Tapi, abang kenal orang yang bisa bantu kamu bujuk Papa.”

Agnes melirik Ammar dengan pandangan meremehkan, membuat pria itu memasang wajah serius yang jarang terlihat. “Beneran ini. Dia dosen muda di kampus. Semua mahasiswa bimbingannya selalu dapat nilai A. Papa juga dekat sama dia. Jadi, abang yakin kalau kamu bisa jadi mahasiswa bimbingannya, papa pasti setuju buat ijinin kamu berkarir lagi.”

Tawaran yang cukup menarik, tapi …

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjerat Pesona Dosen Tampan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bukan Istri Idaman
9.3
Terus-menerus direndahkan oleh keluarga mertua membuat Karmila bertransformasi. Ia tak lagi pasrah menanti belas kasihan sang suami, melainkan bangkit demi masa depan anak-anaknya. Bertekad membuktikan kekuatannya, ia menyulap barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Di tengah tekanan batin, Karmila memilih jalannya sendiri untuk meraih sukses dan kemandirian. Akankah kreativitas dan kerja kerasnya mampu membungkam semua hinaan yang selama ini ia terima?
Sampul Novel Cinta yang Melintasi Waktu
9.0
Sepuluh tahun pernikahan Lestari diwarnai kebencian Atmaja yang berduka atas kematian cinta pertamanya. Namun saat kebakaran melanda, Atmaja justru tewas demi menyelamatkan Lestari, meninggalkan penyesalan mendalam bagi semua orang. Didorong rasa bersalah dan keputusasaan, Lestari melompat dari Menara Bintang dan terbangun di masa sepuluh tahun lalu. Di kehidupan kedua ini, ia bertekad mengakhiri hubungannya dengan Atmaja demi mencegah tragedi masa depan dan mengabulkan keinginan semua orang.
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat
8.9
Alya Rahayu pindah ke Jakarta demi karier impian, namun nasib malang membuatnya kehilangan segalanya. Di titik terendah, ia bertemu Dira Pratama, mantan kekasih yang kini menjadi CEO dingin penuh rahasia gelap. Lima tahun berlalu, Dira bukan lagi pria lembut yang ia kenal, melainkan sosok obsesif yang menyimpan dendam masa lalu. Terjebak sebagai bawahan Dira, Alya harus menghadapi trauma dan kenyataan pahit di balik alasan pria itu meninggalkannya dahulu.
Sampul Novel Nenek Mertua Yang Culas
9.7
Ambarningsih bukannya sadar di usia senja, ia justru kian licik dalam menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Setelah berhasil memisahkan Ravindra dan Dewi, kini ia mengincar pernikahan cucunya, Elang dan Citra, sebagai target sabotase berikutnya. Akankah rencana jahat Ambar kembali membuahkan hasil? Ataukah ketulusan Citra mampu meruntuhkan kerasnya hati sang nenek hingga ia akhirnya bertobat? Ikuti perjuangan Citra dalam menghadapi mertua yang culas ini.
Sampul Novel Satu Malam Dengan Adik Ipar
8.2
Rani ingin merayakan ulang tahun pernikahan ketiga bersama Arman, namun suaminya tak kunjung pulang. Saat terbangun dari tidur lelapnya, ia justru mendapati Rafka, adik iparnya, berada di sampingnya. Ketegangan muncul di antara mereka, terutama setelah Rani mengungkap perselingkuhan Arman. Di tengah rasa sakit hati akibat dikhianati, Rani mulai terjebak dalam dilema antara komitmen lamanya dan ketertarikan tak terduga pada Rafka yang selalu hadir untuknya.
Sampul Novel Tanpamu, Hidupku Makin Bersinar
8.6
Lima tahun membina rumah tangga, Rebecca harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dokumen pernikahannya selama ini tidak sah. Di balik kelembutan sikap sang suami yang tampak nyata, pria itu rupanya telah melangsungkan pernikahan lain di Andoria—sebuah negara dengan aturan pernikahan tunggal seumur hidup—bersama gadis yang ia besarkan sendiri. Meski kasih sayang yang ditunjukkan kepadanya selama ini tulus, Rebecca kini menyadari bahwa hati suaminya ternyata terbagi untuk dua wanita sekaligus.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan