Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terbelenggu Obsesi Sang CEO

Terbelenggu Obsesi Sang CEO

Lima tahun berlalu, namun Xavier masih menyimpan dendam mendalam terhadap Clara yang dulu menghancurkan hatinya. Takdir berkata lain saat krisis keluarga memaksa Xavier menjadi pelindung bagi wanita tersebut. Terjebak dalam situasi penuh ancaman, kebencian Xavier perlahan berubah menjadi obsesi yang tak terkendali. Di balik bahaya yang mengintai, mereka berdua justru semakin terjerat dalam hubungan yang rumit, di mana batas antara rasa benci dan cinta kian menipis.
Bab
Bagikan

Bab 2

Matahari pagi itu terasa menyengat, tapi tidak lebih panas dari rasa malu yang membakar dada Valerie saat ia berdiri di depan gedung pencakar langit milik Xavier. Gedung itu menjulang angkuh, dilapisi kaca gelap yang memantulkan bayangan Valerie yang tampak kecil dan tak berarti. Ia merapikan rok kerjanya yang sudah mulai pudar warnanya, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.

Setiap langkah di atas lantai marmer lobi yang mengkilap terasa seperti beban berat. Di resepsionis, ia dipandang dengan tatapan menilai. Mungkin karena penampilannya yang tidak lagi mencerminkan kelas sosial atas, atau mungkin karena berita tentang kejadian di gala semalam sudah menyebar seperti api di kalangan para elite.

"Saya ingin bertemu Xavier. Saya sudah ada janji," ucap Valerie, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Resepsionis itu hanya meliriknya sekilas tanpa senyum. "Tunggu di sana. Pak Xavier sedang sibuk."

Dua jam. Valerie dibiarkan duduk di sofa lobi yang dingin tanpa ditawari air minum sedikit pun. Ia tahu ini sengaja. Xavier ingin menunjukkan siapa yang memegang kendali sekarang. Ketika akhirnya ia diizinkan naik ke lantai paling atas, jantungnya berdebar kencang sampai rasanya menyakitkan.

Pintu kantor Xavier terbuka otomatis. Ruangan itu luas, minimalis, dan sangat dingin. Xavier duduk di balik meja kerja besarnya, fokus pada layar monitor tanpa mendongak sedikit pun saat Valerie masuk.

"Duduk," perintah Xavier singkat. Suaranya datar, tanpa emosi, namun penuh otoritas.

Valerie duduk di kursi di depan meja Xavier. Keheningan di antara mereka terasa mencekik. Hanya ada suara denting jam dinding dan gemuruh AC yang pelan.

"Aku datang untuk menagih ucapanmu semalam," kata Valerie akhirnya, memecah kesunyian. "Kamu bilang kamu memegang semua utang ayahku. Aku... aku mau negosiasi."

Xavier perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menautkan jemarinya, menatap Valerie dengan tatapan yang sulit dibaca. "Negosiasi hanya dilakukan oleh dua pihak yang setara, Val. Kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Jadi, jangan sebut ini negosiasi. Sebut saja ini... permohonan belas kasihan."

Valerie mengepalkan tangannya di bawah meja. "Apa yang kamu mau? Aku akan lakukan apa pun supaya rumah dan pengobatan ayahku tetap aman."

Xavier tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Ia menarik sebuah dokumen dari laci mejanya dan melemparkannya ke depan Valerie. "Baca itu."

Valerie mengambil dokumen tebal itu. Judul di atasnya membuat napasnya tertahan: Perjanjian Kerja Khusus.

"Itu kontrak selama dua belas bulan," jelas Xavier sambil bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan mengitari meja, mendekati Valerie. "Kamu akan bekerja sebagai asisten pribadiku. Bukan asisten kantor biasa, tapi asisten yang harus siap sedia dua puluh empat jam. Kamu harus ada di mana pun aku berada. Kamu akan tinggal di apartemenku, mengurus semua kebutuhanku, dan melakukan apa pun yang aku perintahkan tanpa bantahan."

"Tinggal... di tempatmu?" Valerie menatap Xavier dengan tidak percaya. "Xavier, itu keterlaluan. Aku bisa kerja di kantor, tapi kalau tinggal-"

"Kalau kamu keberatan, pintu keluar ada di sana," potong Xavier cepat sambil menunjuk ke arah pintu. "Besok pagi, tim hukumku akan mengeksekusi rumah ayahmu. Panti jompo tempat dia dirawat juga akan menghentikan fasilitasnya karena tunggakan yang aku beli sudah jatuh tempo. Pilihan ada di tanganmu."

Valerie merasa seperti sedang disudutkan ke tepi jurang. Xavier tahu persis di mana titik lemahnya. Ayahnya adalah segalanya bagi Valerie, satu-satunya alasan kenapa ia masih bertahan hidup setelah badai yang menghancurkan mereka lima tahun lalu.

"Kenapa kamu melakukan ini?" bisik Valerie dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa tidak biarkan aku pergi saja? Kalau kamu benci aku, kenapa ingin aku ada di dekatmu?"

Xavier berhenti tepat di samping kursi Valerie. Ia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Valerie. Aroma tembakau dan kayu cendana dari tubuh pria itu merasuki indra penciuman Valerie, membangkitkan memori masa lalu yang seharusnya sudah mati.

"Karena membiarkanmu pergi itu terlalu mudah, Val," bisik Xavier tepat di telinganya. "Aku ingin kamu melihat setiap harinya bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak punya pilihan. Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu saat kamu mengkhianatiku demi uang."

"Aku tidak pernah melakukannya karena uang!" seru Valerie, air mata akhirnya jatuh.

Xavier mencengkeram dagu Valerie dengan jari-jarinya yang kuat, memaksanya menatap mata gelap yang penuh amarah itu. "Jangan bohong lagi. Aku sudah muak dengan air mata palsumu. Tanda tangani kontrak itu, atau pergi sekarang juga."

Tangan Valerie gemetar saat ia meraih pulpen di atas meja. Setiap goresan tinta di atas kertas itu terasa seperti ia sedang menyerahkan jiwanya pada iblis. Setelah selesai, ia meletakkan pulpen itu dengan lemas.

Xavier mengambil dokumen itu, memeriksanya sebentar, lalu tersenyum puas. "Bagus. Sekarang kamu milikku, Valerie. Mulai detik ini, tidak ada lagi kata 'tidak' dalam kamusmu."

Xavier kembali ke kursinya dan menekan tombol di telepon kantornya. "Sita semua barang pribadi Nona Valerie yang tersisa di rumahnya. Bawa ke apartemenku. Dan pastikan dia tidak membawa apa pun yang berhubungan dengan masa lalunya."

"Apa? Kamu tidak bisa melakukan itu!" protes Valerie sambil berdiri.

"Aku bisa, dan aku baru saja melakukannya," sahut Xavier dingin. "Sekarang, buatkan aku kopi. Tanpa gula, sangat pahit. Seperti suasana hatiku sekarang. Kalau rasanya tidak sempurna, kamu akan mengulangnya sampai aku puas."

Valerie berdiri mematung. Ia merasa kecil, terhina, dan sangat hancur. Tapi saat ia melihat wajah Xavier yang keras, ia tahu bahwa ini hanyalah awal dari neraka panjang yang harus ia lalui. Ia berbalik menuju pantry kecil di sudut ruangan besar itu, sementara ia bisa merasakan tatapan tajam Xavier menusuk punggungnya.

Xavier memperhatikan punggung Valerie yang bergetar pelan. Ada kepuasan aneh yang ia rasakan, tapi di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa nyeri yang tidak mau hilang. Ia membenci wanita itu, sangat benci. Tapi melihatnya kembali dalam jangkauannya memberikan rasa lega yang juga ia benci setengah mati.

"Selamat datang di duniamu yang baru, Valerie," gumam Xavier pelan, hampir tidak terdengar, saat ia kembali menatap dokumen yang baru saja ditandatangani itu.

Babak baru kehidupan mereka dimulai hari itu. Bukan sebagai kekasih, bukan lagi sebagai teman, melainkan sebagai tuan dan budak yang terikat oleh rantai dendam yang tak kunjung usai. Valerie tahu, mulai hari ini, ia bukan lagi pemilik dirinya sendiri. Ia adalah milik Xavier-pria yang paling ia cintai, sekaligus pria yang paling ingin menghancurkannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Kembalinya Marsha yang Tercinta
9.5
Diusir dan dihina setelah terungkap bukan anak kandung, Marsha dituduh hanya putri petani biasa oleh putri asli yang licik. Namun, kenyataan mengejutkan muncul saat ayah kandungnya ternyata miliarder terkaya, didukung saudara-saudara hebat yang memujanya. Di balik itu, Marsha sendiri adalah pengusaha sukses yang mandiri. Saat mantan kekasihnya yang sombong mencoba menjauh, seorang pria misterius berkuasa muncul untuk melindunginya dan membungkam semua penghina.
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Sheila harus menelan kepahitan saat pernikahan impiannya dengan Bryan hancur seketika. Ia terpaksa menjadi istri Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya jaminan atas utang Bryan. Kini, Sheila terjebak dalam obsesi Bara yang posesif dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Di tengah rasa benci dan kecewa, mampukah Sheila bertahan menghadapi lika-liku rumah tangga yang rumit? Ataukah ada kebahagiaan yang tersisa dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Menikahi Ayah Sahabatku
9.0
Almira Devara terpaksa akan dinikahkan ayahnya dengan juragan desa demi melunasi hutang. Selina, sahabatnya yang kaya, merasa iba dan meminta ayahnya sendiri, Diran Mahendra, untuk menikahi Almira. Meski awalnya enggan, duda sukses itu setuju demi menolong Almira. Kini, Almira harus menjalani rumah tangga dengan pria yang jauh lebih tua. Di sisi lain, Diran masih menutup hati akibat trauma masa lalu. Bisakah cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris
7.8
Sean Axel William merupakan pewaris tunggal Grup William yang disegani karena ketegasannya di dunia bisnis. Meski dikelilingi banyak wanita dari kalangan selebriti yang haus akan kekayaannya, Sean merasa jenuh dengan segala kepalsuan tersebut. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu sosok perempuan unik yang memikat hatinya. Kini sang miliarder justru berbalik mengejar cintanya demi menjadikan wanita itu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya.