Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

9.2 / 10.0
Dalam novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua, Nadira terikat kontrak ibu pengganti dengan Rafhael, pemimpin mafia kejam. Di balik intrik mafia novel ini, terungkap rahasia bisnis fatal yang memicu dendam. Temukan kisah romance novel ini tentang pengkhianatan dan pilihan sulit di masa modern.
Ringkasan Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?
Baca Selengkapnya

Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua Bab 1

Hujan turun dengan deras di kota yang jarang tidur itu. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang seolah menari-nari di trotoar yang basah. Di sebuah apartemen kecil di lantai sepuluh, Nadira Arsyad duduk membeku di depan jendela, menatap tetesan hujan yang menetes perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang hancur.

Dua minggu yang lalu, dunia Nadira runtuh. Suaminya, Alfian Prakoso, meninggal secara tragis dalam kecelakaan yang tak pernah ia sangka. Dan lebih memilukan lagi, bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan juga tak sempat melihat dunia ini. Rasa sakit itu begitu menyiksa, seakan setiap sel dalam tubuhnya menjerit memanggil kedua orang yang dicintainya itu.

"Kenapa... kenapa semuanya harus begini?" bisik Nadira pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derasnya hujan. Matanya memerah, namun air mata tak lagi menetes. Hatinya sudah kebal, atau mungkin terlalu lelah untuk menangis lagi.

Tiba-tiba, dering teleponnya memecah kesunyian apartemen itu. Nadira menatap layar, dan seketika wajahnya mengeras. Nomor yang muncul di layar bukan nomor biasa. Itu nomor Rafhael Satrio.

Rafhael-nama yang sudah cukup menakutkan bagi siapa pun yang mengenalnya. Pria itu dikenal sebagai ketua salah satu jaringan mafia paling berpengaruh di kota ini. Kejam, dingin, dan tanpa ampun bagi siapa saja yang menghalangi jalannya. Namun anehnya, saat ini, dia menelpon Nadira.

Dengan tangan gemetar, Nadira mengangkat telepon. "Halo?" suaranya terdengar tegang.

"Selamat malam, Nadira," suara di seberang terdengar tenang tapi berat, seperti gelap yang melingkupi ruangan. "Aku datang menemuimu. Sekarang."

Nadira menelan ludah. "Kenapa? Aku... aku tidak ingin bertemu denganmu, Rafhael."

"Ini bukan permintaan. Aku tidak suka menunggu," kata Rafhael singkat. Nada bicaranya dingin, tegas, dan tak memberi ruang untuk keberatan.

Hati Nadira berdetak kencang. Ia tahu menolak bukanlah pilihan. Di dalam hatinya, ia juga tahu bahwa ini akan mengubah hidupnya selamanya. Dengan berat hati, ia menggenggam jaketnya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di bawah. Hujan tak menghalanginya; hatinya sudah terlalu basah oleh air mata untuk peduli lagi.

Mobil mewah hitam milik Rafhael menunggu di lobi apartemen. Begitu Nadira masuk, Rafhael menyipitkan matanya, memeriksa setiap detail di wajahnya. Nadira merasakan tatapannya seperti pisau yang menembus tulang.

"Kau tahu alasan aku memanggilmu?" tanya Rafhael saat mobil meluncur di jalanan basah.

Nadira menunduk, menahan amarah dan rasa takutnya. "Aku bisa menebaknya," jawabnya singkat.

Rafhael diam, hanya menghela napas panjang. "Anakku... kau akan merawatnya."

Nadira menatapnya, tak percaya. "Maaf? Apa maksudmu?"

Rafhael menoleh, matanya yang gelap menatap tajam. "Suamiku... aku tidak akan mengatakan itu lagi. Kau akan menjadi ibu pengganti untuk anakku. Tidak ada diskusi. Tidak ada penolakan."

Nadira terdiam, napasnya tertahan. Kata-kata itu seperti pukulan di perutnya. Bagaimana mungkin ia-yang baru saja kehilangan segalanya-harus mengurus anak seorang pria yang ia bahkan tak kenal sebelumnya, seorang pria yang dingin dan menakutkan itu?

"Tapi aku... aku bukan siapapun yang bisa menggantikan ibu anakmu," gumam Nadira, suaranya bergetar.

"Tidak masalah. Kau tidak punya pilihan," jawab Rafhael, dan kata-katanya itu tidak bisa diganggu gugat.

Dalam perjalanan itu, Nadira merasa dunia semakin gelap. Hatinya berontak, tubuhnya menolak. Namun di dalam, ada sesuatu yang membuatnya tetap bergerak-anak itu. Anak yang tak bersalah, yang entah kenapa nasibnya kini terikat dengan kehidupannya sendiri.

Malam itu, Nadira sampai di mansion Rafhael. Gedung besar itu berdiri kokoh di tengah hujan, dikelilingi oleh pagar tinggi dan penjagaan ketat. Begitu ia memasuki ruangan, Rafhael sudah menunggunya di ruang keluarga, duduk di kursi besar dengan postur yang selalu menimbulkan rasa takut. Di pangkuannya, seorang bayi kecil tidur, wajahnya lucu namun tak berdosa.

"Namanya... Arka," kata Rafhael. "Sejak ibunya meninggal, dia hanya mengenalku sebagai ayahnya. Dan kau... kau akan menjadi ibunya."

Nadira menatap bayi itu, hatinya terasa tertusuk. Bayi ini mengingatkannya pada anak yang tak pernah ia lahirkan. Tangannya gemetar saat ia mendekat, dan Rafhael meletakkan bayi itu di pelukannya. Arka menatapnya dengan mata yang jernih dan polos, seakan mengenali sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

"Jangan coba menolak," Rafhael menegaskan. "Jika kau menolak, konsekuensinya... kau tidak ingin tahu."

Nadira menelan ludah, menatap Arka. "Baik... aku akan merawatnya. Tapi jangan harap aku akan mencintaimu, atau bahkan menyukai situasiku ini," bisiknya.

Rafhael tersenyum tipis, dingin. "Aku juga tidak mengharapkan itu. Tapi kau harus bisa bertahan."

Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Nadira. Rafhael jarang menunjukkan sisi lembutnya; ia tegas, dingin, dan kadang kejam jika Arka tidak menurut. Nadira, yang baru belajar menjadi ibu, sering kewalahan. Setiap tangisan Arka membuat hatinya hancur, namun ia berusaha tetap kuat, menyembunyikan kesedihan pribadinya.

Namun, di balik sikap keras Rafhael, ada sesuatu yang mulai ia rasakan. Perhatian kecil yang ia tunjukkan, cara ia menatap Arka dengan lembut saat Nadira tak melihat, mulai membuka celah di hatinya. Nadira tidak ingin mengakuinya, tapi ada getaran aneh yang muncul setiap kali Rafhael tersenyum tipis padanya-senyum yang jarang muncul, tapi mampu membekas lama.

Suatu malam, ketika hujan turun lagi, Nadira menemukan Rafhael duduk sendirian di ruang kerjanya. Cahaya lampu redup menyoroti wajah tegangnya, mata gelapnya menatap jauh ke luar jendela. Nadira masuk perlahan, membawa secangkir teh hangat.

"Kau tidak tidur?" Nadira bertanya, suaranya pelan.

Rafhael menoleh. "Aku tidak bisa. Pikiranku... berantakan."

Nadira duduk di seberangnya, menaruh cangkir di meja. Ada jarak di antara mereka, tapi juga ketegangan yang sulit diabaikan. "Apakah... kau merasa bersalah?"

Rafhael menghela napas panjang. "Bukan rasa bersalah... tapi rasa kehilangan. Aku seharusnya bisa mencegah semuanya. Suamimu... ia seharusnya selamat. Tapi aku terlambat."

Nadira menahan napasnya. Kata-kata itu seperti pedang yang menembus hatinya. Ia tahu kebenaran itu-Rafhael-lah yang seharusnya bisa menolong suaminya ketika kecelakaan terjadi. Tapi mengetahui fakta itu tidak membuatnya membenci Rafhael; justru campuran amarah dan rasa sakit mulai bercampur dengan sesuatu yang tak ia pahami-rasa simpati, bahkan... mungkin ketertarikan.

"Dan aku juga... aku harus jujur padamu," lanjut Rafhael, suaranya lebih lembut. "Suamimu... ia memiliki andil dalam kematiannya. Konflik lama... membuat semuanya semakin buruk. Aku tidak ingin menyalahkanmu, tapi kau harus tahu kebenaran ini."

Nadira menunduk, air mata kembali menetes. Hatinya terasa hancur berkeping-keping-dendam, kesedihan, dan rasa cinta yang tak bisa ia kendalikan bercampur menjadi satu.

"Jadi... kita berdua... terluka karena satu sama lain," bisiknya. Suaranya bergetar.

Rafhael mengangguk, mata gelapnya menatap dalam. "Ya. Dan entah bagaimana, aku masih... tidak bisa membenci anakmu. Atau bahkan dirimu."

Nadira menatapnya, hati berdebar. Kata-kata itu seperti bom yang meledak perlahan di dadanya. Ia benci dirinya sendiri karena merasakannya. Bagaimana mungkin, dalam situasi yang penuh dendam dan kehilangan ini, hatinya bisa mulai merasakan sesuatu terhadap pria yang menyebabkan tragedinya?

Hari-hari berlalu, dan hubungan mereka menjadi rumit. Nadira merawat Arka dengan sepenuh hati, sementara Rafhael mulai membuka sisi lembutnya yang jarang terlihat orang. Mereka berdua hidup dalam ketegangan: satu sisi cinta yang perlahan tumbuh, satu sisi dendam dan rasa bersalah yang menghantui.

Pertanyaan besar selalu mengintai: apakah cinta mereka bisa bertahan, ataukah rasa sakit dan pengkhianatan akan mengubah mereka menjadi musuh selamanya?

Nadira menatap Arka yang tertidur di pelukannya, dan Rafhael yang berdiri di dekat jendela, menatap malam basah di luar. Hujan masih turun deras, seperti dunia yang ingin membersihkan segala dosa dan kesedihan. Tapi mereka tahu, membersihkan hati tidak semudah menyingkirkan air hujan.

Dan malam itu, Nadira menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menenangkan: kehidupan barunya bersama Rafhael tidak akan pernah mudah. Tapi mungkin... hanya mungkin, cinta bisa lahir di antara luka dan rahasia yang mereka simpan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari terjebak dalam pernikahan ketiga yang tragis. Damian, sang tunangan, justru menyiksanya demi menenangkan Elina. Setelah karier melukisnya dihancurkan dan tubuhnya ditinggalkan bersimbah darah di hutan, Alana menolak menyerah. Demi melindungi keluarga dan bisnisnya, ia menghubungi sosok misterius dari masa lalu. Ia sepakat menyerahkan seluruh asetnya dan melakukan pernikahan kontrak demi pelarian dan balas dendam yang setimpal.
Sampul Novel Di Balik Senyum Istri
9.2
Hati istri ini hancur saat ayah mertua menegaskan hak suami berpoligami. Bagas diminta menikahi Riana, mantan teman sebangkuku saat sekolah. Ternyata, mereka punya masa lalu yang dirahasiakan sejak kuliah. Meski terluka oleh pengkhianatan ini, aku hanya bisa tersenyum getir menghadapi takdir. Aku pun menantang mereka, mempertanyakan apakah kecantikan Riana menjamin lahirnya anak laki-laki yang sangat mereka dambakan selama ini.
Sampul Novel Hasrat Nikmat Perselingkuhan
9.7
Zhea merintih dalam gairah yang memuncak, meremas dadanya sendiri sambil menanti penetrasi dari suaminya, Muchlis. Meski kulit putih dan tubuhnya sudah siap menerima sentuhan intim, Muchlis yang berusia 34 tahun justru mengalami kendala seksual. Alat vitalnya tak kunjung menegang meski Zhea sudah sangat mendamba. Dalam kekecewaan yang tertahan, Zhea akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya sekadar bergesekan demi mencapai kepuasan sepihak di ranjang mereka.
Sampul Novel Istriku Sibuk, Hatiku Kosong
8.2
Kehidupan rumah tangga Damien kini terasa hampa. Sejak naik jabatan, Nadine Larasati jarang pulang dan terus menolak permintaan Damien karena alasan kelelahan bekerja. Dengan penghasilan lebih rendah, Damien pun terpaksa menjadi bapak rumah tangga sepenuhnya. Namun, kecurigaan muncul saat Nadine tiba-tiba membawa seorang asisten rumah tangga muda ke rumah mereka. Kedatangan gadis misterius itu membawa firasat buruk yang membuat hati Damien kian sesak dan gelisah.
Sampul Novel Pengasuh Cantik CEO Duda
9.5
Agatha yang merasa terpuruk akibat rentetan cobaan hidup akhirnya melarikan diri ke bar. Sialnya, tawaran bir gratis dari seorang bartender justru merenggut kesadarannya. Di tengah situasi berbahaya itu, ia tidak menyadari bahwa gerak-geriknya telah dipantau sejak awal. Seorang CEO duda kaya raya yang memerhatikannya pun turun tangan untuk menyelamatkannya secara diam-diam. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi nasib Agatha ke depannya.
Sampul Novel TAK MAU DIMADU
9.7
Lima tahun membina rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta, kebahagiaan itu seketika hancur berkeping-keping. Kehadiran sosok wanita dari masa lalu Ilham mengubah segalanya, melenyapkan gairah hidup serta merusak pernikahan yang telah lama dijaga. Impian untuk menua bersama hingga maut memisahkan kini terancam sirna akibat pengkhianatan orang ketiga. Sanggupkah hubungan ini bertahan saat bayang masa lalu datang memporak-porandakan segalanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan