Sampul Novel Terbelenggu Obsesi Sang CEO

Terbelenggu Obsesi Sang CEO

9.1 / 10.0
Dalam Terbelenggu Obsesi Sang CEO, Xavier harus melindungi Clara, mantan kekasih yang ia benci, demi krisis keluarga. Billionaire romance ini mengungkap batas tipis antara dendam dan obsesi. Baca novel online ini untuk mengikuti perjalanan mereka yang penuh ketegangan dalam web novel ini.
Ringkasan Terbelenggu Obsesi Sang CEO
Lima tahun berlalu, namun Xavier masih menyimpan dendam mendalam terhadap Clara yang dulu menghancurkan hatinya. Takdir berkata lain saat krisis keluarga memaksa Xavier menjadi pelindung bagi wanita tersebut. Terjebak dalam situasi penuh ancaman, kebencian Xavier perlahan berubah menjadi obsesi yang tak terkendali. Di balik bahaya yang mengintai, mereka berdua justru semakin terjerat dalam hubungan yang rumit, di mana batas antara rasa benci dan cinta kian menipis.
Baca Selengkapnya

Terbelenggu Obsesi Sang CEO Bab 1

Gelas kristal di tangan Xavier berdenting pelan saat ia menyesap wiski mahalnya. Matanya yang tajam seperti elang tidak berhenti menyisir setiap sudut ballroom hotel bintang lima itu. Baginya, acara gala seperti ini hanyalah ajang pamer kemunafikan. Ia bosan, sampai akhirnya pintu besar di ujung ruangan terbuka dan sosok itu muncul.

Valerie.

Nama itu menghantam dada Xavier seperti peluru yang tertahan selama lima tahun. Wanita itu berdiri di sana, mengenakan gaun satin berwarna gading yang tampak sedikit pudar jika dilihat dari dekat-sangat kontras dengan kemewahan yang dulu selalu melekat padanya. Wajahnya lebih tirus, matanya yang dulu selalu berbinar kini terlihat lelah, tapi masih memiliki sisa-sisa keanggunan yang dulu sempat membuat Xavier bertekuk lutut.

Xavier merasakan rahangnya mengeras. Amarah yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya mendidih seketika. Lima tahun. Lima tahun ia mencoba mengubur bayangan pengkhianatan wanita itu, dan sekarang Valerie muncul begitu saja di depan matanya dengan wajah tanpa dosa.

"Lihat siapa yang datang," gumam rekan bisnis di sebelah Xavier, sambil terkekeh sinis. "Bukankah itu putri dari keluarga yang hampir bangkrut itu? Berani sekali dia menampakkan diri di sini."

Xavier tidak menjawab. Ia meletakkan gelasnya dengan dentuman keras di meja kayu mahoni hingga beberapa orang menoleh. Dengan langkah tegap dan aura yang mendominasi ruangan, ia berjalan menghampiri Valerie.

Valerie menyadari kehadiran Xavier saat bayangan pria itu menutupi cahaya lampu di depannya. Ia mendongak, dan seketika tubuhnya membeku. Napasnya tercekat. Ia sudah membayangkan pertemuan ini ribuan kali dalam mimpinya, tapi tidak ada yang bisa menyiapkannya untuk tatapan sedingin es milik Xavier.

"Lima tahun, Valerie," suara Xavier rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. "Dan kamu masih punya muka untuk datang ke tempat di mana orang-orang seperti kamu sudah tidak punya harga lagi."

Valerie berusaha menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Xavier... aku butuh bicara."

Xavier tertawa, tawa pendek yang terdengar sangat menyakitkan. "Bicara? Setelah apa yang kamu lakukan? Kamu pikir aku masih mau mendengar omong kosongmu?"

Beberapa tamu mulai berbisik, membentuk lingkaran kecil di sekitar mereka. Valerie merasa wajahnya memanas. Ia tahu ia menjadi tontonan, tapi ia tidak punya pilihan lain. Perusahaan ayahnya di ambang kehancuran, dan satu-satunya orang yang bisa menghentikan eksekusi aset mereka adalah pria yang sekarang menatapnya dengan kebencian murni ini.

"Tolong, Xavier. Ini soal perusahaan ayah. Aku tahu kamu yang memegang surat utangnya sekarang. Aku cuma minta waktu sepuluh menit," pinta Valerie, suaranya hampir berbisik, memohon.

Xavier maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga Valerie bisa mencium aroma parfum maskulin yang dulu sangat ia cintai. Tapi sekarang, aroma itu hanya membawa rasa takut.

"Kamu datang ke sini, di depan semua orang ini, hanya untuk mengemis?" Xavier melirik gaun Valerie dengan hina. "Berapa harga harga dirimu sekarang, Val? Apa sudah semurah gaun bekas yang kamu pakai itu?"

Kata-kata itu menghujam jantung Valerie. Ia ingin sekali berteriak, menjelaskan bahwa semua tidak seperti yang Xavier kira. Tapi kenyataannya, ia memang sedang mengemis. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali keberanian yang tersisa sedikit.

"Aku akan melakukan apa saja, Xavier. Tolong, jangan hancurkan sisa hidup ayahku," ucap Valerie, matanya mulai berkaca-kaca.

Xavier menatap air mata itu tanpa belas kasihan. Dulu, satu tetes air mata Valerie bisa membuatnya memberikan dunia. Sekarang, itu hanya terlihat seperti akting murahan baginya. Ia ingat bagaimana wanita ini membuangnya saat ia berada di titik terendah, dan sekarang roda berputar.

