Sampul Novel Sekretaris Pengkhianat

Sekretaris Pengkhianat

9.1 / 10.0
Dalam Sekretaris Pengkhianat, Scarlett Chen diusir oleh Daniel Lee saat hamil. CEO bengis itu menuduh sekretarisnya berkhianat. Lima tahun berlalu, dendam membara saat mereka bertemu kembali. Simak kisah billionaire romance novels ini di webnovel, sebuah modern novel penuh intrik mafia.
Ringkasan Sekretaris Pengkhianat
Diusir dalam keadaan hamil, Scarlett Chen harus menelan kepahitan saat Daniel Lee menuduhnya berselingkuh. Sebagai CEO kejam yang tumbuh di dunia mafia, Daniel tidak mengenal ampun bagi pengkhianat. Lima tahun berlalu, Scarlett kembali dengan identitas baru dan rencana besar di hatinya. Akankah pertemuan ini menjadi ajang balas dendam yang setimpal, atau justru menjerat mereka kembali dalam lingkaran obsesi gelap yang sulit untuk diputuskan?
Baca Selengkapnya

Sekretaris Pengkhianat Bab 1

Napas Scarlett Chen tercekat, jantungnya berpacu bagai genderang perang di dalam rongga dada. Jemarinya gemetar saat membuka pesan singkat di ponselnya, sebuah alamat hotel mewah dengan instruksi singkat: "Temui aku di sini, sayang. Ada kejutan." Senyum tipis terukir di bibirnya. Pasti Daniel. Kekasihnya itu memang gemar memberi kejutan, apalagi setelah seminggu penuh tenggelam dalam pekerjaan. Daniel Lee, sang CEO tangguh yang mendominasi setiap aspek hidupnya, adalah satu-satunya alasan detak jantungnya berdebar kencang seperti ini.

Dengan langkah riang, Scarlett melangkah ke lobi hotel yang megah, aroma melati dan sandalwood menyambutnya, memanjakan indera penciumannya. Lift berdenting pelan, membawanya ke lantai yang tertera di pesan. Pintu kamar 207, begitu katanya. Scarlett merapikan gaun sutra selututnya, memejamkan mata sesaat, membayangkan pelukan hangat Daniel, bisikan mesra yang selalu berhasil meluluhkan hatinya. Sebuah ketukan pelan. Pintu terbuka.

Namun, bukan Daniel yang berdiri di ambang pintu.

Seorang pria asing, tinggi menjulang dengan seringai licik terpampang di wajahnya, menghalangi pandangan. Mata Scarlett membelalak, napasnya tertahan. "Maaf, Anda siapa?" tanyanya, suaranya tercekat.

Pria itu tidak menjawab, melainkan meraih pergelangan tangan Scarlett dengan cengkeraman kuat, menyeretnya masuk ke dalam kamar yang remang-remang. Jantung Scarlett mencelos. Ini jebakan! Ia berusaha melepaskan diri, meronta sekuat tenaga, namun tenaga pria itu terlalu besar. "Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!" teriak Scarlett, ketakutan mulai merayapi setiap sendi tubuhnya.

Pria itu mendorongnya dengan kasar ke atas ranjang king-size. Tubuh Scarlett terhempas, pegas kasur memantul, seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Ia mencoba bangkit, namun tangan kekar itu menekan bahunya, kembali menjatuhkannya. Mata pria itu berkilat nafsu, menelanjangi Scarlett dengan pandangannya yang menjijikkan.

"Kau pikir kau bisa lolos, manis?" desisnya, suaranya serak dan berat, membuat bulu kuduk Scarlett berdiri.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Scarlett. Ketakutan yang mencekik membuat paru-parunya sesak. Ia meronta, menendang, mencoba berteriak, namun suaranya hanya menjadi bisikan pilu. Dengan satu gerakan cepat, pria itu merobek gaun sutra Scarlett, kainnya bergesekan kasar, meninggalkan bekas merah di kulitnya. Kain-kain itu berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kekejaman yang akan terjadi.

"Tidak! Jangan sentuh aku!" Scarlett berteriak, suaranya serak, tenggorokannya sakit. Ia mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan, namun percuma. Pria itu menyeringai, matanya penuh hasrat gelap. Ia pun membuka pakaiannya sendiri, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan mengerikan.

Pangan Scarlett membelalak saat pria itu menaiki tubuhnya, bobotnya yang berat menindihnya, membuat napasnya sesak. Kengerian mencengkeramnya. "Tolong! Siapapun!" teriak Scarlett, berharap ada keajaiban, seseorang akan datang menyelamatkannya dari neraka ini.

Pria itu mencondongkan wajahnya, mencium bibir Scarlett dengan paksa. Bibir yang selama ini hanya disentuh oleh Daniel, kini dinodai oleh sentuhan menjijikkan ini. Scarlett memalingkan wajah, berusaha menghindar, namun cengkeraman tangan pria itu terlalu kuat. Lidahnya memaksa masuk, menjajah setiap inci rongga mulut Scarlett, membuatnya mual.

Tangan pria itu turun, meremas payudara Scarlett dengan kasar. "Mhhhh...kau sangat cantik, sayang," desahnya, suaranya seperti geraman binatang buas. "Sangat... manis..."

Scarlett menggeliat, air mata membanjiri pipinya. Ia merasa jijik, tubuhnya gemetar tak terkendali. Pria itu terus meremas, jemarinya semakin turun, menyusup ke selangkangan Scarlett, lalu memaksa masuk ke dalam vaginanya.

"Ahhh... kau begitu sempit... nikmat sekali..." desah pria itu, kepalanya mendongak, matanya terpejam dalam kenikmatan yang menjijikkan.

Scarlett menjerit, "Tidak! Jangan!" Ia menendang, menggerakkan pinggulnya, berusaha melepaskan diri dari sentuhan kotor itu. Namun, pria itu hanya tertawa, tawa yang penuh kemenangan dan kekejaman. Ia menarik tangannya keluar, lalu dengan brutal, memaksa penisnya yang tegang masuk ke dalam mulut Scarlett.

"Telan! Telan semuanya!" perintahnya, suaranya serak. Ia menekan kepala Scarlett, memaksa penisnya masuk lebih dalam. Scarlett terbatuk, tersedak, air mata dan air liur bercampur, membasahi pipinya. Rasa pahit dan jijik memenuhi mulutnya. Ia tidak bisa bernapas. Ia merasa akan mati.

"Ghhhh... ahhh... lebih dalam... telan... lagi..." desah pria itu, napasnya memburu.

Scarlett memberontak, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat. Pria itu menggerakkan pinggulnya, dan Scarlett merasakan cairan kental, menjijikkan, memenuhi mulutnya. Ia ingin memuntahkannya, namun pria itu menekan kepalanya, memaksa Scarlett untuk menelan. Scarlett terisak, merasakan cairan itu mengalir di tenggorokannya, membakar, menghancurkan segalanya.

"Bagus... kau gadis penurut..." desah pria itu, menarik penisnya keluar sebentar, lalu kembali memaksa masuk. Scarlett sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Ia hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan tubuhnya dinodai, jiwanya hancur berkeping-keping. Pria itu mengulanginya berkali-kali, desahan-desahan liarnya memenuhi ruangan, setiap desahan adalah tusukan belati bagi jiwa Scarlett.

"Ohhh... ya... ini... ini sangat... ahhh... nikmat..." desahnya, suaranya parau.

Scarlett hanya bisa terisak, air mata membanjiri bantal, menenggelamkan rasa sakitnya. Ia ingin mati saja. Ia ingin semua ini berakhir.

Daniel Lee, dengan napas memburu dan langkah lebar, melesat menuju kamar 207. Hatinya dipenuhi amarah yang membakar. Sebuah pesan anonim baru saja masuk ke ponselnya, sebuah foto yang membuat darahnya mendidih: Scarlett, kekasihnya, di kamar hotel ini, bersama pria lain. Foto itu buram, namun jelas terlihat Scarlett terbaring tak berdaya di bawah tubuh seorang pria. Kecemburuan dan kemarahan menguasai Daniel, mengikis habis setiap rasionalitas. Ia tidak percaya. Scarlett tidak mungkin mengkhianatinya. Tapi foto itu...

Ia mendobrak pintu kamar 207 tanpa peduli etika. Pemandangan di hadapannya menghantamnya seperti palu godam. Pakaian Scarlett robek berserakan di lantai. Dan di atas ranjang, pria asing itu masih menindih tubuh Scarlett, penisnya masih berada di mulut kekasihnya.

Dunia Daniel runtuh.

Amarah yang selama ini tertahan, meledak dengan dahsyat. Otaknya blank, hanya ada satu dorongan: menghancurkan pria di atas Scarlett. Dengan geraman yang lebih mirip raungan binatang buas, Daniel melompat, menarik pria itu dari atas Scarlett, lalu menghantamkan tinjunya ke wajahnya berkali-kali. Pria itu terhuyung, darah membasahi wajahnya, namun Daniel tak peduli. Ia terus memukul, melampiaskan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang ia rasakan.

"Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh kekasihku!" raung Daniel, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap.

Pria itu mencoba melawan, namun tinju Daniel terlalu kuat. Ia terkapar di lantai, tak berdaya. Daniel meludahinya, lalu beralih menatap Scarlett. Wajah Scarlett pucat pasi, air mata membanjiri pipinya, tatapannya kosong. Tubuhnya gemetar tak terkendali.

"Scarlett?" Suara Daniel bergetar, namun bukan karena simpati, melainkan karena kemarahan yang membakar. Ia melihat tubuh Scarlett yang telanjang, bekas merah di kulitnya, rambutnya acak-acakan. Pemandangan itu bagai racun yang menyebar di nadinya. "Apa-apaan ini?" desisnya, suaranya dingin, mematikan.

Scarlett mencoba meraih tangan Daniel, air matanya semakin deras. "Daniel... bukan... bukan begitu..."

Namun Daniel menepis tangannya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya. Ia merasa jijik, dikhianati. Selama ini ia percaya Scarlett sepenuhnya, mencintainya tanpa batas. Tapi apa yang ia lihat? Pemandangan menjijikkan ini menghancurkan semua kepercayaannya. "Aku tidak menyangka kau akan serendah ini, Scarlett."

Air mata Scarlett semakin deras. "Tidak, Daniel, dengarkan aku! Aku dijebak! Aku tidak tahu ini akan terjadi!"

"Jebakan?" Daniel tertawa sinis, tawa yang menusuk hati Scarlett. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku akan percaya omong kosong itu? Pakaianmu robek, kau telanjang, dan bajingan ini masih di atasmu! Apa lagi yang harus aku lihat, Scarlett?"

"Dia... dia memaksaku..."

"Cukup!" Daniel memejamkan mata, menahan rasa sakit yang menusuk. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Semuanya sudah jelas. Kita berakhir, Scarlett. Sekarang juga."

Kata-kata itu bagai bilah pedang yang mengiris jantung Scarlett. Berakhir? Tidak. Tidak mungkin. Ia mencintai Daniel lebih dari apapun. "Daniel, kumohon... beri aku kesempatan menjelaskan..."

Namun Daniel sudah berbalik, memunggunginya. "Keluar dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Suaranya dingin, menusuk hingga ke tulang.

Malam itu adalah neraka bagi Scarlett. Ia menghabiskan sisa malam dalam tangisan dan ketidakpercayaan. Bagaimana bisa Daniel begitu mudah percaya pada kebohongan itu? Bagaimana bisa ia menuduhnya berkhianat setelah semua yang mereka lalui?

Keesokan paginya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Scarlett berangkat kerja ke kantor. Ia harus berbicara dengan Daniel, harus menjelaskan semuanya. Kakinya melangkah berat menyusuri koridor, setiap langkah terasa seperti timah. Jantungnya berdebar kencang saat ia berdiri di depan pintu ruangan Daniel.

Ia mengetuk pelan, menunggu izin masuk. "Masuk," suara Daniel terdengar dingin dari dalam.

Scarlett mendorong pintu perlahan, melangkah masuk ke ruangan yang familiar, tempat ia dan Daniel berbagi tawa, impian, dan cinta. Namun kini, ruangan itu terasa asing, dingin, dan penuh aura permusuhan. Daniel duduk di balik mejanya yang besar, matanya menatap tajam ke arah Scarlett, tanpa sedikit pun kehangatan.

"Ada apa?" tanyanya, suaranya datar.

Scarlett menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Daniel... aku datang untuk menjelaskan semuanya. Kumohon, dengarkan aku."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan," jawab Daniel, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.

"Ini semua salah paham. Aku dijebak, Daniel. Pesan itu... aku pikir itu darimu. Aku tidak tahu kalau ada orang lain yang menungguku di sana. Dia... dia memaksaku, Daniel. Aku bersumpah, aku tidak melakukan apapun dengannya. Saat kau datang, dia panik dan langsung kabur. Kumohon, percayalah padaku." Suara Scarlett bergetar, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

Daniel mendongak, menatap Scarlett dengan tatapan mencemooh. "Kau pikir aku bodoh? Jadi, kau ingin aku percaya kalau bajingan itu melakukan semua itu padamu, lalu saat aku datang, dia kabur begitu saja? Dan kau, setelah semua itu, kau tidak berusaha menghubungi polisi? Atau setidaknya, menghubungiku?"

"Aku... aku sangat syok, Daniel. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan menjelaskan semuanya." Scarlett merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop putih. "Dan... dan ini." Ia menyerahkan amplop itu kepada Daniel. "Aku... aku hamil, Daniel. Ini anak kita."

Daniel menatap amplop itu, lalu menatap Scarlett dengan mata menyipit. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Ia meraih amplop itu, merobeknya dengan kasar tanpa membukanya, lalu melemparkannya ke tempat sampah.

"Kau pikir aku akan percaya omong kosong ini?" desis Daniel, suaranya penuh kemarahan. "Kau berani-beraninya datang kepadaku dengan kebohongan ini setelah semua yang aku lihat kemarin? Anak itu? Anak siapa? Anak dari bajingan itu? Kau pikir aku sebodoh itu, Scarlett?"

Scarlett tersentak. Hatinya hancur berkeping-keping. "Tidak! Ini anakmu, Daniel! Aku tidak pernah bersama siapapun selain dirimu! Kumohon, percayalah!"

"Cukup!" Daniel membentak, berdiri dari kursinya. Aura dominasi dan kemarahan memancar kuat darinya. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Aku sudah muak dengan semua kebohonganmu. Kau sudah berkhianat, Scarlett. Kau menodai kepercayaan dan cintaku."

"Tapi Daniel, aku dijebak! Aku tidak pernah mengkhianatimu!" Scarlett memohon, air mata mengalir deras di pipinya. "Aku tidak pernah melakukan hubungan dengan lelaki itu saat kau pergi. Setelah kau memukulnya, dia langsung pergi dari kamar hotel."

Daniel tertawa sinis. "Jebakan? Omong kosong! Kau pikir aku tidak tahu trik-trik seperti itu? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana wanita licik seperti kalian beraksi? Hidup dengan kekerasan, desing peluru, dan hitamnya dunia mafia sejak kecil telah mengajariku untuk tidak memiliki belas kasih terhadap apa yang aku anggap sebagai kebohongan dan pengkhianatan. Aku tidak akan pernah percaya padamu lagi."

Ia berjalan mendekat, menunjuk pintu dengan jari telunjuknya. "Keluar dari sini, Scarlett. Sekarang juga. Aku tidak ingin melihatmu lagi di kantorku, di hidupku. Kau dipecat. Dan jangan pernah berani-beraninya kau menghubungiku lagi."

Kata-kata itu menghantam Scarlett bagai palu godam. Dipecat? Diusir? Daniel benar-benar mengusirnya, dalam kondisi ia berbadan dua dengan anak Daniel. CEO tampan dan bengis yang sangat ditakuti musuh itu tidak percaya bahwa anak di dalam rahimnya adalah buah cinta mereka. Ia menuduh sang sekretaris telah berkhianat dan berhubungan dengan lelaki lain.

Scarlett berdiri terpaku, memandangi Daniel, kekasih yang dulu begitu mencintainya, kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan jijik. Rasa sakit itu tak tertahankan, menusuk hingga ke inti jiwanya. Ia hanya bisa menangis pasrah, memeluk dirinya sendiri, merasakan denyutan perih di perutnya. Anak ini, anak mereka, tidak diinginkan oleh ayahnya.

Dengan langkah gontai, tubuh yang terasa begitu berat, Scarlett berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan serpihan hatinya yang hancur di belakangnya. Dunia terasa gelap, hancur. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, bagaimana ia akan bertahan hidup, atau bagaimana ia akan membesarkan anak ini sendirian. Yang ia tahu hanyalah satu hal: ia tidak akan pernah melupakan hari ini, hari di mana cinta dan kepercayaannya dikhianati, hari di mana ia diusir, hancur lebur tanpa sisa.

Namun, di balik kehancuran itu, ada percikan api yang mulai menyala di dalam diri Scarlett. Api dendam. Daniel Lee telah menghancurkan hidupnya. Dan suatu hari nanti, ia akan memastikan bahwa Daniel Lee akan membayar mahal untuk semua rasa sakit yang telah ia timbulkan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sekretaris Pengkhianat

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Kemauan Dalam Hatiku
9.2
Caiden Fowler hanya memiliki sisa waktu tujuh hari untuk hidup. Di ambang kematian, ia justru meminta Alexandra Clayton menandatangani surat cerai demi mengejar cinta sejatinya, Leyla. Caiden memilih meninggalkan istri dan anaknya tanpa ragu demi keinginan pribadinya. Namun, setelah pengkhianatan itu, kini ia justru bersimpuh penuh air mata memohon maaf. Bisakah Alexandra memaafkan pria yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka demi wanita lain?
Sampul Novel Menantu Menjadi Madu
9.6
Chika mendambakan pernikahan yang abadi, namun Irsan justru menceraikannya demi menuruti keinginan sang ibu. Di tengah rasa sakit hati dan luka yang mendalam, Chika bertekad untuk membalas dendam. Namun, rencana tersebut berubah haluan saat ia justru jatuh hati pada ayah tiri dari mantan suaminya sendiri. Akankah hubungan yang rumit ini membawa kebahagiaan? Simak perjalanan cinta tak terduga yang penuh dengan gejolak emosi dan konflik ini.
Sampul Novel Menghadapi Kematian di Depan Mata
8.2
Terjebak situasi berbahaya saat memesan obat, seorang wanita mendapati pria mabuk mengetuk pintunya. Di kehidupan lalu, keputusannya memanggil kedua kakaknya berujung petaka karena mereka melewatkan pentas adik angkat mereka, Hilda, yang berakhir melukai diri sendiri. Akibatnya, ia disalahkan, diikat, dan diserahkan ke pria mabuk. Setelah kembali ke masa lalu, ia memilih melapor polisi dan membiarkan kakak-kakaknya menonton drama Hilda hingga mereka menyesal.
Sampul Novel Perebutan Hati Kekuasaan
9.5
Upaya Aeliana melarikan diri dari cengkeraman Lord Zorian Valen selalu berujung kegagalan. Meski sang mafia dikenal kejam, pesona Zorian tetap memikat hati Aeliana sejak kecil. Namun, situasi menjadi rumit saat kakak tirinya, Orion Valen, kembali dan memicu perebutan kekuasaan. Terjebak dalam intrik keluarga, Aeliana dipaksa melayani Orion hingga terjerat hubungan gelap yang tak terduga. Kini ia terjepit di antara cinta lama dan ambisi pria yang ingin memilikinya.
Sampul Novel Ranjang Panas Istri Kedua
8.2
Dalam keheningan kamar yang pengap, Bella terhanyut dalam gelombang gairah saat berada di bawah dekapan Bram. Jemarinya mencengkeram sprei dengan erat seiring deru napas yang kian memburu. Setiap sentuhan intens dari suaminya memicu rintihan penuh kenikmatan yang tak sanggup ia bendung lagi. Bram terus memacu adrenalin sang istri, menikmati setiap reaksi tubuh Bella yang gemetar hebat. Suara ranjang yang berderit menjadi saksi bisu permainan panas mereka malam itu.
Sampul Novel Sentuh aku Mas (Kuserahkan istriku pada adik lelakiku)
9.2
Lisa menghadapi kenyataan pahit saat suaminya yang dulu perhatian berubah menjadi kasar setelah menikah. Keinginan memiliki anak justru dianggap beban, bahkan kewajiban malam pertama pun diabaikan tanpa alasan jelas. Setelah berbulan-bulan menderita dalam ketidakpastian, Lisa akhirnya mengungkap rahasia menyakitkan di balik penolakan sang suami. Alih-alih memperbaiki hubungan, ia justru diserahkan kepada adik iparnya sendiri dalam sebuah keputusan yang sangat menghancurkan hati.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan