Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tergoda Sahabat Mama

Tergoda Sahabat Mama

Brian, pemuda berusia dua puluh tahun, menaruh hati pada Aurora yang merupakan sahabat karib ibunya sendiri. Meski terpaut usia delapan belas tahun dan sempat ditolak, kegigihan Brian akhirnya meluluhkan hati Aurora. Mereka pun menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi demi menjaga rahasia. Namun, skandal ini akhirnya tercium hingga memicu kemarahan besar sang ibu. Hubungan beda generasi tersebut terancam hancur karena restu keluarga yang mustahil didapatkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jadi tante baru pulang dari kantor ya?" tanyanya, menatap wajah cantik itu tak berkedip.

"Iya. Baru pulang kantor," jawabnya.

"Oh ya, Mamamu kemana? Gak kelihatan? Tante cariin gak ada," tanyanya.

"Mama ke minimarket. Katanya ada yang mau dibeli. Sudah satu jam belum pulang juga," sahut cowok itu.

"Pergi sama siapa? Kok gak kamu temani?" kembali Aurora bertanya.

"Diantar Om Daniel," sahutnya.

"Oh sama Daniel," sebutnya.

"Ya sudah, tante ke dalam dulu ya. Kamu kalau mau lanjut berenang silahkan aja," kata Aurora berbalik badan hendak masuk ke dalam.

"Tante tunggu," cegah Brian memegang tangan wanita itu.

Aurora kemudian berhenti dan berbalik badan. Jantungnya berdetak sangat kencang karena dia langsung berhadapan dengan pria tampan yang berdiri tepat di depannya, memeluknya.

"Tenangkan dirimu tarik nafas perlahan," batin Aurora.

"Aku rindu banget sama tante," bisiknya lembut mendayu di telinga Aurora, membuat wanita itu merinding.

"Tante gak kangen aku ya? Gak senang jumpa sama aku. Kenapa tante gak peluk aku seperti biasanya?" protes Brian.

"Ah, mmmh..itu.. tante gak mau basah. Kamu kan habis berenang," katanya beralasan.

"Bener karena itu? Bukan karena tante gak senang bertemu aku kan?" tanyanya.

"Gak lah. Mana mungkin tante gak senang melihatmu. Tante rindu, karena tak bertemu kamu sudah 3 tahun," jawabnya.

"Tante wangi banget," kembali Brian memujinya, masih mendekap erat wanita itu.

"Ih apaan sih gak habis- habis muji tante dari tadi. Genit banget," sahutnya manja, mencubit lengan pemuda itu, lalu melepaskan pelukan lelaki muda itu.

Brian pura-pura meringis kesakitan sambil mengusap lengannya. Padahal cubitan Aurora tidak terlalu keras dan tidak sakit juga.

"Sakit ya? Maafin tante ya. Kamu sih gombalin tante melulu, kan jadi gemes," katanya, mengelus lengan Brian lembut.

"Gak sakit kok. Aku rela tante cubit lagi. Kalau perlu seluruh tubuhku juga gak apa-apa asalkan setelah itu tante elus-elus aku dengan penuh kasih sayang," katanya cekikikan.

"Udah ah, berhenti godain tante terus. Sana masuk, mandi, bilas tubuhmu sehabis berenang biar bersih dan segar," sebutnya.

"Siap. Tapi habis berenang kok perutku lapar. Tante mau masakin buat aku kan? Atau pesan makanan di luar," katanya.

"Kamu mau makan apa? Biar tante bikinin?" tanyanya.

"Camilan aja dulu. Masih sore juga nih," kata Brian.

"Ok deh tante bikinin pancake. Nanti tunggu mamamu dan Om Daniel pulang baru masakin makan malam," sebutnya, masuk ke dalam diikuti Brian.

Cowok itu lalu masuk ke kamar mandi di lantai bawah rumah mewah dua lantai dan lima kamar tidur berarsitektur midcentury modern, yang memiliki ruang-ruang terbuka, dengan jendela kaca berukuran besar, lengkap dengan segala fasilitasnya.

Sementara Aurora mengganti pakaiannya dengan baju santai lalu dia ke dapur membuatkan pancake untuk Brian. Camilan kesukaan anak muda itu.

Meski rumahnya besar dan mewah, tapi Aurora hanya tinggal sendiri di sana.

Dia juga sengaja tak memakai jasa pembantu.

Sebab, dia biasa mengurus sendiri semua urusan rumahnya.

Aurora Camelia adalah perempuan mandiri dan independen woman, yang sampai usianya memasuki 38 tahun masih betah sendiri.

Bukan karena dia tak tertarik pada lelaki, tapi karena dia punya standar tinggi memilih pria untuk menjadi pasangannya hidupnya. Apalagi, dulu dia pernah merasakan kegagalan saat menjalin hubungan dengan beberapa pria.

Dia itu tipe perempuan perfeksionis, semuanya harus sempurna dan bisa dilakukannya sendiri. Bahkan dia punya prinsip lelaki bukan hal penting dan utama dalam hidupnya.

Meski dia pernah tiga kali pacaran, tapi semua berakhir di tengah jalan tak berlanjut ke jenjang lebih serius. Dan belum ada satupun pria yang membuatnya berdebar -debar dan benar-benar jatuh cinta.

Selama ini hubungannya dengan mantan kekasihnya hanya sebatas rasa suka saja, bukan karena cinta.

Keluarganya yang awalnya menginginkan dia berumah tangga kini menyerahkan semuanya pada keputusan Aurora sendiri.

Dia memiliki seorang adik perempuan yang sudah menikah sejak 12 tahun lalu dengan pria keturunan Amerika dan telah dikaruniai dua orang anak tinggal di Boston.

Keluarganya hanya ingin lulusan Periklanan dan Pemasaran di Suffolk University Boston Amerika Serikat itu bahagia. Dengan maupun tanpa pasangan hidup.

*********

Aurora baru saja meletakkan pancake terakhir di atas piring ketika suara Brian yang nyaring memanggil namanya dari arah kamar mandi.

"Tante Aurora, aku lupa ambil handuk! Bisa tolong bawain, ya?" teriaknya.

Aurora mengangkat alis, sedikit menghela napas.

"Iya, tunggu sebentar. Tante bawakan," sahutnya sambil mengambil handuk bersih dari lemari.

Dengan langkah ringan namun agak gugup, ia berjalan menuju kamar mandi. Saat membuka pintu dan melangkah masuk, tubuhnya langsung membeku di ambang pintu.

Matanya terpaku pada sosok Brian di balik pintu kaca transparan.

Pemuda itu berdiri di bawah guyuran shower, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Air mengalir di sepanjang lekuk ototnya, membasahi setiap inci kulit yang terlihat begitu... maskulin.

Tangan Brian mengusap tubuhnya dengan perlahan, membilas sabun dari dadanya, turun ke perutnya dengan gerakan yang... sensual.

Aurora bergidik. Tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Ia tak bisa memalingkan pandangannya, meski dalam hati ia panik luar biasa.

"Astaga..." batinnya.

"Kenapa aku... malah merasa bergairah melihat ini? Gila, Aurora! Dia anak sahabatmu! Tapi... tubuh itu... Tuhan..." gumamnya.

Brian melirik ke arahnya, lalu menyunggingkan senyum nakal dari balik kaca.

Tiba-tiba ia membuka pintu kaca dan menyembulkan kepalanya.

"Mau mandi bareng gak, Tan?" ucapnya santai, menggoda, sambil mengedipkan mata.

Aurora langsung tersentak. Pipi wanita itu memerah, dadanya berdetak tak karuan. Ia buru-buru meletakkan handuk di gantungan dekat pintu.

"Eh, so... sorry. Tante gak sengaja lihat kamu. Lanjut aja mandinya," ucapnya gugup sambil cepat-cepat melangkah keluar.

Sesampainya di dapur, ia langsung duduk sambil memegang dadanya. Napasnya terengah.

"Tenang, Aurora... tenang..." bisiknya, mencoba menenangkan diri.

Namun bayangan tubuh Brian masih menari-nari di benaknya. Untuk mengalihkan pikiran, ia menenggak segelas air putih dan mulai menyantap sepotong pancake, meski rasanya kini hambar di lidahnya yang masih panas oleh rasa bersalah dan... hasrat.

Tiba-tiba, ia merasakan kehangatan mendekat dari belakang. Lengan kekar Brian merangkul dari belakang, mengambil potongan pancake di piringnya.

Tubuh polosnya, yang hanya berbalut handuk di pinggang, menempel langsung ke punggung Aurora.

Gemetar. Tubuh Aurora bagai kesetrum. Ia menoleh, menatap pemuda itu yang kini mengunyah pancake sambil menatapnya tajam.

"Pancake tante enak banget," gumam Brian, suaranya dalam dan penuh arti.

Aurora buru-buru berdiri, memalingkan wajah.

"Kenapa sih masih pakai handuk doang? Sana, pakai baju dulu. Jangan keluyuran di rumah kayak gitu," protesnya, berusaha terdengar tegas meski suaranya gemetar.

Brian justru tersenyum lebih lebar.

"Iya, nanti juga aku pakai. Ini cuma mau habisin pancake dulu," sahutnya.

Matanya menyipit nakal.

"Tapi... Tante kenapa panik dan malu-malu gitu, sih? Wajahnya sampai merah banget, kayak tomat." sambungnya.

"Siapa juga yang malu?! Tante... cuma risih aja lihat kamu begitu..." bantahnya. Tangannya refleks menyentuh pipinya yang panas.

Brian tertawa kecil, lalu menjulurkan tangan lagi, mengambil potongan terakhir pancake.

"Kalau cuma risih, kenapa tadi gak langsung tutup pintunya, hmm?" bisiknya dekat telinga Aurora.

Aurora kehilangan kata-kata. Dia diam membeku.

Brian tertawa renyah, suaranya ringan seperti angin pagi yang menggoda.

"Tenang aja ya, aku segera pakai baju. Gak mungkinlah berkeliaran di rumah hanya handukkan. Wk..wk..wk," ujarnya sambil melirik ke arah Aurora dengan ekspresi jahil.

Tawa kecilnya menggema di ruangan, menambah suasana jadi lebih hangat dan sedikit canggung. Pipi Aurora memanas.

Setelah menghabiskan pancake dan minum jus, Brian lalu berjalan pergi dengan santai, meninggalkan wanita itu berdiri kaku, jantungnya berdentum tak karuan.

Dia santai melangkah menuju kamar, meninggalkan aroma sabun yang masih melekat di udara.

Setelah itu memakai kaos Off white dan celana training abu-abu.

Brian kemudian ke luar kamar, melihat Aurora sedang duduk di sofa sembari menelpon.

*********

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benihku Bukan Cintamu
9.4
Aluna Callysta, pengusaha sukses yang tampak sempurna, menyimpan luka batin akibat pengkhianatan Elian Dharma. Mantan kekasihnya itu justru menikahi kakak tirinya sendiri, menghancurkan kepercayaan Aluna pada cinta. Kini ia hanya menginginkan seorang anak tanpa keterikatan emosional dengan pria. Mengandalkan kekayaan melimpah, Aluna menggelar sayembara mencari donor bibit unggul demi melahirkan pewaris. Ia pun berhasil menjadi ibu dari tiga anak tanpa harus jatuh cinta lagi.
Sampul Novel Cinta satu malam terbaik
8.7
Pasca ditinggal kekasih, Feyleria terbangun di samping pria asing dan memilih kabur. Ternyata, Alexander, pria semalam itu, terobsesi memilikinya. Lewat tekanan orang tua, Alex memaksa Fey masuk ke jerat perjodohan yang tak terelakkan. Saat benih cinta mulai tumbuh untuk Alex, Sani sang mantan kekasih tiba-tiba kembali demi merebut hati Fey lagi. Kini Fey terjebak di antara kenangan masa lalu atau masa depan bersama pria yang memujanya dengan tulus.
Sampul Novel Dibiarkan Mati: Dosa Gembong Mafia
8.6
Suamiku, pemimpin mafia Jakarta, menolak memiliki anak sebelum aku mengungkap rahasia gelapnya: seorang putra dari wanita musuh bebuyutan kami. Kekejamannya memuncak saat dia mencelakaiku hingga keguguran, sementara selingkuhannya membuangku ke jurang. Namun, aku bertahan hidup. Saat aku muncul di TV sebagai arsitek kelas dunia, sang bos mafia kini bersujud di kakiku, memohon pengampunan dari sosok yang dulu ia hancurkan dan biarkan mati begitu saja.
Sampul Novel Mantan yang Tak Terlupakan
8.9
Tepat di hari jadi ketujuh, Divya menemukan rahasia menyakitkan di media sosial Liam. Ternyata, selama ini suaminya memendam cinta untuk wanita bernama Destinee. Inisial di cincin nikah mereka pun bukan untuk Divya, melainkan bukti kerinduan Liam pada sang mantan. Bahkan, tanggal pernikahan mereka dipilih hanya untuk meniru hari bahagia Destinee. Saat Liam meremehkan temuannya, Divya dengan tenang memilih mengakhiri segalanya dan meminta berpisah.
Sampul Novel Menantu Tak Diharapkan
7.9
Cakra, seorang yatim piatu, tumbuh besar di bawah asuhan paman dan bibinya yang penuh tekanan. Nasibnya berubah drastis saat sang paman terjerat utang besar kepada keluarga kaya raya. Sebagai jaminan pelunasan, Cakra terpaksa menikahi salah satu putri dari keluarga tersebut. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan baru. Karena perbedaan kasta yang mencolok, ia harus menghadapi sikap dingin serta penolakan keras dari mertua yang membencinya.
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
9.2
Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?