"Apa saja?" Xavier mengulang kalimat itu dengan nada mengejek. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Valerie, memastikan hanya wanita itu yang mendengar kalimat penghancurnya. "Kalau begitu, sujudlah. Minta maaf di depan semua orang ini atas apa yang kamu lakukan dulu, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak membuang ayahmu ke jalanan besok pagi."

Valerie tersentak. Ia menatap mata Xavier, mencari sisa-sisa pria hangat yang dulu ia kenal. Tapi ia tidak menemukan apa-apa selain kegelapan.

"Kenapa kamu jadi sejahat ini, Xavier?" bisik Valerie lirih.

"Aku belajar dari ahlinya," jawab Xavier dingin. Ia menegakkan tubuhnya kembali, lalu berbicara dengan suara yang cukup keras agar orang-orang di sekitar mereka mendengar. "Maaf, Nona Valerie. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang-orang yang hanya bisa menjual air mata demi menutupi kesalahan masa lalu. Silakan keluar sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu."

Dunia seolah runtuh bagi Valerie. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, sementara Xavier berbalik meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun. Tawa lirih dan bisikan menghina dari para tamu mulai terdengar jelas di telinganya.

Xavier berjalan kembali ke bar, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira melihat Valerie menderita akan membuatnya merasa puas, tapi ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia menuang wiski lagi, tangannya sedikit gemetar. Ia membenci dirinya sendiri karena masih merasakan sesuatu saat melihat wajah itu.

Dari kejauhan, ia melihat Valerie berjalan keluar dengan punggung tegak, meski ia tahu wanita itu sedang hancur. Xavier mengepalkan tinjunya. Permainan ini baru saja dimulai. Ia tidak akan membiarkan Valerie pergi semudah itu. Kebencian ini adalah satu-satunya hal yang menyatukan mereka sekarang, dan ia akan memastikan Valerie merasakan setiap inci rasa sakit yang ia rasakan selama lima tahun terakhir.

Di luar gedung, udara malam yang dingin menusuk kulit Valerie. Ia bersandar di pilar besar hotel, air matanya akhirnya luruh. Ia tahu perjalanannya akan berat, tapi ia tidak menyangka Xavier akan menjadi monster sesadis ini. Namun, demi ayahnya, ia tidak boleh menyerah. Jika ia harus masuk ke dalam neraka yang diciptakan Xavier, maka ia akan melakukannya.

Xavier mengamati dari balik jendela kaca besar di lantai atas. Ia melihat sosok mungil itu berdiri di bawah lampu jalan yang remang.

"Kamu pikir ini sudah berakhir, Val?" gumamnya pada gelas di tangannya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terbelenggu Obsesi Sang CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Affair With Santa
8.4
Di tengah dinginnya New York yang menusuk tulang, seorang gadis nekat menunggu di bawah pohon besar meski suhu berada di bawah nol derajat. Sepatu boots tipisnya tak mampu menahan es, membuatnya nyaris beku saat menanti seseorang yang tak kunjung datang. Ketika tubuhnya mulai oleng akibat hipotermia di sudut taman yang sepi, sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendekapnya. Suara berat seorang pria misterius menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya menghilang.
Sampul Novel ALUR CINTA TIAN DAN ARLYN
8.8
Bagi mereka yang memiliki hati, cinta sejati adalah sebuah keyakinan. Arlyna Virgolin sangat mencintai Bastian Pisceso, hingga ia berharap bisa terus jatuh cinta pada pria itu di kehidupan mendatang. Namun, romansa yang indah dan membara ini tidaklah sesederhana bayangan mereka. Di balik kesempurnaan perasaan tersebut, Arlyn dan Tian harus bersiap menghadapi berbagai badai besar. Sanggupkah kekuatan cinta mereka bertahan melewati rintangan yang sulit?
Sampul Novel CEO yang Penyayang Ingin Go Public
9.6
Elia dikenal publik sebagai pria sopan yang tertutup, namun aslinya dia sosok kejam yang menjerat Ashley dalam gairah. Hubungan rahasia mereka membuat Ashley aman dari gangguan siapapun. Keadaan berubah saat Ashley mual di depan umum. Elia yang biasanya dingin justru berlutut dan membelai perutnya dengan lembut. Sang CEO pun meminta Ashley untuk meresmikan hubungan mereka di depan semua orang, serta berjanji akan memberikan segalanya demi dirinya.
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel Guard You
9.3
Kania Raiza, gadis sombong putri pemilik sekolah, kehilangan segalanya saat ayahnya wafat dan ibunya jatuh sakit. Hidupnya berbalik drastis dari penguasa sekolah menjadi rakyat jelata yang menderita akibat karma perundungan masa lalunya. Di tengah kehancuran dunianya, muncul seorang pemuda misterius yang berjanji menjadi pelindung setianya. Mampukah sosok ini menjaga Kania saat ia harus menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan?
Sampul Novel Pacar Online-ku Adalah Bosku
8.8
Bagaimana jadinya jika kekasih virtual yang baru saja Anda putuskan ternyata adalah atasan Anda sendiri? Dalam novel romantis miliarder ini, seorang karyawan wanita harus menghadapi konsekuensi tak terduga setelah mengakhiri hubungan online dengan pacarnya yang terus menuntut untuk bertemu. Keputusan tegas tersebut membuat sang bos patah hati, merusak suasana hatinya, dan memaksa seluruh staf kantor ikut lembur. Demi menyelamatkan kesehatan fisik dan mentalnya dari amarah sang atasan, ia kini terjebak dalam dilema besar untuk balikan dengannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan