
Tergoda Sahabat Mama
Bab 3
"Lena, kamu di mana? Aku sudah pulang ke rumah nih. Kata Brian, kamu ke minimarket sama Daniel ya?" tanya Aurora begitu sambungan telponnya tersambung.
Suara Lena terdengar jernih di ujung sana.
"Oh, kamu sudah pulang dari kantor ya? Iya, aku memang tadi pergi ke minimarket sebentar. Daniel nemenin. Ini kita lagi dalam perjalanan balik ke rumahmu. Paling lima belas menit lagi sampai," jawabnya.
"Baik. Aku tunggu ya," sahut Aurora, lalu menutup panggilan itu dengan senyum kecil.
Sementara itu, Brian yang sejak tadi duduk santai di ruang tamu, langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, tepat di samping Aurora yang mulai membuka majalah mode.
Aroma tubuh pria muda itu menyeruak samar, menyatu dengan aroma lembut parfum ruangan.
Aurora mencoba mengalihkan perhatian ke artikel tentang tren fashion musim panas, namun dari sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan Brian yang terlalu lekat.
Beberapa saat kemudian, bel pintu berbunyi. Aurora segera bangkit dan membukakan pintu. Lena berdiri di sana, bersama seorang pria yang tak asing, Daniel.
Pria itu masih terlihat gagah dengan jaket kulit dan senyum ramahnya.
"Lena!" seru Aurora, langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Mereka berdua cipika-cipiki, tertawa kecil sambil menatap satu sama lain dengan mata berbinar.
"Aduh, kangen banget sama kamu, Ra," ucap Lena hangat.
"Sama, Len. Sudah hampir setahun ya kita gak ketemu. Rasanya kayak sepuluh tahun," kata Aurora sambil mengelus punggung Lena.
Setelah melepas rindu sejenak, mereka masuk ke rumah. Aurora, seperti biasa, langsung mengenakan apron dan menuju dapur, disusul Lena yang tak ingin hanya duduk diam.
Mereka menyiapkan makan malam bersama, tertawa, bernostalgia sambil menumis sayuran dan memanggang ayam. Kehangatan malam itu terasa berbeda, penuh tawa dan cerita, seolah tidak ada jarak waktu yang memisahkan.
Meja makan malam dipenuhi hidangan lezat, ayam panggang madu, salad segar, mashed potato, dan sup krim jamur. Daniel dan Brian duduk berseberangan, namun suasana sedikit aneh.
Aurora sempat melirik Brian yang tampak tak terlalu nyaman. Ia menyendok mashed potato-nya dengan sedikit gerakan kasar. Aurora menangkap perubahan itu.
Brian memang sudah mengenal Daniel sejak kecil, sebagai teman lama ibunya. Tapi malam ini, tatapan Brian kepada Daniel seperti menyiratkan sesuatu yang berbeda. Ada kegelisahan, atau mungkin... kecemburuan?
Lena rupanya tak sadar akan suasana itu. Ia begitu larut dalam percakapan dengan Aurora, menceritakan kesibukannya membuka restoran baru, hingga alasan utama dia akhirnya bisa datang ke Chicago.
"Sebetulnya, aku bisa ke sini karena sekalian mengantar Brian," kata Lena ketika mereka sudah duduk di sofa setelah makan malam.
"Dia mau lanjutin kuliah di Chicago University. Jurusan bisnis," sebut Lena.
Aurora mengangguk pelan, menatap Brian sekilas.
"Iya, kamu udah bilang sebulan lalu. Tapi terus terang aku masih kaget dia memilih Chicago. Kukira dia bakal lanjut di Yale University, seperti rencana awal." kata Aurora.
"Aku pikir Chicago gak kalah bagus, lagi pula di sini ada Tante Aurora kan?" sebut Brian.
Lena tersenyum.
"Aku juga sempat kaget. Tapi dia yang memutuskan sendiri. Dan aku dukung. Tapi ya itu... aku pengin dia tinggal sama kamu." kata Lena.
Aurora mengerutkan kening.
"Maksudnya... tinggal di rumahku selama kuliah?" tanya Aurora kaget.
"Iya," sahut Lena, tak ragu.
"Kamu kan tinggal sendirian, Ra. Rumahmu besar, tenang, dan nyaman. Brian butuh tempat seperti ini, apalagi dia baru pertama kali jauh dari keluarga. Dan kamu bisa jadi pengganti aku di sini. Aku tahu kamu orang yang bisa dipercaya," jelas Lena.
Aurora terdiam sesaat, menimbang.
"Len... aku bukannya gak mau bantu. Tapi dua tahun itu waktu yang lama. Aku sudah terlalu terbiasa hidup sendiri. Aku... butuh ruang juga," tolaknya halus.
"Tapi kamu juga butuh teman," balas Lena cepat.
"Aku anak baik kok, gak akan bikin masalah. Aku janji," tambah Brian.
"Kamu terlalu sering sendirian, Ra. Brian itu anak baik. Dia gak akan menyusahkanmu. Lagipula, dia senang banget waktu tahu aku minta kamu yang jagain dia. Dia gak keberatan sama sekali tinggal di sini." sebut Lena.
Aurora melirik Brian. Cowok itu menunduk, namun senyumnya tipis saat mata mereka bertemu.
"Aku pengen dia tinggal sama orang yang sayang padanya. Yang bisa jadi tempat pulang... tempat dia merasa aman," lanjut Lena, suaranya lebih lembut.
"Please, Ra. Anggap saja kamu bantu aku sebagai seorang ibu yang cemas," pintanya.
Aurora menunduk, menggenggam tangan Lena.
"Aku butuh waktu untuk mikir. Aku gak janji ya, Len. Tapi aku pertimbangkan," sahutnya.
"Cukup itu aja. Makasih," bisik Lena sambil tersenyum lega.
Malam pun berlalu dalam kehangatan, namun dalam hati Aurora, ada badai kecil yang mulai muncul.
Dia tahu hidupnya akan berubah jika Brian tinggal bersamanya. Dan dia belum siap mengakui... bahwa sebagian dirinya justru tak keberatan dengan perubahan itu.
Suasana rumah kembali hangat dan nyaman setelah makan malam yang lezat. Di ruang keluarga, mereka duduk santai sambil menyeruput teh hangat dan sesekali tertawa pelan atas cerita-cerita ringan masa lalu.
Aurora duduk bersisian dengan Lena, sementara Daniel menyender santai di kursi tunggal, menikmati suasana yang akrab dan kekeluargaan.
Topik perbincangan kemudian beralih pada kehidupan pribadi Aurora. Lena, seperti biasa, mulai menyinggung status lajang sahabatnya yang nyaris berusia empat puluh tahun.
"Aurora, kamu serius belum tertarik juga untuk punya pasangan?" tanya Lena, menyentuh lengan Aurora lembut.
"Len, aku sudah nyaman sendiri. Rasanya ringan, bebas. Lagian, kamu tahu sendiri, aku bukan tipe yang bisa sembarangan buka hati," jawab Aurora tenang, meski senyum tipisnya terasa penuh pertahanan.
Daniel ikut menimpali, "Bukan soal sembarangan atau tidak, Ra. Tapi masa kamu nggak pernah ngerasa... kesepian?" tanya Daniel ingin tahu.
"Kalau aku kesepian, aku masak. Kalau masih sepi juga, aku kerja. Gitu aja." kata Aurora tertawa pelan.
"Tapi kamu itu perempuan, Ra. Kamu butuh bahu buat bersandar, butuh seseorang yang ngerti kamu secara utuh..." sebut Lena, mendesah panjang.
Brian, yang duduk agak jauh di ujung sofa, terlihat gelisah. Sejak tadi ia hanya diam memperhatikan, meski diminta mamanya masuk ke kamar dan beristirahat.
"Brian, sayang, ini obrolan orang dewasa. Kamu masuk kamar ya, istirahat," tegur Lena dengan nada lembut namun tegas.
Brian mengangkat alis. "Kenapa harus masuk kamar? Aku gak ganggu kok. Aku cuma duduk dan dengerin. Aku juga sudah dewasa, Ma." protesnya.
Lena menatapnya, sempat ingin bersikeras, namun Aurora mengangkat tangan kecil sebagai isyarat.
"Nggak apa-apa, biarin aja dia di sini. Toh dia gak nimbrung." kata Aurora.
"Janji gak komentar ya, Brian?" kata Lena, masih dengan nada serius.
"Janji," jawabnya singkat. Tapi hatinya bergolak hebat.
Dia mendengarkan, memperhatikan, dan diam-diam... cemburu.
*********
Anda Mungkin Juga Suka





